Wednesday, 23 September 2015

BAGI ILMU

[OPPORTUNITY: Deadline: 1 Oktober 2015]
Dicari 14 relawan yang bersedia mengajar di Panti Tahfiz Ar-Raudah di Blang Ara (Simpang Buloh masuk dikit 10 menitan)
14 relawan dengan alokasi: Matematika 3 orang (SD, SMP, SMA), IPA 1 orang (SD), Biologi 2 orang (SMP, SMA), Fisika 2 orang (SMP, SMA), Bahasa Ingris 3 orang (SD, SMP, SMA) dan Pembina Pramuka Penggalang satu orang (masih dalam pertimbangan).
Alokasi mengajar sebanyak 2 jam selama 2 minggu sekali (waktu menyesuaikan).
Kriteria:
1. Mahasiswa atau alumni (tidak harus anak FKIP, yang penting mengerti bahan yg akan diajarkan)
2. Dapat mengajar dengan cara menyenangkan.
3. Beragama Islam dan memakai pakaian yang Syar'i.
4. Domisili Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Yang berminat silahkan Inbox saya atau Line ke agustiawan288 dengan format: Nama_Domisili_Bid.Studi_No.HP.
__________________________________________________________________
FAQ PROGRAM BAGI ILMU
Di Panti Ar-Raudah Lhokseumawe.
Q: Apa sih Program Bagi Ilmu ini?
A: Yaitu program mengajar anak-anak di Panti dengan metode yang menyenangkan.

Q: Bagaimana Kondisi umum target?
A: Panti Asuhan untuk anak yatim dengan pengajaran agama intens. Dimana santriwan/wati diberikan pengajaran ilmu saintek secara otodidak a.k.a homescholing dan kemudian mengikuti ujian nasional di sekolah formal. Jumlah santriwan/wati sebanyak 60 orang dengan komposisi 30 laki-laki dan 30 perempuan. Sehingga membutuhkan pengajar atau guru yang energik dan dapat membimbing santriwan/wati untuk mengerti masalah ilmu saintek.

Q: Guru apa yang dibutuhkan?
A: Sesuai diskusi dengan kepala santri, kami membutuhkan pengajar MTK, IPA, Biologi, Kimia, Fisika dan Bahasa Inggris, serta kemungkinan akan diajukan juga pembina pramuka penggalang. Pengajaran dilakukan selama 2 jam dalam 2 minggu sekali atau menyesuaikan dengan jadwal pemateri.

Q: Saya berminat, bagaimana cara mendaftar? Apakah ada tes?
A: Silahkan inbox ke fb: agustiawan imron atau line: agustiawan288 dengan format Nama_BidangStudi_Alamat_NoHP  paling lambat tanggal 1 Oktober 2015. Tidak ada tes tetapi nantinya akan ada pembekalan.

Q: Saya berminat, bagaimana jika saya putus mengajar ditengah jalan?
A: Akan kita rekrut tim pengajar setiap bulannya, sehingga akan ada regenerasi dan pengajar lama dapat bergantian dengan pengajar baru.

Q: Kapan mulai mengajar?
A: Kemungkinan bulan Oktober pertengahan, karena kita akan brefing dan melakukan Capacity Building kepada tim yang akan turun nanti, sehingga tim dapat mengajar dengan nyaman dan dapat dipahami oleh peserta didik.

Q: Saya tidak punya basic mengajar, tetapi mau ikut?
A: Boleh saja, disini kita sama-sama belajar kok untuk membantu orang lain.

Q: Apakah tim pengajar yang mengikuti program ini akan dibayar?
A: Tidak, diharapkan pengajar yang mengikuti program ini ikhlas lillahi ta’ala. Tetapi akan diusahan uang transport ala kadarnya dari donasi dan sertifikat apresiasi.

Q: Bagaimana metode evaluasi dan Quality Control?
A: Nanti dijelaskan saat pembekalan.

Q: Saya ingin membantu, tetapi saya tidak sempat ikut mengajar. Bagaimana kira-kira?
A: Kita juga membuka Program Bagi Buku, dimana teman-teman bisa memberikan buku bacaan yang layak untuk anak-anak SD, SMP dan SMA Atau juga dapat memberikan donasi untuk operasional program ini.

