Wednesday, 21 November 2012

Bertajuk Mimpi


Sekolah begitu sepi hari ini, yah ini hari minggu. Aku datang kesekolah dengan terburu-buru. Membawa banyak buku dengan judul FIM (Fisika Itu Menyenangkan), kumpulan soal-soal olimpiade, dan banyak buku lainnya.
“Aduhhhh... badanku rasanya capek sekali, kepalaku pusing tau ngak? Kenapa tiap hari harus begini? Bimbingan terus bimbingan terus.” Keluhku, aku merasa tak kuat lagi jika tiap hari harus begini. “Iya, gus. Olimpiade udah didepan mata tau ngak? Kalo menang kan kamu juga yang bangga, bisa gagah-gagahan didepan Intan.” Ucap Maulidya. “Iya juga ya Gink.” Aku sudah mulai semangat sekali. Entah kenapa, setelah mendengar namanya disebut oleh Maulidya, semua derita yang aku alami hilang semua (alah lebay lo). Aku berusaha untuk kembali fokus, karena yang ada difikiranku bagaimana membuat Intan bangga terhadapku. “Gink, kira-kira aku bisa menang ngak? Gimana kalo ternyata nanti aku kalah? Aku takut.” Dengan nada banci aku mengatakan itu kepada Maulidya. “Ya, menang kalah itu urusan biasa Gus, jangan takutlah. Yang penting kita semangat dan sportif.” Maulidya memberiku ceramah sekaligus motivasi.
            Besok akan dimulai perlombaan, tapi aku sudah santai dan tidak lagi mau belajar. Pada hari itu, aku hanya berbaring didekat ruang tamu. Menemani ayahku yang sedang mengetik tugas Tesisnya. Aku bertanya pada ayahku, “Ayah, kenapa ayah tidak pernah bosan berteman dengan rumus fisika?” Ayahku adalah seorang insinyur jembatan senior. Beliau sangat tekun dalam mempelajari banyak hal, bahkan setiap aku memiliki game baru dia berusaha untuk menamatkan game tersebut. “Kenapa ya? Karena hobi ayah mungkin.” Ayahku menjawabnya dengan pandangan keatas seperti agak mikir. “Kalo hobi kenapa ayah?” Agak bingung mendengar jawaban ayah. “Kalau Hobi, kamu pasti akan menekuni dan menyenanginya. Sama seperti ayah, menekuni dan menyenangi pekerjaan ayah.” Setelah mendengar pencerahan dari ayah aku menjadi semangat kembali. “Ayah, besok kan aku mau lomba. Bagaimana caranya agar aku bisa sukses dalam lomba itu yah?” aku merangkak mendekati ayah. “Cari aja motivasimu, apa alasanmu untuk menang? Kau harus punya. Itu akan menjadi pemicu perjuanganmu nak.” Sambil memukul bahuku dan tersenyum. “mengerti?” Ayahku meyakinkanku. “Mengerti ayah. Doakan aku ya, aku mau tidur.” Sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
            Kukuruyuk, bunyi ayam jantan yang sedang memecah keheningan subuh. Aku memulai shalat subuh dan sedikit membaca. “Aku harus menang.” Gumamku dalam hati. Akhirnya hari pesakitan tiba, kami berkumpul di SMP 2 Sungailiat untuk mengikuti Olimpiade Sains Kabupaten. Aku sangat terkejut dan gugup saat kulihat pemandangan disana penuh dengan siswa berpakaian baju putih biru yang sedang membaca buku fisika. “Gawat ni, kalau sainganku rajin-rajin seperti ini, aku bisa kalah.” Sambil bergumam dalam hati aku melihat kekiri kananku. “Gink, aku gugup. Aku gak belajar semalam.” Sambil tertawa Maulidya menjawab “Kau kira aku belajar? Aku asik main game semalam.” Tiba-tiba datang seorang wanita melambaikan tangannya “Agus, Gink. Ternyata kalian disini. Aku cari kesana kesini muter muter, ternyata kalian disini. Mana Bu Novi?” Tanya Mega sambil menarik nafas panjang. “Ibu Novi lagi brifing di ruang pembimbing.” Serempak aku dan maulidya menjawab. “Ibu Eli dimana Gus?” Tanya Mega lagi. “Yah mau gimana lagi Ibu Eli sibuk, Ibu Siti sibuk, Cuma Ibu Novi yang bisa bimbing kita disini. Gak asik ni, kalo ada Bu Eli kan aku bisa belajar fisika dan bertanya-tanya.” Jawabku sedikit bete. “Ya udah sabar, semoga ada sisi baiknya.” Cletuk Mega dengan gaya sok dewasanya.
