Thursday, 30 April 2015

Pria ini Tewas di Kos karena Lupa Makan demi Ngebut Skripsi

Malang, sekitarunnes.com - Skripsi adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku.

Skripsi bertujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu menulis skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan dan keterampilannya dalam memahami, menganalisis, menggambarkan, dan menjelaskan masalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. Skripsi merupakan persyaratan untuk mendapatkan status sarjana (S1) di setiap Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia. Istilah skripsi sebagai tugas akhir sarjana hanya digunakan di Indonesia. Negara lain, seperti Australia menggunakan istilah thesis untuk penyebutan tugas akhir dengan riset untuk jenjang undergraduate (S1), postgraduate (S2), Ph.D. dengan riset (S3) dan disertation untuk tugas riset dengan ukuran yang kecil baik undergraduate (S1) ataupun postgraduate (pascasarjana). Sedangkan di Indonesia skripsi untuk jenjang S1, tesis untuk jenjang S2, dan disertasi untuk jenjang S3. 

Namun, kejadian tragis menimpa seorang Mahasiswa di Malang, Axel Pandaga Wicaksana (22). yang ditemukan oleh sepupunya sudah membusuk selama empat hari di tempat tidur dalam kosnya.
Menurut Kasat Reskrim Polres Kota Malang AKP Adam Purbantoro, Axel adalah Mahasiswa semester delapan yang sedang menyusun skripsi dan penyebab kematiannya adalah karena sakit jantung, dan jasadnya langsung dimakamkan keluarganya di Kesamben, Blitar.
“Tadi dokter rumah sakit Saiful Anwar sudah menjelaskan hasil autopsi. Jadi ditemukan jantung Axel yang mengkerut, pompa ke jantung berkurang. Jadi ini diduga penyebab kematian almarhum,” kata Adam di Malang, Kamis (5/2), seperti dikutip Sebarkanlah.com dari Merdeka.
Jasad Axel ditemukan di dalam indekosnya Jalan Sumbersari Gang IV Lowokwaru, Rabu (4/2). Sebagian tubuhnya berada di antara tempat tidur dan lantai, dengan posisi terlentang, kepala mengarah ke pintu kamar. Tubuhnya sudah membengkak dan menghitam. Bau busuk pun menyengat ke sekitar kamar.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa perutnya sedang kosong. Diduga Axel lupa makan karena ngebut menyelesaikan skripsinya. Dan menurut penuturan keluarganya, Axel juga terkena kanker tulang sehingga dia harus minum obat secara rutin.

Axel tercatat sebagai mahasiswa semester delapan di Universitas Malang (UM) jurusan Elektro. Dia menempati indekos putra Al Firdaus kamar A11 bersama Hendra. Dari penjelasan pengelola kos, dia tidak menyangka Axel akan tewas di dalam kos, karena memang sedang musim liburan dan kebanyakan penghuni kos libur dan pulang kampung.

Sumber : www.sebarkanlah.com

SRIKANDI MASA KINI

Terlalu banyak dongeng yang diceritakan oleh orangtua jaman dulu tentang sikap kepahlawanan seseorang, ntah itu benar atau tidak. Yang jelas kita dipaksa mempercayainya, kita dipaksa mendengarkan dan mengagumi mereka tanpa meniru dan mencontoh mereka.
Bukankah kita bisa menjadi apa yang akan diceritakan oleh orang lain sebagai inspirasi hidup anak bahkan cucunya bila perlu.
Pagi Kota Bari dengan sayup-sayup udara malam mengundang ceria.
Aku melakukan banyak hal yang memang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya. Pergi kuliah, pulang kuliah, kongko-kongko, dan lain-lain. Tapi, jangan salah! Kuliah nggak segampang kayak di filem-filem remaja yang kerjaannya Cuma pacaran dan main-main doang. Iya kalo orangtuamu kaya raya! Kalo orangtuamu biasa-biasa aja sadar bung sebelum terlambat.
Yang jelas, dari kuliah Cuma dua yang bisa buat kita senang. Pertama saat masuk kuliah dan dinyatakan diterima jadi mahasiswa. Kedua saat kamu dinyatakan sudah jadi sarjana. Itupun belum dapet kerjaan atau mendapatkan penghasilan yang layak.
Dulu, memang aku nggak pernah ikut organisasi dan nggak kenal dengan yang namanya organisasi di kampus. Banyak yang udah ngajak masuk BEM, DPM atau apalah namanya tapi aku nggak pernah peduli.
Yang jelas aku Cuma ikut Pramuka dan itu juga Cuma buat asik-asikan aja, nggak ada niat buat mendalaminya lebih jauh. Namanya juga anka kantin, bukan anak Mushala. Begitulah kiasan yang sering diucapkan oleh orang-orang.
Tapi kita nggak perlu ribut kamu anak kantin atau anak mushala kayak ributnya bubur ayam fraksi diaduk sama nggak diaduk. Anehnya, ada juga orang yang sampe adu jontos hanya gara-gara bubur ayam diaduk atau nggak diaduk. Inilah perlunya yang namanya “Saling Menghargai”. Nggak perlu ribut sana sini deh. Apalagi perkara anak kantin atau anak mushala, kenapa nggak dibuat aja anak mushala yang punya kantin? Atau anak kantin yang punya mushala? Biar aman coy!
Oke, berhenti dulu marah-marahnya karena tiba-tiba Wardah menelponku. Jarang-jarang dia nelpon pagi-pagi buta, baru bangun tidur belum sempat kucek-kucek mata juga di WC.
“Assalamualaikum mas.” Ucapnya lewat telpon yang langsung membuatku berhenti mengantuk.
“Waalaikumsalam, ada apa Wardah?” tanyaku karena sangat aneh dia nelpon pagi-pagi kayak mbak-mbak jual lontong buat bangunin pelanggan.
“Nggak ada, Cuma mau bilang aja.” Jawabnya sedikit berbelit.
“Bilang apa?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam jam tujuh, jangan lupa nonton TV ya.” Ucapnya sambil menyebutkan salah satu stasiun televisi yang ngetop banget.
“Emangnya ada apa?” tanyaku heran.
“Pokoknya nonton aja, harus janji. Assalamualaikum.” Ucapnya sambil menutup telepon tanpa banyak bicara lagi.
Iya, begitulah perempuan selalu banyak teka teki. Mungkin itulah sebabnya sampul TTS selalu gambar cewek, mungkin karena perempuan penuh teka teki.
“Di, boleh aku pinjam buku Kimia Analitiknya?” ucapku sambil mengambil buku Kimia Analitik yang ada dimeja temanku.
“Ambil aja Gus.” Ucap Sandi yang sedang asiik SMS pacarnya.
“Sebenarnya apa sih rasanya pacaran? Apa sih manfaatnya?” tanyaku kepada temanku itu, dia adalah laki-laki yang sangat baik yah terutama karena dia sering traktir aku makan siang.
“Ya, aku juga nggak tau Gus. Buat asik-asikan aja” begitu jawabnya singkat dan menurutku memang tidak memberikan jawaban yang aku butuhkan.
Ntah kenapa, perempuan yang begitu tinggi martabatnya hanya menjadi bahan untuk asik-asikan oleh beberapa orang yang memang sepertinya tidak menghargai perempuan. Bukankah kita juga dilahirkan oleh perempuan?
Memang sih, rata-rata kalo aku perhatikan orang-orang yang pacaran selalu banyak masalah dengan pacarnya. Bahkan tak jarang yang menyalahkan teman dekatnya hanya gara-gara berkelahi dengan pacarnya. Tapi tidak dengan Sandi yang dapat menempatkan dirinya.
Seperti biasa aku jalan-jalan bersama Wicak, sahabat karibku hingga kami disebut homo oleh orang-orang.
“Cak, jangan lupa ya nanti malem kite nonton TiVi.” Ucapku kepada Wicak.
“Kenapa?” tanyanya dengan nada adek-adek yang main iklan bikuit.
“Nggak tau juga Cak, Wardah maksa aku nonton TiVi itu malem ini.” Jawabku kepada Wicak sambil memakan biskuit yang terlantar dimeja.
Malam Hening, bernoktahkan Bulan Purnama bulat indah berseri.
Aku duduk manis didepan kotak berwarna yang mengeluarkan sedikit suara itu. Aku membuka chanel yang tadi disuruh oleh Wardah. Oke tepat aku membuka chanelnya.
Tak ada sesuatu yang menarik disana, aku hanya melihat seorang kribo yang biasa duduk di sofa untuk membawakan sebuah talk show mingguan dichanel itu.
Tiba-tiba, aku melihat seorang yang melangkah masuk ke ruangan talkshow dan duduk disofa bersama kedua temannya. Ha? Bukannya itu Wardah? Tanyaku dalam hati terkaget-kaget bukan main.
“Jadi apa yang membuat Wardah melakukanini?” tanya sang pembawa acara.
“Iya, jadi keprihatinan kami membuat kami untuk membangun sebuah gerakan kemasyarakatan yang bisa membantu mereka meningkatkan kualitas ekonominya dengan cara memberikan keterampilan. Bukan dengan cara memberikan barang-barang yang akan membuatnya menjadi manja dan selalu berharap kepada kita.” Ucap Wardah.
“Kemudian, jika kita lepas. Mereka sudah bisa mandiri sendiri.” Tambahnya.
Ternyata dia membuat sebuah komunitas yang bertujuan untuk membangun ekonomi ibu-ibu yang terkena kusta dengan cara mengajarkan mereka membuat jilbab dan nuget.
Itu sungguh luar biasa, seorang srikandi jaman kini yang sangat sulit ditemukan disela-sela jerami. Bagaimana bisa Wardah kecil yang dulunya pernah terpuruk menjadi bangkit sebangkit-bangkitnya seperti sekarang?
Hidup ini kita yang kendalikan, kita yang memiliki dan memainkan peranan. Mau seperti apa nanti? Kita harus berjuang untuk mendapatkan dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Jangan terjebak dengan keadaan.
“Kan sudah kau bilang banyak cara untuk berbakti.” Begitu kata Wardah ketika aku telpon dan menanyakan motivasinya untuk melakukan hal gila seperti itu.
Yang jelas sekarang aku tak mau kalah denganmu, aku ingin berjuang sepertimu. Dapat berjalan sejajar maupun didepanmu, tak ingin aku mengikutimu karena aku bukan penguntit.
Hingga akhirnya aku ingin menjadi manusia yang benar-benar berbakti. Kau inspirasiku. J

