Monday, 15 May 2023

BICARA TENTANG KULIAH SAMBIL KERJA 1




 

Seperti biasa aku pergi kekampus dengan kemeja lusuh serta sepasang sepatu lama yang aku dapatkan ketika aku masih SMA. Berjalan menyusuri keramaian kota. Aku melihat daun-daun mulai berjatuhan dari cabangnya. Begitulah laki-laki, ada kala dia harus pergi jauh dari rumahnya untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Aku langsung berjalan dari pagi buta agar aku dapat datang tepat waktu untuk dapat menghadiri praktik di dapur gizi. Aku datang dengan berjalan kaki, sedangkan anak-anak populer sok kaya menggunakan mobil milik orangtuanya. Aku hanya acuh tak acuh saja, aku tidak iri. Tapi aku bangga, aku memakai barang-barang milikku sendiri. Aku lebih terhormat menggunakan barang-barang jelek milikku sendiri dibandingkan memakai barang-barang mewah milik orangtuaku.

Sebuah perjuangan hidup untuk menempuh sebuah pendidikan yang layak. Aku adalah anak laki-laki yang terlahir dalam keluarga sederhana dan religius. Aku selalu bingung apabila melihat banyak orang yang merantau, hingga aku bertanya “Ayah, apakah setiap laki-laki harus berjuang sendiri untuk menempuh hidup yang lebih enak?” aku teringat akan pertanyaanku sekitar duabelas tahun yang lalu.

Ayahku langsung melihat kearah atas sambil memegang dagunya, “Kalau kamu mau jadi laki-laki itu harus.” Jawab ayahku dengan singkat sambil tersenyum dan memegang kepalaku.

Aku bukannya mengerti, malah tambah bingung dibuat ayahku. “Apa yang ayah maksud dengan harus.” Aku berfikir sebentar, “Harus melakukan apa ayah?” sambil meloncat-loncat untuk mengapai pundaknya.

Ayahku langsung merendahkan badannya agar aku bisa meraih pundaknya, “Aku tak akan beritahu, kalo aku beritahu kan jadi gak seru lagi petualanganmu nanti.” Ayah langsung mengangkat badanku sambil berkata, “Kalau kau lepas seperti burung yang ada dipohon itu, kau akan mengerti.” Sambil memencet hidungku.

Aku selalu bertanya tentang kehidupannya dahulu ketika kuliah. Aku hanya bisa bertanya tanpa diberitahu maksud dari apa yang dia katakan. Dia selalu berkata, “Nanti kau akan tau sendiri ketika sudah kami lepaskan.”

Aku langsung pergi dengan membawa map merah didalam tasku ke sebuah perusahaan asuransi ternama di Dunia, ya Prudential. Aku langsung masuk kedalam ruangan besar berAC itu. Aku langsung diwawancarai oleh petinggi perusahaan tersebut, mungkin inilah pengalaman kerjaku yang pertama yaitu melamar pekerjaan menjadi agen asuransi.

Setelah wawancara aku langsung mendapatkan beberapa ujian tulis sampai tiga kali, hingga sampailah aku resmi menjadi agen asuransi. Lika liku mencari uang sendiri tanpa bantuan orang tua memanglah berat, tapi itu adalah pengalaman paling berharga yang tak akan terlupakan.

Aku datang kerumah-rumah untuk menyodorkan penawaran asuransi kepada mereka yang belum aku kenal. Tiga bulan aku sudah menjadi agen asuransi, tapi yang aku terima hanyalah penolakan dari pintu kepintu, karena mendapatkan banyak penolakan aku sudah mulai putus asa dan memohon permintaan berhenti kepada atasanku. “Pak aku mau berhenti dari pekerjaan ini, aku ditolak terus pak.”

Pak Tanto langsung membawa album dan memberikannya kepadaku, “Gus, bapak dulu kerja di sebuah bank, gaji bapak hanya dua juta perbulan. Terus bapak di PHK dari pekerjaan bapak.” Matanya sudah mulai berkaca-kaca, “Bapak telah banyak melewati hari-hari yang berat, hingga sekarang gaji bapak udah ratusan juta. Itu semua dengan usaha dan doa yang sungguh-sungguh.”

Setelah mendengar cerita dari Pak Tanto, aku langsung mendapatkan sebuah pelajaran. Saat engkau sudah merasa gagal dan putus asa, saat itulah engkau dekat dengan kesuksesan. Setelah itu aku langsung kembali bekerja seperti biasa, dan hasilnya luar biasa. Aku langsung mendapatkan seorang nasabah dalam waktu beberapa hari ini, aku belum merasa puas. Aku selalu berfikir untuk tidak lagi bergantung pada oranngtua dan aku berfikir bagaimana aku dapat membiayai semua biaya hidupku selama dipalembang. Hingga akhirnya, aku  terus bekerja hingga nasabahku sudah tujuh orang. Sekarang aku sudah bisa berbelanja dengan uang pribadiku, saat itulah aku merasakan kebanggan terbesar yang ada selama hidupku.

Pekerjaan kedua yang pernah aku geluti adalah supir taksi dan tukang ojek dadakan, sebuah pekerjaan yang mungkin malu dilakukan oleh mahasiswa yang berasal dari kalangan keluarga berkecukupan. Tapi tidak untuk aku! Aku tak malu-malunya narik ojek didepan teman-temanku, aku juga sering narik ojek di pasar sukarame demi mendapatkan uang jajan dan uang bensin.

