Sabtu, 31 Oktober 2026

SUMPAH PEMUDA, KEPANDUAN, DAN TANGGUNG JAWAB GENERASI MUDA: MERAWAT API PERSATUAN DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

 


Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Menengok Kembali Peran Kepanduan dalam Sejarah Persatuan Indonesia dan Relevansinya bagi Gerakan Pramuka Masa Kini.

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah momentum bersejarah yang mengingatkan kita pada keberanian generasi muda tahun 1928 untuk melampaui sekat-sekat kedaerahan, suku, agama, dan latar belakang demi satu cita-cita besar: Indonesia yang bersatu.

Kita mengenal tiga ikrar monumental: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Ketiganya telah menjadi fondasi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Namun, ada satu bagian dari sejarah Kongres Pemuda II yang menarik untuk kembali kita renungkan, khususnya bagi keluarga besar Gerakan Pramuka. Bagian tersebut adalah penyebutan pendidikan dan kepanduan dalam naskah keputusan kongres.

Sebuah fakta sejarah yang mungkin belum banyak diketahui oleh sebagian anggota Pramuka, bahkan oleh masyarakat luas.

Kepanduan dalam Sejarah Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 bukan hanya menjadi ruang untuk merumuskan identitas kebangsaan Indonesia. Kongres tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana membangun karakter dan mempersiapkan generasi muda untuk masa depan bangsa.

Dalam rapat ketiga yang berlangsung pada 28 Oktober 1928 di Indonesische Clubgebouw, pembahasan mencakup nasionalisme, demokrasi, dan gerakan kepanduan.

Ramelan, salah seorang pembicara dalam kongres tersebut, menjelaskan bahwa gerakan kepanduan tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasional. Kepanduan dipandang memiliki peran dalam mendidik anak-anak sejak dini agar memiliki kedisiplinan dan kemandirian, dua karakter yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan bangsa.

Theo Pangemanan juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya semangat kebangsaan dalam diri seorang pandu.

Hal yang lebih menarik dapat kita temukan dalam naskah asli keputusan Kongres Pemuda II. Setelah tiga ikrar utama Sumpah Pemuda, terdapat bagian yang menyatakan bahwa persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar persatuannya, yaitu:

  1. Kemauan.

  2. Sejarah.

  3. Bahasa.

  4. Hukum adat.

  5. Pendidikan dan kepanduan.

Dengan demikian, kepanduan bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan pemuda pada masa itu. Kepanduan turut disebut sebagai salah satu unsur yang dipandang penting dalam memperkuat persatuan Indonesia.

Ini merupakan pesan sejarah yang sangat berarti.

Para pemuda tahun 1928 tidak hanya memikirkan bagaimana menyatukan bangsa melalui sebuah ikrar, tetapi juga memikirkan bagaimana membentuk manusia-manusia yang memiliki karakter, disiplin, kemandirian, dan semangat kebangsaan.

Kepanduan menjadi salah satu jalan pendidikan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Dari Kepanduan Menuju Gerakan Pramuka

Sejarah kepanduan di Indonesia telah berkembang jauh sebelum kemerdekaan. Berbagai organisasi kepanduan tumbuh dengan latar belakang dan identitas masing-masing.

Di tengah situasi kolonial, kepanduan menjadi salah satu ruang pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Ketika istilah Padvinder dibatasi penggunaannya bagi organisasi di luar kepanduan Belanda, K.H. Agus Salim memperkenalkan istilah Pandu atau Kepanduan sebagai identitas gerakan kepanduan Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kepanduan memiliki perjalanan historis yang erat dengan dinamika kebangsaan.

Setelah Indonesia merdeka, berbagai organisasi kepanduan terus berkembang. Namun, kebutuhan untuk menyatukan kekuatan pendidikan kepanduan akhirnya mendorong lahirnya Gerakan Pramuka pada tahun 1961.

Sejak saat itu, Gerakan Pramuka menjadi wadah pendidikan kepramukaan nasional yang bertujuan membentuk karakter, kepribadian, kecakapan hidup, serta jiwa patriotisme generasi muda.

Apabila kita melihat perjalanan tersebut, terdapat benang merah yang tidak terputus: kepanduan pada masa pergerakan nasional dan Gerakan Pramuka pada masa sekarang sama-sama memiliki tanggung jawab dalam membentuk generasi muda yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa.

Apakah Semangat Kepanduan Masih Relevan Saat Ini?

Lebih dari sembilan dekade telah berlalu sejak Kongres Pemuda II. Indonesia telah merdeka, teknologi berkembang sangat cepat, informasi dapat diakses dalam hitungan detik, dan batas-batas geografis seolah semakin tidak berarti.

Namun, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak semakin sederhana.

Kita menyaksikan bagaimana ruang digital dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan, tetapi juga dapat menjadi tempat berkembangnya disinformasi, ujaran kebencian, perundungan, polarisasi, dan sikap intoleran.

Di tengah kemudahan teknologi, muncul pula tantangan lain berupa menurunnya kepedulian sosial, individualisme, lemahnya budaya gotong royong, serta kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata.

Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai kepanduan justru semakin relevan.

Pertama, persatuan di tengah keberagaman.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Gerakan Pramuka memiliki ruang yang sangat luas untuk menanamkan nilai tersebut melalui pertemuan lintas daerah, lintas agama, lintas budaya, dan lintas latar belakang.

Pramuka seharusnya menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan anak-anak muda Indonesia untuk belajar bekerja sama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Kedua, kemandirian dan kemampuan menghadapi tantangan.

Kepanduan sejak awal menekankan pentingnya membentuk individu yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menyelesaikan persoalan.

Di era sekarang, kemandirian bukan hanya kemampuan mendirikan tenda, membuat pioneering, atau bertahan di alam terbuka. Kemandirian juga berarti mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, mengelola diri, beradaptasi dengan perubahan, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Ketiga, kepedulian sosial dan semangat pengabdian.

Seorang pandu tidak cukup hanya memiliki keterampilan untuk dirinya sendiri. Ia harus mampu menggunakan keterampilannya untuk membantu orang lain.

Nilai ini sangat penting ketika masyarakat menghadapi persoalan bencana, masalah kesehatan, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Keempat, nasionalisme yang diwujudkan melalui tindakan.

Mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengikuti upacara.

Nasionalisme harus terlihat dalam perilaku sehari-hari: menghormati perbedaan, menjaga fasilitas publik, melestarikan budaya, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, menjaga lingkungan, menaati hukum, dan memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Kelima, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pramuka tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Nilai-nilai kepanduan harus tetap dipertahankan, tetapi metode dan pendekatan pendidikannya harus mampu mengikuti perkembangan zaman.

Generasi muda saat ini hidup di tengah kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan iklim, dan tantangan global. Karena itu, pendidikan kepramukaan harus mampu membekali mereka dengan literasi digital, kemampuan kolaborasi, kreativitas, kepemimpinan, dan kecakapan hidup.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Refleksi sejarah tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap perjuangan generasi terdahulu. Sejarah seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk menentukan tindakan hari ini.

Jika para pemuda tahun 1928 mampu membangun persatuan melalui organisasi, pendidikan, dan kepanduan, maka generasi sekarang harus mampu menerjemahkan semangat yang sama dalam konteks zamannya.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

1. Menghidupkan kembali substansi pendidikan kepramukaan.

Jangan sampai Pramuka hanya identik dengan seragam, atribut, upacara, baris-berbaris, dan kegiatan seremonial. Semua itu dapat menjadi bagian dari pendidikan, tetapi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap kegiatan mampu membentuk karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian sosial peserta didik.

2. Menjadikan Pramuka sebagai ruang kolaborasi pemuda.

Gerakan Pramuka harus membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas sosial, dunia usaha, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat. Pramuka tidak boleh berjalan sendiri. Semangat persatuan tahun 1928 harus diterjemahkan menjadi kerja sama lintas organisasi dan lintas generasi.

3. Mengembangkan gerakan pengabdian masyarakat.

Kegiatan Pramuka harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pendidikan kesehatan, donor darah, bantuan hidup dasar (BHD), edukasi pencegahan penyakit, penanggulangan bencana, penanaman pohon, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi bentuk nyata pengabdian Pramuka.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat Pramuka sebagai organisasi yang aktif dalam kegiatan internal, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata.

