Thursday, 18 May 2023

BICARA TENTANG “PENGHUNI RUMAH”



Beberapa hari telah berlalu, aku sudah melalui hari-hari di rumah kontrakan baru yang ku rasa sedikit nyaman. Walaupun aku merasa nyaman, kenapa banyak tetangga bertanya yang aneh-aneh tentang kontrakanku?

Pertanyaannya mulai beragam, dari yang bertanya apakah aku ada merakan aura-aura mistis disekitar kontrakanku sampai apakah aku merasakan aura kasih bergoyang didekat dapurku. Bahkan ada yang bertanya apakah aku sudah punya pacar.

Iya, mereka juga sering bertanya apakah aku sudah diajak berkenalan oleh “Penghuni” rumah ini. “Yang bener aja.” Itulah jawabanku ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang terlontar oleh banyak orang tentang rumah baruku.

Denger-denger, konon (jangan dibalik) katanya penghuni rumah sebelumku pernah diajak kenalan oleh “penghuni” lamanya sampai-sampai mereka pindah dan menyebarkan gossip yang nggak-nggak hingga rumah yang sekarang aku kandangi ini tidak dihuni lagi karena orang lain takut. Ya, tapi sudah tujuh hari tetep aja aku belum mendapatkan hal-hal aneh ataupun bahkan diajak bertemu didepan rumah untuk berkencan dengan “Penghuninya.”.

Oke, bisakah kita lanjut?

Memang sih, ada temanku orang Hindu namanya “Wayan”. Dia pernah jera masuk kerumahku, ada yang tau kenapa? Karena katanya rumahku pengap (udara susah masuk rumah) karena nggak ada ventilasi udara. Alasan yang logis bukan?

Sudahlah secara logika, makhluk yang sudah masuk ke lubang kubur mana bias hidup kembali kecuali kalo dia main film “Bangkit dari Kubur” tahun 1980-an.

Tiga bulan kemudian.

 “Wayan, Wayan…” tangan seorang laki-laki mengetuk pintu rumah Wayan tengah malam, kalo aku nggak salah waktu itu jam satu malam.

Tak mendapatkan respon dari Wayan, aku melanjutkan menggedor pintu rumahnya sambil teriak-teriak, “Wayan… wayan… buka pintunya cepat.

Tak lama kemudian Wayan-pun bangun dari tidur panjangnya yang bertahun-tahun. Seorang anak ketutunan Bali itu bingung tak terkira meliat seorang laki-laki (bukan) homo yang mengetuk pintu rumahnya itu.

“Iya… iya… sabar.” Wayan menjawab sambil berjalan kearah pintu masuk rumahnya itu.

“Ckrekk…” suara pintu rumah terbuka, dan betapa terkejutnya Wayan melihat diriku yang dating kerumahnya jam satu malam lewat dengan membawa bantal dan guling.

“Boleh numpang tidur dirumahmu?” tanyaku dengan wajah yang berseri sambil nyengir kuda.

Aku dipersilahkan masuk dan tidur di kasur yang sudah disiapkan oleh Wayan. Percakapan diantara heningpun mulai. “Kenapa emangnya kamu sampe bangunin aku tengah malam Gus? Lain kali kalo mau numpang tidur SMS aja dari siang, jangan dadakan kayak gini.”

Aku mengeluarkan kepalaku yang dari tadi aku sembunyikan didalam selimut, “Bukan gitu Yan, ada yang aneh aja dirumahku.”

Wayan menghidupkan obat nyamuk bakar spiral yang bentuknya kayak kentang goreng sambil duduk didepanku, “Emangnya ada apa kamu ni Gus?”

“Yang jelas aku selalu mendengar suara langkah orang didepan pintu kamarku, lalu pas aku buka nggak ada siapa-siapa lho Yan.” Ucapku dengan nada yang gemetar karena ketakutan.

“Cuma itu?” Tanya Wayan lagi dengan nada sombongnya.

“Nggak juga, kadang-kadang air keran hidup sendiri, padahal udah aku matikan lho… trus hidup lagi, aku matikan, hidup lagi.” Jawabku menjelaskan lagi.

Malam yang larut akhirnya kami habiskan dengan cerita horror tentang rumahku.

Jadi begini, mungkin setelah aku jabarkan beberapa kejadian dirumahku akan membuat wacana bagi para pembaca untuk menebak sebenarnya apa profesi hantu penunggu rumahku ini. Apakah dia seorang mantan tentara, polisi, pemain bola atau apakah selama hidupnya.