            Kriiing.... kriiing... bunyi bel tanda masuk ruangan pun berbunyi. “Agus masuk ke ruang F disitu peserta Fisika, Maulidya di ruang A disitu Biologi kalo Mega keruang G untuk matematika. Cari teman kalian, isi jawaban dengan benar ya. Yang jelas jangan ceroboh, harus teliti, jangan keluar cepat dan jangan buat gaduh terutama Agus.” Bu Novi memberi pengarahan sambil menunjukku. Maulidya dan Mega langsung melihat dan memukul pundakku, sambil berkata “Dengerin tuh.” Setelah mendapatkan pengarahan kami menuju ruangan kelas masing-masing untuk mengikuti lomba. “Seperti biasa, tiga jam untuk lima soal. Kalo sudah selesai silahkan dikumpulkan, tidak ada saling mencontek.” Semua mulai terdiam dan mengisi biodata peserta. “Silahkan Dimulai!” tegas panitia olimpiade. Waduh, aku sepertinya kebingungan mengerjakan lima soal ini. Selama diruangan aku melihat banyak kecurangan. “Bagaimana ini, mereka semua banyak yang saling kerjasama.” Mentalku agak kendor akibat melihat dua orang dari SMP unggulan itu kerja sama menyelesaikan soal. Akhirnya baru satu jam waktu berjalan, aku langsung berdiri dan mengumpulkan lembar jawabanku. Disinilah pilihan antara “Menang” dan “Kalah Terhormat”. Dari pada aku menang dengan cara yang tidak benar lebih baik aku kalah terhormat, pikirku dalam hati.
            Akhirnya aku keluar ruangan dan bertemu Ibu Novi. “Agus, kok udah keluar baru satu jam kan?” sambil mengeluarkan air mata tanda putus asa. “Iya bu, Agus ngak tau lagi. Mau gimana lagi bu?” Dengan wajah tanpa dosa aku berkata seperti itu. “Ya udah, namanya juga udah terlanjur. Mau gimana lagi ya!” Dengan wajah agak kecewa Ibu Novi tersenyum sinis. Akhirnya tiga jam berlalu, semua peserta olimpiade keluar dari ruangan. “Gus, gimana tadi?” Tanya Mega kepadaku. “Hmm, ya gitulah Meg. Kamu Gimana? Mana Gink?” Aku agak tertawa menjawab pertanyaannya. “Aku, kayak gitulah. Bingung soal matematikanya susah. Gink itu, lagi muntah-muntah abis ngerjain soal biologi tadi.” Jawab Mega dengan agak tertawa. “Lho, kok Gink muntah-muntah?” Sambil menahan tawa aku menunjuk kearah Maulidya. “Iya nih, mabok didalam ruangan tadi, soal ujiannya buat puyeng ni.” Jawab Gink menahan muntah. Setalah bercanda bersama kami pulang kerumah masing-masing membawa uang saku yang diberikan oleh Dinas Pendidikan.
            Keesokan paginya aku sangat senang, hari ini hari libur. Setelah dua tahun di SMP tak terasa sekarang sudah libur untuk kenaikan kelas tiga SMP. Aku sudah beranjak lebih dewasa, di hari libur yang indah ini aku punya rencana jalan-jalan dengan Intan. “Intan, jadi jalan-jalan ke pantai hari ini?” SMS ku ke Intan. “Oke, tapi aku bantu ibu dulu ya. Jam sembilan kita berangkat.” Balas Intan dengan SMS.