4. Menguasai ruang digital tanpa kehilangan karakter.

Pramuka harus hadir di ruang digital. Media sosial bukan hanya tempat mengunggah dokumentasi kegiatan, melainkan juga ruang edukasi, kampanye kebaikan, penyebaran informasi yang benar, dan penguatan persatuan.

Kader Pramuka perlu memiliki kemampuan literasi digital, memahami etika komunikasi, melawan hoaks, serta menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.

5. Mempersiapkan pemimpin muda yang berintegritas.

Gerakan Pramuka harus menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja, mendengarkan, berkolaborasi, dan bertanggung jawab.

Kepemimpinan dalam Pramuka harus dibangun melalui pengalaman, keteladanan, kesempatan mengambil keputusan, dan keberanian melakukan perubahan.

6. Menjaga kesinambungan sejarah dan identitas kepanduan.

Generasi Pramuka masa kini perlu mengenal sejarahnya. Mereka harus memahami bahwa Gerakan Pramuka bukan organisasi yang hadir tanpa akar sejarah.

Penyebutan kepanduan dalam naskah keputusan Kongres Pemuda II merupakan bagian penting yang perlu terus diperkenalkan dalam pendidikan kepramukaan.

Dengan memahami sejarah, seorang Pramuka akan memiliki kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut.

Jangan Hanya Mewarisi Seragam, Warisi Semangatnya

Ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama.

Generasi 1928 mungkin tidak memiliki teknologi seperti yang kita nikmati hari ini. Mereka tidak memiliki media sosial, kecerdasan buatan, atau kemudahan komunikasi lintas wilayah. Namun, mereka memiliki keberanian untuk bertemu, berdiskusi, menyatukan gagasan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Sementara kita hari ini memiliki jauh lebih banyak fasilitas, akses informasi, dan kesempatan untuk berkolaborasi. Pertanyaannya, apakah kita telah menggunakan semua kemudahan tersebut untuk memperkuat persatuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat?

Jangan sampai kita lebih sibuk memperdebatkan atribut, jabatan, struktur organisasi, dan kepentingan kelompok, tetapi melupakan tujuan utama pendidikan kepramukaan.

Jangan sampai kegiatan Pramuka menjadi ramai dalam dokumentasi, tetapi sepi dalam pengabdian.

Jangan sampai kita bangga mengenakan seragam Pramuka, tetapi belum mampu menerjemahkan Satya dan Darma Pramuka ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kepanduan yang disebut dalam Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter, kemandirian, dan semangat kebangsaan merupakan bagian dari pekerjaan besar membangun Indonesia.

Penutup: Meneruskan Ikrar dengan Aksi

Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Ia adalah komitmen yang harus terus diperbarui melalui tindakan nyata.

Penyebutan pendidikan dan kepanduan dalam naskah keputusan Kongres Pemuda II memberikan pesan penting bagi Gerakan Pramuka: bahwa sejak masa pergerakan nasional, pendidikan kepanduan telah dipandang sebagai salah satu unsur yang memperkuat persatuan Indonesia.

Hari ini, tanggung jawab tersebut berada di tangan kita.

Kita tidak lagi berjuang melawan penjajahan dalam bentuk yang sama seperti para pemuda tahun 1928. Namun, kita menghadapi tantangan lain: perpecahan, ketidakpedulian, krisis integritas, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan perubahan zaman yang begitu cepat.

Karena itu, tugas Pramuka bukan sekadar mempertahankan tradisi, melainkan memastikan nilai-nilai kepanduan tetap hidup dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Mari kita jadikan Gerakan Pramuka sebagai ruang pendidikan, ruang persaudaraan, ruang kolaborasi, dan ruang pengabdian.

Sebab, menjadi Pramuka bukan hanya tentang siapa yang mengenakan seragam, tetapi tentang siapa yang bersedia berbuat untuk sesama.

Jika pemuda tahun 1928 menyatukan tekad untuk melahirkan Indonesia, maka pemuda hari ini harus menyatukan aksi untuk menjaga dan membangun Indonesia.

Salam Pramuka!


Referensi dan bacaan sejarah:

  1. Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Kebudayaan RI. Sejarah Sumpah Pemuda.

  2. Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Kebudayaan RI. Sejarah Pramuka di Indonesia.

  3. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kepanduan Indonesia.

  4. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Dokumen resmi BPK RI.

Sabtu, 10 Juni 2023

Di Antara Jarak, Waktu, dan Nama yang Tak Pernah Hilang


Ketika sebuah perjalanan ilmiah justru membawaku kembali pada seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.

Aku memasuki ruang Ketua Jurusan bersama dua orang kakak tingkatku. Hari itu kami sedang mendiskusikan sebuah rencana besar: mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kebetulan, untuk tahun itu, salah satu institut teknologi terbesar di Surabaya menjadi tuan rumahnya.

Di ruangan itu, kami sibuk membicarakan judul penelitian yang akan diikutsertakan.

“Begini, Bu. Kami memilih judul ini karena memang masih jarang diangkat di masyarakat. Kalau judul yang satunya, rasanya sudah cukup banyak orang yang membahasnya,” jelasku kepada dosen pembimbing.

“Iya juga,” jawab beliau singkat sembari memperhatikan lembaran proposal dan sesekali mencoret beberapa ejaan yang dianggap kurang tepat.

Beberapa saat kemudian, beliau mengangkat wajahnya.

“Leader-nya siapa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, sebelum aku sempat menjawab, dua orang kakak tingkatku secara bersamaan menunjuk ke arahku yang duduk di tengah-tengah mereka.

“Agus, Bu!”

Kompak sekali. Seolah-olah mereka sudah berlatih sebelumnya.

“Kenapa dia? Dia kan junior kalian,” tanya dosenku dengan nada yang sedikit meragukan kemampuanku.

“Bukan begitu, Bu. Dia yang mengajak kami. Lagipula, hanya dia sendiri laki-laki di kelompok kami,” jawab Kak Nova.

Kak Nova adalah salah satu sosok perempuan yang cukup istimewa dalam pandanganku. Ia berjilbab lebar, tutur katanya lembut, dan hampir tidak pernah menunjukkan kemarahan. Bahkan, rasanya sulit membayangkan beliau mengucapkan kata-kata kasar.

Ada sesuatu yang menenangkan dari kehadirannya. Sosok perempuan yang sederhana, bersahaja, dan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.


Setelah keluar dari ruang Ketua Jurusan, kami berjalan menyusuri lorong kampus.

“Kak Nova, sekarang bagaimana?” tanyaku.

“Ya sudah, begini saja, Dek. Adek buat BAB Satu, Kakak buat BAB Dua, Kak Sifi buat BAB Tiga. Bagaimana?” katanya sambil memberikan solusi pembagian tugas.

“Sip. Begitu saja, Nov. Sudah bagus kok,” sambung Kak Silfi.

Akhirnya, kami pulang ke rumah masing-masing dengan membawa tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dua hari.

Aku mendapat bagian BAB Satu. Isinya bukan sesuatu yang sederhana: latar belakang, pertanyaan penelitian, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.

Bagi mahasiswa yang belum pernah benar-benar belajar metodologi penelitian, tugas itu terasa seperti mendaki gunung tanpa mengetahui jalan menuju puncaknya.

Namun, aku tidak ingin mengecewakan mereka.

Dengan modal koneksi internet, aku mulai membuka berbagai situs yang berisi makalah, jurnal, dan skripsi. Zaman sudah berubah. Tidak seperti dahulu ketika seseorang harus mencari katalog perpustakaan satu per satu untuk menemukan referensi.

Sekarang, semuanya terasa lebih mudah. Cukup mengetikkan beberapa kata, berbagai informasi muncul di hadapan mata.

Namanya Google.

Entah berapa jam aku menghabiskan waktu di warnet. Mata mulai mengantuk, tubuh berkeringat, dan jari-jariku terus menari di atas keyboard komputer.

Namun, jangan salah sangka. Tidak semua waktu itu kugunakan untuk mengerjakan penelitian.

Sesekali aku masih bermain DOTA.

"Iya, akhirnya pemainku mati lagi!"