Pertama, beberapa hari setelah aku menempati rumah itu. Aku meninggalkan rumah itu dalam keadaan berantakan sebelum aku berangkat ke kampus tercinta. Oke… okee, aku akui rumahku dengan kapal pecah bisa dibilang sebelas duabelas lah. Ditambah lagi ada kecoa sama laba-laba lagi pesta miras beramai-ramai dengan keluarganya. Tikus aja udah lebih gede dari pada kucing, sampai-sampai kalo ada kucing dirumahku bisa dikejar-kejar sama tikus. Tapi setelah aku pulang kerumah kontrakanku, ternyata rumah kontrakanku sudah dalam kondisi besih.

Kedua, kejadiannya hampir mirip dengan kejadian sebelumnya. Aku meninggalkan seember besar (lebih tepatnya disebut baskom gede) piring dan gelas kotor yang udah nggak aku cuci selama berhari-hari. Tapi setelah aku pulang sudah dalam kondisi bersih semuanya.

Ketiga, pada hari itu PDAM disekitar komplek kontrakanku mati. Jadi, semua keran PDAM di kontrakanku aku tutup untuk menghindari masuk angin ke dalam meteran PDAMnya. Tapi saat malam tiba-tiba saja air PDAM dirumahku hidup walaupun kerannya nggak dihidupkan. Woooww, ada apa ini?

Keempat, kadang-kadang aku mendengarkan suara seorang perempuan bernyanyi. Semakin lama suaranya semakin kecil hingga akhirnya berhenti.

Tapi, lama kelamaan aku semakin tahan dengan gangguan si-kawan yang sangat berisik disampingku. Ya mau bagaimana lagi? Uang kontrakan udah terlanjur dibayar, sangat konyol jika pindah karena hal yang begituan saja.

Beberapa hari setalah aku menempati rumah itu, sang penghuni rumah sebelum aku datang untuk mengambil kompor gas dan parabola yang belum sempet mereka ambil.

Sambil bercerita ringan dibumbui tawa, di ujung bicara mereka sang mantan penghuni rumah membuat aku geger setelah mereka bercerita bahwa merka pindah karena sering diganggu sama makhluk astral dan nenek yang sering melambai lambai lebay. Katanya ada bayi hasil aborsi yang dikubur didepan rumah ini saat rumah ini kosong. Sambil meninggalkan aku dalam keadaan bengong bingung tak karuan. Benarkah?

Wednesday, 17 May 2023

BICARA MASALAH JANJI PERTEMUAN

 



 

Hujan rintik-rintik membasahi aspal hitam di tengah perjalanan ini. Melihat orang-orang yang berjualan di kiri kanan. Terkadang kesedihan ini harus dilalui dengan sedih yang sesaat. Terlalu banyak yang lebih menjadi prioritas utamamu dalam memilih dan berfikir, tak harus menanggapi hal-hal yang tak pasti karena memang yang pasti hanyalah ketidak pastian itu sendiri.

Masalah kesedihan, biarlah kita yang meredamnya sendirian tanpa bantuan siapapun dan tanpa motivasi dari siapapun. Bukankah otak dan perasaan kita sendiri yang mengendalikan diri kita sendiri? Tak perlu masukan kata-kata yang hanya akan menambahmu menjadi cengeng kawan. Yakinlah, cukup mencoba menenangkan dirimu sendiri dengan mengingat takdir yang telah di ciptakan oleh-Nya dan akan membawamu kepada kebahagiaan dengan perintah dirimu sendiri.

Seperti badai yang akan menghantam, seperti cahaya yang habis membakar, seperti untaian dedaunan yang jatuh tertiup angin dan semuanya pasti akan berlalu selayaknya dia harus berlalu. Kita mungkin akan meratapinya ketika kita menyadarinya, bahwa sebenarnya kita telah terlambat.

Aku masuk kesebuah ruangan sepi yang berisi meja dan kursi di pojokan sana. Tak ada yang istimewa dengan ruangan ini, hanya saja aku sering menghabiskan waktuku untuk menyendiri disini. Terkadang kita membutuhkan waktu walaupun hanya sesaat untuk menenangkan dirinya. Tak membuang banyak waktu lagi, aku membawa koperku dan menelpon travel langgananku untuk segera menjemputku sekarang disini.

Aku harus ke Jakarta hari ini, di hujan siang bolong Febuari yang telah dinanti. Ntah kenapa aku menanti hari ini, ntah kenapa aku tak sabar lagi bisa sampai di Kota Jakarta, kota impian, kota kenangan, kota tempat berjuta-juta macam manusia yang mencari jati diri, mencari kemewahan, mencari makan dan mencari makna hidup.

Dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, menuju Bandara Soekarno Hatta dimana kita disambut oleh Patung Soekarno dan Hatta, dua sejoli pendiri bangsa ini. Aku langsung menaiki Damri jurusan Depok untuk segera menuju lokasi penginapan peserta pelatihan.

Pelatihan satu harian walaupun aku menginap di Jakarta sampai hari Senin besoknya. Sepertinya aku memang keterlaluan mengambil libur enam hari, yang sebenarnya hanya memakan waktu dua atau tiga hari. Kalo tidak begitu, bagaimana lagi aku dapat menikmati indahnya hidupku. Dihari-hari yang selalu terkekang oleh lembaran-lembaran kertas dan diagnosa pasien, melihat pemeriksaan fisik dan bahkan kehabisan kata saat anamnesa.

Hari-hari telah berlalu dengan meninggalkan banyak cerita. Pada hari ini, Hari Minggu dimana hari terakhirku di Jakarta dalam kunjungan ini. Aku duduk di sisi kanan halte Busway di koridor yang menuju Monas.

Berkeliling di ibukota merupakan hal yang sangat langka bagi kita yang berada di Pulau Sumatera, pulau panjang yang melalui lingtang selatan dan lintang utara Indonesia. Di ibukota kita bisa melihat banyak hal, dari museum, istana negara, monumen nasional dan masih banyak hal besar lainnya. Hingga akhirnya, hal yang tak pernah ku duga terjadi juga.

Seorang perempuan yang mengambil gambar dari puncak monumen. Sepertinya gayanya tidak asing, sepertinya aku sangat sering melihatnya walaupun ntah dimana. Coba kita ingat-ingat sedikit, aku coba menghampirinya berpura-pura tidak tahu dan memasang wajah inosent. Berpura-pura mengambil foto pada angle yang sama walaupun mencoba melirik dan ternyata dia adalah...

Ternyata radarku tak salah lagi...

 “Apa yang kau lakukan disini?” ucapku sambil berdiri disampingnya.

 “Tidak ada, hanya mengunjungi ayah. Sudah lama tak bertemu ayah dan bermain di Jakarta.” Jawabnya sambil menyimpan kamera DSLR-nya.

Kami diam sejenak sambil melihat pemandangan dibawah dari atas sini.

 “Seharusnya, aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini?” dia bertanya balik kepadaku.

Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya.

 “Hmmm... apakah sengaja menguntitku dari belakang? Atau memang kebetulan kita bertemu?” celotehnya lagi sambil meninggalkan aku sendirian.

 “Heyyy... mau kemana?” tanyaku sambil setengah mengejarnya.

Gadis itu tetap berjalan meninggalkan aku, ntah kenapa sikapnya yang begitu misterius itu membuatku ingin mengetahui semuanya lebih dalam. Bahkan ketika dia takut untuk mengungkapkan semuanya, disaat dia takut aku ingin taku apa yang sebenarnya terjadi.

 “Padahal baru lima menit kita bertemu.” Ucapku dengan sedihnya.

Dia tetap berjalan, “Kalau kau memang ingin melihatku lebih lama. Silahkan ikuti aku dari belakang, jangan banyak bicara lagi. Aku tak ingin terlihat oleh orang-orang bahwasanya aku masih berjalan berdua denganmu.” Jawabnya sambil tetap berjalan mencoba menjauh dariku.

Dia berhenti disebuah warung nasi yang ada di sekitar Monas, sambil duduk dan meletakkan barang-barangnya. Dia memesan beberapa makanan dan minuman. Aku langsung spontan bergabung duduk di depannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Melihat wajahnya yang pucat, aku hanya memandang wajahnya dengan perasaan yang sedikit teriris. Konon, perempuan ini tak diizinkan untuk dekat denganku, hingga akhirnya orang tuanya menginginkan dia menikah dengan laki-laki yang lebih baik (mungkin) dariku.

“Seolah-olah kamu menghindar, meninggalkan diriku?” aku bertanya dengan nada yang sedikit terdengar dingin dan tidak menyenangkan.

Perempuan itu tetap membuang mukanya dariku, “Aku bukan menghindar dan meninggalkan. Tetapi mengurangi kemungkinan buruk yang akan terjadi.”