            Hari ini hujannya lebat, aku selalu berdoa didalam hati. “Ya Allah, redakanlah hujan ini. Hambamu pengen jalan-jalan dengan Intan.” Walaupun doaku agak tidak bener, tapi selalu ku ulangi. Aku sangat berharap hujan hari ini reda. Harap-harap cemas aku mondar mandir di teras rumah dengan penuh harapan. Tak terasa, sudah jam sembilan tapi hujan belum reda juga, “Ada apa ini? Apakah doaku tidak terkabulkan?” Aku jengkel sekali dan berbicara sendiri dalam hatiku. Tiba-tiba, hujan reda dan aku mulai bersiap-siap untuk meluncur kerumah Intan dengan SupraX milik kakakku. “Assalamualaikum.” Dengan gembira dan semangat aku mengetuk pintu rumah Intan. “Iya Agus tunggu. Ayo kita pergi sekarang.” Dengan wajah ceria dia naik ke motorku.
Pertama-tama perjalanan kami ke perpustakaan daerah. Kami membuat kegaduhan disana karena suara kami terlalu besar, akhirnya kami keluar dari sana karena sepertinya petugas perpustakaan sudah mau ngusir kami. Dijalan ke pantai kami bersanda gurau dan bercerita tentang pengalaman kami selama dikampung halaman dulu. Hingga sampai diperempatan lampu merah, “Oh, iya kamu gak pakai helm Tan.” Aku lupa membawa helm satu lagi untuk Intan, diperempatan jalan itu sedang ada polisi lalu lintas yang udah siap menangkap. “Sekarang, kamu turun aja. Jalan kaki sampai ke sana, ntar kita ketemu lagi disana. Oke.” Sambil mengacungkan jempol. “Oke!” jawab Intan percaya diri. Setelah beberapa menit kami pun bertemu lagi ditempat yang kami janjikan tadi.
Waktu tak terasa berlalu, jam telah menunjukkan angka sebelas kurang. Kami telah sampai dipantai. Setelah memarkirkan motorku, kami berlari ketepi pantai, membuat istana pasir. Sepertinya awan sudah mulai mendung, cumolonimbus sudah mulai hilang dari pantai. “Kayaknya mau hujan Tan.” Aku mengingatkan. “Tunggu dulu, ada yang belum selesai ni.” Intan menegaskan. “Apa ya?” dengan wajah bingung aku bertanya padanya. “Tara, ini yang udah selesai.” Ternyata Intan menuliskan nama “Intan” dan “Agus”. Tak lama kemudian ombakpun datang seakan-akan menghapus nama yang telah kami buat ditepi pantai.
            Tik... tik.. tik... gerimis tajam kembali menggangu kebersamaan kami di pantai. Kamipun bergegas berlari menuju pondok makan untuk berteduh. “Mau makan apa ni Tan? Dingin sekali hujan ini.” Aku memulai membuka percakapan. “Aku mau bakso ah. Kamu?” sambil tersenyum dan memegang sendok dan garpu. “Dasar kamu ondel-ondel, pantes aja wajahmu bulat kayak bakso. kayaknya udah gak sabar lagi ya? Sampe-sampe langsung pegang sendok dan garpu. Kalo gitu aku mau makan pipimu deh.” Sambil tertawa dan mencubit pipinya. “Dasar kamu, kalo aku bakso. kamu sotonya ya?” sambil memukul sendok dan garpu di bahuku kami tertawa bersama.
            “Intan, aku pengen kamu tau.” Aku agak serius.
            “Iya, pengen aku tau apa ya?” Intan agak tertawa, sepertinya dia menganggapku main-main.
            “Tau ngak? Semenjak aku kenal kamu...” aku belum selesai bicara, Intan langsung memotong pembicaraan.
            “Kenapa? Semenjak kau kenal aku, kau jadi suka bakso gitu. Ayo,,, ngaku.” Sambil tersenyum dia menunjuk hidungku.
            “Dengerin dulu Tan, aku belum selesai.” Aku agak serius dan hampir mau ngambek dengan Intan. “Aku suka kamu Tan, semenjak kenal kamu sepertinya aku mulai menemui hidup baruku, aku berubah, aku menjadi baik dan menemukan hal baru Tan.”
            “Terus gimana Gus?” Dengan wajah bloon dan melongo dia bertanya lagi kepadaku.