Memang begitulah DOTA. Kadang kita sudah berusaha bersembunyi, tetapi musuh tetap berhasil menemukan dan menghabisi kita.

Ketika permainan berakhir, aku kembali membuka dokumen penelitian.

Dan...

Astaga!

Ternyata yang tertulis baru satu kalimat:

1.1. Latar Belakang.

Hanya itu!

Rasanya ingin menangis, tetapi malu kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin dua hari lagi harus dikumpulkan, sementara satu halaman pun belum selesai?

Akhirnya aku memutuskan untuk serius. Ini bukan sekadar tugas kuliah. Ada kepercayaan dua orang kakak tingkat yang harus kujaga. Ada tanggung jawab yang sudah diberikan kepadaku.

Aku tidak boleh main-main lagi.


Beberapa minggu berlalu.

Hari pengumpulan karya ilmiah akhirnya tiba. Setelah semua bagian selesai, proposal ditandatangani Ketua Jurusan. Aku bergegas menuju kantor pos untuk mengirimkan karya kami kepada panitia.

Selesai mengirimkan berkas, aku menemukan Kak Silfi sedang duduk di sebuah kursi di bawah pohon, di pinggir kampus.

Tanpa berpikir panjang, aku menghampirinya.

“DAAR!”

Kak Silfi langsung terkejut. Buku tebal yang ada di tangannya mendarat di tubuhku.

“Kenapa kamu ini, Dek! Mengagetkan orang saja!”

Aku hanya tertawa. Bagiku, melihat orang terkejut terkadang menjadi hiburan tersendiri.

“Kak, punya kita sudah aku kirim ke panitia,” kataku.

“Bagus dong. Sekarang kita tunggu saja hasil perlombaannya dengan sabar.”

“Oke, Kak!”

Aku bersiap meninggalkannya ketika tiba-tiba Kak Silfi berkata,

“Semoga kita tidak mendapatkan apa-apa. Aamiin!”

Aku langsung berbalik.

“Lho, kenapa, Kak?”

“Kakak mau fokus, Dek. Skripsi sudah menunggu. Capek sekali mengerjakan skripsi.”

Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang sedikit serius.

“Tapi, skripsi itu sebenarnya mengajarkan dua hal. Pertama, pelajaran duniawi, yaitu ilmu yang kita teliti. Kedua, pelajaran batin, yaitu kesabaran.”

Aku mengangguk pelan.

Benar juga.

Penelitian bukan hanya tentang teori, angka, dan hasil. Ada kejujuran yang harus dijaga, ada kesabaran yang harus dipertahankan, dan ada proses panjang yang harus dilalui.

Ada orang yang memilih jalan pintas dengan membayar orang lain untuk menyelesaikan skripsinya. Ada pula yang memalsukan data karena tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa penelitiannya tidak berjalan sesuai harapan.

Padahal, justru di situlah letak pembelajarannya.

Ilmu mengajarkan kita untuk berpikir. Proses mengajarkan kita untuk bersabar.

Dan kehidupan, terkadang, mengajarkan keduanya dengan cara yang jauh lebih sulit.


Nama yang Membuat Jantungku Berhenti Sejenak

Beberapa hari kemudian...

Aku duduk di depan komputer perpustakaan kampus. Hari itu ada pengumuman nama-nama peserta yang berhasil lolos ke babak final lomba karya tulis ilmiah di Surabaya.

Entah mengapa, sejak awal membuka halaman pengumuman, perasaanku tidak tenang.

Aku membaca satu per satu nama yang tertera di layar.

Mataku berhenti.

Ternyata namaku ada di sana.

Aku berhasil lolos!

Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sulit kujelaskan ketika mataku menemukan sebuah nama tepat di bawah namaku.

WARDAHTUL JANNAH.

Aku membaca nama itu sekali lagi.

Wardah.

Aku memperhatikan asal universitasnya.

UNS.

Jantungku seperti berhenti beberapa detik.

Ada nama yang mungkin hanya terdiri dari beberapa huruf bagi orang lain, tetapi bisa menyimpan ribuan kenangan bagi seseorang.

Dan bagiku, nama itu bukan sekadar nama.

Nama itu adalah seseorang yang pernah kukenal beberapa tahun silam. Seseorang yang wajahnya masih tersimpan dalam ingatan, meskipun waktu sudah membawa kami ke tempat yang berbeda.

Aku terdiam cukup lama.

Ada apa ini?

Mengapa harus sekarang?

Mengapa namanya muncul di saat aku bahkan tidak sedang mencarinya?

Aku mengeluarkan keringat dingin. Rasanya seperti baru saja menemukan sesuatu yang selama ini hilang, tetapi belum benar-benar tahu apakah aku masih berhak menemukannya.

Segera kukirimkan SMS kepada Kak Nova dan Kak Silvi untuk memberitahukan bahwa kami lolos ke final.

Setelah itu, aku keluar dari perpustakaan.

Suasana di luar terasa berbeda. Mungkin karena tidak ada pendingin ruangan seperti di dalam perpustakaan. Atau mungkin karena ada sesuatu di dalam dadaku yang tiba-tiba terasa lebih hangat.

Aku menemukan Kak Nova dan Kak Silvi.

“Kak Silvi! Kak Nova!”

Keduanya menoleh.

“Kita lolos final, Kak!”

“Ha? Kita menang? Alhamdulillah!”

Kak Nova melompat kegirangan. Bahkan gerakannya sudah hampir menyerupai orang yang sedang menari tor-tor.

Kak Silfi justru terdiam. Ia mengibaskan kepala dan sesekali mengusap wajahnya.

“Mampus aku. Skripsi sebentar lagi!”

Aku tertawa melihat reaksinya.

Namun, di balik kegembiraan itu, pikiranku masih tertinggal pada satu nama.

Wardah.

Tiga tahun sudah aku tidak melihat wajahnya. Sejak ia pindah ke Pulau Jawa, hubungan kami perlahan semakin jauh. Bahkan, beberapa bulan terakhir kami sudah tidak lagi berkomunikasi melalui telepon.

Handphone-ku pernah terjatuh dan hilang di sebuah sungai. Bersamanya, mungkin ikut hilang pula beberapa nomor dan percakapan yang dulu begitu mudah kujangkau.

Tetapi anehnya, ada satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku.


Surabaya, Kota yang Menyimpan Kejutan

Tiga hari lagi menuju presentasi karya tulis ilmiah.

Aku, Kak Nova, dan Kak Silfi sibuk mempersiapkan materi presentasi, memperbaiki proposal, serta mengurus segala keperluan keberangkatan.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba.

Kami berangkat ke Surabaya.

Kota yang dikenal dengan semangat perjuangannya. Kota yang juga identik dengan patung ikan dan buaya, serta berbagai cerita sejarahnya.

Cuacanya cukup panas dibandingkan beberapa kota lain yang pernah kukunjungi di Pulau Jawa.

Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan ini terasa berbeda bagiku.

Aku datang ke Surabaya bukan hanya membawa proposal penelitian.

Tanpa kusadari, aku juga membawa sebuah harapan kecil yang sudah bertahun-tahun kusimpan.

Harapan untuk bertemu seseorang.


Hari presentasi pun tiba.

Aku duduk di dalam ruangan bersama peserta dari berbagai universitas ternama. Ketika salah satu universitas dari Depok mempresentasikan hasil penelitiannya, perhatianku justru beberapa kali teralihkan.

Mataku menyapu seluruh sudut ruangan.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada seseorang yang sedang berada tidak jauh dariku.

Aku mencoba mengabaikannya.

Sampai akhirnya panitia memanggil nama universitas kami.

Aku maju sebagai perwakilan kelompok.

Selama lima belas menit, aku harus menjelaskan penelitian mengenai kondisi masyarakat yang mengalami gizi buruk, disertai penyakit tuberkulosis dan kusta.

Kak Nova dan Kak Silfi beberapa kali memberikan isyarat agar aku fokus pada slide presentasi.

Namun, pikiranku masih sesekali melayang.

Maaf, Kak. Sepertinya ada radar lain yang sedang bekerja.

Entah radar penelitian atau radar pencarian seseorang.

Presentasi selesai.

Waktu istirahat tiba.