Aku terdiam sejenak memakan makanan yang ada di depanku, sambil berkata beberapa patah kata mengharapkan hatinya luluh jika mendengarnya. Aku berharap pembicaraan hari ini bukanlah pembicaraan antara aku dan kamu, tetapi pembicaraan dari hati ke hati.

Tak lama kemudian terdengarlah suara adzan zhuhur yang memecah cakrawala kota ini. Kami serentak berdiri menuju letak suara yang menjadi pusat perhatian seluruh ummat Islam yang ada di sekitar kota ini.

 “Semuanya berapa bu?” tanyaku sambil mengeluarkan uang dan membayarnya langsung ke pemilik warung.

 “Tak perlu kau bayar punyaku. Aku tak membutuhkannya.” Ucap Wardah sambil membayar sang pemilik warung juga.

Aku langusng mengambil uangnya dan memasukkannya ke dalam tas Wardah yang sedang disandangnya dengan bahu. Sangat sulit berhubungan dan berhadapan dengan perempuan keras kepala sepertinya, tapi ala boleh buat semuanya sudah terlanjur jauh.

Dia berjalan menyusuri trotoar, laki-laki berbaju batik biru itu berjalan di belakangnya. Seolah-olah tak tau apa yang akan dilakukannya di sana, tapi aku masih ingin tetap bersamanya kali ini.

Aku beranikan diriku untuk mengajaknya berbicara, “Kau mau kemana?”

Dia melihat ke arahku sambil berkata, “Mau kemana lagi bodoh? Kalo bukan ke Masjid Istiqlal.” Ucapnya dengan ketus.

Aku mengikutinya dari belakang, mencari jalan menuju Istiqlal. Nyasar kesana kemari, mencoba mencari jalan terdekat yang ada malah nyasar ntah kemana. Pedoman kami hanyalah menara yang ada di pucuk sana, hingga akhirnya kami sampai dalam kondisi shalat jamaah-nya telah selesai dilaksanakan.

“Kenapa kamu lihat-lihat?” ucap gadis yang ada di depanku. “Wudhu sana, jangan terlalu lama membuang waktu.”

Aku langsung pergi mengambil wudhu, sedikit galak perempuan baik yang dulunya pernah menginspirasi diriku dan membuatku menjadi laki-laki yang ingin melampaui dirinya. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian kami menyelesaikan wudhu kami.

Kami berdua berjalan diantara beribu-ribu pengunjung yang telah melakukan sholat berjamaah disana. Kami berhenti tertegun sebentar setelah memasuki tempat sholat yang sangat luas menyerupai lapangan bola tersebut.

“Kamu jadi imam.” Ucap perempuan jutek itu.

Aku hanya diam dan mengambil posisi disebelah kanan lokasi yang dibatasi oleh hijab putih bertuliskan kaligrafi indah itu. Sangat aneh yang aku rasakan ketika aku bisa menjadi imam sholat dari seorang perempuan yang selama ini aku tunggu.

Tak lama setelah menyelesaikan ibadah sholat, kami langsung berjalan kembali menuju Monas untuk menyelesaikan sesi akhir di hari ini. Kami berjalan tanpa kata, sesekali saling melirik, sesekali melirik sambil tersenyum, kemudian mengambil kepingan-kepingan hati yang pernah terukir dihari-hari sebelumnya.

Dia nenuntunku disebuah halte bus di pinggir jalan kota ini. Beberapa menit menunggu kedatangan yang dinanti-nanti, dan akhirnya yang dinanti-nanti datang jus. Dia berbisik kepadaku seraya angin semilir berhembus di telingaku. Kemudian dia berjalan meninggalkanku yang termenung di kursi halte ini.

Kata-kata yang dibisikkan itu sontak membuatku kaget bukan main, “Aku akan menikah dengan laki-laki pilihan ayahku awal tahun nanti. Mohon jangan dekati dan ikuti aku lagi.” Begitu tuturnya.

Aku hanya bisa terdiam dan meninggalkan halte itu dengan perasaan sedih, berharap akan ada keajaiban yang dapat menyelamatkan perasaanku dari kesepian ini.

 

 

Beberapa minggu kemudian...

Di pagi ini aku membuka blog perempuan itu, yang selalu menjadi tempatku mengetahui aktivitasnya sehari-hari tanapa harus menghubunginya lagi. Aku scroll dari halaman bawah ke atas melihat ketikan tangannya untuk memuaskan perasaan kepo yang menyelimuti hatiku.