Tuesday, 21 April 2015

UKHTI BELUM TERPECAHKAN


Malam indah di Kota Bari yang tak pernah kunjung mati, menyimpan asa dan cita-cita tengang harapan yang ingin ditempuh didepan. Masa-masa bimbel adalah masa yang sangat krusial untuk dilalui karena disinilah keseriusan kita diuji untuk memasuki suatu perguruan tinggi yang notabene-nya akan mempengaruhi masa depan.
Hari-hari yang telah berdebu, merajut anyaman benang angan yang ingin aku tawarkan ke dirinya. Sejak lama aku tak mengerti, kenapa dirimu masih menjadi misteri untuk diketahui nantinya.
Misteri yang masih belum terpecahkan ini tetap saja membawa kebahagiaan hatiku yang tak bisa terlukiskan walaupun dengan tinta sebatang pelangi. Namun, terkadang cinta itu tidak harus diketahui oleh orang yang bersangkutan, dan tak perlu pula kita mengetahui banyak hal tentang dirinya. Cukup! Optimis untuk memperbaiki dan memantaskan diri agar kamu bisa bersama dirinya.
Sejuta asa yang ingin aku titipkan dan aku bisikkan ke telingamu. Sosok sederhana dirimu membuatku mengiginkan dirimu untuk digengam dan saling memilik.
Tak ingin menambah misteri yang lain selain misteri kehidupan, akupun ingin memecahkan misteri siapa nama si ‘Ukhti’ itu sebenarnya.
Perjalanan pun dimulai saat kami sudah menginjak pulau yang berbeda. Bersebrangan, tidak menyatu satu sama lain dan hanya disatukan oleh samudera yang tidak mengizinkan kita menginjakkan kaki kita diatas pundaknya.
Palembang Kota Bari menghembuskan angin laut di malam hari. Aku duduk sendiri di tepi sungai itu sambil mengenggam HaPe-ku. Terlalu banyak rahasia yang dia sembunyikan, terlalu sedikit ucapan yang dia ucapkan.
Tapi, tak perlulah kalau diamnya dirimu menjadi masalah. Karena kita kenal dalam kesunyian, sedikit sekali suara dan bahasa yang kita lemparkan. Kita berbicara dari hati ke hati. Menikmati indahnya diam ini sambil memikirkan perasaan satu sama lain.
“Kamu kenapa? Setiap ditelpon selalu diam.” Ucapku membujuknya untuk aktif berbicara kepadaku.
“Tidak ada kok, hihihi.” Ucapnya dengan dilanjutkan tawa kecil.
“Ya sudah kalo kamu memang lebih suka diam, silahkan diam. Aku menunggumu menjawab pertanyaanku.” Ujarku dengan sedikit ngambek.
Dia langsung balik bertanya, “Pertanyaan apa?”
“Sudah berapa kali aku tanya siapa namamu hah?” tanyaku kepadanya.
“Lima puluh kali mungkin?” jawabnya.
Iya, nama si’ukhti’ yang selalu meneror hatiku belum terpecahkan. Belum jelas siapa namanya, tapi kami sudah seperti menyatu tanpa mengenal nama. Kenapa dia sangat merahasiakan namanya itu? Apa masalahnya?
Apa karena dia adalah salah satu gembong teroris ternama?
Apa karena dia adalah salah satu pengedar narkoba yang sangat terkenal? Hingga namanya sangat dirahasiakan olehnya?
Atau jangan-jangan dia adalah laki-laki yang berganti kelamin? Hingga namanya lupa diubah dan masih “Yanto, Jono atau Anto”? sehingga dia malu kalo aku tahu bahwa sesungguhnya dia adalah laki-laki.
Kenapa kau selalu diam? Itu pertanyaanku. Kenapa tawa kecilmu itu sangat menjengkelkan? Kenapa kau tak mau memberi tahu namamu siapa?
Tapi, bukankah dibalik diam ini memiliki seribu arti yang tak bisa diprediksi. Sangat sulit diprediksi karena kau tak memberikan satu kisi-kisi atau hint sedikitpun kepadaku.
Aku akan tetap memecahkannya walaupun harus menebak seribu kali, bahkan jika otakku tak mungkin lagi bisa berfikir tentang kemungkinan namamu.
Tak tahu apa yang sedang kau lakukan di Solo sana, kau bimbel disana memberikan aku sedikit kekhawatiran akan apa yang sedang kamu lakukan? Bersama siapa dirimu? Dan ah entahlah tak perlu aku bahas lagi. Yang jelas sekarang kau sedang bertelponan denganku dibawah rembulan yang memantulkan cahayanya.
Siang Bolong, Terik Kota
Aku berjalan dengan cepat karena tak kuat menahan panas yang menjatuhkan cahayanya keleherku. Begitu menyengat sekali hingga aku tak mampu menahannya. Tiba-tiba HandPhoneku berdering, langsung aku angkat dengan sigapnya.
“Assalamualaikum.” Ucapku memberikan salam.
“Wa’alaikumsalam.” Balasnya salamku.
Kemudian dia bercerita panjang lebar tentang masalah yang sedang dia hadapi. Tentang dia yang pengen menjadi dokter anak tapi hasil dari Try Out SNMPTN-nya tidak memungkinkan dia untuk dapat menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran alias nggak sampe grade-nya.
Dia menanggis ditelpon sambil berbicara, “Aku takkut nggak lulus FK nanti.”
Aku menjawab dengan tenang dan mencoba untuk menenangkannya, “Kamu santai ajalah, jangan sampai sedih hanya gara-gara nggak lulus FK nanti. Kan rejeki itu udah diatur sama Allah, kalo kamu nggak lulus itu artinya Allah sudah menyiapkan jalan yang lebih baik untukmu.” Ucapku.
“Tapi aku memang ingin sekolah FK, Gus.” Ucapnya kepadaku.
“Tapi jika Allah berkehendak lain kamu mau bilang apa? Mau melawan kehendak-Nya?” tanyaku balik sok religius.
Dia terdiam sejenak tak menjawab pertanyaanku yang memang tak perlu dijawab.
“Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan. Jangan terlalu egois dengan keputusan Allah nanti, trima dengan syukur tetapi tetap berjuang dari sekarang agar kau tetap dapat masuk ke FK nanti.” Celotehku panjang.
Suara tangisnya sudah mulai hilang, Baguslah fikirku. Dan sepertinya doktrinku sudah masuk ke kepalanya.
Aku melanjutkan celotekanku kembali, “Dan terkadang kita harus paham bahwa apa yang kita inginkan belum tentu menjadi apa yang kita butuhkan.”
Dia hanya terdiam, dan sesekali bersuara, “Tapi kan aku mau jadi dokter biar bisa menolong banyak orang, biar bisa membantu sesama.” Ucapnya keras.
“Emangnya harus jadi dokter?” tanyaku seakan-akan menyudutkannya.
Nampaknya tiada yang perlu kita takutkan lagi tentang kehidupan didunia ini. Karena Allah telah mengaturnya secara rinci dan detail, kita manusia hanya tingga menjalani step by step kehidupan dengan indah dan menikmatinya dengan Syukur.
Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan pula untuk mengabdikan dirimu ke masyarakat. Banyak jalan pula untuk menjadi manusia yang berguna. Cara untuk membantu dan menolong orang lain bukan hanya satu. Untuk menolong dan membantu orang lain, anda bisa menjadi apapun bahkan menjadi badut dengan cara menghibur dunia agar tidak ada lagi peprangan, bukankah itu baik?
Menajdi guru dan mengajari banyak orang hingga mereka kelak menjadi manusia yang berguna bagi masyarkat. Bukankah itu baik?
Nampaknya tiada lagi yang perlu kita diresahkan, untuk apa kita gelisah? Lebih baik kita syukuri dan nikmati secara bersama dengan dikhayati bersama selamanya. Untuk itu aku harap kau mengerti “Wardah”. :)
:)