More info:
Line: Agustiawan288
Fb: agustiawan imron
Twitter: @agustiawan28

Gmail: agustiawan1993@gmail.com

Saturday, 4 July 2015

Yang Tertinggal

Pagi itu warna-warni dunia melunturkan warna hitam langit, untuk diwarnai biru oleh sang maha kuasa. Sang mentari terbit memberikan bayangan yang mengikuti kemanapun kita berjalan. Menjadi teman yang akan menemani kita selama ada cahaya, tetapi meninggalkan kita ketika cahaya itu pergi. Bayangan, sebenarnya dirimu temannya cahaya atau diriku?
            Ku melihat bayangan yang sepertinya sangat bersahabat akrab dengan kita, tapi terkadang juga dia meninggalkan kita. Refleksi hitam dari tubuh kita yang dipancarkan tegak lurus dari sumbu berdiri. Bukankah dia berbentuk abstrak? Tetapi, dia selalu menemani kita dikala gelap, memberikan rasa percaya bahwa kita tak benar-benar sendiri.
            Hari libur memang menyenangkan dan sangat ditunggu. Kita dapat bersantai, melakukan aktifitas yang tidak bisa kita lakukan dihari kuliah. Tetapi, terkadang hari liburku harus ku habiskan dengan kegiatan organisasi. Seperti penyuluhan, mengajar, bersenang-senang dengan sahabat-sahabatku dan masih banyak aktifitas lain yang bermanfaat maupun tidak bermanfaat, tapi tergantung sudut pandang sih.
            Pagi yang indah dalam kegiatan penyuluhan di sebuah sekolah dasar yang ada didekat jalan Lintas Sumatera. Memberikan keceriaan kepada kami dan peserta yang mengikutinya, tidak sedikit tawa dan teriak antusiasme dari anak-anak yang sepertinya menikmati semuanya. Tiba-tiba, salah seorang adik tingkatku mendatangiku.
            “Bang, boleh minjem Tab-nya?” ucap seorang adik tingkatku di FK.
            Aku yang tidak mungkin menolaknya langsung memberikan izin sambil menyodorkan Tab-ku dengan tangan kananku. Hafni langsung mengambilnya dengan wajah yang sangat berseri-seri.
            Awalnya dia hanya membuka website kampus dan website yang berhubungan dengan pelajaran. Hingga akhirnya aku mencurigainya, mungkin dia telah melakukan sesuatu kepada Tab-ku. Dan ternyata seteleh aku mengecheck media sosialku, oh tidakkk.
            Dia membuat tulisan “Yang terlewatkan! Cinta datang terlambar cc: @WardahtulJannah.” Di twitter, facebook, line dan semua media sosial yang ada di tab-ku. Sungguh postingan yang sangat memalukan, ditambah lagi aku sangat takut jika nanti Wardah menjadi salah kaprah.
            Tak lama kemudian, seorang wanita yang dimention dalam kiriman tersebut langsung membalas kirimanku. Aku langsung membuka tab-ku dan kemudian melihat apa yang dibalas oleh sang punya akun. Aku hanya tersenyum melihat apa yang dia tulis, ku pikir semuanya baik-baik saja. Sepertinya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam konten yang dibuat tadi. Oke... okee semuanya pasti akan berjalan seperti biasa.
            Siang berganti malam, malam berganti siang berputar sebagai satu siklus yang wajib ada disetiap perjalanan hidup kita. Tak terasa hari ini telah berlalu, terasa lelah menghadapi hari-hari yang dilalui selama perjalanan jauh ini. Lelah melangkah harus dilupakan karena hanya akan menjadi beban dalam bertindak.
            Aku menelpon perempuan yang sudah lama tak ku telpon, yang beberapa bulan yang lalu aku temui di kotanya.
            “Assalamualaikum.” Ucapku menyapanya dengan ramah di telpon.
            Dia hanya diam tidak menjawab salamku, aku mengulangi salamku sekali lagi, tetapi tetap saja dia tidak bergeming dan tidak membalas salamku. Ada apa sebenarnya, bukankah jika ada masalah sebaiknya diucapkan saja? Jangan dipendam atau disimpan sendiri sampai mengerogoti hati dan menimbulkan rasa benci.
            Tak puas karena belum mendapatkan jawaban darinya, aku mengucapkan salam sekali lagi. Tapi, dia masih tidak mau menjawabnya. Hingga akhirnya dia mulai menanggis.
            “Apa kau anggap semua ini main-main?” ucapnya di telpon seolah-olah ingin memarahiku, suara tangis yang tak kalah menyayat hatikupun ikut mengiringi ucapannya.
            Aku terdiam mendengar ucapannya, aku hanya mencoba untuk kembali mengerti apa yang dimaksud dengan perkataannya tadi, “Ada apa?”
            “Sudahlah, kau hanya menganggap ini main-main. Aku membencimu, setelah semua yang kita lalui. Kau ternyata hanya menganggap ini main-main.” Lanjutnya seraya mematikan telponnya.
            Sebenarnya ada apa ini? Mengapa suasana bisa menjadi seperti ini. Bukankah seharusnya aku menikmati hari ini dengan indah? Tiba-tiba pelangi yang ada dikepalaku luntur bak bercampur dengan cat hitam yang merusak warnanya. Hatiku semakin kacau, seolah-olah telah menjadi orat arit telur yang udah nggak karuan lagi bentuknya.
            Ntah apa yang sebenarnya terjadi, apakah karena dia tidak suka dengan apa yang dikirim oleh adik kelasku kemarin? Tetapi bukankah telah dibalasnya dan memang sepertinya sudah tidak dipermasalahkan. Apakah karena ada hal lain yang ada padaku telah membuatnya merasa terusik?
            Tetapi, bukankah aku yang seharusnya terusik dengan apa yang dia lakukan tadi. Tanpa basa basi, tanpa bertanya, tanpa menjawab dia mengakhiri telponku, dia bilang membenciku.
            Kutanyakan pada seorang temannya, apa yang sebenarnya terjadi, “Lath, kenapa Wardah marah denganku?”.
            Lathifah yang sepertinya sedang berada di pasar langsung menjawab telponku, “Emangnya kenapa gitu Gus?” begitu katanya bertanya balik.
            “Dia seolah-olah marah denganku.”, jelasku singkat.
            Lathifah yang mendengar penjelasanku langsung menyarankan aku untuk menelpon teman dekatnya yang memang sering menjadi teman curhatnya. Akupun sesegera mungkin menelpon Ayu yang sepertinya masih tidur, dengan suara ngantuknya dia menjawab telponku.
            Hmmm... bagaimana mungkin perasaannya tak tersakiti? Aku seolah-olah datang dan pergi begitu saja. Datang tak diundang, pergi tak permisi. Seolah-olah membuatnya yang ‘katanya’ menunggu menjadi jengkel. Betapa tinggi dinding pembatas yang dia buat kepada orang-orang, betapa dia menjaga dirinya untuk tidak didekati oleh orang lain.
            Melihat dirinya yang sangat menjaga diri membuatku takut mendekatinya, aku hanya berani sebatas dekat berteman saja walaupun sebenarnya aku juga menyukainya. Aku hanya takut dia telah menyukai laki-laki lain, sehingga aku akan kecewa jika terlalu mengharapkannya. Sehingga aku seolah-olah terlihat melewatkannya, dan akhirnya dia menjadi yang terlewatkan tanpa status yang jelas. Ditambah dengan candaan adik kelasku yang sepertinya menjadi pemicunya, pemicunya seperti seolah-olah dipermainkan olehku.

            Ku pikir, dia telah memiliki laki-laki idaman yang sangat dia sukai, sangat beralasan aku berfikir begitu karena betapa tinggi tembok yang dia buat untuk menjaga jaraknya dengan laki-laki. Aku sangat penasaran hingga aku bertanya kepada teman dekatnya lagi. Tetapi jawaban yang aku dapatkan saat aku bertanya kepada teman dekatnya. Ternyata itu adalah aku, yang menjadi bayang-bayang yang aku takutkan sehingga aku menjadi orang yang melewatkan dan bisa saja akhirnya dilewatkan.