Ada sebuah tulisan yang tidak terlalu baru, sekitar berminggu-minggu yang lalu, dan diakhir paragrafnya tertuliskan “.... Sudah lama aku menginginkan menjadi makmummu dalam sholat. Meskipun tidak bisa setiap hari seperti yang aku inginkan, aku cukup bahagia menjadi seperti itu walaupun sehari. Akhirnya yang aku impikan dari lima tahun yang lalu dapat terkabulkan sekarang.”

 

Tuesday, 16 May 2023

BICARA TENTANG MENANTI


 Perjuangan yang aku lalui berbeda dengan dirimu sobat. Harus melalui banyak jalan berliku yang akhirnya menjadi cabang dua, jurangkah atau timbunan harta karun.

            Terkadang aku bingung, harus melanjutkan perjalananku kemana. Apakah aku harus memperjuangkan dirimu yang belum tentu bagiku? Dirimu yang belum tentu diciptakan untukku.

            Bahkan, kita berdua tak akan tahu apakah khayalan diriku untuk bersamamu hanya sebatas mimpi. Terkadang, aku harus tau ruang mana yang lebih nyaman untuk menjadi mediaku memandangmu. Bukan untuk melihat makhluk astral, tapi untuk melihat biadadari yang mungkin akan aku kejar kemanapun dia hinggap.

            Seperti biasa aku pergi ngampus sendiri, ditemani angin yang bertiup disekitar tubuhku.

            “Agus, hahahaha.” Panggil suara seorang perempuan yang ada dibelakangku, yang sontak membuatku terkejut.

            Membalikkan badanku dengan slow-motion sambil tersenyum menyebut namanya, “Gifa, kenapa kok tiba-tiba tertawa?” tanyaku penuh rasa penasaran.

            “Gosip tentang kamu sudah nyebar lho di jurusan kami Gus.” Ucap Gifa yang merupakan teman jurusan sebelah, kebetulan kost kami deketan jadi kami sudah seperti saudara dekat.

            Iya sih, jurusanku dengan jurusan Gifa memang sebelahan. Bahkan aku sering numpang Sholat Zhuhur disana jika air keran wudhu dijurusanku mati. Tapi, bagaimanapun aku tak tau gossip apa yang telah menyebar luas dijurusannya.

            “Gosip apa?” tanyaku pura-pura kaget, karena aku sepertinya sudah bisa menebak gossip apa yang sudah menyebar luas disana.

            “Jadi beneran kalo suka sama Qunut?” Gifa bertanya dengan nada mengejek, “Qunut… Qunuttt… hahahaha….” Lanjutnya dengan tawa panjang.

            “Eh… eh… kalian jangan sebarin gossip yang bukan-bukan ya.” Ucapku dengan wajah memerah sambil mengibaskan Atlas Anatomi kedepan wajah Gifa.

            “Eh… eh… biasa aja kale. Kalo nggak bener jangan sewot dong.” Ledek Gifa sambil tertawa panjang.

            Jangan terlalu serius menanggapi isu, takutnya beneran kejadian lho. Aku sudah pengalaman. Padahal awalnya nggak ada perasaan sama sekali, dan akhirnyaa jadilah coco crunch.

            Aktivitas kampus seperti biasanya padat, kalo masuk pagi kadang-kadang bisa pulang jam enam atau jam lima sore. Untung-untung kami belum pernah pulang jam duabelas malam, nggak kebayang kalo sampe pulang jam duabelas malam dari laboratorium anatomi serasa lagi melakukan ritual ilmu hitam pake mayat beneran.

            Pekerjaan dikampus seperti biasa mencatat, mencatat, lalu selanjutnya mencatat lagi dan lagi-lagi mencatat. Kita harus siap mengimbangi dosen yang menjelaskan dengan secepat kilat, hingga akhirnya huruf “A” dan “D” sangat susah dibedakan. Kita hanya bisa membedakan huruf “L”, “F” dan “G”, itupun karena dia beda sendiri.

            Di sisi lain, ternyata Qunut yang sedang mempelajari masalah DNA ternyata memiliki kisah berbeda. Yah, sedikit kisah tentang basa purin dan pirimidin.

“Saudara tau, apabila pada DNA Basa Purin dan Pirimidin terdiri dari AGTS. Bagaimana dengan RNA?” Tanya sang dosen kepada Qunut yang memang duduk di barisan yang paling depan.

Qunut yang memang mahasiswa serba tahu langsung menjawab dengan lantangnya, “AGUS, ya pak?” sontak menerima tawa oleh teman sekelasnya.