Wednesday, 14 January 2015

NASIB IBU DI KALA MERAYAKAN HARI IBU?

Assalamualaikum. J
Spesial Thanks for MAMA.
Present for you all.     
Karena kemarin adalah hari Ibu, seluruh Indonesia merayakannya begitu. Aku juga nggak tau apa dan bagaimana kenapa tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Maaf banget telat, karena banyak banget kesibukan selama beberapa hari ini. Yah tentunya agar nggak terlalu basi, aku mau nulisnya sekarang. Ketika masih ada waktu luang, dan inilah persembahan untuk ibuku. J
            Yang jelas kita memang butuh waktu yang menjadi momentum untuk mengingat ibu, jujur aja! Aku kadang-kadang ingat ibu Cuma waktu sakit, bokek, susah, dan sangat jarang ingat ibu disaat sedang nyaman. Wow? Ya, kalo ente-ente juga jujur pasti sama kan?
            Kata “Surga ditelapak kaki ibu” adalah kata yang sangat sering kita dengar, tapi bukan berarti kita cuci kaki ibu terus minum aer cuciannya ya, salah kaprah banget tau nggak.
            Disela-sela kegiatan yang padat ini, aku pengen memberikan apresiasi yang sangat besar kepada ibuku, nenekku, ayahku yang pernah jadi ibu sementara buat aku, pengasuhku waktu bayi, dan semua ibu yang ada didunia.
            Di kala kita merayakan hari ibu, tahukah anda jika banyak ibu yang menderita ketika melahirkan? Angka kematian ibu tahun lalu aja 359/100.000 angka kelahiran bayi. Bayangin aja, betapa mulianya seorang ibu yang melahirkan seorang manusia mungil tak berdosa, bertaruh dengan nyawa. Bahkan tak sedikit ibu yang kena komplikasi melahirkan. Belum lagi ibu yang terkena Diabetes Gestasional, eklamsi, dan beresiko terkena penyakit degenerative lainnya setelah melahirkan.
            Belum cukup itu, ada beberapa suku yang mengasingkan seorang perempuan yang dating bulang, ada pula yang mengasingkan ibu yang sedang dalam masa nifas, bahkan mengasingkan ibu yang sedang hamil dipedalaman hutan. Ada juga beberapa bangsa yang memiliki adat “Wanita Hamil Makan Terakhir”. Jadi kayak gini, seorang perempuan boleh mengambil makanan setelah semua anggota keluarganya telah mendapatkan makanan. Oke kalau masih ada sisa, kalo tidak bagaimana? Kalo ada tapi sedikit bagaimana? Bagaimana dengan kebutuhan gizi seorang wanita hamil? Berbahaya bukan? Dan ini adalah cerita lama dari WHO. Kesetaraan gender memang perlu diwaktu yang tepat, seperti kasus diatas.
            Pendidikan, gizi, maupun perhatian kesehatan ke ibu memang masih kurang dan bahkan ada yang belum dapat terjangkau. Kepercayaan akan mitos-mitos jaman dulu juga terkadang dapat menyebabkan hambatan maupun komplikasi pasca natal. Seperti, tindakan persalinan oleh dukun beranak yang tidak terlatih. Bahkan ada juga yang memanaskan (maaf) lubang bersalin dengan bara yang memang itu tidak steril.
            Akses pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau, terkadang menyebabkan sebuah pos kesehatan hanya sebuah symbol didekat desa tersebut. Seperti di Indonesia yang memiliki distribusi penduduk yang beraneka ragam jika kita tinjau dengan ilmu antropologi. Kondisi masyarakat di Jawa, Sumatera, Papua, Kalimantan dan lainnya sangat berbeda. Seperti di Jawa yang aksesnya mudah, tida seperti di Papua maupun Kalimantan yang terkadang ibu hamil dan suaminya harus bernyanyi “mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah kelautan.”.
            Ini bukan guyonan, aku serius lho. Lantas, apakah kita hanya akan berpangku tangan? Apakah hari ibu adalah symbol? Celebrasi yang memang aku rasa nggak ada manfaatnya jika “Maternal Care” tidak kita perbaiki. Celebrasi tak akan mengubah apapun bung, tunjukkan kepedulianmu akan pencapaian penurunan Angka Kematian Ibu minimal menjadi 100/100.000 kelahiran, kalo bisa jadi 0/100.000 kelahiran walaupun saya rasa itu mustahil.
            Keselamatan ibu adalah tanggung jawab semua manusia, bukan Cuma dokter, bidan, perawat dan suami. Tapi adalah kewajiban dari semua manusia yang memang masih memiliki nurani.
Perjuangan Ibuku    
Overall, aku terima kasih banget sama ibuku yang sudah susah-susah melahirkan aku. Mengandung selama 9 bulan 10 hari (walaupun nggak mungkin setepat itu), kalo kata ibuku rasa melahirkan itu sakit banget dan ibuku dapet banyak jahitan. Didalam rumah peninggalan Belanda (yang kini jadi balai kecamatan) tua yang kata ayahku kalo ada angina putting beliung langsung roboh.
            Tak cukup itu, ibuku juga dulu kena komplikasi pascanatal dan juga kena babyblues syndrome. Sehingga dirawat dirumah sakit dalam waktu yang lama. Jadi nggak ada alasan untuk membantah dan mengecewakan ibuku. Selanjutnya, ayah menyuruh ibuku yang sewaktu itu udah jadi PNS Guru untuk berhenti menjadi PNS dikarenakan ayahku ingin ibuku focus mengurus anaknya.
            Dulu ibuku juga pernah jadi single parents selama bertahun-tahun, ketika ayahku disekolahkan ke Swiss oleh kementrian pekerjaan umum. Waktu itu aku masih kecil banget, usia baru 4 tahun. Kemana-mana jalan sama ibu, sampe aku pernah jatuh dan kepalaku berdarah. Siapa yang bawa kerumah sakit? ibu juga toh. Hingga saat ini memang cerita-cerita kenangan di masa kecil ketika hidup masih dipangkuan ibu sangatlah menyenangkan dan membuat haru.
            Skip ke masa SD ketika ayahku diambil oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk menangani pembangunan didaerah tertinggal, kembali ibu jadi single parent. Aku tau banget kalo ibu itu nggak mengendarai sepeda motor. Lalu apa yang terjadi? Ibu belajar naik motor buat nganter aku ke sekolah dulu. Jalan motornya pelan banget sampe-sampe kalo ada orang lari bisa saja menyusul motor yang dikendarai ibu. Trus, kami juga pernah nyunsep ke got/parit, untung aja nggak masuk ke sungai musi.
            Masih ingat juga nggak kalo dulu aku di kelas 1 SD adalah anak terbelakang? Yah, orang-orang sering bilang aku idiot. Kalo nggak salah aku ranking 26 dari 26 orang siswa. Kemudian ibu yang saat itu mengambil rapot nggak marah sama sekali, ibu malah memberikan semangat bahwasanya kamu pasti bisa. Setiap tahun begitu, beliau tak pernah menuntut untuk dapet nilai besar, sudah mau sekolah aja syukur. Walaupun hingga akhirnya aku bisa selalu menjadi ranking 3 besar dikelas. Itu semua atas kebaikan ibu.