Friday, 3 July 2015

BETAPA AGUNGNYA INDONESIA


      
      Sepulang dari Solo, kota kenangan yang indah tenan aku mendapat undangan untuk datang melihat peresmian salah satu Kapal Perang buatan Indonesia. Sepertinya sebuah kehormatan untuk seorang mahasiswa yang belum memiliki jabatan apa-apa dipemerintahan.
            Lautan Selat Malaka yang indah, tepat didepan sana kita dapat melihat Negeri Jiran Malaysia yang jaraknya hanya beberapa puluh mil dari pandangan. Sepertinya sangat indah untuk dikunjungi, tetapi saatnya sang ikan raksasa itu memecah ombak dan berlayar sampai di dermaga.
            “Ini pasti buatan luar negeri.” Ucapku dalam hati dengan nada sinis melihat kapal besar yang sedang bersandar di dermaga.
            Entah kenapa setiap barang yang kita gunakan selalu ekspor dari luar negeri. Ntah itu alat perang, alat kesehatan, transportasi, dan bahkan alat mandi. Jadi, seolah-olah hidup kita ini tak lepas dari asing sejak bangun tidur saat alarm yang berbunyi (karena HP rata-rata buatan Amerika, Korea, Swedia, Vietnam dan lain-lain), mencuci pakaian (rata-rata sabun cuci dari unilever), sampai ke tidur lagi (kasur buatan Cina).
            Kami langsung dipersilahkan memasuki kapal melihat isi kapal dan pemandangan yang ada dari atasnya. Sepertinya jika aku mengajak Wardah kesini akan sangat romantis, bahkan kami bisa memerankan gaya Leonardi de Carpetno pas lagi main film titanic, tapi itu semua hanya mimpi. Mana mau perempuan seperti dia bergaya aneh-aneh kayak gitu.
            Anjungan yang luar biasa didalam kapal, semakin membuatku yakin bahwa ini pasti buatan laur negeri minimal dari Belanda lah. Setelah aku bosan, aku langsung menuruni tangga anjungan menuju badan kapal untuk keluar dari kapal pembawa meriam berukuran 40 meter tersebut. Aku terhenti sejenak ketika melihat seorang perwira menengah berpangkat Mayor TNI AL yang ternyata adalah kepala bagian operasional kapal tersebut. Dia menyapa duluan kemudian mengajakku ngobrol.
            “Halo mas.” Ucap beliau memakai logat Jawa kental menyapaku dengan lambaian tangan dan senyum ramahnya.
            “Iya, pak.” Jawabku singkat. “Pak, saya mau bertanya. Kapal ini buatan mana ya pak?” lanjutku dengan pertanyaan yang sepertinya nggak penting banget.
            Beliau langsung menjawab, “Oh, ini buatan Indonesia pak.” Dengan bangga membusungkan dadanya.
            “Ha Indonesia?” aku kaget banget mendengar pernyataannya.
            “Kok kaget mas?” tanya beliau, “Kalo begitu ayok ikuti saya mas.” Ajak beliau mengajakku kesebuah ruangan yang berisikan informasi kapal tersebut.
            Aku mengikuti beliau dan melihat semua papan yang tertempel rapi dan elegan dikapal tersebut. Ternyata benar kapal tersebut buatan Indonesia, bukan rakitan ya! Tetapi memang semua bahan dan tenaga pembuatan kapalnya asli Indonesia! Tulen Indonesia.
            Kapal buatan PT. PAL yang merupakan BUMN milik negara yang seperti berafiliasi dengan Angkatan Laut Indonesia memang sering memproduksi kapal sampai diekspor keluar negeri. Sampe-sampe negara Eropa juga mesen kapal tersebut lho.
            Sebenarnya kita nggak usah kaget deh dengar yang kayak gituan. Masih ingat dengan senjata Kopassus, Tank Anoa dan semua senjata Angkatan Darat yang dibuat oleh PT. Pindad. Sampe-sampe senapan buatan PT. Pindad tersebut selalu mengunguli semua senjata modern angkatan darat yang dibuat negara luar, bahkan tank dan panser buatan PT. Pindad sering dipesan oleh orang luar negeri.
            Bagaimana dengan industri kedirgantaraan? Prof. Habibie memang ahlinya, sampe-sampe industri dirgantara Indonesia pas orde baru mengungguli negara-negara barat sampai akhirnya beliau diambil oleh Jerman, menyedihkan sekali ya. Baru-baru ini kita dengar Putra Petir yang membuat mobil tanpa bahan bakar minyak, katanya bahan bakarnya pakai air lho. Bosen banget kalo ngomong masalah senjata militer sama transportasi karena nggak bakal habis-habisnya. Kalo kita bicara masalah fashion gimana?
            Batik Jawa yang khas, cual Sumatera, songket Palembang, dan masih banyak lagi busana Indonesia yang menjadi daya jual daya beli pokoknya daya lah, yang penting bukan daya buat cuci baju. Bagaimana dengan Eiger dan Addidas? Yang katanya dibuat di Bandung. Bola Piala Dunia Afrika Selatan yang namanya kalo nggak salah Jabolani (bukan?) juga dibuat di Indonesia.
            Jadi, sebenarnya kita punya potensi untuk maju, kita punya potensi dan daya saing untuk memajukan Indonesia dengan berbagai cara. Kita punya semua bahan baku untuk membuat apapun, Cuma kita kekurangan tenaga untuk mengolahnya.
            Sebenarnya aku juga salah, kenapa aku meremehkan dan mengejek bangsa dan negaraku sendiri. Kenapa aku begitu tidak percaya bahwa Indonesia se Agung ini? Bahwa Indonesia bisa melakukan hal segila ini, sehebat ini, bungkam mulut kotor kita yang merendahkan bangsa kita sendiri, berbicaralah yang positif tentang bangsamu.

            Come on baby, kita pasti bisa. Hanya saja kita belum menanamkan mimpi-mimpi itu kepada anak-anak yang nantinya akan meneruskan perjuangan kita membangun Indonesia yang bermartabat, berilmu dan beriman. Sekali lagi, jangan hina ke-Agungan negerimu.

