Thursday, 8 June 2023

Bicara Masalah Ulangan

 

“Hosh.. hosh... hosh..” desah nafasku berlari dari rumah ke SMP untuk mengikuti upacara setiap hari senin pagi. “kamu terlambat lagi, setiap hari selalu terlambat. Mau jadi apa kamu nanti?” ucap guruku dengan kata-kata kasar.

            “Anu... bu, saya lupa nyetrika baju semalam, angkot kesini pun jarang bu.” Sebisa mungkin aku mengeluarkan alasan agar diringankan dari beban hukuman. Walaupun telah mengeluarkan seribu jurus dan alasan tetap saja aku mendapatkan hukuman.

            Dihari itu aku sangat dipermalukan oleh guruku, disuruh untuk berdiri di dekat tiang bendera, sambil hormat, berteriak “Aku berjanji tidak akan terlambat lagi” dan mengangkat satu kaki. Selama kelas satu SMP aku tak pernah merasa bersalah dengan sikap nakalku ini. Aku menganggap apa yang aku lakukan adalah hal yang biasa-biasa saja dan wajar dilakukan oleh anak SMP. Mungkin para pembaca juga memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda denganku bahkan sama.

            “Tiap hari dihukum, tiap upacara bendera dihukum. Mau jadi apa kamu nak? Kalo kamu kayak gini terus lebih baik kamu keluar dari sekolah ini” hardik wali kelasku.

            “Tapi bu, jarak dari rumah ke SMP jauh. Mau gimana lagi bu? Kendaraan jarang kesini, orang tua ngak bisa mengantarkan, dan saya hidup berdua dengan adik-adik saya bu.” Jawabku guna membela diri.

            “Banyak alasan kamu, kalau sudah salah itu diam saja. Jangan banyak alasan, jangan kurang ajar sama guru kamu.” Setelah mendapat banyak omelan dari guru wali kelasku, aku dihukum lagi. Didepan kelas dengan memakai papan yang digantungkan dileher dengan tulisan “Tukang Telat”. Memang masa kelas satu SMP adalah masa paling suram yang pernah aku alami, kenapa tidak? Setiap tingkahku selalu menjadi ulah dan perhatian guru.

            Satu minggu terlewati, akhirnya ulangan semester dilaksanakan juga. Walaupun tidak belajar, aku tetap saja percaya diri mengerjakan ulangan semester. Karena kalau menurutku, dalam mengerjakan soal ujian atau ulangan cukup menjawab apa yang kita tahu, selebihnya ya jawab asal-asalan. Siapa tau saja memang nasib kita untuk mendapatkan nilai besar. Bahkan saat ujian aku selalu keluar lima belas menit bahkan sepuluh menit saat ujian dimulai. Akhirnya masalah lainnya datang, karena aku yang selalu keluar cepat saat ujian. Aku dipanggil ke ruang guru, disana aku dimarahi oleh hampir semua guru karena cepat keluar disaat ujian berlangsung. Mereka mengatakan kalau aku tidak menghargai hasil jerih payah guru yang sudah membuat soal dengan susah payah.

            “Kamu jangan sok pintar ya? Kenapa kamu cepat keluar saat ujian?” teriak guruku dengan rasa kesalnya.

            “Daripada aku nyontek, lebih baik aku cepat-cepat keluar. Karena aku gak mau lama-lama diruang ujian.” Gumamku dalam hati. Aku kesal sekali, kenapa semua yang kulakukan menjadi masalah? Kenapa aku menjadi siswa yang banyak masalah? Semua pertanyaanku tak bisa terjawab. Padahal aku hanya ingin semua orang mengerti kalau aku memang begini, aku tidak bisa mengikuti gaya hidup orang-orang yang selalu patuh pada peraturan.

            “Kamu belum tahu berapa lama kami buat soal, betapa susahnya. Kamu menghancurkan semua usaha kami hanya dalam waktu lima belas menit.” Ucap guruku dengan nada emosi.

            Pada saat pelajaran Ekonomi, mulailah perdebatanku dengan guru IPS-ku. Pada saat itu mereka bilang tujuan hidup manusia itu adalah uang. Disitu aku bertanya dan menyanggah “Kenapa harus ada uang? Kalau kenyataannya uang dapat membuat orang menjadi serakah, rakus bahkan engan berbagi.” Disitu mulailah pertanyaan besar dalam hidupku. Apa tujuanku hidup didunia? Apakah demi uang, apakah sekolah yang kita lalui ini semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang yang banyak. Kalau begitu betapa rendahnya makna hidup insani, jika hanya demi uang.