Aku segera keluar dari ruangan. Kerumunan peserta memenuhi pintu hotel yang tidak terlalu lebar. Aku berusaha melewati mereka dengan sedikit tergesa-gesa.

Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin sekali keluar.

Mungkin ingin mencari udara segar.

Atau mungkin ada sesuatu yang sedang menungguku di luar sana.

Aku menyusuri lorong hotel yang cukup panjang. Orang-orang berjalan ke berbagai arah. Sebagian menuju restoran, sebagian lagi menuju kamar masing-masing.

Kemudian, langkahku mendadak melambat.

Di hadapanku berdiri seorang perempuan.

Ia mengenakan jas berwarna biru dengan rok berwarna senada.

Aku hanya melihat punggungnya.

Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang begitu kukenal dari sosok itu.

Aku memperhatikan bentuk tubuhnya, cara berdirinya, dan gerakan kecil kepalanya.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Jangan-jangan...

Aku mendekat beberapa langkah.

Kemudian, dengan suara pelan, hampir seperti sebuah bisikan, aku memanggil,

“Wardah...”

Perempuan itu menoleh.

Wajahnya terlihat bingung.

“Bukan!”

Jawabannya singkat.

Aku langsung terdiam.

“Oh... maaf. Aku salah orang.”

Aku mencoba tersenyum, lalu berjalan meninggalkannya.

Namun, baru beberapa langkah, aku kembali menoleh.

Ada yang aneh.

Mengapa aku begitu yakin bahwa itu adalah dia?

Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar. Wajah seseorang mungkin berubah, penampilannya mungkin berbeda, tetapi bukankah ada sesuatu yang tetap bisa dikenali oleh hati?

Aku terus berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang.

Barangkali aku memang salah.

Barangkali hanya perasaanku yang terlalu berharap.

Atau mungkin, aku sudah terlalu lama menunggu sampai-sampai setiap perempuan yang menyerupainya selalu membuatku teringat kepadanya.


Di Antara Ribuan Orang, Aku Tetap Mencarimu

Aku kembali memasuki ruangan presentasi.

Perempuan berjas biru tadi ternyata masuk ke ruangan yang sama. Ia kemudian maju untuk mempresentasikan hasil penelitian dari universitasnya.

Aku memperhatikan presentasinya.

Bagus.

Sangat bagus.

Hasil penelitiannya juga terlihat menjanjikan.

Aku mencoba mengalihkan perhatian. Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Bukankah tadi dia sendiri sudah mengatakan bahwa dirinya bukan Wardah?

Namun, pikiran manusia terkadang memang sulit diperintah.

Ada hal-hal yang bisa kita lupakan dengan mudah. Ada pula hal-hal yang semakin ingin dilupakan justru semakin kuat muncul dalam ingatan.

Dan Wardah adalah salah satunya.

Aku pernah bertanya-tanya, apakah ia masih mengingatku?

Apakah ia pernah sesekali memikirkan seseorang yang dahulu pernah hadir dalam kehidupannya?

Apakah namaku masih tersimpan di antara banyak nama yang pernah dikenalnya?

Atau jangan-jangan, aku hanyalah seseorang yang pernah lewat sebentar dalam perjalanan hidupnya, kemudian dilupakan begitu saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban.

Aku hanya tahu satu hal: ada seseorang yang sampai hari ini masih ingin kutemui.

Di antara ribuan bintang yang menghiasi langit, selalu ada satu bintang yang paling sering kucari.

Bukan karena bintang itu paling dekat.

Bukan pula karena bintang itu paling terang.

Tetapi karena sejak dahulu, entah bagaimana, pandanganku selalu kembali kepadanya.

Aku tidak tahu apakah ia pernah merasakan hal yang sama.

Aku juga tidak tahu apakah kehadiranku pernah memiliki arti khusus baginya.

Yang kutahu, aku hanya bisa berusaha.

Berusaha tetap mengingat.

Berusaha memahami.

Berusaha menjaga perasaan yang bahkan mungkin tidak pernah ia ketahui.

Tetapi jarak adalah sesuatu yang tidak mudah diajak berkompromi.

Ia bisa memisahkan dua orang yang sebenarnya ingin saling bertemu. Ia bisa membuat percakapan sederhana menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Kadang aku berpikir, mengapa dua orang yang berada di bawah langit yang sama harus membutuhkan perjalanan begitu jauh hanya untuk saling menyapa?

Namun, bukankah garam yang berasal dari laut dan sayuran yang tumbuh subur di pegunungan pada akhirnya bisa bertemu di dalam satu kuali?

Begitulah kehidupan.

Jika memang sudah menjadi takdir, mungkin sejauh apa pun perjalanan, akan ada jalan untuk mempertemukan dua orang.

Namanya juga jodoh.


Sebuah Kebohongan yang Membuatku Bahagia

Sore mulai menjelang.

Matahari perlahan turun dari singgasananya. Setelah kegiatan presentasi selesai, peserta diarahkan menuju sebuah musala kecil di dekat hotel untuk melaksanakan salat Ashar.

Aku ikut menuju musala.

Seusai salat, aku berjalan keluar.

Dan di sanalah aku melihatnya lagi.

Perempuan berjas biru itu.

Kali ini aku tidak ingin hanya menebak-nebak.

Aku mendekatinya.

Sebelum sempat mengatakan apa pun, tiba-tiba ia tersenyum.

Senyum yang terasa begitu akrab.

Kemudian, dengan nada yang sedikit menggoda, ia berkata,

“Kenapa kamu begitu bodohnya membohongiku? Dan kenapa dengan bodohnya aku percaya?”

Aku terdiam.

Kalimat itu seperti membuka kembali pintu yang selama ini tertutup.

Aku menatapnya.

Perempuan itu hanya tersenyum sambil sedikit memiringkan kepalanya.

“Maaf. Hehehe...”

Ia tertawa kecil.

Aku ikut tersenyum. Kali ini bukan karena ada sesuatu yang lucu, melainkan karena ada sesuatu yang akhirnya terasa begitu dekat.

Tiga tahun.

Tiga tahun tidak melihat wajahnya.

Tiga tahun tanpa percakapan yang berarti.

Tiga tahun hanya menyimpan namanya di antara kenangan yang sesekali datang tanpa diundang.

Dan sekarang, orang yang selama ini hanya bisa kutemui dalam ingatan ternyata berdiri beberapa langkah di hadapanku.

Aku masih belum sepenuhnya percaya.

“Wardah di mana?” tanyaku.

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Ia kembali tersenyum.

Aku menatapnya dengan penuh kebingungan.

Kemudian, ia menjawab dengan suara lembut,

“Agus...”

Ia berhenti sejenak, seolah sengaja membiarkan rasa penasaranku semakin besar.

“Kalau kamu masih mencari Wardah, coba lihat baik-baik orang yang sedang berdiri di hadapanmu.”

Aku terdiam.

Ada saat-saat ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan seseorang.

Dan mungkin, saat itu adalah salah satunya.

Aku tersenyum kecil.

Ternyata benar.

Kadang, seseorang tidak perlu pergi jauh untuk menemukan hal yang paling dirindukannya. Ia hanya perlu menjalani perjalanan, melewati waktu, dan membiarkan takdir menyelesaikan bagian yang tidak mampu dilakukan oleh manusia.

Surabaya sore itu menjadi lebih indah dari yang kubayangkan.

Bukan karena gedung-gedungnya.

Bukan karena tempat wisatanya.

Bukan pula karena keberhasilan kami melaju ke babak final.

Tetapi karena di sebuah lorong hotel, setelah sekian lama, aku kembali menemukan seseorang yang namanya pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.

Aku tidak tahu bagaimana kisah ini akan berlanjut.

Aku tidak tahu apakah pertemuan ini akan menjadi awal dari sebuah cerita baru atau hanya menjadi kenangan indah yang akan kusimpan untuk waktu yang lama.

Namun, setidaknya hari itu aku belajar satu hal:

Ada orang-orang yang mungkin tidak selalu hadir di sisi kita, tetapi tetap memiliki tempat di dalam hati. Ada jarak yang memisahkan, ada waktu yang mengubah, tetapi ada kenangan yang tidak pernah benar-benar menyerah untuk bertahan.

Dan sore itu, aku akhirnya mengerti.