Perasaan perempuan yang duduk dibaris paling depan itu langsung bercampur bingung dan malu karena jawabannya disambut dengan tawa.

Tak masalah, mau itu ikatan hydrogen yang membentuk huruf AGTS maupun ikatan hydrogen RNA yang membentuk AGUS, hingga membuat dia disoraki oleh orang-orang yang ada dikampusnya. Hingga tak lama dari itu semua tawa langsung sontak membuat pipinya menjadi merah.

Setiap jam istirahat aku sengaja memilih jalan memutar jika kekantin. Aku curi-curi pandang dibalik jendela, agar bisa melihat wajahnya dengan jelas dari kejauhan. Wajahnya ketika belajar sangat membuatku terpana. Dia hanya focus melihat dosen yang sedang menjelaskan, ntah memang dia focus, atau dia sedang melamun bagai orang yang terbuai ilusi.

Bahkan, aku sering mengambil memberikan pengumuman tentang kegiatan BEM ke jurusannya agar aku selalu bisa melihatnya dari depan. Tapi, aku rasa dia belum tau kalo aku memandangnya dari depan. Walaupun wajahnya memandang Vogel, aku tau kalo aku memang tak sepenting Vogel bagimu.

Tak masalah jika kau malu-malu dengan orang yang kau suka, seperti aku kepadanya saat itu. Dari pada kita melakukan hal yang memalukan diri sendiri didepan orang banyak maupun dihadapan-Nya.

Pacaran ala anak SMP memang sangat tidak baik lagi untuk kita yang sudah berusia dewasa. Karena harusnya sudah memikirkan tentang hal yang serius, jenjang yang lebih mulia didalam lindungan pernikahan.

Suatu saat, disebelan lab Kimia Analis yang ada diantara kampus jurusanku dan kampus jurusannya. Suasana kampus yang ramai dengan lalu lalang orang-orang yang sedang sibuk mencari ilmu, mencari pacar sampai mencari jaringan internet yang kala itu sangat langka.

Aku keluar dari lab biokimia membawa alat-alat yang harus dicuci setelah dipakai, kebetulan kelompokku adalah petugas piket dikala itu. Mendekat ke washtafele yang ada diantara lab Kimia Analitik dan Lab Biomia.

Satu persatu alat yang ada didepanku langsung aku cuci, kurang bersih ya pake sabun, kurang bersih lagi ya wajib disikat. Sampe akhirnya aku menyadari bahwa taka da lagi yang perlu dicuci.

Membalikkan badan bagai manusia tanpa dosa yang pengen move on. Satu… dua… tiga… aku langsung terhenti karena seorang perempuan dengan dua teman perempuannya juga masuk kedalam ruangan pencucian.

Aku hanya terdiam melihat perempuan yang sedang mengalungkan masker dilehernya itu, sambil membuka handscon-nya dia juga terhenti sambil melihatku.

Aku terdiam lebih lama hingga akhirnya dia berkata, “Kenapa kamu lihat-lihat?” sambil matanya melotot melihatku.

Siapa yang tak takut jika melihat wanita yang disukainya melotot dalam seakan-akan ingin menelanku bulat-bulat. Dan hingga akhirnya aku hanya bisa tersenyum sambil menjawab, “Maaf…”. Sambil berlari kegirangan meninggalkan Qunut dan kawannya.

Qunut melihat kebelakang, kearah laki-laki yang berlari tak karuan seperti mendapatkan bulan terang. Hanya senyuma yang terpancar oleh perempuan yang dari tadi hanya bisa melotot yang dengan juteknya berkata, “Apa kau lihat-lihat?”

Aku berlari menuju ruang kelasku dimana orang-orang sedang sibuk membereskan meja praktikum. Berlari-lari bagai orang yang sedang terhibur ditaman bunga, menabur keceriaan dan kebahagiaan. Orang-orang yang sangat jarang melihatku bertingkah seperti itu seakan-akan bertanya-tanya ada apa gerangan?

Disaat orang-orang bertanya, “Kenapa sih kayak girang banget?”

Aku hanya tersenyum kepada teman-teman yang memandangku aneh, sambil berkata, “Nggak ada, ayo kita kerja lagi.”. seraya kembali merapikan alat-alat dan memasukkannya kelemari alat praktikum.

Jangankan berbicara dengannya, bertemu dan dimarahinya saja membuat aku menjadi girang. Yah, begitulah cinta berupa-rupa rasanya. Tapi, tak ada yang salah untuk orang yang sedang jatuh cinta.