            Dulu ayah sibuk banget sama Golkar, tiap beberapa bulan dia pergi mengikuti kegiatan golkar. Yah, ibu nggak pernah protes, nggak pernah terlihat didepan kami kalo ibu sedih ataupun marah. Melihat wajah yang selalu mengalah itupun tak pernah juga membuat kami tega untuk menanggis atau bahkan buat bertanya kemana ayah.
            Saat aku kelas enam SD sampai kelas 2 SMP ibu kembali jadi single parent, semua peran harus dia mainkan. Mengurusi tiga anaknya, dan membuat kami untuk tidak bertanya kemana ayah? Ya, kalo kita ceritakan perjuangan ibu nggak ada habis-habisnya.
            Pekerjaan yang tak pernah libur. Ibu bekerja 24 jam sehari, 7 hari satu minggu, 30 hari satu bulan, bahkan 365 atau 366 hari setahun. Tanpa digaji lho? Nggak ada waktu istirahat, dia boleh makan ketika orang yang dicintainya sudah makan. Dia nggak bisa tidur ketika ada bayi yang menanggis, kita yang rewel ketika ingin meminta sesuatu kepadanya. Ditambah lagi anaknya sering buat olah, dia akan berdoa ketika suatu saat anakku bisa menjadi manusia yang berguna.
            Ketika ayah mau diambil ke Kementrian, ibulah orang pertama yang melarang. Ibu berkata, “Tega kamu meninggalkan banyak orang yang masih membutuhkan kita? Yang masih bergantung kepada kita.”, ibu sering mengajarkan kami kesederhanaan, mengajarkan kami untuk membantu banyak orang. Ibu tak pernah meminta yang macam-macam kepada ayah, bahkan kerap kami melihat beliau menjual perhiasan yang sudah disimpan dari jaman kami baru lahir hanya untuk membuat anaknya tersenyum.
Yang jelas kalo mau cari istri kayak ibu ajalah, perfect dah. Ibu nggak pernah minta yang aneh-aneh dari ayah. Bahkan ketika ayah mendapatkan jabatan sebagai kepala dinas pekerjaan umum, ibu berkata kepada ayah “Coba pikirkan baik-baik, jabatan tidak akan membuat kita bahagia. Datangilah pak bupati bilang mungkin kamu menolaknya. Aku takutnya kau Cuma jadi tumbal mereka saja.” Walaupun ayahku tidak mengubrisnya, ibuku bilang “Jangan pernah kau bawa uang hasil korupsi untuk makan anak-anakmu, haram itu.” Begitulah seru ibuku ketika itu kami semua kaget karena tak biasanya ibu bicara kasar kepada ayah.
Walaupun beberapa tahun kemudian apa yang dikatakan ibu itu benar, ayah dijebloskan ke penjara akibat tuduhan kelalaian administrasi. Saat itu aku masih tingkat satu sampai tingkat dua akhir kuliah di kedokteran. Yah seperti biasa ibu harus mencari uang biar ketiga anaknya bisa bersekolah dengan tenang. Walaupun bantuan demi bantuan dari orang-orang yang dulu pernah ditolong ayah dan ibu juga dating bergantian. Saat itu ibu sudah menjadi seperti pengemis, beliau mendatangi sekda, dan bupati. Aku juga berusaha untuk mendapatkan beasiswa untuk mencukupi uang kuliahku, membantu sedikit-demi sedikit untuk mencukupi uang jajanku baik dengan cara mengajar maupun berjualan.
Hingga akhirnya supir ayahku dan kakakku yang Alhamdulillah beliau sangat setia menjaga ibuku menelponku, mereka mengabarkan bahwa kesehatan ibu menurun, itu yang membuat diriku shock. Konflik batinpun terjadi ketika aku berfikir untuk mau berhenti kuliah atau pindah kuliah dikarenakan memang aku nggak tega mendengar hal tersebut terjadi pada ibuku. Walaupun akhirnya ibuku melarang aku untuk pulang.
Setelah ibu sehat, ibu kembali “berulah”, beliau memasukkan lamaran pekerjaan ke dinas kebersihan sebagai tukang sapu. Dan memang bagiku hal tersebut sangat menjijikkan, ibuku yang sarjana pendidikan, kenapa dia mau melamar pekerjaan menjadi tukang sapu? Jawabannya lumayan dapet 800.000 perbulan kan minimal bisa untuk uang jajan kalian. Karena memang kita nggak punya apa-apa lagi. Kembali aku menelpon supir ayahku dan kakakku, aku marah sekali kenapa mereka tidak mengawasi, aku suruh mereka menarik lamaran pekerjaan itu.
Hingga akhirnya aku juga putus asa, ya sudah aku daftar CPNS di Sekretariat Jendral MPR. Tapi tiba-tiba ibu menelpon dan dia berkata, “Jangan berhenti kuliah, harapan kami berdua dirimu jadi dokter, bukan jadi yang lain. Kabulkanlah harapan kami berdua. Apapun akan kami lakukan, Banyak yang masih bisa dijual, kita bisa jual rumah, mobil, dan bahkan semuanya. Makan singkong udah biasa, lauk Cuma garam sudah biasa, tinggal dirumah kayu sudah biasa, nggak punya mobil dan motor sudah biasa.” Akupun terdiam ketika ibu berkata seperti itu, “Dan yang lebih pentih, jadilah sampel untuk orang-orang bahwa anak orang yang difitnah dan susah ternyata bisa berguna untuk banyak orang.”
Garis bawahi ibu selalu menekankan untuk menjadi “BERGUNA” untuk banyak orang, simple kan?.
HARAPANKU DIHARI IBU
Seperti yang pernah aku katakana dengan temenku Gita yang kuliah di UGM, tentang harapan dihari ibu. Pesan BBMnya begini:
Harapanku kepada banyak wanita “Wanita adalah makhluk yang mulia, dari rahim-nya-lah keluar seorang makhluk tak berdosa yang suci lahir dan batin. Maka muliakanlah diri kalian dan jadilah ibu yang baik untuk anak-anak masing-masing dari kalian nanti, agar anak-anak masing-masing dari kalian kelak lebih mulia dari kalian. Aamiin.
Harapanku kepada semua ibu, “Overall, Selamat Hari Ibu dan perjuangkan selalu hak kalian para wanita. Asupan gizi yang baik, perhatian dari petugas kesehatan, bahkan kalian berhak mendapatkan kehidupan yang layak dari laki-laki.
Harapanku untuk petugas kesehatan, “Selamat Hari Ibu, dan juga terimakasih atas bantuan para bidan yang juga merupakan ibu dan membantu proses persalinan banyak ibu. Harapan-ku ditahun ini dalam rangka Hari Ibu, tingkatkan maternal care, menghancurkan diskriminasi gender kepada ibu, semoga semua keluarga tahu bahwa asupan gizi ibu hamil sangatlah penting sehingga mereka didahulukan, semua tenaga kesehatan mau turun kelapangan untuk meninjau maternal care, tersedianya dan terjangkaunya fasilitas kesehatan kepada ibu, ambulan gratis untuk ibu melahirkan, dan yang terpenting dari itu kita muliakan ibu yang sebenarnya telah memiliki resiko kematian 359/100.000 angka kelahiran dengan cara menurunkan angka tersebut menjadi 100 atau kalo bisa tidak ada anak yang lahir dalam keadaan piatu.”