Monday, 29 June 2015

PENYAKIT YANG PALING BERBAHAYA?

 
Mampung di Bulan Suci Ramadhan, aku mau nulis sesuatu yang mungkin bisa menyadarkan kita bahwa betapa maha pengampunnya Allah SWT yang merupakan Dzat paling sempurna dan maha pengampun. Bulan Ramadhan betapa istimewanya Engkau dibanding sebelas saudara angkatmu yang sepertinya menginginkan keistimewaan sepertimu. Di dalam badanmu juga Al-Quran sebagai wahyu dan mu’jizat terbesar Rasul diturunkan.
Dan kita mulai ceritanya....
Satu... dua... tiga... seolah-olah sesuatu dihitung sesuai dengan fungsi nominalnya. Melihat sesuatu dan melabelkannya untuk akhirnya dipilah-pilah, oh dia orang baik, dan oh dia orang jahat. Cukup mengesalkan bukan?
            Pantas saja ayahku sering berkata, “Penyakit yang paling mengerikan didunia ini adalah AIDS.” Sebut ayahku dengan penuh teka-teki.
            Aku memandang wajah ayahku yang sudah mulai mengeriput, “AIDS?” bergumam dengan banyak tanda tanya tentang maksud ucapan ayahku itu.
            “Iya, AIDS... bukan AIDS yang kena HIV itu, tetapi Angkuh, Iri, Dengki dan Sombong.” Ucap ayahku menambahkan.
            Ayahku memang sedikit berbicara, seolah-olah ingin aku selalu mengerti sesuatu dari pengalaman kehidupanku. Sekarang, aku baru sadar apa yang diucapkan oleh ayahku itu benar. Sekarang sudah mulai bermunculan orang-orang angkuh yang kalo kita lihat sendiri sebenarnya apa yang dia angkuhkan itu bukanlah hal yang panats untuk dijadikan bahan untuk angkuh. Bagaimana dengan iri? Mereka iri dengki melihat seseorang lebih maju darinya, bukan iri dalam hal positif tetapi iri dalam hal ingin menjatuhkan dan akhirnya berujung dengan riya. Bukankah itu berbahaya? Lebih berbahaya dari penyakit AIDS yang sebenarnya hanya menyerang jiwa.
            Iri terkadang membuat kita lupa apakah yang dia lakukan itu baik atau buruk. Terkadang orang-orang berbuat kebaikan, hanya gara-gara kita iri bisa langsung bilang kalo apa yang dia lakukan itu salah, buruk atau bahkan langsung menjudge riya’. Contoh: ketika kamu buat Bakti Sosial, kegiatan baik dengan niat baik. Tetapi banyak bibir yang mencibir bilang itu pasti riya’ atau itu pasti biar dilihat orang.
            Come on Baby, kita hanya boleh lihat apa yang dia lakukan, tapi kita tak berhak menilai itu. Cukup lihat, kalo baik kita ikuti dan kalo buruk kita tegur baik-baik.
            Iri sih nggak bakal jadi penyakit kalo kita sikapi dengan bijak. Contohnya ni ye, aku sering iri banget sama temenku yang kayaknya mengerti dan paham banget isi buku. Alhasil aku belajar mengikuti pola belajarnya, aku jadikan dia guruku dan aku minta ilmunya untuk aku pahami. Irinya membuahkan hasil, yaitu ilmu yang bermanfaat.
            Bagaimana dengan dengki? Memang dengki merupakan penyakit yang mengerikan. Sering orang-orang senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang. Melihat tetangganya beli mobil baru langsung aja sewot. Kalo lihat tetangga beli mobil baru harusnya ente bersyukur berarti nanti bakal ada yang bisa nebengin ente didalam mobil kalau hujan.
            Kita udah bahas iri dan dengki, sekarang gita ganti ke Sombong.
            Sombong itu sifat Iblis (semoga Allah SWT melaknatnya), tak pantas dimiliki oleh manusia yang tidak memiliki apa-apa. Angkuh dan sombong bisa sepaket, dia angkuh mengatakan bahwa apa yang dia katakan benar sekaligus sombong karena dia telah dijalan yang (diyakininya) benar. Kita bukan berbicara masalah aqidah yang memang seharusnya adalah sesuatu yang harus satu. Tetapi masalah cara berjuang seseorang satu sama lain.
            Setiap manusia memilih jalan berjuangnya masing-masing. Ada yang berjihad dengan harta, ada yang berjihad dengan tenaga, ada yang berjihad dengan semangat, dan bahkan ada yang berjihad hanya dengan hafalan. Tetapi itu tak pernah menjadi masalah pada Zaman ketika Rasul masih hidup.
            Banyak orang yang dosanya berlimpah seperti gunung, ada pembunuh, ada penzina, ada peminum-minuman keras, ada apa lagi? Tetapi ketika mereka bertanya kepada Rasul apakah mereka akan diampuni oleh Allah pencipta alam? Rasul menjawab dengan lantangnya kalau semua kesalahannya dapat diampuni oleh Allah SWT maha pengampun asalkan dia mau bertaubat nasuha.
            Tetapi sangat banyak orang-orang (zaman kini), yang ntah ilmune cetek atau memang kagak ngarti menjudge orang lain langsung masuk neraka, dosanya nggak bisa diampuni dan statement aneh-aneh pokoknya.
            Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan seseorang yang melakukan kesalahan. Asalkan dia bertaubat, dia meminta maaf, dia menyesali perbuatannya, menganti rugi apa yang memang harus diganti dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Come on boy, kita ini manusia dan pasti punya salah apapun itu. Umar yang hampir membunuh Rasul aja diampuni oleh Allah SWT dan dimaafkan oleh Rasul kok. Lho? Jadi kita kenapa nggak?
            Bahkan terkadang orang-orang “Bersalah” ini membutuhkan support dari kita untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. Bukan karena mereka lemah, mereka hanya ingin mengetahui apakah masih ada orang yang mendukung kebaikannya (taubat dan meminta maaf itu kan perbutan baik). Setiap perbuatan baik butuh dukungan, butuh orang-orang yang rela berdiri mengayomi. Bukan malah mencela, menghina, mengahrdik bahkan mengkafirkan orang-orang seperti itu.
            Ingat lho, jangan hanya gara-gara kita merasa dekat dengan Tuhan membuat kita sombong tak mau bergaul dan menjudge orang-orang. Jangan gara-gara itu pula kita menjadi angkuh. Jangan gara-gara itu pula kita menilai semua yang dilakukan oleh orang-orang buruk (kalo diluar gerakanmu).
            Orang-orang yang kita anggap sering berbuat buruk masih memiliki kesempatan untuk bertaubat dan meminta maaf. Toh mereka masih punya masa depan yang siapa tau bisa menjadi manusia yang lebih baik daripada kita, contohnya kayak Alm. Uje.
            Pokoknya kalo udah kena penyakit AIDS ini, apapun yang dibuat orang-orang pasti salah dan mencari-cari kesalahan. Sekecil apapun jadi dibesarkan, dan terkadang nggak sesuai dengan ucapannya.
            Semua manusia udah mulai berlomba-lomba jadi Tuhan, semua manusia udah mulai merebut tugas malaikat Raqib dan Atid. Mencatat dosa aku, dosa kamu dan dosa kita lalu mencatat pahala dia, dia dan dia yang memang sebenarnya sudah menjadi tugasnya Malaikat.