Sekarang aku sudah mengerti maksud semua perkataan ayahku. Aku membaca dari semua yang aku alami dan aku pelajari semua yang aku lakukan selama hidupku. Berikut ini adalah hasil dari pelajaran yang aku dapatkan dijalanan:

Aku memang mengakui bahwa aku bukanlah orang yang sangat pintar, tapi aku berusaha sukses dengan segala kobodohan yang aku miliki. Aku memang laki-laki yang belum dewasa, tapi aku tak mau menjilat orang dewasa demi ambisi dan tujuanku. Aku memang tak bisa membaca isi hati orang lain, tapi aku akan selalu mencoba untuk mengerti. Aku pernah hampir mati karena ngak punya uang makan dalam waktu satu minggu, aku berusaha mendapatkan uang dengan tanganku dan aku tak mau merepotkan orangtuaku, karena aku laki-laki. Aku berani mati demi prinsipku, mempertahankan prinsipku, melindungi orang-orang yang aku sayangi. Aku berani merantau keujung sumatera tanpa satu org temanpun, tanpa membawa nama orang tua, hanya membawa nama AGUSTIAWAN. Karena aku laki-laki. Aku rela hidup susah, tanpa fasilitas mewah, sepatu sobek, baju yang udah usia 3 tahun, tapi aku bangga, karena itu dari jerih payahku sendiri. Aku tak malu bekerja sebagai jurnalis, menjadi marketing, sales, dihina orang, dicaci orang, asalkan halal. Dulu Aku kuliah di dua tempat Gizi dan kuliah Peradaban Islam, tak masalah bagiku, karena itu Gratis, dan kewajiban manusia untuk mencari ilmu yang banyak. Aku sayang orangtuaku, tak rela melihat mereka berdua menanggis karenaku, tak mau menyusahkan mereka, dan aku yang akan menjadi orang yg akan memberikan mereka kebahagiaan, KARENA AKU LAKI-LAKI.

Jadilah dirimu sendiri, berusahalah bersungguh-sungguh mencari makan dengan tanganmu. Syaangi orangtuamu melebihi kau menyayangi dirimu sendiri. Laki-laki adalah tulang punggung keluarga, harapan bangsa, pemimpin bagi kaum hawa. Jangan utamakan kekayaan semata, tapi juga mepedulian kepada rakyat jelata.” Itulah jawaban pertanyaanku beberapa tahun yang lalu, yang jawabannya aku dapatkan dijalanan.

Aku duduk-duduk santai dengan ayahku sambil melihat bulan, “Ayah, dirimu ingin aku lebih hebat dari dirimu bukan? Apakah hanya itu yang kau mau?” sambil memandang wajah tua yang dulunya kencang tapi sekarang telah dipenuhi oleh keriput, dan memijit bahu ayahku.

Ayahku memegang tanganku yang ada dibahunya, “Pertanyaanmu sekarang saat kuliah sama saja dengan pertanyaanmu waktu masih kelas dua SD.” Sambil tertawa dan meletakkan puntung rokoknya di asbak. “Walaupun kau sudah besar kau tetaplah Agus kecil ayah, Agus kecil yang dulu berlari-lari melewati padang rumput hingga terjatuh. Walaupun terjatuh, kau tak pernah mengeluh kesakitan. Pegang kepalamu Gus!” perintah ayahku dengan agak memaksa.

Aku langsung memegang kepalaku, aku raba-raba ternyata ada bekas luka bocor dikepalaku, “Ini ada bekas luka bocor yah, emangnya kenapa?” aku bertanya.

Ayahku langsung tertawa, “Kau sudah lupa ya? Dulu kau pernah jatuh dan kepalamu pecah. Waktu kami mau menolongmu, kau selalu bilang kalo nggak butuh bantuan, aku bisa berangkat sendiri dan lain-lainlah. Apakah jiwa kanak-kanakmu belum hilang nak?” tanya ayahku dengan seriusnya.

Aku menjawab dengan percaya diri, “Sudah donk, kenapa? Ayah benci dengan sikap kanak-kanakku?” jawabku serius.

Ayahku langsung kembali berkata, “Aku menyukai sifat kanak-kanakmu yang dulu, kau anakku yang pantang menyerah dan egois dengan pendapatmu. Aku menyukainya, suka dengan sifat pantang menyerahmu.” Ucapnya dibawah rembulan.

Aku menjadi bingung dengan ucapan sengklak ayahku,“Tunggu eh tunggu dulu, ayah bukankah semua orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi dewasa?”.

Ayahku langsung membenarkan posisi duduknya, “Gus, Gus. Semua ayah atau kebanyakan ayah ni? Kalau ayah nggak ah.” Beliau langsung tersenyum nyengir, “Tau nggak? Nggak semua sifat kanak-kanak itu buruk Gus.”

Tiba-tiba adik laki-lakiku yang masih TK langsung keluar menuju kearah kami, “Yah, mau ini nggak? Tadi adek bagi-bagi makanan sama kawan-kawan. Besok bawa banyak lagi ya Ayah. Adek mau bagi-bagi lagi.” Dengan polosnya adik kecilku berkata seperti itu.

Aku langsung sedikit mengeluarkan air mata dan menghilangkannya dengan baju yang aku pakai, “Ternyata yang ayah katakan benar ya, semua sifat anak yang masih kanak-kanak itu nggak semuanya buruk.” Sifat adikku telah menyadarkanku.

Seorang kakak laki-laki akan menjadi pengganti ayahnya ketika ayahnya nanti tidak berkerja lagi, menghidupi kehidupan adik-adiknya. Memberikan harapan dan cita-cita adiknya. “Kakak-kakak, ajarin adek pakai laptop kakak.” Kata adik kecilku.

Aku langsung tertawa, “Nanti ya, kakak lagi sibuk. Kakak banyak tugas dek.” Jawabku dengan remehnya, karena aku anggap dia masih terlalu kecil.

Ibuku langsung angkat bicara, “Gus, ajarin adikmu. Biar dia senang, kamu kan kakak laki-lakinya.” Sambil mencuci piring diwashtafel yang ada didapur.

Sekarang aku menyadari kalau aku belum menjadi kakak laki-laki yang baik untuk adik-adikku. Jika aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka lagi, aku akan membuat mereka bahagia walaupun hanya beberapa hari.

Aku memang telah melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi masyarakat, tapi aku belum dapat melakukannya kepada adik-adikku. Ingatlah, jaga sifat kanak-kanakmu yaitu: PANTANG MENYERAH dan BERBAGI.