Terkadang, perjalanan terjauh bukanlah perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.

Melainkan perjalanan dari sebuah kerinduan menuju pertemuan.

Sebab, setelah sekian lama aku mencari, ternyata yang kubutuhkan bukanlah jawaban atas semua pertanyaan.

Aku hanya ingin memastikan bahwa seseorang yang pernah begitu berarti itu masih nyata.

Dan hari itu, di Surabaya, aku menemukannya kembali.

Merantau Lagi

Hari itu...

"Yah, aku ada panggilan kerja di Jakarta."

Ayahku langsung menjawab "Oh iya? dimana?"

"Ada yah, pokoknya di RS yang bekenlah, selain itu aku juga jadi peneliti disana."

Ayahku langsung bilang "Oke, pikirkan benar-benar dulu ya."

Aku masih diberi kesempatan tiga hari untuk berpikir untuk langsung berangkat ke Jakarta.

Hal ini dikarenakan aku sudah memiliki tempat praktik yang sudah nyaman, dimana pasiennya sudah ramai dan dekat dari rumah orangtua.

Aku masih gundah, karena dulu 3 tahun aku di Asrama di SMA, kemudian aku kuliah 7 tahun di Aceh yang jauh banget dari rumah orangtuaku.

Sambil praktek, aku masih mikir-mikir.

Tiba-tiba aku melihat salah satu nama pasienku, ternyata itu guru biologi-ku. Oke yang dulu sering marah-marahin aku karena aku goblok banget pas SMA.

Aku langsung memanggil beliau...

Saya langsung salam dan cium tangan, apa kabar ibu?

Sampai akhirnya beliau bertanya, "Enak lah ya kau disini?"

"Kayaknya saya akan pindah bu tiga sampai empat hari lagi"

Beliau melanjutkan, "Kemana?"

"Jakarta bu." jawabku singkat "Kebetulan diterima di RS besardisana." 

Sebenarnya, dahulu aku sangat ingin kerja di Jakart. Kenapa? karena aku adalah orang yang sudah lama hidup di kampung, sehingga aku sangat ingin kerja di kota. 

Jakarta di mata orang kampung seperti saya kaya akan gemerlap dan penuh dengan harapan.

"Wah, lanjutlah kalo ke Ibukota Gus. Kapan lagi kita bisa bersaing dengan orang kota." lanjut ibu guruku

Aku membuka handphone-ku, kemudian membalas sebuah pesan Line "Oke, lusa kita ketemu di RS" 

Aku langsung memesan tiket di aplikasi, kemudian membayarnya menggunakan M-Banking-ku.

Dua hari berselang, aku pamit ke ayah dan ibuku untuk langsung ke Jakarta.

Kenapa harus ke Jakarta? aku ingin merantau  lagi, kenapa aku ingin merantau? karena aku ingin menjadi lebih dewasa.

Semua orang dewasa harus merantau, biar dia tau bagaimana mengelola rasa rindu, kemudian bagaimana dia bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan orang yang baru.

Kamis, 08 Juni 2023

Bicara tentang aksi sosial

 Bulan Ramadhan yang kita rindukan.

Ramadhan memang membawa keindahan dan menjadikan hati begitu tentram. Begitu kita merindukan bulan penuh rahmad ini. Berkumpul bersama keluarga, dapat bagun sahur dan berbuka bersama. Hal itu sangat jarang terjadi karena aku sekolah di asrama dan tak mungkin bisa selalu berkumpul terkecuali saat Bulan Ramadhan dan liburan kenaikan keals.

Liburan memang membuatku menjadi bosan, tak ada agenda yang menantang dan tak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Puasa-puasa hanya guling-guling nggak jelas sambil lihat jam limabelas menit sekali.

Terkadang berlama-lama didalam WC buat ngadem atau berendam di bak. Iya beneran ini serius! Ayahku pernah dobrak pintu kamar mandi hanya gara-gara aku nggak keluar dari kamar mandi. Udah setengah jam lebih dikamar mandi tanpa ada tanda-tanda kehidupan dikamar mandi.

Saat ayahku mendobrak dan kebetulan ada ibuku, kakakku, dan adik-adikku yang menyangka aku telah tiada berkumpul didepan pintu. Saat pintu terdobrak, keadaan berbeda. Aku sedang berendam di bak mandi tanpa menggunakan apapun.

Sangat konyol, memang sangat konyol.

Hari keempatbelas Bulan Ramadhan

HaPeku berdering tanda ada SMS masuk kedalam HaPeku.

Bergegas aku membukanya, lalu aku terkejut karena SMS ini dari temen yang sama-sama peserta Olimpiade kemarin. Kebetulan dia ngajak aku buat ngajar matematika ke anak-anak panti asuhan. Kemudian sorenya kita mau ke kampung kreatif buat ngajarin orang tua buat kerajinan tangan yang bakal dijual nanti.

Aku men-OK-kan penawaran dari temanku itu. Dan berjanji untuk bergabung setiap hari Sabtu dan Minggu setiap minggu Bulan Ramadhan ini. Kebetulan anak-anak SMA Plus Islamic Centre selalu libur saat Bulan Ramadhan, sehingga mereka bisa keluyuran kemana-mana.

Jarak dari rumahku ke lokasi sekitar satu jam setengah, cukup jauh kalo naik bus. Tapi aku pengen nekat naik motor ajalah, walaupun belum punya SIM. (jangan ditiru ya, ini contoh nggak baik. Karena mengemudi tanpa memiliki SIM adalah pelanggaran hukum, tapi sekali-kali nggak apa-apa sih).

            Keesokan Harinya

            Aku langsung siap-siap menggunakan helm dan alat pengaman lainnya seraya langsung pergi menuju Panti Asuhan lokasi yang jaraknya agak jauh. Ingat ya, setiap mau berpergian kita harus selalu safety dan mematuhi aturan lalu lintas. Kenapa? Agar kita terlindung dari kecelakaan, terutama dari polisi yang pengen nilang kita.

            Tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata panti asuhan yang dimaksud cukup memprihatinkan. Kondisinya sedikit mengenaskan, sepertinya tidak diperhatikan oleh pemerintah. Untuk kita ketahui, bahwa rata-rata anak panti asuhan tidak bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Bukan karena mereka kurang uang atau kurang kebutuhan, tapi karena kurang kasih sayang.

            Sekarang, di era hidup yang serba susah ini. Orang-orang banyak mencari keuntungan dari membuat panti sosial maupun yayasan, tidak untuk berdarma yang baik maupun berdarma dengan tulus. Seandainya ada orang yang penuh kasih sayang menjaga anak-anak di panti asuhan, In Sha Allah akan banyak anak panti asuhan yang menjadi orang yang sukses.

            Mari kita cintai anak yatim, karena nabi kita juga terlahir dalam kondisi yatim dan nabi menyukai orang yang menyayangi anak yatim. Betul kan?

            “Ade, dimana anak-anak yang mau aku ajarin?” tanyaku kepada Ade.

            Ade langsung mengajakku menuju suatu tempat yang memang sepertinya sering dijadikan aula pertemuan anak-anak di panti asuhan ini, “Ayok Gus.”

            Saat aku masuk, aku kaget bukan main. Aku melihat perempuan yang aku temui saat Olimpiade kemarin. Sedikit kaget karena tidak menyangka dia ada disini, dia sepertinya membaca sebuah buku disudut ruangan itu.


            Ntah apa yang dia baca dan ntah kenapa dia ada disana. Aku bergumam didalam hati didekat kebingungan yang melanda. Aku mencoba tersenyum kepadanya, aku ingin menyapanya tapi aku tak tahu namanya.

            Dia seolah-olah tak memperdulikan aku yang sedang berdiri, dan akan berjalan melewati jarak pandang matanya. Ntah apa yang membuatnya terlalu fokus melihat tulisan yang ada dibuku yang sedang dia pegang.

            Aku mengajarkan IPA dasar, kemudian matematika dasar ke anak-anak, dan masih banyak lagi yang saya ajarkan. Disinilah saya mulai menyukai anak-anak, terutama anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita. Meskipun tidak bisa memberikan uang, kita masih bisa memberikan yang lain kan?