Thanks for attention, Wassalam

Thursday, 8 January 2015

Parkir Siluman

Parkir di Negara Maju
            Pernahkah anda berbelanja ke komplek pertokoan dan memarikirkan kendaraan anda di badan jalan? Atau, apakah anda pernah ke took ATK atau Foto Copy untuk membeli kertas dan memarkirkan kendaraan anda di badan jalan dekat toko? Kemudian setelah anda keluar dari toko, seseorang tiba-tiba datang  menegadahkan tangannya meminta uang yang katanya ‘uang parkir’
            Parkir yang sejatinya adalah keadaan kendaraan yang tidak bergerak atau berhenti sementara dikarenakan ditinggalkan oleh pengemudinya. Di Negara Italia, Jepang maupun Negara maju lainnya parkir dibuat di depan gedung untuk memfasilitasi pemilik kendaraan pemilik maupun tamu gedung tersebut. Biaya parkir di Negara maju sangat bervariasi tergantung dari lokasi parkir maupun waktu parkir.
            Jepang membuat kebijakan parkir yang sangat mahal untuk mendorong pengguna kendaraan pribadi menggunakan kendaraan umum, selain untuk menekan angka pengguna kendaraan pribadi hal ini juga dapat menjadi pemasukan negara. Biaya parkir di Jepang jika kita jadikan rupiah (kurs 1 YJP = Rp. 120) sekitar 72 sampai 96 ribu pada tahun 2013 lalu.
Fenomena Parkir Siluman  
Bagaimana dengan Indonesia yang memiliki banyak ‘parkir siluman’. Hampir masyarakat seluruh Propinsi di Indonesia memiliki keluhan mengenai parkir siluman, termasuk masyarakat Negri Serambi Mekkah sendiri.
Saya pernah ke tempat foto copy di sekitar Banda Sakti hanya untuk membeli sesuatu, setelah saya tanyakan dengan pelayan toko tersebut ternyata barang yang saya maksud tidak dijual di sana. Saat saya mau mengambil kendaraan yang saya tinggalkan di depan toko, tiba-tiba seseorang datang meminta uang dua ribu kepada saya. Katanya itu uang parkir dan resmi oleh Dinas Perhubungan Kota. Saat saya meminta surat keputusan maupun perda yang dimasud, sang ‘tukang parkir’ tidak bisa menunjukkan. Bahkan ada salah satu karikartur yang beredar di facebook kurang lebih isinya seperti ini, “Saya foto copy cuma gopek (lima ratus), tapi parkirnya seceng (seribu).”
Sebenarnya kita tidak mempermasalahkan parkir siluman maupun parkir resmi-nya, tapi yang kita permasalahkan disini adalah kita akan sangat ikhlas dan bangga apabila parkir bisa dikelola oleh Negara ataupun menjadi pendapatan Negara. Karena jika uang parkir menjadi salah satu pendapatkan Negara, itu berarti kita telah ikut serta membangun bangsa.

Rekomendasi saya untuk pemerintah adalah segera terbitkan Perda mengenai parkir, kemudian buat bukti pembayaran parkir. Pertama, agar dana parkir tidak diselewangkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan. Kedua, agar penggunaan dana parkir bisa digunakan untuk kemaslahatan bersama dengan penggunaan yang transparan. Karena badan jalan bukan milik pribadi maupun perseorangan, melainkan milik Negara. Jadi, Negara memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan dari badan jalan tersebut.