 

Sunday, 14 May 2023

BICARA TENTANG TEMAN-TEMAN DIFABEL

 Hari ini, Sabtu cerah aku bangun dan tersadar bahwa aku sudah terlambat untuk bermain dengan kawan spesialku. Hmmm... Kawan spesial kataku.


 


Seperti biasa, motor dengan plat nomor BG yang memang aku bawa dari Palembang selalu menjadi kendaraan andalanku seperti satria baja hitam yang memiliki motor belalang (kalo ga salah namanya).

Jalan tanpa aspal yang hanya ada tanah kuning, ada kuburan belok kanan, lalu masuk ke daerah yang banyak ditanami oleh padi. Pagi hari di sawah yang dikerumuni oleh padi, aku langsung masuk ke Sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Cacat (SLB YPAC). Sebenarnya kata cacat tidak perlu ditambahkan diakhir nama sekolah ini, kenapa? Karena akan menekan mental mereka dan membuat mereka minder ketika bertemu dengan anak dari sekolah lain.

              SLB, sekolah yang identik dengan orang kurang atau orang yang tidak sempurna. Pada kenyataannya semua manusia itu tidak sempurna, tapi karena ketidak sempurnaannyalah yang membuatnya menjadi sempurna. Semua orang berbeda, ada kelebihan dan ada juga kekurangan.

Tidak ada manusia yang ingin hidup dengan kekurangan bagian tubuh maupun akal. Mungkin jika mereka boleh meminta, mereka akan meminta lahir dalam kondisi yang normal dan dengan kondisi lengkap seperti yang lainnya. Tapi itu semua diluar kuasa mereka, sehingga tidak pantaslah kata “CACAT” kita berikan kepada mereka, sehingga istilah yang menyatakan cacat itu harus diganti dengan difabel.

 



Apa yang mereka alami bukanlah penyakit, apa yang mereka alami adalah rahmat dari Allah SWT untuk orangtua mereka, keluarga mereka dan diri mereka sendiri. Allah SWT lebih cerdas dan mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Allah sudah tahu kalau keluarga mereka dan pribadi mereka adalah pribadi pilihan yang mampu menerima kondisi mereka yang sekarang, mungkin jika kondisi tersebut mengenai diri kita bisa jadi kita tidak setegar mereka.

Teman bermainku Sabtu ini memang agak berbeda dengan teman mainku sebelumnya. Jika sebelumnya aku bermain dengan anak SD yang biasa-biasa saja, sekarang aku sedang bermain dengan anak SD yang luar biasa, yang istimewa.

Pembagian kelas dalam SLB ini memang agak berbeda dengan sekolah pada umumnya, karena disini dibagi atas ketidakmampuan mereka seperti tunawicara (tidak bisa berbicara), tunarungu (tidak mampu mendengar), tunanetra (tidak bisa melihat), tunagranita (sulit memahami pelajaran), tunadaksa (kekurangan dalam hal gerak), dan autisme. Yang jelas disini tidak ada kelas untuk TunaAsmara (jomblo), ataupun tunasusila.

Pembukaan dimulai dengan do’a dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh seorang anak penyandang tunadaksa, beberapa dari kami yang mendengarkan puisi yang dibacakan oleh adik tadi seakan-akan ingin meneteskan air mata. Mungkin dia memang diberi kekurangan tetapi disisi lain dia diberikan kemampuan membaca puisi dengan sangat menghayati. Oh iya, ternyata dalam pola pendidikan anak tunadaksa tidak boleh dimanjakan. Maksud dimanjakan disini adalah seperti digendong kemana-mana atau mengambilkan sesuatu yang ingin dia raih. Kenapa? Karena kita harus mengajarinya untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain, yang harus kita lakukan hanyalah memberi dukungan dan menghindarkan dia dari bahaya.

Bayangkan, selama dua jam aku bersama mereka berbicara dengan bahasa tubuh. Jadi aku bermain dengan adik-adik kecil yang tunarungu, aku sangat kasihan dengan mereka karena melihat kondisinya dan aku tidak bisa membayangkan jika diriku yang tak mampu mendengar dan tak bisa menikmati alunan musik. Beberapa kata-kata bahasa isyarat yang sudah aku mengerti seperti terima kasih, kita semua sama, aku marah, i love you, dan sebagainya. Hari ini menjadi hari yang bisa memecah keheningan dengan cara berbicara menggunakan bahasa tubuh, inilah yang dinamakan “breaking the silence”.

Untuk para pembaca ketahui bahwa anak/orang yang tunarungu biasanya disertai dengan tunawicara. Tapi jika dia tunawicara belum tentu menyandang tunarungu.

Sangat disayangkan orang-orang seperti mereka kurang diperhatikan oleh pemerintah maupun lingkungannya, bahkan sering dijauhi dan dijadikan sebagai aib bagi keluarga dan lingkungannya. Padahal mereka juga punya hak seperti kita, hak untuk mengemukakan pendapat dan hak untuk diterima oleh lingkungannya.

Aku berpindah melihat adik-adik tunanetra, mereka orang-orang yang matanya tidak peka dengan cahaya. Sangat mengharukan ketika melihat mereka belajar membaca dengan huruf braille, huruf yang bentuknya lekukan-lekukan lingkaran yang memang khusus didesain untuk penyandang tunanetra. Mata adalah pelangi dunia dan sangat disayangkan mereka tidak bisa menikmatinya.

Kenapa nggak dilakukan cangkok mata? Jangan terlalu percaya sama film sinetron yang menyesatkan. Karena sampai sekarang belum pernah ditemukan cangkok mata, yang ada hanyalah cangkok kornea (lapisan mata) tapi proses penyembuhannya juga sedikit lama dan dengan biaya yang tidak murah.

Di akhir sesi kami makan bersama dan bercerita semampunya.

Sebelum mereka dan aku pulang kami berfoto bersama. Saat aku mau mengendarai kendaraanku untuk pulang kerumah, seorang anak wanita tunagranita memberikan kode “i love you” kepadaku, aku hanya bisa tersenyum dan membalasnya serta berdo’a didalam hati “Semoga anak itu tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtuanya kelak.”