            Tak perlu kita meminta-minta mengemis seperti pengemis dijalan. Kita orang berinteleq, kita memiliki wawasan dan pemahaman serta pengalaman yang bisa kita bagikan ke orang banyak. Dan sepertinya itu bisa lebih berharga daripada uang yang sekali pakai sudah habis.

            Hingga akhirnya aku bercerita sedikit pengalamanku saat mengikuti berbagai kegiatan, seperti memberikan motivasi ke mereka kalo sekolah jangan Cuma sekolah. Jadilah pelajar yang turut aktif membangun mayarakat, entah bagaimana kontribusinya, sekecil apapun aku yakin itu bermanfaat.

Saya sangat menyukai adik-adik yang semangatan seperti mereka hingga akhirnya waktu kami bersama telah habis. Dan aku masih penasaran dengan dia yang tadi membaca sesuatu disudut ruangan ini.

“De, siapa sih namanya?” tanyaku dengan penasaran.

“Nggak boleh dibilang katanya.” Jawab Ade yang sepertinya tidak memberikan jawaban.

“Kok kayak gitu sih? Main rahasia-rahasiaan.” Lanjutku dengan sewot.

Ade tertawa sambil menutup mulutnya, “Tanya saja langsung ke orangnya Gus. Hahahahaha.”

Walaupun aku sedang berbicara dengan Ade, ntah kenapa mataku selalu autofokus ke perempuan disudut sana yang sedang membaca.

Sekarang dia berjalan sambil dikerumuni anak-anak yang ingin menyalami tangannya yang terbalut gamis pink itu. Kenapa anak-anak begitu mencintainya? Kenapa anak-anak berebutan untuk bersalaman dengannya? Jangan-jangan dia yang punya panti asuhan.

“De, kenapa dia tu? Kerjaannya Cuma baca buku disudut ruangan tadi. Tapi dia baru berdiri dan melangkah beberapa kali udah dikerumuni sama anak-anak.” Tanyaku yang sudah tak sabar lagi melihat dirinya yang selalu diam.

“Jadi kamu belum tau Gus?” tanya Ade balik.

“Ha? Tau apa?” aku bertanya lagi dengan wajah yang agak bloon.

“Iyah, kan dia koordinator dan punya ide buat program kayak gini.” Jawab ade singkat. “Kalo kami mah ikut-ikut aja Gus, hehehe.” Dilanjutkan dengan tawanya.

Aku langsung terdiam sambil tersenyum, kenapa kamu begitu menjengkelkan menurutku, ditanya nama hanya diam dan saat aku lembarkan senyum malah seperti tak melihat apa-apa. Tapi, disisi lain dia begitu mengagumkan ketika bermain dengan anak-anak.

Hingga saat ini aku termotivasi untuk tumbuh menjadi laki-laki yang menyayangi anak-anak, mengajar adalah hobiku dan tak akan aku jadikan sebuah profesi. Berkumpul, bercanda ria, dan memberikan banyak pengalaman ke anak-anak sekarang menjadi ruhku. Sepertinya lebih tepat aku bilang sebagai sedikit ruhmu yang menempel pada ruhku, karena itu semua tak jauh dari apa yang kau contohkan kepadaku. Terimakasih untuk dirimu yang ada disudut ruangan itu disaat itu.

Bicara Masalah Ulangan

 

“Hosh.. hosh... hosh..” desah nafasku berlari dari rumah ke SMP untuk mengikuti upacara setiap hari senin pagi. “kamu terlambat lagi, setiap hari selalu terlambat. Mau jadi apa kamu nanti?” ucap guruku dengan kata-kata kasar.

            “Anu... bu, saya lupa nyetrika baju semalam, angkot kesini pun jarang bu.” Sebisa mungkin aku mengeluarkan alasan agar diringankan dari beban hukuman. Walaupun telah mengeluarkan seribu jurus dan alasan tetap saja aku mendapatkan hukuman.

            Dihari itu aku sangat dipermalukan oleh guruku, disuruh untuk berdiri di dekat tiang bendera, sambil hormat, berteriak “Aku berjanji tidak akan terlambat lagi” dan mengangkat satu kaki. Selama kelas satu SMP aku tak pernah merasa bersalah dengan sikap nakalku ini. Aku menganggap apa yang aku lakukan adalah hal yang biasa-biasa saja dan wajar dilakukan oleh anak SMP. Mungkin para pembaca juga memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda denganku bahkan sama.

            “Tiap hari dihukum, tiap upacara bendera dihukum. Mau jadi apa kamu nak? Kalo kamu kayak gini terus lebih baik kamu keluar dari sekolah ini” hardik wali kelasku.

            “Tapi bu, jarak dari rumah ke SMP jauh. Mau gimana lagi bu? Kendaraan jarang kesini, orang tua ngak bisa mengantarkan, dan saya hidup berdua dengan adik-adik saya bu.” Jawabku guna membela diri.

            “Banyak alasan kamu, kalau sudah salah itu diam saja. Jangan banyak alasan, jangan kurang ajar sama guru kamu.” Setelah mendapat banyak omelan dari guru wali kelasku, aku dihukum lagi. Didepan kelas dengan memakai papan yang digantungkan dileher dengan tulisan “Tukang Telat”. Memang masa kelas satu SMP adalah masa paling suram yang pernah aku alami, kenapa tidak? Setiap tingkahku selalu menjadi ulah dan perhatian guru.

            Satu minggu terlewati, akhirnya ulangan semester dilaksanakan juga. Walaupun tidak belajar, aku tetap saja percaya diri mengerjakan ulangan semester. Karena kalau menurutku, dalam mengerjakan soal ujian atau ulangan cukup menjawab apa yang kita tahu, selebihnya ya jawab asal-asalan. Siapa tau saja memang nasib kita untuk mendapatkan nilai besar. Bahkan saat ujian aku selalu keluar lima belas menit bahkan sepuluh menit saat ujian dimulai. Akhirnya masalah lainnya datang, karena aku yang selalu keluar cepat saat ujian. Aku dipanggil ke ruang guru, disana aku dimarahi oleh hampir semua guru karena cepat keluar disaat ujian berlangsung. Mereka mengatakan kalau aku tidak menghargai hasil jerih payah guru yang sudah membuat soal dengan susah payah.

            “Kamu jangan sok pintar ya? Kenapa kamu cepat keluar saat ujian?” teriak guruku dengan rasa kesalnya.

            “Daripada aku nyontek, lebih baik aku cepat-cepat keluar. Karena aku gak mau lama-lama diruang ujian.” Gumamku dalam hati. Aku kesal sekali, kenapa semua yang kulakukan menjadi masalah? Kenapa aku menjadi siswa yang banyak masalah? Semua pertanyaanku tak bisa terjawab. Padahal aku hanya ingin semua orang mengerti kalau aku memang begini, aku tidak bisa mengikuti gaya hidup orang-orang yang selalu patuh pada peraturan.

            “Kamu belum tahu berapa lama kami buat soal, betapa susahnya. Kamu menghancurkan semua usaha kami hanya dalam waktu lima belas menit.” Ucap guruku dengan nada emosi.

            Pada saat pelajaran Ekonomi, mulailah perdebatanku dengan guru IPS-ku. Pada saat itu mereka bilang tujuan hidup manusia itu adalah uang. Disitu aku bertanya dan menyanggah “Kenapa harus ada uang? Kalau kenyataannya uang dapat membuat orang menjadi serakah, rakus bahkan engan berbagi.” Disitu mulailah pertanyaan besar dalam hidupku. Apa tujuanku hidup didunia? Apakah demi uang, apakah sekolah yang kita lalui ini semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang yang banyak. Kalau begitu betapa rendahnya makna hidup insani, jika hanya demi uang.

