Ketika sebuah perjalanan ilmiah justru membawaku kembali pada seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.
Aku memasuki ruang Ketua Jurusan bersama dua orang kakak tingkatku. Hari itu kami sedang mendiskusikan sebuah rencana besar: mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kebetulan, untuk tahun itu, salah satu institut teknologi terbesar di Surabaya menjadi tuan rumahnya.
Di ruangan itu, kami sibuk membicarakan judul penelitian yang akan diikutsertakan.
“Begini, Bu. Kami memilih judul ini karena memang masih jarang diangkat di masyarakat. Kalau judul yang satunya, rasanya sudah cukup banyak orang yang membahasnya,” jelasku kepada dosen pembimbing.
“Iya juga,” jawab beliau singkat sembari memperhatikan lembaran proposal dan sesekali mencoret beberapa ejaan yang dianggap kurang tepat.
Beberapa saat kemudian, beliau mengangkat wajahnya.
“Leader-nya siapa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, sebelum aku sempat menjawab, dua orang kakak tingkatku secara bersamaan menunjuk ke arahku yang duduk di tengah-tengah mereka.
“Agus, Bu!”
Kompak sekali. Seolah-olah mereka sudah berlatih sebelumnya.
“Kenapa dia? Dia kan junior kalian,” tanya dosenku dengan nada yang sedikit meragukan kemampuanku.
“Bukan begitu, Bu. Dia yang mengajak kami. Lagipula, hanya dia sendiri laki-laki di kelompok kami,” jawab Kak Nova.
Kak Nova adalah salah satu sosok perempuan yang cukup istimewa dalam pandanganku. Ia berjilbab lebar, tutur katanya lembut, dan hampir tidak pernah menunjukkan kemarahan. Bahkan, rasanya sulit membayangkan beliau mengucapkan kata-kata kasar.
Ada sesuatu yang menenangkan dari kehadirannya. Sosok perempuan yang sederhana, bersahaja, dan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.
Setelah keluar dari ruang Ketua Jurusan, kami berjalan menyusuri lorong kampus.
“Kak Nova, sekarang bagaimana?” tanyaku.
“Ya sudah, begini saja, Dek. Adek buat BAB Satu, Kakak buat BAB Dua, Kak Sifi buat BAB Tiga. Bagaimana?” katanya sambil memberikan solusi pembagian tugas.
“Sip. Begitu saja, Nov. Sudah bagus kok,” sambung Kak Silfi.
Akhirnya, kami pulang ke rumah masing-masing dengan membawa tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dua hari.
Aku mendapat bagian BAB Satu. Isinya bukan sesuatu yang sederhana: latar belakang, pertanyaan penelitian, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.
Bagi mahasiswa yang belum pernah benar-benar belajar metodologi penelitian, tugas itu terasa seperti mendaki gunung tanpa mengetahui jalan menuju puncaknya.
Namun, aku tidak ingin mengecewakan mereka.
Dengan modal koneksi internet, aku mulai membuka berbagai situs yang berisi makalah, jurnal, dan skripsi. Zaman sudah berubah. Tidak seperti dahulu ketika seseorang harus mencari katalog perpustakaan satu per satu untuk menemukan referensi.
Sekarang, semuanya terasa lebih mudah. Cukup mengetikkan beberapa kata, berbagai informasi muncul di hadapan mata.
Namanya Google.
Entah berapa jam aku menghabiskan waktu di warnet. Mata mulai mengantuk, tubuh berkeringat, dan jari-jariku terus menari di atas keyboard komputer.
Namun, jangan salah sangka. Tidak semua waktu itu kugunakan untuk mengerjakan penelitian.
Sesekali aku masih bermain DOTA.
"Iya, akhirnya pemainku mati lagi!"
Memang begitulah DOTA. Kadang kita sudah berusaha bersembunyi, tetapi musuh tetap berhasil menemukan dan menghabisi kita.
Ketika permainan berakhir, aku kembali membuka dokumen penelitian.
Dan...
Astaga!
Ternyata yang tertulis baru satu kalimat:
1.1. Latar Belakang.
Hanya itu!