Hingga akhirnya kita tidak tau apa yang terbaik bagi kita karena hanya Allah yang mengerti dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Kita hanya bisa bersyukur dan tidak kufur dalam menerima takdir yang ditentukan oleh Allah SWT. Kita adalah manusia yang sedang berjalan menelusuri rel kereta api yang senantiasa lurus hingga ke stasiun yang akan menjadi tempat kita singgah sementara waktu.

Mereka adalah manusia istimewa yang diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini, mereka adalah manusia yang mau berjuang dalam keterbatasan, mereka adalah manusia yang mau belajar dalam keterpurukan, mereka adalah manusia yang bisa bangkit melawan masa depan, sungguh mereka itu istimewa. Hingga akhirnya semua manusia tahu bahwa mereka juga memiliki hak, mereka juga memiliki potensi dan mereka juga dapat bergerak untuk membangun dunia. Mereka dalah penyandang disabilitas tanpa batas, tak ada yang bisa menghentikan mereka.

Jangan pernah menghina peyandang difabel, berikan hak mereka, selalu memberikan dukungan kepada mereka. Mereka punya hak seperti kita, mereka layak untuk bekerja dan menikmati hidup seperti kita. KITA SEMUA SAMA, TETAPI KAMU ISTIMEWA.

Saturday, 13 May 2023

BICARA MASALAH PENGUNGSI ROHINGYA DI ACEH

 Hari ini hujan rintik-rintik...

Aku sedikit ragu untuk beranjak dari kasurku yang empuk ditemani dengan kipas angin yang selalu setia berputar memberikan aku kesejukan. Bangun pagi hari ini badanku sedikit menggiggil, kenapa tidak? Kabut asap yang membenamkan sang surya di angkasa ditambah dengan hujan deras dari jam satu malam tadi. Nggak kebayang gimana rasanya kalo masuk ke kamar mandi hanya buat cuci badan sampe basah kuyub.

Aku langsung berangkat berkumpul dengan teman-teman untuk menemui pengungsi Rohingya yang sudah dipindahkan ke ICS yang terletak di perbatasan Aceh Utara-Lhokseumawe dengan kondisi belum mandi. Mengendarai motor yang sudah berusia lima tahun ini dengan melawan hujan seakan-akan melawan lupa.

Ini adalah ke enam kalinya aku melakukan kegiatan Pengembangan Masyarakat alias Comdev (Community Development) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan aplikasi hidup sehat dalam keseharian pengungsi yang baunya seakan-akan menghancurkan saraf olfactorius di hidungku.



Kondisi mereka lebih baik dari sebelumnya, ketimbang pertama aku melihatnya di Bulan Mei 2015. Saat itu mereka sangat bau, tidak seperti manusia pada umumnya yang mandi dua kali sehari dan ganti baju secara rutin. Nggak bisa dibayangkan gimana bau orang yang udah nggak mandi dan ganti baju selama tiga bulan.

Pertama aku datang kesini hanya untuk mensurvei lokasi, melihat kondisi pengungsi, memastikan ke pihak imigrasi akan status mereka kemudian meminta keterangan Kapolres mengenai pengamanan kepada sang pengungsi dan masih banyak lagi. Pertama aku melihat mereka memang sambil menutup hidung (walaupun sudah pakai masker) dengan jarak yang lumayan jauh (sekitar duapuluhan meter) dari mereka.

Kedua, aku kesini untuk melakukan assessment ulang dengan cara melihat secara langsung kondisi para pengungsi. Sudah lebih baik daripada sebelumnya, tapi pada hari ini aku melihat beberapa penyakit menular yang sudah mulai menyebar di lingkungan pengungsi. Tapi, tak apalah dari pada mereka mati dibunuh oleh pelaku genosida di negara asalnya (pikirku). Disini, aku sedikit salut ketika mengenal beberapa orang Rohingya yang dapat dengan fasihnya berbahasa Arab dan Inggris, bahkan ada dua orang yang telah hafal Al-Quran 30 Juzz. Sangat luar biasa, dalam kondisi konflik berkepanjangan mereka dapat berusaha untuk menghafal Kalam Illahi, tetapi ada pula yang tidak hafal Al-fatihah dan surat-surat pendek lainnya. Kedatanganku ketiga kalinya dengan tim dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang berasal dari Jakarta, mereka meminta bantuanku sebagai salah satu Tim Mitra untuk menangani kasus ini. Pada saat itu tim dipimpin oleh Pas Waspodo dari KPAI. Ketiga, saya kesini untuk rapat bersama Working Grup walaupun pada sesi ini agak tidak terlalu penting untuk diceritakan. Keempat, masih proses assessment. Kelima sudah mulai gladi bersih untuk pelaksanaan comdev ini.

Sekarang adalah keenam kalinya, kenapa keenam kalinya? Apakah karena kami gagal? Atau memang kami nggak becus memberikan pengarahan?

Tidak!

Banyak kendala yang kami alami. Pertama adalah kendala bahasa, kenapa? Alat komunikasi di dunia ini adalah bahasa, sedangkan mereka banyak yang tidak mengerti Bahasa Indonesia dan Inggris. Terhitung hanya empat orang yang mengerti bahasa Melayu, dan sekarang tinggal satu karena ketiganya melarikan diri. Bayangkan mulut kami udah berbuih ngomong kalo pake semfak itu dibawah, malah dipake di kepala. Kami sudah berbui-buih ngomong kalo gayung itu buat mandi, eh malah buat nampung kuah tomyam.

Permasalahan lainnya adalah peradaban mereka yang tertinggal dari kita. pernah ada kejadian dimana banyak pengungsi yang membawa gayung mandi ke dalam kamarnya untuk nampung kuah tomyam, ada juga yang menjadikan gayung sebagai tempat untuk menumbuk bumbu masakan, kemudian menjadikan ember sebagai kotak sampah lalu digunakan untuk tempat menyimpan makanan. Memang harus kita akui bahwa mereka dapat membuat benda-benda yang fungsinya hanya satu menjadi multifungsi, ini memang kreatif walaupun tidak pada tempatnya.