Thursday, 1 January 2015

MAHASISWA: MEMINTA-MINTA DAN MITIGASI BENCANA


Bencana banjir yang terjadi belakangan ini terjadi dikarenakan banyak sebab. Mungkin salah satu

penyebabnya dikarenakan kurangnya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, sehingga sampah yang dibuang ini menutupi selokan tempat aliran air. Ada juga yang menutup saluran air dikarenakan kepentingan pribadi seperti menjadi tempat kendaraan roda empatnya parkir. Selain sebab diatas, banjir juga bisa disebabkan oleh hal yang tidak bisa kita duga seperti tanggul penahan air yang jebol/rusak. Pada intinya banjir bisa terjadi dikarenakan hal yang tidak bisa kita duga dan juga  dikarenakan factor manusia sendiri seperti keserahakan manusia yang juga bisa menyebabkan alam marah sehingga memberikan bencana banjir ini kepada kita.
Mahasiswa dan Meminta-minta
Tidak asing lagi dimata kita ketika melihat banyak mahasiswa meminta-minta uang di jalan maupun di sudut lampu merah dengan beragam model kotak sumbangan saat terjadi bencana alam. Ada yang menggunakan kotak mie, kotak kertas, dan lain-lain. Indonesia memang negeri dengan banyak rupa. Banyak pula bencana yang terjadi di negeri Bhineka Tunggal Ika ini, dari bencana longsor, tsunami, gempa bumi dan yang baru-baru ini terjadi yaitu bencana banjir.
            Memang perjuangan dan solidaritas teman-teman mahasiswa patut kita apresiasi dan acungi dengan jempol. Sangat jarang ada mahasiswa yang mau ‘mengemis’ di jalan demi nasib para pengungsi. Dengan bermodalkan kotak dan tenaga serta keikhlasan, mereka rela menghabiskan waktu mereka walaupun berdiri dijalan sambil menyodorkan kotak ‘amal’. Mereka namakan itu sebagai gerakan kemanusiaan, gerakan sosial, dan bermacam-macam gerakan lainnya.
Apa yang terlintas dibenak kita ketika lewat persimpangan lampu merah dan melihat mahasiswa dengan bangga membawa jas kampusnya sambil membawa kotak bertuliskan bantuan bencana. Tak sedikit orang yang berpikiran, “Oh mahasiswa, pasti minta-minta.”, walaupun sebenarnya niat dari sang Mahasiswa ini baik. Tetapi bukankah niat baik, harus dilaksanakan dengan cara yang baik pula?
Sangat disayangkan jika mahasiswa yang notabene-nya disebut sebagai kaum intelektual yang akan akan menjadi “Agen of Change and Development” hanya meminta-minta dijalan, melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya dilakukan oleh ‘pengemis’. Kita semua pasti sudah mengetahui bahwa masih banyak cara lain yang dapat digunakan untuk meminta sumbangan, seperti melakukan pentas seni amal, konser amal, lelang, jual stiker dan masih banyak cara yang bisa dilakukan. Cara-cara seperti itu dinilai lebih menunjukkan intelektualitas kita sebagai sebagai mahasiswa dibandingkan dengan hanya meminta-minta.
Masih banyak lagi cara-cara yang menurut saya lebih menunjukkan bahwa mahasiswa itu adalah benar-benar kaum intelektual. Contohnya, mahasiswa kedokteran dari Center for Indonesia Medical Student Asctivites (CIMSA) melakulan penggalangan dana secara nasional dengan cara melakukan pemeriksaan gula darah dimana uang hasil pemeriksaan tersebut akan dikirim ke lokasi bencana, Komunitas Seni yang melakukan pentas seni dimana uang dari penonton pentas tersebut dikirim ke lokasi bencana, dan  masih banyak cara lain yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk membantu sesama tanpa harus membuat ‘image’ bahwa mahasiswa adalah pengemis.
Sudah saatnya pula mahasiswa memiliki uang simpanan yang akan menjadi uang bantuan kemanusiaan, sehingga mahasiswa tidak perlu meminta-minta dijalan lagi. Uang simpanan ini bisa didapat dengan banyak cara. Contohnya, mahasiswa pertanian atau perikanan melakukan usaha ternak lele maupun bertanam sayur-sayuran, uang hasil panen sayur maupun lele menjadi uang simpanan untuk korban bencana nanti. Mahasiswa teknik juga bisa membuat stiker, atau mendesain sesuatu. Mahasiswa FKIP dapat membuat bimbingan belajar untk anak-anak disekitar kos/tempat tinggalnya sehingga uangnya dapat digunakan sebagai uang simpanan organisasi/komunitas untuk tanggap bencana.
Mahasiswa dan Mitigasi Bencana
            Upaya refresif yang dilakukan teman-teman mahasiswa seperti meminta-minta sumbangan di jalan, lalu ada yang ikut mengevakuasi korban, ada juga yang melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, dan masih banyak upaya refresif yang teman-teman mahasiswa lakukan.
Memang harus kita akui sebagai salah satu contoh bahwa Negara kita masih memiliki kader-kader yang memiliki sikap empati dan bersimpati kepada korban bencana. Tetapi, sangat disayangkan kalau sikap empati dan simpati itu baru muncul setelah terjadinya bencana. Marilah kita menanamkan sikap empati sejak dini, dari belum mulai bencana sampai bencana sudah selesai, seperti membantu para korban dalam mencegah atau melakukan mitigasi bencana. Bukankah setiap risiko bencana dapat kita cegah?
            Bukankah pemerintah dapat melakukan langkah-langkah preventif sebagai upaya pencegahan bencana. Seperti melakukan pengerukan  pada daerah aliran air, merevitalisasi pembuangan sampah, memperbaiki tanggul, dan dapat juga menanam banyak pohon sebagai penghalang dan penyerap air.
            Bukan hanya pemerintah saja yang bertanggung jawab atas mitigasi bencana, mahasiswa yang merupakan ‘iron stock’ Negara harus ikut serta membantu tindakan mitigasi bencana diatas. Seperti melakukan penanaman banyak pohon, mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara mencegah bencana, mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun, sayang sekali jika kita sebagai mahasiswa lupa melaksanakan mitigasi bencana pada wilayah yang sebanarnya sudah bisa kita prediksi akan terjadi bencana.
            Pendidikan bencana harus diajarkan ke penduduk di daerah rawan bencana. Baik itu dilakukan oleh pemerintah maupun oleh mahasiswa dalam kegiatan BEM/organisasi mahasiswa lainnya. Pendidikan tersebut diantaranya cara mencegah bencana, menyelamatkan diri saat bencana sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan jika telah terjadi bencana.
Peran serta masyarakat/penduduk yang tinggal di daerah banjir juga sangat kita harapkan, karena pencegahan bencana tidak dapat dilakukan jika tidak ada kesadaran dari masyarakat. Jadi masyarakat harus mendukung semua tindakan mitigasi bencana yang dibuat oleh pemerintah dan mahasiswa demi kebaikan bersama.
Jadi, sebenarnya semua bencana banjir yang terjadi di tempat kita sebenarnya sudah dapat diprediksi dan dicegah. Tinggal apakah pemerintah, mahasiswa dan masyarakat mau bekerjasama untuk melakukan tindakan mitigasi bencana.

Tidak ada salahnya jika kita melakukan sesuatu yang baik untuk kita semua. Sekali lagi ayo kita tekankan edukasi dan mitigasi  bencana.