            “Kalo kamu gimana?” aku balik bertanya kepada Intan.
            “Aku sebenarnya senang si melihat kamu, kamu selalu mengusir orang-orang yang jahil padaku, kamu mengajarkan aku banyak hal, tapi....” Intan belum selesai berbicara, aku langsung memotong pembicaraannya. “Maukah kamu jadi pacarku Tan?” dengan gugup aku bertanya.
            “Tidak. Aku tidak mau pacaran, dengan siapapun.” Jawabnya tegas, sambil tetap tersenyum kepadaku.
            “Kenapa? Kenapa tidak mau Tan? Kamu ngak suka denganku?” Aku kurang puas dan bertanya kepadanya.
            “Pacaran itu dilarang agama Gus. Untuk apa kita pacaran coba? Nambah dosa tau. Aku dapat menerima cinta dan sayangmu. Tapi aku ngak bisa pacaran dengan siapapun sebelum aku menikah.” Dia mencoba menjelaskan agar aku mengerti.
            “Tapi Tan, aku ingin kita selalu bersama. Aku punya gambaran kita jadi pacar sampe nikah nanti.” Aku mencoba membujuk, walaupun hatiku sudah mulai terasa remuk karena kecewa.
            “Hmmm, ya udah. Kamu boleh anggap aku apa aja. Tapi aku ngak mau pacaran. Tapi kita harus tetap menjadi sahabat. Oke?” Dia mengacungkan jempolnya untukku.
            “Hmmmmm...” Aku hanya diam seribu bahasa. “Kenapa gitu Gus? Ngambek? Jangan ngambek dong.” Pinta Intan.
            “Aku kecewa Tan, aku kira kamu segalanya.” Dengan perasaan kecewa dan membuang muka darinya. “Oh, gini aja Gus. Kalo kita jodoh pasti kita ketemu lagi kan? Kalo ngak, kamu pasti dapetin perempuan yang sama bahkan lebih baiknya dari pada aku. Intinya kalo kita jodoh bertemu lagi kok.”
            “Iya, semoga kita jodoh ya.” Aku mulai senyum kembali kepada Intan. “Ya Aamiin, semoga ya.” Dia pun tersenyum kepadaku. “Ayo baksonya udah jadi, makan yok.” Intan mulai mengajakku makan. Setelah perbincangan tadi, kami makan bakso bersama. “Tau ngak Tan? Pipimu bulet sekali seperti bakso ini.” Sambil tertawa aku mulai bercanda dengannya. “Ih, kamu. Ngejek aku terus ya.” Ucap Intan sambil tertawa dan menutup mulutnya. Setelah makan, aku mengantar Intan pulang walaupun dalam kondisi gerimis yang tajam. “Gus, ini jaketku. Pakailah dulu, nanti kamu sakit gimana?” sambil menyodorkan jaket kearahku. “Ngak ah Tan, ntar jaketmu hilang lagi.”  Aku menolak karena udah dua jaket miliknya yang pernah aku hilangkan. “Ngak apa-apa, aku ikhlas kok.” Menyodorkan lagi. “Oh iya aku pulang dulu ya.” Aku langsung ngabur tanpa mengambil jaketnya.
            Setelah sampai dirumah, mamaku menyambut dengan wajah yang sangat gembira. “Nak, kamu tau ngak?” Mamaku dengan wajah ceria dan jingkrak-jingkrak, untung aja ngak nari tor-tor. “Tau apa ma?” aku balik bertanya dengan wajah jutek. “Ini ada surat dari dinas nak.” Sambil menyodorkan surat dari Dinas Pendidikan. “Kamu juara satu waktu olimpiade kemaren.” Dengan wajah ceria mamaku. “Haha, masak sih ma?” Aku langsung masuk kekamar sambil tertawa. Sedikitpun aku tak menyangka, karena tanpa persiapan yang matang, dan aku pun mengerjakannya dengan waktu yang sebentar. Ternyata terkadang suatu yang lebih hebat dari pada kecerdasan adalah Percaya diri dan selalu mempasrahkan diri kepada Tuhan. Kenapa begitu? Karena suatu hal yang membuat orang menjadi kuat adalah keberuntungan dan ketegaran hati.