            Pada hari itu, Departemen Pendidikan mengadakan kegiatan penelitian kemampuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan Teknologi), semua siswa di SMP diikutsertakan. Seperti biasa, aku anak bandel yang hanya bisa buat masalah dan terlambat disekolah udah jatuh mental karena ngak percaya diri. Aku terlambat lagi setengah jam, dan langsung diizinkan masuk tanpa dihukum karena ada kegiatan Iptek. “Hmm, tumben ngak dihukum.” Gumamku dalam hati. Seperti biasa, aku keluar lima belas menit setelah aku masuk ruangan. Aku hanya cuek dengan hasil dari kegiatan Iptek tadi, “Mau menang, mau kalah. Aku gak peduli.” Begitu ucapanku kepada teman-temanku saat kami nongkrong dibawah tenda kantin di SMP kami. Seperti biasa, hari senin cerah selalu diawali dengan upacara bendera. Dan aku selalu memecahkan rekor dalam absen siswa terlambat. Hari itu aku memang capek setelah mengikuti kegiatan hiking dan halang rintang pramuka. Aku sudah malas beralasan lagi, aku udah pasrah dan gak peduli lagi mau dihukum, karena aku rasa udah kebal sama hukuman yang diberikan oleh guru-guruku. Akhirnya dihukum juga, dan ada yang aneh dengan hukuman hari ini. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku dan berkata “Agus, bukan?”

            “Iya, aku Agus. Ada apa?” jawabku ketus dengan mengantungkan papan yang bertuliskan “Saya Selalu Telat.”

            “Agus, dipanggil sama Pak Alwi, sekarang ya.” Jawabnya sambil tersenyum lembut.

            “Kamu jangan ngejek ya, mana mungkin aku dipanggil kepala sekolah? Apakah cuma karena sering terlambat?” Aku sangat geram dengan cewek berambut pendek, anggun, manis, cantik dan dia adalah ranking satu disekolah kami.

            “Ya udah, kalo gitu sama-sama dengan Intan pergi ke ruang Kepala Sekolah.” Sambil tersenyum dan menarik tanganku. Aku agak bingung dengan wanita satu ini, dia adalah satu-satunya wanita yang mau bicara dan tersenyum padaku. Biasanya aku selalu dijauhi dan dicuekin cewek-cewek sekolah karena aku hanyalah seorang pria yang kaya akan masalah dan sifat nakal di sekolah.

            Setelah berjalan beberapa meter, melewati kantor dan ruang guru. Akhirnya kami masuk ke ruang kepala sekolah. Ruangan dingin, agak gelap, disana seperti kursi pesakitan, seperti tempat introgasi yang biasanya kita lihat di film aksi. “Jadi kamu yang namanya Agustiawan ya?” tiba-tiba terdengar suara yang agak menggelegar, maklumlah karena kepala sekolah kami orang batak.

            “Iya, iya Pak.” Jawabku agak takut.

            “Kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini.” Dia bertanya, membuatku penasaran. Ada sedikit perasaan takut karena aku adalah siswa bermasalah. “Selamat ya, berdasarkan hasil kegiatan Iptek dari Departemen Pendidikan kemaren, kamu mendapatkan nilai terbesar di SMP kita.” Gleger, rasanya bumi gonjang ganjing, tiba-tiba keluar kerak bumi dari bawah. “Maaf pak, bapak jangan bercanda ya.” Jawabku dengan suara lirih. “Iya benar, selamat ya, saya juga ngak nyangka. Karena nama kamu terkenal diforum guru sebagai siswa bermasalah.”

            Akupun sedikit heran dengan apa yang terjadi, beberapa kali aku minta tampar sama teman-teman, apakah ini benar. Semenjak saat itu, aku agak menjaga image dari anak yang nakal, berangsur-angsur memperbaiki diri. “Tapi aku hanyalah anak yang bemasalah, susah untuk memperbaiki diriku.” Aku selalu mengatakan itu kepada ayah saat ditelpon. Aku sebenarnya ingin menjadi anak yang baik, tapi mungkin belum bisa.

            Semenjak saat itu, kacaupun berlanjut menjadi sebuah keselarasan. Aku pulang dengan membawa kertas hasil tes tersebut. Saat ibuku pulang mengajar, kutunjukkaan hasil tes tersebut. Hingga akhirnya, ibuku berkata kepadaku “Nak, kertas ini kamu buat dimana? Kok ada cap Dinasnya? Hati-hati nanti dikira pemalsuan surat.” Ibuku sangat tidak percaya dengan hasil yang ada, karena dari SD sampai SMP aku hanya mendapatkan rangking 20 keatas.

            Setiap manusia memiliki sisi baiknya, seburuk-buruknya manusia, dia memiliki waktu untuk berubah. Karena kita semua memiliki masa depan untuk diisi dengan hal-hal yang berguna.

No comments:

Post a Comment