Wednesday, 24 December 2014

NASIB IBU DI KALA MERAYAKAN HARI IBU?

Assalamualaikum. 

Spesial Thanks for MAMA.
Present for you all.     

Karena kemarin adalah hari Ibu, seluruh Indonesia merayakannya begitu. Aku juga nggak tau apa dan bagaimana kenapa tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Maaf banget telat, karena banyak banget kesibukan selama beberapa hari ini. Yah tentunya agar nggak terlalu basi, aku mau nulisnya sekarang. Ketika masih ada waktu luang, dan inilah persembahan untuk ibuku. J
            Yang jelas kita memang butuh waktu yang menjadi momentum untuk mengingat ibu, jujur aja! Aku kadang-kadang ingat ibu Cuma waktu sakit, bokek, susah, dan sangat jarang ingat ibu disaat sedang nyaman. Wow? Ya, kalo ente-ente juga jujur pasti sama kan?
            Kata “Surga ditelapak kaki ibu” adalah kata yang sangat sering kita dengar, tapi bukan berarti kita cuci kaki ibu terus minum aer cuciannya ya, salah kaprah banget tau nggak.
            Disela-sela kegiatan yang padat ini, aku pengen memberikan apresiasi yang sangat besar kepada ibuku, nenekku, ayahku yang pernah jadi ibu sementara buat aku, pengasuhku waktu bayi, dan semua ibu yang ada didunia.
            Di kala kita merayakan hari ibu, tahukah anda jika banyak ibu yang menderita ketika melahirkan? Angka kematian ibu tahun lalu aja 359/100.000 angka kelahiran bayi. Bayangin aja, betapa mulianya seorang ibu yang melahirkan seorang manusia mungil tak berdosa, bertaruh dengan nyawa. Bahkan tak sedikit ibu yang kena komplikasi melahirkan. Belum lagi ibu yang terkena Diabetes Gestasional, eklamsi, dan beresiko terkena penyakit degenerative lainnya setelah melahirkan.
            Belum cukup itu, ada beberapa suku yang mengasingkan seorang perempuan yang dating bulang, ada pula yang mengasingkan ibu yang sedang dalam masa nifas, bahkan mengasingkan ibu yang sedang hamil dipedalaman hutan. Ada juga beberapa bangsa yang memiliki adat “Wanita Hamil Makan Terakhir”. Jadi kayak gini, seorang perempuan boleh mengambil makanan setelah semua anggota keluarganya telah mendapatkan makanan. Oke kalau masih ada sisa, kalo tidak bagaimana? Kalo ada tapi sedikit bagaimana? Bagaimana dengan kebutuhan gizi seorang wanita hamil? Berbahaya bukan? Dan ini adalah cerita lama dari WHO. Kesetaraan gender memang perlu diwaktu yang tepat, seperti kasus diatas.
            Pendidikan, gizi, maupun perhatian kesehatan ke ibu memang masih kurang dan bahkan ada yang belum dapat terjangkau. Kepercayaan akan mitos-mitos jaman dulu juga terkadang dapat menyebabkan hambatan maupun komplikasi pasca natal. Seperti, tindakan persalinan oleh dukun beranak yang tidak terlatih. Bahkan ada juga yang memanaskan (maaf) lubang bersalin dengan bara yang memang itu tidak steril.
            Akses pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau, terkadang menyebabkan sebuah pos kesehatan hanya sebuah symbol didekat desa tersebut. Seperti di Indonesia yang memiliki distribusi penduduk yang beraneka ragam jika kita tinjau dengan ilmu antropologi. Kondisi masyarakat di Jawa, Sumatera, Papua, Kalimantan dan lainnya sangat berbeda. Seperti di Jawa yang aksesnya mudah, tida seperti di Papua maupun Kalimantan yang terkadang ibu hamil dan suaminya harus bernyanyi “mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah kelautan.”.
            Ini bukan guyonan, aku serius lho. Lantas, apakah kita hanya akan berpangku tangan? Apakah hari ibu adalah symbol? Celebrasi yang memang aku rasa nggak ada manfaatnya jika “Maternal Care” tidak kita perbaiki. Celebrasi tak akan mengubah apapun bung, tunjukkan kepedulianmu akan pencapaian penurunan Angka Kematian Ibu minimal menjadi 100/100.000 kelahiran, kalo bisa jadi 0/100.000 kelahiran walaupun saya rasa itu mustahil.
            Keselamatan ibu adalah tanggung jawab semua manusia, bukan Cuma dokter, bidan, perawat dan suami. Tapi adalah kewajiban dari semua manusia yang memang masih memiliki nurani.