            Besoknya aku datang ke Dinas Pendidikan untuk memastikan dan mengambil uang pembinaan. “Assalamualaikum, maaf bu. Mau nanya pengumuman olimpiade dimana?” Tanyaku dengan sopan. “Iya dek, silahkan keruangan disebelah kanan.” Jawab seorang bapak-bapak dengan kumis yang garang sambil menunjuk sebelah kanan. “Permisi pak, mau tanya pengumuman olimpiade sains.” Tanyaku sambil tersenyum menunduk. “Oh iya, bidang apa dek?” Tanya bapak itu sambil mengeluarkan banyak kertas. “Fisika pak.” Sambil mendekat dan ikut melihat isi kertas tersebut. Ternyata informasi selama ini benar, aku juara satu. Setelah itu aku menelpon Intan, “Intan, aku juara satu olimpiade fisika. Horee... aku menang” Sambil berteriakk gembira. “Alhamdulillah, selamat ya Gus. Aku sangat senang, ternyata usaha kita ngak sia-sia.” Terdengar suara Intan yang agak batuk-batuk. “Kamu batuk Tan? Kenapa? Kamu sakit ya.” Aku mulai sedikit parnoan. “Ngak juga, Cuma batuk biasa aja.” Sambil tertawa kecil. Tiba-tiba telponnya mati, aku sedikit bingung kenapa telponnya mati. Setelah aku memeriksa pulsaku, ternyata pulsa handphoneku habis. “Hmmm, pantas saja telponnya mati, pulsaku tingal seratus rupiah lagi.” Setelah dari Dinas Pendidikan, aku mengirimkan pesan singkat ke Intan. “Tan, ke BBG yo.”. Tak lama kemudian ada pesan balasan dari Intan, “Ayo, tapi jam sebelas ya.”
            “Ok.” Jawabku singkat. Tak terasa sekarang sudah jam sebelas, aku langsung menghampiri Honda-ku. Bersiap-siap kerumah Intan dengan kecepatan tinggi. “Assalamualaikum.” Sambil mengetok pintu aku berteriak didepan rumahnya. “Waalaikumsalam, Ayo Gus kita berangkat.” Dia langsung naik ke sepeda motorku. BBG adalah Bangka Botanikal Garden, yaitu sebuah taman wisata yang hampir menyerupai mekarsari. Di BBG kami memarkirkan motor dan berjalan-jalan keliling BBG. “Intan, kamu tau itu?” Aku mulai membuka pembicaraan. “Balon? Atau yang lain?” Jawabnya sambil menunjuk ke arah balon. “Iya balon, kamu tau kan balon?” Tanyaku. “Taulah, kenapa?” jawabnya sambil tersenyum melihatku. “Ya, kepalamu bulat kayak balon Tan.” Sambil tertawa, saat melihat dia mulai cemberut aku pun menambah perkataanku. “Ngak ah, aku bercanda Tan. Kau tau? Balon itu ngak bisa terbang. Tapi dia bisa melayang, sesuai dengan tekanan yang ada.” Aku menjelaskan kepada Intan. Intan sepertinya bingung, dia balik bertanya kepadaku. “Maksudnya? Aku belum ngerti Gus.” Sambil melihat balon yang ku pegang. “Coba lepaskan semua beban dan tekanan hidupmu Tan, hidupmu akan terasa indah. Kau akan bisa berprestasi setinggi mungkin.” Jelasku sambil memegang tali balon yang sudah mengembang besar. “Sama seperti balon ini, jika dia besar dia akan melayang. Sedangkan jika dia kecil tak akan bisa melayang. seperti itulah tekanan.” Tambahku.