Rasanya ingin menangis, tetapi malu kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin dua hari lagi harus dikumpulkan, sementara satu halaman pun belum selesai?
Akhirnya aku memutuskan untuk serius. Ini bukan sekadar tugas kuliah. Ada kepercayaan dua orang kakak tingkat yang harus kujaga. Ada tanggung jawab yang sudah diberikan kepadaku.
Aku tidak boleh main-main lagi.
Beberapa minggu berlalu.
Hari pengumpulan karya ilmiah akhirnya tiba. Setelah semua bagian selesai, proposal ditandatangani Ketua Jurusan. Aku bergegas menuju kantor pos untuk mengirimkan karya kami kepada panitia.
Selesai mengirimkan berkas, aku menemukan Kak Silfi sedang duduk di sebuah kursi di bawah pohon, di pinggir kampus.
Tanpa berpikir panjang, aku menghampirinya.
“DAAR!”
Kak Silfi langsung terkejut. Buku tebal yang ada di tangannya mendarat di tubuhku.
“Kenapa kamu ini, Dek! Mengagetkan orang saja!”
Aku hanya tertawa. Bagiku, melihat orang terkejut terkadang menjadi hiburan tersendiri.
“Kak, punya kita sudah aku kirim ke panitia,” kataku.
“Bagus dong. Sekarang kita tunggu saja hasil perlombaannya dengan sabar.”
“Oke, Kak!”
Aku bersiap meninggalkannya ketika tiba-tiba Kak Silfi berkata,
“Semoga kita tidak mendapatkan apa-apa. Aamiin!”
Aku langsung berbalik.
“Lho, kenapa, Kak?”
“Kakak mau fokus, Dek. Skripsi sudah menunggu. Capek sekali mengerjakan skripsi.”
Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang sedikit serius.
“Tapi, skripsi itu sebenarnya mengajarkan dua hal. Pertama, pelajaran duniawi, yaitu ilmu yang kita teliti. Kedua, pelajaran batin, yaitu kesabaran.”
Aku mengangguk pelan.
Benar juga.
Penelitian bukan hanya tentang teori, angka, dan hasil. Ada kejujuran yang harus dijaga, ada kesabaran yang harus dipertahankan, dan ada proses panjang yang harus dilalui.
Ada orang yang memilih jalan pintas dengan membayar orang lain untuk menyelesaikan skripsinya. Ada pula yang memalsukan data karena tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa penelitiannya tidak berjalan sesuai harapan.
Padahal, justru di situlah letak pembelajarannya.
Ilmu mengajarkan kita untuk berpikir. Proses mengajarkan kita untuk bersabar.
Dan kehidupan, terkadang, mengajarkan keduanya dengan cara yang jauh lebih sulit.
Nama yang Membuat Jantungku Berhenti Sejenak
Beberapa hari kemudian...
Aku duduk di depan komputer perpustakaan kampus. Hari itu ada pengumuman nama-nama peserta yang berhasil lolos ke babak final lomba karya tulis ilmiah di Surabaya.
Entah mengapa, sejak awal membuka halaman pengumuman, perasaanku tidak tenang.
Aku membaca satu per satu nama yang tertera di layar.
Mataku berhenti.
Ternyata namaku ada di sana.
Aku berhasil lolos!
Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sulit kujelaskan ketika mataku menemukan sebuah nama tepat di bawah namaku.
WARDAHTUL JANNAH.
Aku membaca nama itu sekali lagi.
Wardah.
Aku memperhatikan asal universitasnya.
UNS.
Jantungku seperti berhenti beberapa detik.
Ada nama yang mungkin hanya terdiri dari beberapa huruf bagi orang lain, tetapi bisa menyimpan ribuan kenangan bagi seseorang.
Dan bagiku, nama itu bukan sekadar nama.
Nama itu adalah seseorang yang pernah kukenal beberapa tahun silam. Seseorang yang wajahnya masih tersimpan dalam ingatan, meskipun waktu sudah membawa kami ke tempat yang berbeda.
Aku terdiam cukup lama.
Ada apa ini?
Mengapa harus sekarang?
Mengapa namanya muncul di saat aku bahkan tidak sedang mencarinya?