Jadi pada hari ini kami menyebar dari kamar ke kamar untuk menjelaskan cara mencuci tangan dengan benar, kemudian mengajarkan cara menggunakan gayung pada tempatnya (untuk mandi) memang sih ngajarin mereka gampang-gampang susah tapi Alhamdulillah mereka gampang paham dengan penjelasan kami. Tak puas dengan itu, kai melanjutkannya dengan mengajarkan cara menggunakan sapu lidi dan sapu ruangan agar mereka tau cara menyapu ruangan dan lapangan.

Beberapa menit kemudian, ada seorang lelaki Rohingya mengangkat telpon. Ntah apa maksud dari kejadian ini, aku sedikit tergelitik melihat seorang pengungsi dari negara asing yang memiliki telpon genggam. Ntah apa maksudnya. Beberapa menit kemudian dia balik menelpon sang penelpon, sambil tertawa-tawa dia berbicara dengan seseorang yang ada di sebrang telpon sana. Aku yang melihatnya dari tadi hanya bisa diam termenung, kebingungan ntah apa yang sebenarnya terjadi disini. Pengungsi memiliki HP, terus nelpon sambil ketawa-ketiwi.

Kondisi kamar mereka yang sedikit bau membuatku ingin muntah, menahan muntah dan tidak menampakkannya didepan mereka. Tetapi sangat sulit, hingga akhirnya aku menyerah dan lari keluar ruangan untuk muntah (moga aja mereka nggak lihat). Aku sedikit bingung, kenapa setiap ruangan memiliki bau tak sedap, padahal tidak ada gantungan pakaian maupun kotoran di dalam ruangan. Akhirnya, aku menemukan pokok permasalahannya dimana. Dimana? Mereka nggak buka jendela sama sekali, mungkin itu yang menyebabkan udara busuk mengendap di dalam ruangan. Hingga akhirnya aku meminta kepada seluruh pengungsi untuk membuka jendela kamar masing-masing, alhasil berrrr masih tetap bau tapi nggak sesumpek sebelumnya.

Oke... aku langsung pergi keliling pengungsian. Ada sedikit pemandangan menarik yang aku lihat disini, apa? Aku melihat seorang wanita Rohingya berjualan kedai kecil-kecilan. Dia menjual pop mie, bihun, aqua dan lain-lain. Ntah apa urgensi ada orang yang jualan disini, dan pertanyaan pentingnya modalnya berasal dari mana?

Aku tergelitik melihat beberapa anak-anak yang bermain di pengungsian. Aku mengambil sebuah tempat sampah kemudian mengajak mereka mengambil sampah yang berserakan di lapangan, harapanku hanya mereka “Anak-anak polos yang masih bisa diajarin gimana cara hidup bersih dan sehat”. Tak puas dengan sampah yang ada di lapangan ini, mereka merebut kotak sampah yang aku pegang kemudian mereka bertiga membawanya sambil berlari mencari sampah. Ini mereka anggap sebuah permainan ‘ambil yang kau temukan’, sehingga mereka mengambil sampah sambil ketawa-ketiwi.

Aku yang melihat hal ini hanya bisa tersenyum sambil membantu mereka mengambil sampah yang berserakan di lapangan. Tak lama setelah itu, aku langsung bermain bersama mereka dengan cara menirukan sang ahli bela diri Donnie Yen atau Bruce Lee kemudian mengajak mereka berduel. Mereka menirukan semua gaya yang aku ajarkan hingga akhirnya mereka berkelahi sesama mereka.

Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 12, kami langsung menuju Mushala untuk briefing dengan teman-temanku. Untuk mengakhiri comdev sesi hari ini, kemudian beberapa anak Rohingya mendatangi kami dengan gaya bak gengster, jumlahnya sekitar sepuluh atau belasan orang. Awalnya mereka hanya meminta minum dan berakhir dengan menjahili kami semua.

Aku yang duduk tertawa melihat tingkah mereka tak dapat mengelak ketika mereka semua melihatku tertawa dan seeprtinya aku akan jadi target operasi selanutnya. Mereka mendekatiku serasa menirukan gaya Wing Chun sambil memukul-mukul pundak dan kepalaku secara bersaamaan, Aku dikeroyok oleh anak-anak “Tolong akuuuu...” ucapku yang hanya direspon dengan tawa oleh teman-temanku.

Kemudian ada beberapa yang menanggis akibat saling pukul dan tendang, memang sih ini sudah agak berlebihan walaupun niat nya hanya buat main-main. Tapi aku jadi sedikit menyesal mengajarkan yang bukan-bukan kepada mereka. Tapi pada intinya mereka hanyalah anak-anak yang membutuhkan perhatian, perhatian dari kita yang mungkin mereka anggap sebagai orangtuanya sendiri.

Konflik berkepanjangan seperti di negaranya mungkin telah memberikan banyak kenangan pahit yang harus mereka lupakan. Tentang kematian orangtua mereka, saudara, kekasih, anak bahkan orang-orang terdekat lainnya yang pasti akan menimbulkan kesedihan yang berkepanjangan. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kepentingan abadi yang harus mereka lalui dimana mereka harus merasakan pahitnya konflik. Perdamaian, adalah hal yang paling mahal buat dua komunitas yang bertikai.

            Kita wajib berempati kepada mereka, melakukan apa yang kita bisa untuk membantu mereka. Walaupun pada akhirnya itu akan memberikan kecemburuan sosial yang telah terjadi antara kaum pribumi dan kaum pendatang. Contohnya adalah pengungsi diberikan makanan yang layak, sedangkan kaum pribumi masih ada yang belum makan. Tetapi, seenak apapun makanan yang diberikan tidak akan enak dikunyah apabila kesedihan dalam hati mereka belum terobati.



Friday, 12 May 2023

BICARA MASALAH JURUSAN KULIAH

 Tahun itu, ketika kelas 3 SMA.

            Tahun krusial dimana seorang anak muda menentukan nasibnya kedepan. Kedepan ingin jadi apa? Mungkin seperti itulah kira-kira.