            Setelah melihat balon, kami melihat sapi. “Aku punya kisah buruk lho dengan sapi.” Tiba-tiba Intan mulai berbicara dan termurung. “Emangnya ada pengalaman apa Tan? Kayaknya sedih banget ya.” Aku mencoba menghibur dia. “Iya, dulu kami punya sapi. Aku pernah ditendang anak sapi gara-gara narik ekornya. Terus, aku pernah juga dikejar-kejar sapi.” Ujarnya dengan wajah yang sedih. “Hahahaha, itu namanya lucu Tan, kenapa sedih?” Sambil tertawa aku mulai memperhatikan wajahnya lagi. “Iya, kamu ngingetin aku dengan sapi yang kemaren dijual bapak.” Sepertinya dia sedikit meneteskan air mata. “Maksudmu?” Dengan wajah bloon aku bertanya lagi. “Kamu mirip sapi bapakku Gus.” Tambahnya. Gubraaak, rasanya bumi gonjang ganjing dajal keluar dari perut bumi, baru kali ini aku disamakan dengan sapi.
            “Hmm. Intan, tau ngak besok aku mau ke Pangkalpinang, buat ke olimpiade sains Propinsi?” Aku memulai pembicaraan serius. “Oh ya? Wow, aku juga pengen sekali ikut. Tapi kemaren aku gak lolos.” Dengan gaya anak alay dia sedikit memukul bahuku. “Tapi, aku senang dan bangga kalo kamu ikut. Kamu harus menang ya, semangat.” Ucap Intan sambil mengacungkan tangannya kepadaku. “Eh, ngak terasa ya, kita udah dua tahun kenal. Semenjak aku sering dihukum sampai aku ngak pernah dihukum. Kamu adalah titik balik hidupku Tan.” Sambil tersenyum dan melihat wajahnya. “Alhamdulillah, kamu juga baik. Sering mengusir anak-anak jahil yang sering ngejek dan menggangguku.” Dia agak menunguk malu ketika mengucapkan itu kepadaku. “Tan, aku ingin kita ketemu selamanya.” Sambil tersenyum aku memegang tangannya. “Iya, tapi bukanlah aku tak mau, aku hanya tak mau pacaran Gus. Dilarang agama sama orang tua, dan aku sendiri gak mau pacaran sebelum aku nikah Gus.” Dia membalas senyumku. “Bukankah, banyak cara agar kita bisa tetap bersama, selain pacaran kan bisa Gus?” Sambil memegang tanganku. “Kita bisa bersahabat, hingga akhirnya nanti kita besar dan dijodohkan oleh tuhan.”.
            “Semoga sesuai apa yang kita inginkan Tan.” Aku tersenyum dan melihat kearah danau yang luas. “Semoga, dan diberikan yang terbaik. Eh, udah sore ni, kamu kan mau siap-siap ke Pangkalpinang besok. Pulang yok.” Ajaknya.
            Siang itu menunjukkan jam dua, kami bergegas pulang kerumah agar sampai kerumah tidak kesorean. Setelah sampai dirumah Intan, “Doakan aku ya, besok aku akan mulai berjuang.” Sambil berjabat tangan dengan Intan. “Pasti, aku akan mendoakan selalu. Kau harus membuat semuanya bangga.” Serunya kepadaku. “Aku pergi dulu ya Tan.” Aku mulai memutar hondaku. Tiba-tiba “Tunggu dulu, pakailah jam ini agar kau selalu ingat kepadaku, dan gunakan sapu tangan ini agar setiap kau lelah bisa semangat dengan mengingatku.” Sambil menyodorkan jam tangan dan sapu tangan. Aku tidak bicara banyak, sambil mengacungkan jempol aku langsung menarik gas motorku untuk langsung pulang.
            “Darimana saja kamu nak? Kok baru pulang, beresi dulu bajumu. Kan besok mau berangkat. Masukkan bajumu ke koper.” Teriak mamaku. “Iya ma, nanti. Lagi capek ni.” Sambil berbaring dikamar yang tidak terlalu luas. Akhirnya aku beranjak dari ranjang dan mulai memasukkan barang-barangku ke koper. Setelah memasukkan barang-barangku ke koper, aku melanjutkan tidurku kembali.