            Pada hari itu, Departemen Pendidikan mengadakan kegiatan penelitian kemampuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan Teknologi), semua siswa di SMP diikutsertakan. Seperti biasa, aku anak bandel yang hanya bisa buat masalah dan terlambat disekolah udah jatuh mental karena ngak percaya diri. Aku terlambat lagi setengah jam, dan langsung diizinkan masuk tanpa dihukum karena ada kegiatan Iptek. “Hmm, tumben ngak dihukum.” Gumamku dalam hati. Seperti biasa, aku keluar lima belas menit setelah aku masuk ruangan. Aku hanya cuek dengan hasil dari kegiatan Iptek tadi, “Mau menang, mau kalah. Aku gak peduli.” Begitu ucapanku kepada teman-temanku saat kami nongkrong dibawah tenda kantin di SMP kami. Seperti biasa, hari senin cerah selalu diawali dengan upacara bendera. Dan aku selalu memecahkan rekor dalam absen siswa terlambat. Hari itu aku memang capek setelah mengikuti kegiatan hiking dan halang rintang pramuka. Aku sudah malas beralasan lagi, aku udah pasrah dan gak peduli lagi mau dihukum, karena aku rasa udah kebal sama hukuman yang diberikan oleh guru-guruku. Akhirnya dihukum juga, dan ada yang aneh dengan hukuman hari ini. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku dan berkata “Agus, bukan?”

            “Iya, aku Agus. Ada apa?” jawabku ketus dengan mengantungkan papan yang bertuliskan “Saya Selalu Telat.”

            “Agus, dipanggil sama Pak Alwi, sekarang ya.” Jawabnya sambil tersenyum lembut.

            “Kamu jangan ngejek ya, mana mungkin aku dipanggil kepala sekolah? Apakah cuma karena sering terlambat?” Aku sangat geram dengan cewek berambut pendek, anggun, manis, cantik dan dia adalah ranking satu disekolah kami.

            “Ya udah, kalo gitu sama-sama dengan Intan pergi ke ruang Kepala Sekolah.” Sambil tersenyum dan menarik tanganku. Aku agak bingung dengan wanita satu ini, dia adalah satu-satunya wanita yang mau bicara dan tersenyum padaku. Biasanya aku selalu dijauhi dan dicuekin cewek-cewek sekolah karena aku hanyalah seorang pria yang kaya akan masalah dan sifat nakal di sekolah.

            Setelah berjalan beberapa meter, melewati kantor dan ruang guru. Akhirnya kami masuk ke ruang kepala sekolah. Ruangan dingin, agak gelap, disana seperti kursi pesakitan, seperti tempat introgasi yang biasanya kita lihat di film aksi. “Jadi kamu yang namanya Agustiawan ya?” tiba-tiba terdengar suara yang agak menggelegar, maklumlah karena kepala sekolah kami orang batak.

            “Iya, iya Pak.” Jawabku agak takut.

            “Kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini.” Dia bertanya, membuatku penasaran. Ada sedikit perasaan takut karena aku adalah siswa bermasalah. “Selamat ya, berdasarkan hasil kegiatan Iptek dari Departemen Pendidikan kemaren, kamu mendapatkan nilai terbesar di SMP kita.” Gleger, rasanya bumi gonjang ganjing, tiba-tiba keluar kerak bumi dari bawah. “Maaf pak, bapak jangan bercanda ya.” Jawabku dengan suara lirih. “Iya benar, selamat ya, saya juga ngak nyangka. Karena nama kamu terkenal diforum guru sebagai siswa bermasalah.”

            Akupun sedikit heran dengan apa yang terjadi, beberapa kali aku minta tampar sama teman-teman, apakah ini benar. Semenjak saat itu, aku agak menjaga image dari anak yang nakal, berangsur-angsur memperbaiki diri. “Tapi aku hanyalah anak yang bemasalah, susah untuk memperbaiki diriku.” Aku selalu mengatakan itu kepada ayah saat ditelpon. Aku sebenarnya ingin menjadi anak yang baik, tapi mungkin belum bisa.

            Semenjak saat itu, kacaupun berlanjut menjadi sebuah keselarasan. Aku pulang dengan membawa kertas hasil tes tersebut. Saat ibuku pulang mengajar, kutunjukkaan hasil tes tersebut. Hingga akhirnya, ibuku berkata kepadaku “Nak, kertas ini kamu buat dimana? Kok ada cap Dinasnya? Hati-hati nanti dikira pemalsuan surat.” Ibuku sangat tidak percaya dengan hasil yang ada, karena dari SD sampai SMP aku hanya mendapatkan rangking 20 keatas.

            Setiap manusia memiliki sisi baiknya, seburuk-buruknya manusia, dia memiliki waktu untuk berubah. Karena kita semua memiliki masa depan untuk diisi dengan hal-hal yang berguna.

Selasa, 06 Juni 2023

Bicara Tentang Aksi Mahasiswa

 Terkadang siapa yang belum tau akan bertindak seenaknya, terkadang yang belum tau tidak akan peduli.

Kita sangat perlu untuk mendapatkan banyak halangan agar kita tahu bagaimana rasanya dihalangi, agar nanti kita tidak menghalangi orang lain. Terlalu banyak orang yang menghalangi orang lain untuk maju, terlebih lagi jika dia mampu melampaui empunya.
Terkadang kita harus terlalu sabar alias membutuhkan kesabaran ekstra dalam menghadapi orang yang aneh. Aneh dalam hal susah melihat orang lain senang, susah melihat orang lain berkembang. Itu sangat aneh, tak jarang orang-orang tidak ingin memberikan panggung kepada kita untuk berpentas, karena dia tahu bahwa pentas kita lebih baik daripadanya.
Tapi, untuk orang antimainstream selalu punya solusi yang baik untuknya. Solusi dimana dia mendapatkan panggung dengan cara tidak menghancurkan panggung orang lain.
Tahun ini aku sangat prihatin melihat kondisi organisasi kampusku. Kondisi mahasiswa yang hidupnya hanya itu-itu saja, tiada pengembangan dan tiada pengabdian. Saat aku mau masuk ke satu lembaga dikampusku, aku langsung didepak keluar jauh-jauh agar tidak mengganggu sistem yang telah mereka buat.
Memang tak ada jalan lain, ketika kamu sudah dibuang jauh-jauh hanya karena kamu ingin membuat sesuatu menjadi lebih baik. Hanya ada satu cara! Menyingkir dan membuat sesuatu yang memang bisa engkau kendalikan dengan sesuka hati.
Itulah cerminan ruhmu, sesuatu yang kau gagas sendiri tanpa rasa takut. Tak perlu takut untuk melakukan yang benar, tak perlu malu untuk mengekspresikan diri, dan tak perlu ragu untuk melangkah lebih maju. Bukankah semuanya kamu yang menentukan?
Kesalahan umum yang sering dilakukan mahasiswa adalah bangga menjadi EO. EO? Iya, Event Organizer! Mahasiswa itu bukan EO, tetapi Agent of Change and Development. Sangat rugi jika mahasiswa hanya menjadi tempat kampanye partai politik, menjadi tempat menyalurkan bantuan dan menjadi tempat untuk hura-hura.
Saat kita seperti EO, seolah-olah apa yang kita pelajari saat kuliah tidak berguna sama sekali. Contohnya, anda mahasiswa ekonomi tetapi membuat kegiatan atau aktivitas yang hanya membantu LSM atau pemerintah untuk menyalurkan bantuan. Lalu, dimana letak ilmu anda? Kecuali jika anda membuat proyek pembangunan ekonomi masyarakat.
Anda mahasiswa kedokteran, tetapi anda hanya membuat kegiatan donor darah masal. Dimana skills anda mainkan? Kecuali anda membuat sosialisasi donor darah, atau langsung mengambil darah pasien. Baru itu bisa disebut dengan membuat kegiatan, bukan menjadi EO.
Sadarlah kawan, buatlah kegiatan yang efeknya memandirikan masyarakat, bukan memanjakan masyarakat dengan cara membagikan ini itu. Lakukan program yang bisa membuat mereka mandiri, yang bisa memberikan manfaat kepada diri mereka sendiri apabila kita lepas disuatu hari nanti.
Terlebih, kurangnya rasa peka mahasiswa terhadap lingkungan sekitar lama-lama akan membawa bencana kemanusiaan. Apakah kita pernah berfikir jika nanti, kedepannya kita dipimpin dan hidup bersama pemuda-pemuda yang tak peduli dengan nasib sesamanya.
Oke, akhirnya aku mengumpulkan beberapa temanku yang memiliki visi yang sama dengan tujuan membuat perkumpulan yang bisa membendung kreatifitas mahasiswa untuk dapat mengabdikan dirinya ke masyarakat.
“Kawan-kawan ayok kita bergabung membentuk sesuatu yang bisa mengubah nasib masyarakat masa kini!” seruku didepan mengajak semua teman-temanku.
“Ah, buat apa juga?” celetuk sinis dari seorang perempuan yang duduk dibangku baris kedua.
“Begini, melihat kondisi negara kita sekarang. Apa yang bisa kita lakukan? Hanya diam? Ayoklah kita buat sesuatu yang kecil tapi memiliki imbas yang baik kepada masyarakat.” Ajakku berceloteh.
Jadi, kenapa kita begitu kurang peka dengan kondisi yang ada sekarang?
Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia?
Sehingga pelajarnya begitu cuek dengan banyak fenomena yang ada di masyarakat. Bahkan yang ada ditengah-tengah kehidupan mereka. Aku sangat prihatin, bahkan sekarang serasa prihatinnya udah jadi double (ke masyarakat dan mahasiswa), bahkan mungkin bentar lagi aku bakal jadi prihatinni atau prihatinawati.
Tapi, percayalah dan yakinlah semua kondisi akan membaik. Selalu optimis dan berfikiran positif adalah kekuatan mahasiswa alias pemuda.
Respon negatif dari temanku sontak membuatku menjadi sedih, aku merenung sendiri. Semuanya seakan-akan pupus, aku berputus asa. Tiba-tiba telponku berbunyi dan aku langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum Wardah.” Salamku di telpon menyapanya.
Wardah langsung mulai bicara, “Waalaikumsalam, apa kabar kamu?”
“Sedikit bete.” Jawabku singkat.
“Kenapa seperti itu? Kok laki-laki pake bete segala. Kayak cewek aja.” Ejek Wardah di telpon menghiburku.
Aku langsung bercerita kepada Wardah perihal apa yang aku alami hari ini. Tak lama kemudian Wardah langsung tertawa, dia sedikit memberiku motivasi. “Berapa orang yang menolak?” tanyanya.
Aku langsung menjawab, “Ratusan.”
“Berapa orang penduduk Indonesia? Dari sekian juta, yang menolak baru ratusan.” Jawabnya.
Dia melanjutkan nasihatnya, “Coba cari orang lain, yakinlah setiap tindakan baik pasti akan ada yang mendukung. Kamu jangan takut.” Ucapnya sok bijak.
Kami berdua terdiam sejenak.
“Pasti ada satu orang yang seisi pikiran denganmu. Kamu harus yakin.” Ujarnya dengan menarik nafas sambil melanjutkan, “Aku juga mau ikut.”
“Sudahlah, aku masih ingin sedih.” Jawabku ngambek.
“Boleh kamu sedih, asal kesedihan itu tidak membuatmu larut dalam keputus-asaan dan bahkan tidak menjerumuskanmu dalam keterpurukan.” Ucapnya sambil tertawa kecil. “Ayok, come on boy! Masa depan itu indah. Cari orang yang bisa diajak bergabung. Itu lebih baik.”
Kami terdiam sejenak hingga akhirnya dia mengakhiri ucapannya, “Ayo kita lanjutkan perjuangan.”