            Nah, mari kita sama-sama menjauhi penyakit AIDS dan memperbaiki diri kita masing-masing dan mengajak orang-orang dalam kebaikan dengan nyaman dan indah tanpa menyakiti. Yang merasa banyak dosa (yang jelas ane juga banyak dosa) mari kita selalu bertaubat, berdo’a agar Allah SWT mengampuni dosa kita, dosa ibu bapak kita, dosa nenek kakek kita, dosa saudara kita, dosa guru-guru kita dan dosa orangtua dari guru-guru kita. Lets go, i think you can.

Thursday, 4 June 2015

DINDING KACA

Tak terasa sudah empat hari aku di Surabaya. Mendapatkan teman baru dan mendapatkan pengalaman baru. Teman dan pengalaman, mana yang kamu pilih dalam setiap kegiatan?
Persiapan kepulangan peserta yan mengikuti kegiatan Karya Ilmiah di Surabaya. Mengisyaratkan pertemuanku kembali dengan Wardah setelah dua tahun tak berjumpa. Aku mencari kamar Wardah untuk berpamitan kepadanya.
“Assalamualaykum...” ucap salammku disertai ketukku disuatu ruangan yang ditutup oleh pintu yang sangat rapat.
Tiba-tiba suara dibalik pintu itu membalas salamku seraya membuka knok pintu. Perempuan itu keluar membawa koper besar yang ntah apa isinya. Bisa saja peralatan hotel atau lemari dia bawa pulang kerumah.
“Eh, ada apa ni pagi-pagi udah ngetuk pintu kamar orang?” tanya Wardah dengan logat medhok Jawanya yang sangat khas sekali.
Akupun menjawab, “Nggak ada, aku hanya tidak ingin jika aku tidak dapat melihatmu sebelum waktu-waktu perpisahan kita.” Jawabku ringan dan singkat.
“Benarkah begitu?” tanya Wardah penasaran. “Maaf aku harus pulang ke Solo sekarang.” Ungkapnya dengan membawa kopernya berjalan meninggalkan aku.
“Wardah!” ucapku menghentikan langkahnya yang berjalan, seketika dia langsung berhenti berjalan dan menoleh kearahku. “Bolehkah aku ikut ke Solo?’ tanyaku kepadanya.
Wardah yang melihatku dari tadi hanya terdiam seperti berfikir, “Hmmmm... bagaimana ya?” tanya dia kepada pribadinya yang labil itu. “Kalo kamu ke Solo, aku nggak menanggung apapun lho. Bagaimana?” ungkap Wardah setengah bertanya.
“Iyalah emangnya aku bakal nginep dirumahmu!” seruku menjawab. “Udah deh, pokoknya kamu tenang aja, fungsi dan tugas kamu disana hanya menemani aku jalan-jalan aja. Fix?”
“Bagaimana dengan tempat tinggalmu selama di Solo nanti?” tanya Wardah.
“Kan ada hotel bulan bintang, aku bisa tidur disana.” Jawabku sambil tertawa. “Lagi pula aku hanya satu hari aja kok di Solo, besoknya langsung pulang.”
“Ha? Hotel Bulan Bintang?” Wardah mulai memasang wajah bingung dengan tatapan itu dia melihatku sambil memiringkan kepalanya.
“Hahaha. Maksudku mesjid.” Jawabku berguyon.
Oke, sekarang perjalanan ke Solo dimulai. Kami menggunakan kereta api dari Surabaya ke Solo. Tak terasa banyak kisah yang kami habiskan. Dari membeli tiket ke calo, sampai beli nasi uduk.
Saat di perjalanan, seorang penjual nasi uduk menajajakan masakannya. “Mas, nasi uduk. Ada rendang, ayam, telur dan macem-macem mas.”
Aku yang sedikit iba melihat ibu yang berjualan saat kereta ini berhenti sejenak pun langsung membeli salah satu makananya, “Bu, saya mau yang rendang aja.” Ucapku sambil memberikan uang lima ribuan.
Beberapa menit kemudian, kereta api yang berhenti beberapa menit itupun langsung bergerak diikuti oleh arus keluar dari seluruh pedagang yang menajajkan jualannya. Aku yang kelaparan di pagi itupun langsung membuka santapan pagiku dengan laparnya, pas aku menggigit rendangnya. “Kok alot ya?” tanyaku dalam hati. Pas aku cek dan ricek, eh ternyata rendangnya adalah potongan sendal jepit yang dikasih kuah rendang.
Wardah yang melihatpun hanya tertawa terbahak-bahak. Aku yang kesal langsung mengumpat sang ibu penjual nasi sambil membuangnya keluar, “Memang kurang ajar penjualnya.”
Tak terasa matahari yang sudah terbit sendari tadi memaksa kami untuk Sholat Shubuh di kursi penumpang kereta api yang kami tumpangi. Berjam-jam telah kami lewati dan akhirnya kami sampai di Stasiun Balapan Solo.
“Gus, rumah aku dekat arah selatan. Aku pulang dulu ya buat mandi, nanti kita ketemu di SGM yah.” Begitu ucap Wardah yang langsung memberhentikan taksi untuk di tumpangi olehnya.