Perjuangan Ibuku    
Overall, aku terima kasih banget sama ibuku yang sudah susah-susah melahirkan aku. Mengandung selama 9 bulan 10 hari (walaupun nggak mungkin setepat itu), kalo kata ibuku rasa melahirkan itu sakit banget dan ibuku dapet banyak jahitan. Didalam rumah peninggalan Belanda (yang kini jadi balai kecamatan) tua yang kata ayahku kalo ada angina putting beliung langsung roboh.
            Tak cukup itu, ibuku juga dulu kena komplikasi pascanatal dan juga kena babyblues syndrome. Sehingga dirawat dirumah sakit dalam waktu yang lama. Jadi nggak ada alasan untuk membantah dan mengecewakan ibuku. Selanjutnya, ayah menyuruh ibuku yang sewaktu itu udah jadi PNS Guru untuk berhenti menjadi PNS dikarenakan ayahku ingin ibuku focus mengurus anaknya.
            Dulu ibuku juga pernah jadi single parents selama bertahun-tahun, ketika ayahku disekolahkan ke Swiss oleh kementrian pekerjaan umum. Waktu itu aku masih kecil banget, usia baru 4 tahun. Kemana-mana jalan sama ibu, sampe aku pernah jatuh dan kepalaku berdarah. Siapa yang bawa kerumah sakit? ibu juga toh. Hingga saat ini memang cerita-cerita kenangan di masa kecil ketika hidup masih dipangkuan ibu sangatlah menyenangkan dan membuat haru.
            Skip ke masa SD ketika ayahku diambil oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk menangani pembangunan didaerah tertinggal, kembali ibu jadi single parent. Aku tau banget kalo ibu itu nggak mengendarai sepeda motor. Lalu apa yang terjadi? Ibu belajar naik motor buat nganter aku ke sekolah dulu. Jalan motornya pelan banget sampe-sampe kalo ada orang lari bisa saja menyusul motor yang dikendarai ibu. Trus, kami juga pernah nyunsep ke got/parit, untung aja nggak masuk ke sungai musi.
            Masih ingat juga nggak kalo dulu aku di kelas 1 SD adalah anak terbelakang? Yah, orang-orang sering bilang aku idiot. Kalo nggak salah aku ranking 26 dari 26 orang siswa. Kemudian ibu yang saat itu mengambil rapot nggak marah sama sekali, ibu malah memberikan semangat bahwasanya kamu pasti bisa. Setiap tahun begitu, beliau tak pernah menuntut untuk dapet nilai besar, sudah mau sekolah aja syukur. Walaupun hingga akhirnya aku bisa selalu menjadi ranking 3 besar dikelas. Itu semua atas kebaikan ibu.
            Dulu ayah sibuk banget sama Golkar, tiap beberapa bulan dia pergi mengikuti kegiatan golkar. Yah, ibu nggak pernah protes, nggak pernah terlihat didepan kami kalo ibu sedih ataupun marah. Melihat wajah yang selalu mengalah itupun tak pernah juga membuat kami tega untuk menanggis atau bahkan buat bertanya kemana ayah.
            Saat aku kelas enam SD sampai kelas 2 SMP ibu kembali jadi single parent, semua peran harus dia mainkan. Mengurusi tiga anaknya, dan membuat kami untuk tidak bertanya kemana ayah? Ya, kalo kita ceritakan perjuangan ibu nggak ada habis-habisnya.
            Pekerjaan yang tak pernah libur. Ibu bekerja 24 jam sehari, 7 hari satu minggu, 30 hari satu bulan, bahkan 365 atau 366 hari setahun. Tanpa digaji lho? Nggak ada waktu istirahat, dia boleh makan ketika orang yang dicintainya sudah makan. Dia nggak bisa tidur ketika ada bayi yang menanggis, kita yang rewel ketika ingin meminta sesuatu kepadanya. Ditambah lagi anaknya sering buat olah, dia akan berdoa ketika suatu saat anakku bisa menjadi manusia yang berguna.
            Ketika ayah mau diambil ke Kementrian, ibulah orang pertama yang melarang. Ibu berkata, “Tega kamu meninggalkan banyak orang yang masih membutuhkan kita? Yang masih bergantung kepada kita.”, ibu sering mengajarkan kami kesederhanaan, mengajarkan kami untuk membantu banyak orang. Ibu tak pernah meminta yang macam-macam kepada ayah, bahkan kerap kami melihat beliau menjual perhiasan yang sudah disimpan dari jaman kami baru lahir hanya untuk membuat anaknya tersenyum.
Yang jelas kalo mau cari istri kayak ibu ajalah, perfect dah. Ibu nggak pernah minta yang aneh-aneh dari ayah. Bahkan ketika ayah mendapatkan jabatan sebagai kepala dinas pekerjaan umum, ibu berkata kepada ayah “Coba pikirkan baik-baik, jabatan tidak akan membuat kita bahagia. Datangilah pak bupati bilang mungkin kamu menolaknya. Aku takutnya kau Cuma jadi tumbal mereka saja.” Walaupun ayahku tidak mengubrisnya, ibuku bilang “Jangan pernah kau bawa uang hasil korupsi untuk makan anak-anakmu, haram itu.” Begitulah seru ibuku ketika itu kami semua kaget karena tak biasanya ibu bicara kasar kepada ayah.
Walaupun beberapa tahun kemudian apa yang dikatakan ibu itu benar, ayah dijebloskan ke penjara akibat tuduhan kelalaian administrasi. Saat itu aku masih tingkat satu sampai tingkat dua akhir kuliah di kedokteran. Yah seperti biasa ibu harus mencari uang biar ketiga anaknya bisa bersekolah dengan tenang. Walaupun bantuan demi bantuan dari orang-orang yang dulu pernah ditolong ayah dan ibu juga dating bergantian. Saat itu ibu sudah menjadi seperti pengemis, beliau mendatangi sekda, dan bupati. Aku juga berusaha untuk mendapatkan beasiswa untuk mencukupi uang kuliahku, membantu sedikit-demi sedikit untuk mencukupi uang jajanku baik dengan cara mengajar maupun berjualan.
Hingga akhirnya supir ayahku dan kakakku yang Alhamdulillah beliau sangat setia menjaga ibuku menelponku, mereka mengabarkan bahwa kesehatan ibu menurun, itu yang membuat diriku shock. Konflik batinpun terjadi ketika aku berfikir untuk mau berhenti kuliah atau pindah kuliah dikarenakan memang aku nggak tega mendengar hal tersebut terjadi pada ibuku. Walaupun akhirnya ibuku melarang aku untuk pulang.
Setelah ibu sehat, ibu kembali “berulah”, beliau memasukkan lamaran pekerjaan ke dinas kebersihan sebagai tukang sapu. Dan memang bagiku hal tersebut sangat menjijikkan, ibuku yang sarjana pendidikan, kenapa dia mau melamar pekerjaan menjadi tukang sapu? Jawabannya lumayan dapet 800.000 perbulan kan minimal bisa untuk uang jajan kalian. Karena memang kita nggak punya apa-apa lagi. Kembali aku menelpon supir ayahku dan kakakku, aku marah sekali kenapa mereka tidak mengawasi, aku suruh mereka menarik lamaran pekerjaan itu.
Hingga akhirnya aku juga putus asa, ya sudah aku daftar CPNS di Sekretariat Jendral MPR. Tapi tiba-tiba ibu menelpon dan dia berkata, “Jangan berhenti kuliah, harapan kami berdua dirimu jadi dokter, bukan jadi yang lain. Kabulkanlah harapan kami berdua. Apapun akan kami lakukan, Banyak yang masih bisa dijual, kita bisa jual rumah, mobil, dan bahkan semuanya. Makan singkong udah biasa, lauk Cuma garam sudah biasa, tinggal dirumah kayu sudah biasa, nggak punya mobil dan motor sudah biasa.” Akupun terdiam ketika ibu berkata seperti itu, “Dan yang lebih pentih, jadilah sampel untuk orang-orang bahwa anak orang yang difitnah dan susah ternyata bisa berguna untuk banyak orang.”
Garis bawahi ibu selalu menekankan untuk menjadi “BERGUNA” untuk banyak orang, simple kan?.

HARAPANKU DIHARI IBU
Seperti yang pernah aku katakana dengan temenku Gita yang kuliah di UGM, tentang harapan dihari ibu. Pesan BBMnya begini:
Harapanku kepada banyak wanita “Wanita adalah makhluk yang mulia, dari rahim-nya-lah keluar seorang makhluk tak berdosa yang suci lahir dan batin. Maka muliakanlah diri kalian dan jadilah ibu yang baik untuk anak-anak masing-masing dari kalian nanti, agar anak-anak masing-masing dari kalian kelak lebih mulia dari kalian. Aamiin.”
Harapanku kepada semua ibu, “Overall, Selamat Hari Ibu dan perjuangkan selalu hak kalian para wanita. Asupan gizi yang baik, perhatian dari petugas kesehatan, bahkan kalian berhak mendapatkan kehidupan yang layak dari laki-laki.”
Harapanku untuk petugas kesehatan, “Selamat Hari Ibu, dan juga terimakasih atas bantuan para bidan yang juga merupakan ibu dan membantu proses persalinan banyak ibu. Harapan-ku ditahun ini dalam rangka Hari Ibu, tingkatkan maternal care, menghancurkan diskriminasi gender kepada ibu, semoga semua keluarga tahu bahwa asupan gizi ibu hamil sangatlah penting sehingga mereka didahulukan, semua tenaga kesehatan mau turun kelapangan untuk meninjau maternal care, tersedianya dan terjangkaunya fasilitas kesehatan kepada ibu, ambulan gratis untuk ibu melahirkan, dan yang terpenting dari itu kita muliakan ibu yang sebenarnya telah memiliki resiko kematian 359/100.000 angka kelahiran dengan cara menurunkan angka tersebut menjadi 100 atau kalo bisa tidak ada anak yang lahir dalam keadaan piatu.”

Thanks for attention, Wassalam
Agustiawan Imron :) 
<photo id="1" />