            Saat itu, ada teman yang ingin jadi dokter, ada yang mendaftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk masuk sekolah dokter gigi, ada juga yang masuk ke sekolah teknik sipil, sampai ada juga yang mendaftar untuk menjadi guru.

            “Gus, udah daftar belum SNMPTN?” tanya kawanku.

            “Belum, aku juga ga minat.” Ujarku membalasnya.

            Maklum, saat itu aku ingin masuk Akademi Militer (Akmil). Semua berkas sudah aku persiapkan, bahkan aku sudah melakukan pemeriksaan kesehatan biar bisa tau dimana kemungkinan celahnya aku bisa gagal.

            Akhirnya aku mendaftar ke Korem (Komando Resort Militer) dengan motor Supra X keluaran 2005 milik ayahku. Aku memberikan map hijau yang berisikan berkas kelengkapan pendaftaran Akmil tadi. Setelah mendaftar, aku diberikan nomor peserta yang harus dipakai ketika mengikuri seleksi di Korem nanti.

            Aku, sebagai seorang yang tidak terlalu memiliki prestasi akadmeik tidak terlalu tertarik untuk kuliah. Kenapa? Menurutku kuliah membuang-buang uang saja, karena akhirnya kita juga akan cari kerja. Makanya, daripada aku kuliah terus mencari kerja, lebih baik aku langsung cari kuliahan yang digaji kayak Akmil, Akpol, STKS, STPDN, dan sebagainya.

            Aku juga sangat alergi sama dokter, guru, dan profesi lainnya. Kenapa bisa alergi? Misalnya dokter, stigmaku dokter itu rejekinya dari orang sakit. Hal ini sama juga dengan guru yang kadang-kadang masuk dan kadang-kadang ga masuk. Kondisi begini yang buat aku jadi agak skeptis memandang profesi seperti dokter dan guru.

            Aku pada saat itu masih mati gila mau jadi tentara, tentara gitu lho. Kalo jadi tentara pakai seragam gagah, pakai baju keren, terus punya pangkat, bahkan beberapa yang beruntung bisa jadi Jendral dan dapat jabatan strategis.

            Seleksi Akmil pun dimulai, satu demi satu tahapan aku lalui.

            Selama satu bulan penuh aku menjalani seleksai, dari seleksi administrasi, kemudian diikuti seleksi kesehatan, kemudian jasmani, dan ujian psikologi. Aku merasa pasti menjadi salah satu dari mereka yang lulus dan menjadi Letnan.

            Kenapa aku percaya diri?

            Maklumlah, aku dari SD ikut Pramuka, kemudian Paskibraka, terus aku punya brevet (sertifikat) SCUBA DIVER yang mungkin peserta lain tidak punya. Aku ikut Pramuka sih bukan kaleng-kaleng, bahkan aku menjadi pengurus Dewan Kerja Daerah (DKD) dan sudah mencapai tingkat tertinggi, yaitu Pramuka Garuda.

            Tapi, yang namanya nasib dan realitas harus kita terima. Aku terjegal di Pantukhir dan dinyatakan sebagai salah satu peserta yang tidak lolos untuk diberangkatkan ke Magelang (Pusat Pendidikan).

            Tidak lulus Akmil membuatku bingung mau kemana, dikarenakan ujian masuk PTN sudah tutup semua. Aku baru menyesal karena merasa salah membuat strategi. Aku hanya terpaku dengan satu ujian saja tanpa ikut ujian lain seperti SNMPTN.




Suatu pagi aku mendapatkan SMS dari temanku (saat itu layanan WA belum ada atau mungkin belum masuk ke circle-ku mungkin), mengenai penerimaan mahasiswa baru di Poltekkes. Aku bersiap-siap ke Kampus Poltekkes Palembang untuk mendaftar dan akhirnya mengikuti ujian masuk ke Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Gizi.

Sebenarnya, tidak peduli apapun jurusanmu kuliah, mau kamu menjadi seorang guru yang mengajar anak muridmu dengan ikhlas, menjadi dokter yang mengobati seseorang dengan biaya yang miring, menjadi pengacara yang memberikan bantuan hukum cuma-cuma, pemadam kebakaran yang menyelamatkan banyak orang, dan masih banyak lagi pilihan. Ada hal penting yang jangan sampai kita lupakan, yaitu kebermanfaatan diri kamu dari ilmu yang kamu dapatkan selama sekolah atau kuliahmu.

Apakah kita bermanfaat untuk lingkungan serta untuk orang banyak. 

Thursday, 11 May 2023

BICARA MENGENAI GEMPA PALU

 Hari itu, tahun 2018 pertengahan.

Kita digoncangkan oleh kabar gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah. Awalnya aku yang saat itu hanyalah dokter baru tamat biasa saja dan hanya dapat membantu lewat donasi dan sumbangan jarak jauh. Tidak ada sedikitpun niatku untuk datang ke lokasi bencana untuk membantu para korban.

Lima hari setelah kejadian gempa, aku mendapatkan chat yang menawarkan diriku untuk ikut pergi ke lokasi bencana. Awalnya aku masih ragu dikarenakan aku takut naik pesawat, terlebih lagi perjalanan pesawat dari Jakarta ke Palu cukup lama, yaitu sekitar tiga sampai empat jam (kalau tidak salah). Selain itu aku juga harus meninggalkan praktek apabila berpergian jauh.

Selama dua hari aku menimbang, kira-kira aku perlu pergi atau tidak ya?

            Oke, akhirnya aku nekat pergi setelah meminta izin ke orangtuaku.

            Setelah orangtuaku mengizinkan, besoknya aku langsung berangkat ke Jakarta yang menjadi titik kumpul relawan yang akan berangkat ke Palu.

            Sesampainya di Palu, aku melihat kondisi alam yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Maklum, aku sering turun ke lokasi bencana dikarenakan aku kuliah di Fakultas Kedokteran Negeri yang ada di Aceh. Setiap tahunnya kita merasakan gempa bumi, tapi tidak memberikan kerusakan yang lebih parah daripada kejadian gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi di Palu kemarin.