Ditinggal sendiri oleh Wardah di salah satu Kota Besar di Jawa Tengah itu, aku masih dalam pencarian mushala atau mesjid yang bisa aku tumpangi sebagai tempat mandi. Setelah menemukan masjid yang bersih dan tepat, akupun meminta izin ke marbot untuk dapat mandi di mesjid yang dijaganya.
Tepat pukul sebelas, aku menunggu di SGM. Aku duduk didepan pagarnya membentangkan tikar dan menaruh mangkuk didepan tubuhku seperti gembel. Sudah satu jam aku menunggu, sudah satu jam setengah, dan akhirnya sudah dua jam.
Aku langsung menelpon Wardah, tapi tidak mendapatkan respon. Aku mencoba menelponnya lagi, kemudian tak diangkat. Sudah kucoba tiga kali, akhirnya dia mengangkat telponku, “Wardahhhhh, kok baru kamu angkat? Aku sudah nanggu dari jam sebelas tadi!” ucapku kepadanya.
“Iya, aku lupa.” Ucap Wardah dengan suara seperti orang yang baru bangun tidur. “Tunggu aku ya, sekitar setengah jam lagi.” Pintanya.
Aku menahan rasa kesalku. Ingin aku membanting Handphoneku kemudian ku kunyah kayak nelen permen karet, ternyata dia tumor (tukang molor) juga. Nggak aku sangka dia bisa jadi seceroboh itu.
Jam tiga kurang, aku masih menunggu di depan SGM sambil memainkan tabku. Sesekali aku mengirimkan pesan singkat menanyakan dia sudah dekat atau belum.
“Agus, mohon maaf tadi aku ketiduran.” Ucap seorang wanita yang melambai dari balik tubuhku.
Aku yang mambalikkan wajahku sebentar, langsung melanjutkan perjalanan hanya dengan berkata, “Ayo masuk.” Ajakku dengan dinginnya.
Dia hanya mengikuti aku berjalan sambil berbicara dan tertawa sesekali seperti ingin menghiburku. kami bercerita berdua, apa yang telah kami lalui saat kami berdua tidak bertemu. Terlalu banyak hal yang kami lewati tanpa pertemuan, terlalu banyak petualangan, dan sesekali aku menyentil masa lalu kami.
Dia hanya bisa tertawa ketika mendengarkan cerita kami waktu masih SMA, bertampang lugu dan tak mengenal dengan sangat dekat satu sama lainnya. Bahkan hanya pernah menyapa sesekali tanpa mengenal nama.
“Agus udah makan?” ucap Wardah yang mungkin baru sadar bahwa aku belum makan karena menunggunya terlalu lama dari tadi.
“Belum sih.” Jawabku singkat berharap bisa makan dirumahnya. “Kita makan dimana? Dirumahmu?” tanyaku.
“Jangan!” jawabnya singkat. “Mending kita cari warung yang ada disekitar sini aja ya.” Dia menyarankan untuk makan di warung kesukaannya.
Kami pergi kesana menggunakan bus kota, bercerita berdua. Kemudian turun di persimpangan jalan hingga akhirnya kami harus kelelahan karena berjalan kaki menuju lokasi makan yang cukup jauh.
“Kalo lokasi makannya jauh kayak gini. Aku bisa pingsan duluan War.” Keluhku sambil membersihkan tetesan air yang bercucuran dari jidatku.
“Eh! Laki-laki tak boleh mengeluh. Bagaimana kalo kamu sudah dewasa dan harus berkeluarga nanti? Jadi kebiasaan lho!” seru Wardah dengan tegasnya.
Tak lama setalah memesan makanan, makanan yang kami pesan langsung datang. Aku langsung mengambil makananku dan bersiap-siap untuk makan. Kami berdua makan sambil bercerita lagi, kemudian Wardah meletakkan makanannya kedalam piringku, “Ini, makanlah. Kamu butuh energi lebih.” Ucapnya singkat.
Tak terasa sang surya sudah tenggelam. Wardah meminta izin untuk pulang kerumah. Karena anak sepertinya tidak diizinkan keluar malam sendirian, tanpa ibunya yang mengikuti.
Dia pulang dengan menaiki taksi biru itu, diam-diam aku mengikutinya. Aku sangat penasaran dan sungguh ingin mengetahui dimana letak rumahnya. Tapi ntah mengapa Wardah selalu melarangku untuk datang kerumahnya, bahkan di Hari Lebaran.
Setelah kepulangan Wardah kerumahnya, aku melanjutkan perjalananku sendiri ke wisma tempat aku menginap. Memang sangat menyedihkan, saat siangnya kita dapat menghabiskan waktu bersama seseorang yang kita inginkan, dan malam mengubah segalanya membuatku sendiri dan tak tau apa yang harus aku lakukan sendirian selanjutnya.
Tiba-tiba, sebuah pesan singkat masuk ke telpon genggamku. Aku langsung membacanya, “Ternyata dari Wardah.” Ucapku dalam hati.
Aku langsung membuka pesannya dengan sangat gembira, ntah apa yang ingin diucapkan olehnya. “Besok aku akan ke bandara jam setengah delapan.” Begitu bunyi SMS Wardah ditengah malam ini.