Bangkitlah, ayo bangkit memperbaiki kondisi negerimu. Membuat semua yang tak mungkin menjadi mungkin, menghilangkan keresahan dan kerisauan serta melalukan yang terbaik untuk menolong kehidupan.

Senin, 05 Juni 2023

Bicara Tentang Kontrakan Baru

 Panas Terik Kota Palembang

            Kota Palembang memang dipenuhi oleh pejalan kaki, karena memang jalan kaki di Kota Palembang sangat menyenangkan. Selain kita bias menikmati keramaian ala negeri barat, kita juga mungkin bias dapet jodoh. Kayak yang dialami oleh salah satu temenku yang dapet jodoh di trotoar samping International Plaza.
            Beberapa tahun yang lalu, suasana Kota Palembang sangatlah ramai karena ada dua event sekaligus yang dilaksanakan disini. Siapa yang tau hayooo? Yang bener bakal dapet biscuit rasa kulit manggis.
            Aku adalah mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri di Palembang, aktif juga diremaja masjid. Hobinya foto-foto tapi nggak suka selfie, karena menurutku selfie itu alay kelas tinggi.
            Jalan-jalan di Kambang Iwak bareng kawan-kawan sambil dikejar banci itu biasa kok. Nggak ada yang istimewa dengan anak kesehatan yang suka ikut Open Mic Standup Commedy di Palembang tapi sayangnya garing. Kriiik kriiik gitu loh.
            Jadi cerita ini dimulai ketika aku masih kurus, sebelum aku jadi laki-laki prenagen. Memang banyak hal yang aku lakukan bersama teman-temanku.
            “Pooop, pooop, pooop…” bunyi motor kawanku yang membantu membawa barang-barangku.
            Maklum, hari ini aku baru saja pindah rumah dari Kontrakan lama yang letaknya depan kuburan cina ke tempat ditengah-tengah perumahan. Aku tak sanggup tinggal didepan kuburan cina. Kenapa?
            Kalo kita buat survey kenapa orang nggak tahan tinggal didepan kuburan pasti 90% bilang takut angker gitu. Jika anda menjawab tidak, berarti anda 10%-nya. Ya, aku juga masuk ke 10%-nya, aku bukan takut sama hantunya, karena aku yakin sesuatu yang masuk kuburan nggak mungkin bangkit trus mengetuk rumah kita sambil numpang kekamar mandi sebentar karena didalam kuburannya nggak ada WC. Tapi yang jelas ini nggak lucu.
            Sekarang pertanyaannya, kenapa aku nggak suka tinggal didekat kuburan?
            Pertama, aku pernah pulang kerumah jam tiga siang. Tiba-tiba aku melihat udah rame didepan rumah, sampe-sampe ada mobil yang parkir didepan pagar rumah kontrakan aku sampe-sampe aku teriak-teriak “Ini mobil siapa? Ini mobil siapa? Tolong pindahin dong.”, tapi sampai satu jam aku teriak-teriak sampe-sampe pake toa dan buat pengumuman di Masjid tetap aja nggak ada yang mengubris dan memindahkan mobilnya. Oke fine, kali ini aku yang mengalah dan terpaksa memarkirkan motorku diluar pagar.
            Kedua, aku pernah kuliah siang. Baru selesai mandi, aku langsung memakai pakaian dinas dan waktu mau mengeluarkan motor dari pagar rumah. “Kok pagarnya keras ya?” tanyaku dalam hati. Saat aku mengintip keluar ternyata pagar rumah kontrakanku tertahan oleh kendaraan truk yang mengangkut peti jenazah. Aku hanya bisa mengangga-ngangga melihat tindak tanduk “Penumpang” yang sering parkir sembarangan didepan rumahku, tak kusangka-sangka ternyata ada acara pemakaman yang dilakukan saat itu juga, akhirnya aku terlambat masuk ke kampus.
            Tapi disisi lain aku juga merasa sedikit untung punya rumah kontrakan didekat kuburan cina. Terkadang saat lapar dan haus mendera, kekurangan uang diakhir bulanpun merajalela. Kami segerombolan laki-laki mengendap-ngendap berjalan lewat kuburan dan pura-pura nggak tau. Lihat kiri lihat kanan apakah situasi disekitar kami aman dan akhirnya hap, kami bisa mendapatkan buah gratis yang dipersembahkan untuk kuburan tersebut.
            Tapi kini aku harus menerima kenyataan kalo harus pindah kontrakan keperumahan yang letaknya ditengah kota. Rumah bertipe 36B (kayak ukuran apa gitu) yang mungkin nanti akan memberikan cerita yang lebih menantang lagi.
            Saat masuk kerumah yang sudah 2 tahun tidak dihuni oleh manusia itu, “Kreeeee….” Bunyi pintu rumah bertipe 36 itu terbuka. Semerbak bau apa aja berkumpul disana dari kaos kaki sampe muntah kucing. Debunya udah kemane-mane tebelnya 5 centi lagi.

            Kecoa sama tikus udah pesta pora minum arak didalam dapur rumah kontrakan baru kami. Yah, semoga rumah bertipe 36 ini bisa memberikan cerita baru yang lebih bermakna.