Aku mengeluarkan keringat dingin. Rasanya seperti baru saja menemukan sesuatu yang selama ini hilang, tetapi belum benar-benar tahu apakah aku masih berhak menemukannya.
Segera kukirimkan SMS kepada Kak Nova dan Kak Silvi untuk memberitahukan bahwa kami lolos ke final.
Setelah itu, aku keluar dari perpustakaan.
Suasana di luar terasa berbeda. Mungkin karena tidak ada pendingin ruangan seperti di dalam perpustakaan. Atau mungkin karena ada sesuatu di dalam dadaku yang tiba-tiba terasa lebih hangat.
Aku menemukan Kak Nova dan Kak Silvi.
“Kak Silvi! Kak Nova!”
Keduanya menoleh.
“Kita lolos final, Kak!”
“Ha? Kita menang? Alhamdulillah!”
Kak Nova melompat kegirangan. Bahkan gerakannya sudah hampir menyerupai orang yang sedang menari tor-tor.
Kak Silfi justru terdiam. Ia mengibaskan kepala dan sesekali mengusap wajahnya.
“Mampus aku. Skripsi sebentar lagi!”
Aku tertawa melihat reaksinya.
Namun, di balik kegembiraan itu, pikiranku masih tertinggal pada satu nama.
Wardah.
Tiga tahun sudah aku tidak melihat wajahnya. Sejak ia pindah ke Pulau Jawa, hubungan kami perlahan semakin jauh. Bahkan, beberapa bulan terakhir kami sudah tidak lagi berkomunikasi melalui telepon.
Handphone-ku pernah terjatuh dan hilang di sebuah sungai. Bersamanya, mungkin ikut hilang pula beberapa nomor dan percakapan yang dulu begitu mudah kujangkau.
Tetapi anehnya, ada satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku.
Surabaya, Kota yang Menyimpan Kejutan
Tiga hari lagi menuju presentasi karya tulis ilmiah.
Aku, Kak Nova, dan Kak Silfi sibuk mempersiapkan materi presentasi, memperbaiki proposal, serta mengurus segala keperluan keberangkatan.
Akhirnya, hari yang ditunggu tiba.
Kami berangkat ke Surabaya.
Kota yang dikenal dengan semangat perjuangannya. Kota yang juga identik dengan patung ikan dan buaya, serta berbagai cerita sejarahnya.
Cuacanya cukup panas dibandingkan beberapa kota lain yang pernah kukunjungi di Pulau Jawa.
Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan ini terasa berbeda bagiku.
Aku datang ke Surabaya bukan hanya membawa proposal penelitian.
Tanpa kusadari, aku juga membawa sebuah harapan kecil yang sudah bertahun-tahun kusimpan.
Harapan untuk bertemu seseorang.
Hari presentasi pun tiba.
Aku duduk di dalam ruangan bersama peserta dari berbagai universitas ternama. Ketika salah satu universitas dari Depok mempresentasikan hasil penelitiannya, perhatianku justru beberapa kali teralihkan.
Mataku menyapu seluruh sudut ruangan.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada seseorang yang sedang berada tidak jauh dariku.
Aku mencoba mengabaikannya.
Sampai akhirnya panitia memanggil nama universitas kami.
Aku maju sebagai perwakilan kelompok.
Selama lima belas menit, aku harus menjelaskan penelitian mengenai kondisi masyarakat yang mengalami gizi buruk, disertai penyakit tuberkulosis dan kusta.
Kak Nova dan Kak Silfi beberapa kali memberikan isyarat agar aku fokus pada slide presentasi.
Namun, pikiranku masih sesekali melayang.
Maaf, Kak. Sepertinya ada radar lain yang sedang bekerja.
Entah radar penelitian atau radar pencarian seseorang.
Presentasi selesai.
Waktu istirahat tiba.
Aku segera keluar dari ruangan. Kerumunan peserta memenuhi pintu hotel yang tidak terlalu lebar. Aku berusaha melewati mereka dengan sedikit tergesa-gesa.
Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin sekali keluar.
Mungkin ingin mencari udara segar.
Atau mungkin ada sesuatu yang sedang menungguku di luar sana.