Tsunami di Palu merupakan salah satu kondisi yang pada saat itu dianggap sebagai fenomena alam yang sangat hampir mustahil. Hal ini dikarenakan tsunami itu pada umumnya terjadi di wilayah dengan lempeng tektonik yang pada umumnya kita temukan di wilayah Samudera.

Hal ini tentunya berbeda dengan Palu yang dikelilingi oleh laut (laut dan samudera itu berbeda, dimana laut itu berada di antara pulau atau daratan, sedangkan samudera ada diantara benua).

Selain itu, kondisi tersebut diperberat dengan liquifaksi. Liquifaksi merupakan kondisi dimana permukaan daratan yang ada di atasnya masuk ke bagian dala. Hal inilah yang menjadikan bencana di Palu menjadi semakin parah.

Liquifaksi yang terjadi di Palu diyakini menjadi kejadian luquifaksi pertama di Indonesia. Kita dapat melihat ada daratan yang terpotong, seolah-olah daratan yang ada di depan kita sedang di “blendder”.

Adapun kegiatan yang kami lakukan disana adalah melakukan penyuluhan kesehatan, mengajak anak-anak bermain, dan bernyanyi. Hal tersebut kita lakukan agar mereka tidak merasa sendiri dan merasa diperhatikan oleh orang yang ada di sekitarnya. Suasana tidak seperti yang aku bayangkan.

Anak-anak dan penyintas bencana disana dalam keadaan senang, meskipun dalam keterbatasan dan kehancuran. Mereka berinteraksi sosial seperti orang yang tidak mengalami bencana. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi sosial mereka baik, meskipun dihantam oleh bencana yang begitu berat. Hal inilah kekuatan bangsa kita, dimana gotong royong itu menjadi kekuatan yang sewaktu-waktu dapat membuat satu komunitas menjadi tangguh.






Ditempat yang lain aku melaihat ada beberapa mahasiswa yang mengatakan bahwa mereka sedang memberikan psikoterapi. Disini yang masih aku sayangkan. Ada beberapa pemahaman yang kurang tepat mengenai psikoterapi. Orang-orang pada umumnya mengganggap mereka yang menjadi korban bencana harus menerima psikoterapi.

Tidak semua orang yang menjadi penyintas bencana harus menerima psikoterapi. Apalagi di awal-awal bencana, seperti seminggu pertama kejadian bencana. Hal ini dikarenakan rasa takut, cemas, panik, sedih dan depresi merupakan hal yang wajar terjadi beberapa hari atau bahkan minggu setelah terjadinya bencana. Hal ini disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada diri mereka akibat perubahan kondisi yang mungkin pada awalnya mereka dapat tidur di rumah, makan enak, berkumpul dengan keluarga dan sebagainya sampai akhirnya kondisi tersebut berubah setelah mereka mengalami bencana.

Psikoterapi dapat diberikan apabila mereka mengalami kondisi stres maupun depresi sampai enam bulan paska bencana. Hal ini menjadikan mereka membutuhkan pendampingan yang dilakukan oleh ahli psikologi maupun psikolog, sampai akhirnya apabila mereka tidak juga pulih harus dirujuk ke psikiater untuk mendapatkan pengobatan.

Intinya, pendampingan harus dilakukan, tetapi apabila mereka menanggis biarkanlah menanggis, apabila mereka menjerit biarkanlah mereka menjerit, atau apabila mereka menyendiri biarkanlah mereka menyendiri. Hingga akhirnya ketika dia mulai tenang, kita datang dan memberikan sedikit belukan atau tepukan di bahunya sambil berkata “kalian tidak sendirian”.