            Malam yang indah, bertabur bintang. Kriiing... suara handphoneku berbunyi. Kulihat nama Intan yang memanggilku. “Assalamualaikum, ada apa Tan?” aku mulai membuka percakapan. “Waalaikumsalam, Agus, coba lihat Supermon. Indah sekali kan?” Sambil teriak-teriak di handphone. “Wah, besar sekali bulannya, indah.” Aku kaget melihat supermon. “Ya, kenapa bulannya bisa begitu? Indah sekali ya. Adakah benda langit yang lebih indah dari itu.” Tanya dirinya kepadaku. “Alfacentury dan Avena, bintang yang paling terang. Eh, aku mau tidur dulu ya. Besok mau pergi ni ke Pangkalpinang.” Ucapku kepadanya. “Iya deh, selahkan. Sukses ya besok.” Seru Intan. “Pasti, aku janji.” Setelah aku mengucapkan itu, Intan langsung mematikan telepon.
            Pagi yang cerah, aku langsung pergi ke Dinas Pendidikan. Aku pergi dangan penuh harapan, aku ingin harapan ku tercapai. Setelah menunggu semua orang berkumpul, kami langsung berangkat ke Pangkalpinang untuk menuju hotel Seratta tempat kami akan mengikuti lomba. Aku menemukan banyak teman baru, ini adalah awal dari perjuanganku untuk menuju tingkat nasional. Dari Kabupaten kami mengirimkan tiga orang laki-laki, yaitu aku, Putra dan Rozi. Awalnya kami bertiga muter-muter hotel, kami bingung dimanakah letak kamar kami. Kamar nomor empat puluh dua, angka yang cukup bagus. Setelah sampai dikamar, kami baring-baring seperti orang kampungan di kamar hotel itu. “Eh, ada telepon. Kita nelpon orang yok.” Ucapku kepada Putra dan Rozi. Akhirnya kami menelpon resepsionis, teman-teman dikamar lain bahkan menelpon cleaning service.
            Hari yang membingungkanpun berubah menjadi malam, kami mulai bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan. “Eh, tau ngak Gus itu siapa?” ujar Putra kepadaku. “Yang mana? Orang yang makannya disuap itu bukan?” Aku balik minta penjelasan. “Itu Ali, yang menjadi langganan juara olimpiade matematika.” Jawab Putra dengan mental yang agak down. “Sudahlah, jangan terlalu seperti itu.” Kita positif thinking aja. Aku yakin kok kamu mampu.” Aku mencoba memberinya semangat. Terkadang sebelum kita bertanding kita sudah mulai bicara dia hebat, atau dia begini. Seharusnya dengan melihat saingan kita lebih hebat, kita haruslah lebih giat belajar, jangan menjatuhkan mental sendiri dengan cara seperti itu.
            Tak terasa, olimpiade sains propinsi sudah dimulai. Kami masuk lagi keruangan yang berisikan 24 siswa/siswi terbaik (baca:beruntung). Aku agak gugup, tapi aku ingat orangtuaku. Aku kembali memiliki semangat untuk menang. Akhirnya, lembaran soal mulai dibagikan, penjelasanpun mulai dibacakan. “Mulai!” Seru perintah panitia olimpiade. Kami langsung mulai mengerjakan soal Fisika level tinggi itu. “Akh, bisa stres aku lama-lama.” Ujarku dalam hati. Tak sadar kertas ujianku tercoret, “Terpaksa ni aku minjem tipe-X.” Gumamku dalam hati. Aku langsung memanggil wanita yang ada dibelakangku, “Maaf, bolehkah saya minjem tipe-X.” Serentak wanita yang ada dibelakangku mengangkat kepalanya, subhanallah cantik sekali gadis kota satu ini. Aku langsung salah tingkah, sambil meliat wajahnya aku mengucapkan terimakasih. Tak terasa waktu sudah habis, saat-saat yang ditunggu sudah tiba. Yah, siapa yang tidak menunggu saat-saat seperti ini, yaitu makan siang. Makan siang kali ini adalah kelas VIP dan memakai table manner. “Ini dek sendok dan garpunya.” Kata salah seorang pelayan hotel kepadaku. “Oh, maaf pak. Saya ngak bisa memakai garpu, simpan aja pak.” Ucapku polos, tersentak semua peserta yang ada disana tertawa.