Aku menyusuri lorong hotel yang cukup panjang. Orang-orang berjalan ke berbagai arah. Sebagian menuju restoran, sebagian lagi menuju kamar masing-masing.
Kemudian, langkahku mendadak melambat.
Di hadapanku berdiri seorang perempuan.
Ia mengenakan jas berwarna biru dengan rok berwarna senada.
Aku hanya melihat punggungnya.
Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang begitu kukenal dari sosok itu.
Aku memperhatikan bentuk tubuhnya, cara berdirinya, dan gerakan kecil kepalanya.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Jangan-jangan...
Aku mendekat beberapa langkah.
Kemudian, dengan suara pelan, hampir seperti sebuah bisikan, aku memanggil,
“Wardah...”
Perempuan itu menoleh.
Wajahnya terlihat bingung.
“Bukan!”
Jawabannya singkat.
Aku langsung terdiam.
“Oh... maaf. Aku salah orang.”
Aku mencoba tersenyum, lalu berjalan meninggalkannya.
Namun, baru beberapa langkah, aku kembali menoleh.
Ada yang aneh.
Mengapa aku begitu yakin bahwa itu adalah dia?
Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar. Wajah seseorang mungkin berubah, penampilannya mungkin berbeda, tetapi bukankah ada sesuatu yang tetap bisa dikenali oleh hati?
Aku terus berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang.
Barangkali aku memang salah.
Barangkali hanya perasaanku yang terlalu berharap.
Atau mungkin, aku sudah terlalu lama menunggu sampai-sampai setiap perempuan yang menyerupainya selalu membuatku teringat kepadanya.
Di Antara Ribuan Orang, Aku Tetap Mencarimu
Aku kembali memasuki ruangan presentasi.
Perempuan berjas biru tadi ternyata masuk ke ruangan yang sama. Ia kemudian maju untuk mempresentasikan hasil penelitian dari universitasnya.
Aku memperhatikan presentasinya.
Bagus.
Sangat bagus.
Hasil penelitiannya juga terlihat menjanjikan.
Aku mencoba mengalihkan perhatian. Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Bukankah tadi dia sendiri sudah mengatakan bahwa dirinya bukan Wardah?
Namun, pikiran manusia terkadang memang sulit diperintah.
Ada hal-hal yang bisa kita lupakan dengan mudah. Ada pula hal-hal yang semakin ingin dilupakan justru semakin kuat muncul dalam ingatan.
Dan Wardah adalah salah satunya.
Aku pernah bertanya-tanya, apakah ia masih mengingatku?
Apakah ia pernah sesekali memikirkan seseorang yang dahulu pernah hadir dalam kehidupannya?
Apakah namaku masih tersimpan di antara banyak nama yang pernah dikenalnya?
Atau jangan-jangan, aku hanyalah seseorang yang pernah lewat sebentar dalam perjalanan hidupnya, kemudian dilupakan begitu saja?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban.
Aku hanya tahu satu hal: ada seseorang yang sampai hari ini masih ingin kutemui.
Di antara ribuan bintang yang menghiasi langit, selalu ada satu bintang yang paling sering kucari.
Bukan karena bintang itu paling dekat.
Bukan pula karena bintang itu paling terang.
Tetapi karena sejak dahulu, entah bagaimana, pandanganku selalu kembali kepadanya.
Aku tidak tahu apakah ia pernah merasakan hal yang sama.
Aku juga tidak tahu apakah kehadiranku pernah memiliki arti khusus baginya.
Yang kutahu, aku hanya bisa berusaha.
Berusaha tetap mengingat.
Berusaha memahami.
Berusaha menjaga perasaan yang bahkan mungkin tidak pernah ia ketahui.
Tetapi jarak adalah sesuatu yang tidak mudah diajak berkompromi.
Ia bisa memisahkan dua orang yang sebenarnya ingin saling bertemu. Ia bisa membuat percakapan sederhana menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Kadang aku berpikir, mengapa dua orang yang berada di bawah langit yang sama harus membutuhkan perjalanan begitu jauh hanya untuk saling menyapa?
Namun, bukankah garam yang berasal dari laut dan sayuran yang tumbuh subur di pegunungan pada akhirnya bisa bertemu di dalam satu kuali?