Aku yang kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh dan mengasyikan ini langsung terpejam untuk menikmati mimpi-mimpi indah. Ditemani bintang porno-eh salah maksudnya bintang-bintang, televisi yang masih berisik, bulan yang terangnya melawan gelapnya malam aku ingin setiap hari seperti ini bersamamu.
Sang fajar telah terbit, memaksa kita untuk bangun dan melanjutkan aktifitas. Aku berjalan menuju masjid terdekat untuk melaksanakan Sholat Shubuh berjamaah. Tak terasa beberapa menit setelah sholat, aku harus merapikan barang-barangku sebelum aku pulang ke Palembang.
Aku mencari taksi untuk menuju bandara, aku harus sampai di bandara jam tujuh pagi. Karena pesawatku akan berangkat jam sembilan kurang. Hari ini menjadi hari terakhir pertemuanku dan Wardah untuk satu tahun ini, karena aku tidak akan punya kesempatan yang sama untuk kembali ke Solo.
Aku duduk sendiri dikursi yang dihimpit oleh dua pot buga yang berukuran besar, menunggu seorang wanita yang katanya sedang dijalan. Kulihat jam tanganku telah menunjukkan jam delapan. “Dimana kamu Wardah? Kamu telat lagi setengah jam.” Begitu ucapku dalam hati.
Aku sangat takut dia tak bisa sampai kesini sebelum aku berangkat, sedikit demi sedikit aku menitihkan air mataku. Rasa ketakutan itu sampai membuat kepalaku sakit, aku bertanya-tanya didalam hati “Wardah, kamu dimana?”.
Tiba-tiba Handphoneku berdering. Aku merasa senang melihat ternyata yang menelponku adalah Wardah. Segera aku mengangkat telponku.
“Assalamualaikum, kamu dimana Gus?’ ucap Wardah ditengah keramaian.
Akupun berdiri sambil melihat kekanan dan ke kiri, “Aku diatas, aku dikursi yang ada dekat Solaria.” Ucapku.
“Oh disana, aku lagi di eskalator. Tunggu aku ya.” Ucap Wardah sambil berlari, “Kamu udah makan?” tanyanya kepadaku.
Aku hanya menjawab, “Cepat kesini!” sambil mematikan telponnya.
Akupun terduduk kembali sambil menanggis, harapanku hari ini hanyalah bisa melihat wajahnya untuk tahun ini hingga akhirnya aku memiliki kesempatan untuk kembali kesini.
Seorang perempuan datang kearahku, “Agus, kamu kenapa?”
“Nggak ada kok.” Aku langsung berdiri berjalan seolah-olah mengajaknya.
“Kita makan pagi dulu yok.” Ajak Wardah sambil menuntunku ke Solaria, “Ayok ikuti aku.”.
“Eh, waktu kita tinggal setengah jam lagi!” ucapku sambil duduk didepannya untuk menyantap makan pagi kami.
“Terus masalahnya apa?” dia bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kami makan berdua dimeja itu, sesekali kami berfoto selfie berdua dan meminta tolong kepada petugas makanan untuk memotret kami berdua.
“Apakah kita akan bertemu tahun depan?” tanyaku kepadanya.
“Kenapa harus tahun depan?” dia bertanya balik. “Bahkan aku berdo’a agar pesawatnya delay sampai besok. hehehe.” Dia tertawa licik.
Aku yang mendengar ucapannya hanya tertegun dan berfikir ternyata dia ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersamaku.
“Bahkan aku ingin pesawatnya jatuh dan meledak. Biar kamu nggak jadi pulang. Hehehe.” Ucapnya yang makin brutal, “Atau kamu jadi gembel dijalan dekat UNS, biar aku bisa kasih kamu makan setiap hari.” Fantasi yang dia miliki sepertinya memang terlalu berlebihan.
Percakapan kami langsung terpotong oleh pengumuman yang dibuat pihak bandara, “Kepada penumpang pesawat Air Asia agar dapat segera masuk ke pesawat.” Ternyata itu adalah panggilan terakhir.
“Aku harus pergi sekarang, terimakasih atas semuanya. Semoga kita bisa ketemu lagi.” Ucapku sambil membawa koperku naik keatas.
Dia hanya terdiam dan ikut berlari, tetapi dia tak bisa naik keatas. Dia hanya bisa melihatku dari balik dinging kaca yang berada didekat pintu masuk check in. Dia melihatku yang sedang menaiki eskalator, aku yang sedang berada di sana hanya bisa melihatnya dengan senyuman.
Ku lihat matanya sudah mulai berkaca-kaca, bibirnya yang terbiasa senyum tidak dapat lagi berkamuflase dan mengkiaskan bahwa dia sedang sedih. Aku yang melihatnya dengan senyuman, langsung memalingkan pandanganku dari wajahnya untuk menyembunyikan air mata.
Aku pergi dengan menyisakan sedikit air mata sampai akhirnya aku duduk didalam pesawat. Dinding kaca yang membuat Wardah tak berdaya itupun menjadi saksi perpisahan kami pada tahun ini.
Wardah yang berjalan ke parkiran sambil membersihkan air matanya hanya bisa melanjutkan perjalannya menuju rumah.