            Saat kami makan siang, piagam penghargaan dan uang pembinaan dibagikan. Saat namaku dipanggil “Agustiawan dari kabupaten Bangka.”. Aku agak dongkol, karena aku belum selesai makan siang. Akhirnya aku langsung maju dengan tangan yang masih kotor dengan bau udang, cumi dan bau makanan yang kusantap. Saat sudah didepan aku ambil piagam, uang pembinaan dan sebagai anak yang baik hati aku bersalaman dengan bapak panitia dengan tangan kotorku. Terlihat disana sontak wajah panitia langsung berubah mengkerut seperti tape basi.
            Setelah keluar semua, aku menemui wanita tadi. “Hay, boleh ngak kita menjadi teman?” Harap-harap cemas aku bertanya kepadanya. “Boleh aja, aku Maria, kalo kamu?” dia bertanya balik. Hore, dia telah memberikan lampu hijau. “Namaku Agustiawan, aku anak baik.” Sambil tertawa aku bersalaman dengannya.
            “Kamu lucu sekali ya, dari semalam aku melihat aksimu. Gokil sekali.” Sambil tertawa dan memukul dadaku. “Oh, iya boleh minta nomor HP Maria ngak?” sambil mengeluarkan HP Nokia 7610 milikku. “Ini nomor HP-ku, 08116788XXX. Miscol aku dong.” Pinta Maria. “Ini ya, aku coba.” Setelah beberapa sengit perbincangan kami, akhirnya kami menjadi dekat. Aku baru tahu kalo dia berasal dari SMP Unggulan yang paling bagus di Propinsi kami, maklum anak kota. Tak terasa kebersamaan kami di olimpiade sains, perpisahan telah dimulai. Akhirnya aku dan Maria berpisah, kami sama-sama meneteskan airmata kami, sebagai kenang-kenangan kami bertukaran Pin Nama. Sampai saat ini Pin Namanya masih aku simpan sebagai kenangan tak terlupakan.
            Beberapa hari setelah mengikuti kegiatan olimpiade, aku semakin dekat saja dengan Maria. Bahkan sekarang hubunganku dengan Intan semakin renggang. Sekarang aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Intan, aku mulai merasa nyaman dengan Maria. Bahkan sekarang aku sudah menjadi pacarnya. Suatu hari disekolah Intan datang menemuiku “Agus, kenapa sekarang jarang kekelasku?” Tanya Intan dengan mata berkaca-kaca. “Intan, aku sibuk sekarang. Ngak ada waktu lagi untuk bertemu dengan kamu.” Aku menjawab dengan jutek. “Sudahlah, percuma!” Sambil berteriak dia langsung pergi meninggalkanku. “Ya, ampun. Kenapa aku berubah dengan Intan.” Doaku dalam hati dengan rasa menyesal.
            Beberapa hari ini aku tidak pernah lagi bertemu dengan Intan, dan akupun sudah mulai diam sendiri. Sepertinya tak ada gunanya memiliki status pacaran dan lain sebagainya jika hati masih tetap merasa sepi. “Intan, kau dimana? Aku merindukanmu Tan.” Aku mulai merasa kesepian dengan tidak adanya dia.
            Saat pulang sekolah aku berlari menyusul dan mengikuti Intan, “Intan, tunggu aku. Tolong.” Aku berteriak mendekatinya. Spontan dia lari dan saat aku menarik tangannya dia langsung berontak. “Lepaskan, sudah pergi sana!” Dia mulai marah sepertinya. “Aku tak pernah mengenal kamu, dasar brandalan.” Dengan nada kecewa dia langsung berlari untuk menghindariku.
            Sejak saat itu aku menyesal, aku berjanji tak akan menyakitinya lagi. Aku langsung mengirim SMS ke Handphonenya. “Alfacenturi dan Avena adalah dua bintang yang terang. Tapi, kau adalah avena yang anggun dan apakah aku hanya akan menjadi alfacentury yang mengembara sendiri?” Saat membaca SMS-ku dia langsung mematikan handphonenya dan menganti kartunya.
            Inilah kesalahanku yang tidak menjaga perasaan wanita yang putih bagai salju dan lembut seperti kapas. Sepertinya aku hanya bisa menunggu dia memaafkanku. Tiada kata Lain “INTAN MAAFKAN AKU”.

No comments:

Post a Comment