Begitulah kehidupan.
Jika memang sudah menjadi takdir, mungkin sejauh apa pun perjalanan, akan ada jalan untuk mempertemukan dua orang.
Namanya juga jodoh.
Sebuah Kebohongan yang Membuatku Bahagia
Sore mulai menjelang.
Matahari perlahan turun dari singgasananya. Setelah kegiatan presentasi selesai, peserta diarahkan menuju sebuah musala kecil di dekat hotel untuk melaksanakan salat Ashar.
Aku ikut menuju musala.
Seusai salat, aku berjalan keluar.
Dan di sanalah aku melihatnya lagi.
Perempuan berjas biru itu.
Kali ini aku tidak ingin hanya menebak-nebak.
Aku mendekatinya.
Sebelum sempat mengatakan apa pun, tiba-tiba ia tersenyum.
Senyum yang terasa begitu akrab.
Kemudian, dengan nada yang sedikit menggoda, ia berkata,
“Kenapa kamu begitu bodohnya membohongiku? Dan kenapa dengan bodohnya aku percaya?”
Aku terdiam.
Kalimat itu seperti membuka kembali pintu yang selama ini tertutup.
Aku menatapnya.
Perempuan itu hanya tersenyum sambil sedikit memiringkan kepalanya.
“Maaf. Hehehe...”
Ia tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum. Kali ini bukan karena ada sesuatu yang lucu, melainkan karena ada sesuatu yang akhirnya terasa begitu dekat.
Tiga tahun.
Tiga tahun tidak melihat wajahnya.
Tiga tahun tanpa percakapan yang berarti.
Tiga tahun hanya menyimpan namanya di antara kenangan yang sesekali datang tanpa diundang.
Dan sekarang, orang yang selama ini hanya bisa kutemui dalam ingatan ternyata berdiri beberapa langkah di hadapanku.
Aku masih belum sepenuhnya percaya.
“Wardah di mana?” tanyaku.
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Ia kembali tersenyum.
Aku menatapnya dengan penuh kebingungan.
Kemudian, ia menjawab dengan suara lembut,
“Agus...”
Ia berhenti sejenak, seolah sengaja membiarkan rasa penasaranku semakin besar.
“Kalau kamu masih mencari Wardah, coba lihat baik-baik orang yang sedang berdiri di hadapanmu.”
Aku terdiam.
Ada saat-saat ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan seseorang.
Dan mungkin, saat itu adalah salah satunya.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata benar.
Kadang, seseorang tidak perlu pergi jauh untuk menemukan hal yang paling dirindukannya. Ia hanya perlu menjalani perjalanan, melewati waktu, dan membiarkan takdir menyelesaikan bagian yang tidak mampu dilakukan oleh manusia.
Surabaya sore itu menjadi lebih indah dari yang kubayangkan.
Bukan karena gedung-gedungnya.
Bukan karena tempat wisatanya.
Bukan pula karena keberhasilan kami melaju ke babak final.
Tetapi karena di sebuah lorong hotel, setelah sekian lama, aku kembali menemukan seseorang yang namanya pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.
Aku tidak tahu bagaimana kisah ini akan berlanjut.
Aku tidak tahu apakah pertemuan ini akan menjadi awal dari sebuah cerita baru atau hanya menjadi kenangan indah yang akan kusimpan untuk waktu yang lama.
Namun, setidaknya hari itu aku belajar satu hal:
Ada orang-orang yang mungkin tidak selalu hadir di sisi kita, tetapi tetap memiliki tempat di dalam hati. Ada jarak yang memisahkan, ada waktu yang mengubah, tetapi ada kenangan yang tidak pernah benar-benar menyerah untuk bertahan.
Dan sore itu, aku akhirnya mengerti.
Terkadang, perjalanan terjauh bukanlah perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.
Melainkan perjalanan dari sebuah kerinduan menuju pertemuan.
Sebab, setelah sekian lama aku mencari, ternyata yang kubutuhkan bukanlah jawaban atas semua pertanyaan.
Aku hanya ingin memastikan bahwa seseorang yang pernah begitu berarti itu masih nyata.
Dan hari itu, di Surabaya, aku menemukannya kembali.