Saturday, 29 July 2017

TERLALU TINGGI

Bus pulang pergi di jalanan ibukota Sumatera Selatan, bus bolak balik seperti orang galau yang sedang menanti gebetan. Teriakan si kenet yang mendentingkan uang logam di kaca jendela tua itu. Menawarkan kita untuk naik ke busnya meski salah jurusan.
            Aku adalah mahasiswa di salah satu kampus negeri di Kota Palembang, seperti biasanya aku naik bus kota dari tempat nenekku ke kampusku. Waktu itu aku belum dibelikan motor oleh orangtuaku. Sambil menunggu, aku pura-pura membaca buku. Iya, kalian mungkin belum tau nikmatnya membaca buku di dalam bus, nampak smart gitu loch.
            Tampilan facebook waktu itu masih norak, belum sebagus sekarang. Friendster baru saja tutup, twitter belum terlalu booming, instagram masih di angan-angan penciptanya, blogspot jadi tempat curhatan anak alay, Pak SBY masih presiden sedangkan Jokowi masih jadi Walikota Solo, BBM belum sampai 6.000-an, uang 10.000 bisa buat jajan banyak soalnya CCTV masih sedikit.
            Aku adalah mahasiswa super aktif, aku ikut semua organisasi, aku ikut semua kegiatan dan yang terpenting adalah aku selalu ikut semua mata kuliah *etsah mantap jiwa. Iya, seaktif apapun kamu di organisasi dan kegiatan kalau seandainya nilaimu anjlok dan banyak ketinggalan mata kuliah, sepertinya kurang bermanfaat ya. Bahkan bisa jadi kita dikategorikan korup, iya kita korup kepada pemberian orangtua.
            Jadi, seperti biasanya di bus kota yang sumpek aku duduk di dekat jendela supaya dapat banyak angin. Terlalu lelah, hingga akhirnya tanpa sadar aku tertidur dan telah sampai ke tujuan. Sambil turun aku melihat kiri kanan dan bertemu dengan seorang wanita yang berasal dari jurusan lain. Aku lihat namanya di nametagnya, kemudian aku ingat dan mencatatnya di notes yang selalu aku masukkan ke dalam kantongku.
            Malam hari anak kuliahan yang belum mengenal gadget dan internet yang ada dimana-mana seperti sekarang harus dihabiskan dengan nongkrong di warnet. Mungkin yang namanya warnet sudah kurang familiar di sini, karena internet bisa kita akses dimana-mana. Warnet adalah warung internet, dia biasanya pakai sambungan internet LAN yang ada di sever. Bentuknya bilik-bilik kayak bilik bercinta di ruang tahanan untuk koruptor, apa yang kita buka nggak akan diketahui oleh orang sebelah. Yang tau apa yang kita buka hanya kita, admin dan Tuhan. Jadi, jangan buka yang aneh-aneh dan jangan heran juga adminnya senyum-senyum atau pasang wajah ngejek pas kamu bayar, karena dia tau apa yang kamu buka.
            Aku membuka ­facebook baruku, koneksi dari warnet jangan kira cepat 10 MBps kayak sekarang, tapi paling cepat bisa 1 MBps aja, buka google aja bisa sampe setengah jam, belum lagi ketik keywordnya, belum lagi tiba-tiba kamu salah ketik keywordnya, rasanya pengen banting layar monitornya. Setelah terbuka facebook aku langusung membuka menu search yang kemudian mengetik nama gadis tersebut. Setelah terbuka, aku memilih mana yang kira-kira pas dengan deskripsi dirinya.
            Ketemu satu! Ungkap hatiku sambil membuka facebooknya, oke sudah pas dan kemudian kita mulai kepoin tu fb-nya dia.
            Aku langsung membuka menu pesan, dan mengetik kata “.... hai, boleh kenalan.”.
            Oke, itu trik menjijikkan kami yang saat itu pengen kenalan sama cewek via facebook. Sebenarnya aku sudah pernah dapetin cewek dari faceook. Ada yang failed, ada yang beres juga. Dulu kita ga kenal yang namanya camera 360 atau autocantik kayak yang sekarang, jadi rata-rata foto facebook dulu aib jika dilihat di tahun-tahun sekarang. Yang masih punya segeralah dihapus sebelum terlambat.
            Pesanku ternyata belum dibalas juga, aku menunggu dua jam belum dibalas juga. Hingga akhirnya si ayam berkokok, aku lihat jam ternyata sudah jam empat. Aku langsung balik ke rumah buat istirahat. Kayaknya ga mungkin juga ada cewek yang balas chat aku jam segitu.
            Seperti biasa, aku melanjutkan aktifitasku pagi ini. Ke kampus, dengan mengendarai bus, kemudian ketiduran di bus, turun di simpang buat jalan kaki ke jurusan, trus pulang lagi, malam-malam ke warnet.
            Malam ini aku mencoba membuka pesan di facebookku lagi, tetapi belum juga aku mendapatkan balasan darinya. Wah... wah, kenapa dia nggak ngebales ya. Bahkan pesan dariku belum dia baca, bisa jadi dia belum membuka fb-nya.
            Malam esoknya aku check lagi fb-nya, ternyata sudah dia baca dan belum dibalas. Oke fix, aku coba chat sekali lagi pura-pura salah kirim, dan hasilnya sama saja. Ternyata sudah dia baca tetapi belum dia balas juga. Oke, aku tau ini tidak mudah. Terima saja kenyataan bahwa kamu mengganggu hidupnya.

            Terkadang orang yang seperti inilah yang layak untuk dikejar-kejar, karena sulit untuk mendapatkannya dan membuat kita penasaran tentang dirinya yang tertutup. Iya, tertutup rapat dengan tembok yang tinggi.

Friday, 15 January 2016

Nananananana (Gajelas)

Aku ingin mengerti semua tentangmu, Bahkan ketika sakit didalam kau tetap menyembunyikannya dengan tersenyum biasa.
Tapi aku tahu bahwa kau berjuang menahan air matamu selama ini, untuk titik dimana dadamu mungkin meledak dari rasa sakit. 
Bahkan ketika kau bertingkah kasar, hanya dengan melihat matamu, Aku segera tahu, karena kau adalah aku. Jadi, kau bisa bersandar padaku.

Perasaanmu telah mencapaiku. Mereka bergema jauh di dalam hatiku, Kau tidak perlu menempatkannya dalam kata-kata, Aku tahu hatimu dan aku akan ada denganmu.

Meskipun kita mungkin terpisah sekarang
Aku bisa mendengar suara hatimu
Aku mengerti bahkan jika kau tidak menempatkannya dalam kata-kata
Selamanya, karena kau pacarku

Cewek, aku tahu semua tentangmu
Cewek, aku tahu semua yang kau pikirkan
Hatimu, pernah mengkritik diri sendiri

Dan aku tahu selama ini
Kau telah mencoba untuk tidak menunjukkan air matamu
Bahkan ketika kau tercekik dengan ketidakamanan

Bahkan ketika kau bertingkah kasar, hanya dengan melihat matamu
Aku segera tahu, karena kau adalah teman terbaikku
Jadi, kau bisa bersandar padaku

Perasaanmu telah mencapaiku
Mereka bergema jauh di dalam hatiku
Kau tidak perlu menempatkannya dalam kata-kata
Aku tahu hatimu dan aku akan ada denganmu

Meskipun kita mungkin terpisah sekarang
Aku bisa mendengar suara hatimu
Aku mengerti bahkan jika kau tidak menempatkannya dalam kata-kata
Selamanya, karena kau teman terbaikku

Hati kita dihubungkan oleh telepati
Tidak ada yang bisa memisahkan kita
Aku akan terus memikirkanmu dimanapun aku bisa
Karena hati kita adalah satu

Ya, aku tahu semua tentangmu
Dan kau tahu semua tentangku
Kita dapat bertahan karena kita percaya satu sama lain
Jadi, kau bisa bersandar padaku

Perasaanmu telah mencapaiku
Mereka bergema jauh di dalam hatiku
Kau tidak perlu menempatkannya dalam kata-kata
Aku tahu hatimu dan aku akan ada denganmu

Meskipun kita mungkin terpisah sekarang
Aku bisa mendengar suara hatimu
Aku mengerti bahkan jika kau tidak menempatkannya dalam kata-kata
Selamanya, karena kau teman terbaikku