Saat dia sedang berjalan keluar, dia melihat ada pesawat Air Asia yang sedang terbang diatas kepalanya. “Mungkinkah itu pesawatnya?” ucapnya didalam hati sambil melanjutkan perjalanan.

Thursday, 30 April 2015

Pria ini Tewas di Kos karena Lupa Makan demi Ngebut Skripsi

Malang, sekitarunnes.com - Skripsi adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku.

Skripsi bertujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu menulis skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan dan keterampilannya dalam memahami, menganalisis, menggambarkan, dan menjelaskan masalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. Skripsi merupakan persyaratan untuk mendapatkan status sarjana (S1) di setiap Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia. Istilah skripsi sebagai tugas akhir sarjana hanya digunakan di Indonesia. Negara lain, seperti Australia menggunakan istilah thesis untuk penyebutan tugas akhir dengan riset untuk jenjang undergraduate (S1), postgraduate (S2), Ph.D. dengan riset (S3) dan disertation untuk tugas riset dengan ukuran yang kecil baik undergraduate (S1) ataupun postgraduate (pascasarjana). Sedangkan di Indonesia skripsi untuk jenjang S1, tesis untuk jenjang S2, dan disertasi untuk jenjang S3. 

Namun, kejadian tragis menimpa seorang Mahasiswa di Malang, Axel Pandaga Wicaksana (22). yang ditemukan oleh sepupunya sudah membusuk selama empat hari di tempat tidur dalam kosnya.
Menurut Kasat Reskrim Polres Kota Malang AKP Adam Purbantoro, Axel adalah Mahasiswa semester delapan yang sedang menyusun skripsi dan penyebab kematiannya adalah karena sakit jantung, dan jasadnya langsung dimakamkan keluarganya di Kesamben, Blitar.
“Tadi dokter rumah sakit Saiful Anwar sudah menjelaskan hasil autopsi. Jadi ditemukan jantung Axel yang mengkerut, pompa ke jantung berkurang. Jadi ini diduga penyebab kematian almarhum,” kata Adam di Malang, Kamis (5/2), seperti dikutip Sebarkanlah.com dari Merdeka.
Jasad Axel ditemukan di dalam indekosnya Jalan Sumbersari Gang IV Lowokwaru, Rabu (4/2). Sebagian tubuhnya berada di antara tempat tidur dan lantai, dengan posisi terlentang, kepala mengarah ke pintu kamar. Tubuhnya sudah membengkak dan menghitam. Bau busuk pun menyengat ke sekitar kamar.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa perutnya sedang kosong. Diduga Axel lupa makan karena ngebut menyelesaikan skripsinya. Dan menurut penuturan keluarganya, Axel juga terkena kanker tulang sehingga dia harus minum obat secara rutin.

Axel tercatat sebagai mahasiswa semester delapan di Universitas Malang (UM) jurusan Elektro. Dia menempati indekos putra Al Firdaus kamar A11 bersama Hendra. Dari penjelasan pengelola kos, dia tidak menyangka Axel akan tewas di dalam kos, karena memang sedang musim liburan dan kebanyakan penghuni kos libur dan pulang kampung.

Sumber : www.sebarkanlah.com

SRIKANDI MASA KINI

Terlalu banyak dongeng yang diceritakan oleh orangtua jaman dulu tentang sikap kepahlawanan seseorang, ntah itu benar atau tidak. Yang jelas kita dipaksa mempercayainya, kita dipaksa mendengarkan dan mengagumi mereka tanpa meniru dan mencontoh mereka.
Bukankah kita bisa menjadi apa yang akan diceritakan oleh orang lain sebagai inspirasi hidup anak bahkan cucunya bila perlu.
Pagi Kota Bari dengan sayup-sayup udara malam mengundang ceria.
Aku melakukan banyak hal yang memang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya. Pergi kuliah, pulang kuliah, kongko-kongko, dan lain-lain. Tapi, jangan salah! Kuliah nggak segampang kayak di filem-filem remaja yang kerjaannya Cuma pacaran dan main-main doang. Iya kalo orangtuamu kaya raya! Kalo orangtuamu biasa-biasa aja sadar bung sebelum terlambat.
Yang jelas, dari kuliah Cuma dua yang bisa buat kita senang. Pertama saat masuk kuliah dan dinyatakan diterima jadi mahasiswa. Kedua saat kamu dinyatakan sudah jadi sarjana. Itupun belum dapet kerjaan atau mendapatkan penghasilan yang layak.
Dulu, memang aku nggak pernah ikut organisasi dan nggak kenal dengan yang namanya organisasi di kampus. Banyak yang udah ngajak masuk BEM, DPM atau apalah namanya tapi aku nggak pernah peduli.
Yang jelas aku Cuma ikut Pramuka dan itu juga Cuma buat asik-asikan aja, nggak ada niat buat mendalaminya lebih jauh. Namanya juga anka kantin, bukan anak Mushala. Begitulah kiasan yang sering diucapkan oleh orang-orang.
Tapi kita nggak perlu ribut kamu anak kantin atau anak mushala kayak ributnya bubur ayam fraksi diaduk sama nggak diaduk. Anehnya, ada juga orang yang sampe adu jontos hanya gara-gara bubur ayam diaduk atau nggak diaduk. Inilah perlunya yang namanya “Saling Menghargai”. Nggak perlu ribut sana sini deh. Apalagi perkara anak kantin atau anak mushala, kenapa nggak dibuat aja anak mushala yang punya kantin? Atau anak kantin yang punya mushala? Biar aman coy!
Oke, berhenti dulu marah-marahnya karena tiba-tiba Wardah menelponku. Jarang-jarang dia nelpon pagi-pagi buta, baru bangun tidur belum sempat kucek-kucek mata juga di WC.
“Assalamualaikum mas.” Ucapnya lewat telpon yang langsung membuatku berhenti mengantuk.
“Waalaikumsalam, ada apa Wardah?” tanyaku karena sangat aneh dia nelpon pagi-pagi kayak mbak-mbak jual lontong buat bangunin pelanggan.
“Nggak ada, Cuma mau bilang aja.” Jawabnya sedikit berbelit.
“Bilang apa?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam jam tujuh, jangan lupa nonton TV ya.” Ucapnya sambil menyebutkan salah satu stasiun televisi yang ngetop banget.
“Emangnya ada apa?” tanyaku heran.
“Pokoknya nonton aja, harus janji. Assalamualaikum.” Ucapnya sambil menutup telepon tanpa banyak bicara lagi.
Iya, begitulah perempuan selalu banyak teka teki. Mungkin itulah sebabnya sampul TTS selalu gambar cewek, mungkin karena perempuan penuh teka teki.
“Di, boleh aku pinjam buku Kimia Analitiknya?” ucapku sambil mengambil buku Kimia Analitik yang ada dimeja temanku.
“Ambil aja Gus.” Ucap Sandi yang sedang asiik SMS pacarnya.
“Sebenarnya apa sih rasanya pacaran? Apa sih manfaatnya?” tanyaku kepada temanku itu, dia adalah laki-laki yang sangat baik yah terutama karena dia sering traktir aku makan siang.
“Ya, aku juga nggak tau Gus. Buat asik-asikan aja” begitu jawabnya singkat dan menurutku memang tidak memberikan jawaban yang aku butuhkan.
Ntah kenapa, perempuan yang begitu tinggi martabatnya hanya menjadi bahan untuk asik-asikan oleh beberapa orang yang memang sepertinya tidak menghargai perempuan. Bukankah kita juga dilahirkan oleh perempuan?
Memang sih, rata-rata kalo aku perhatikan orang-orang yang pacaran selalu banyak masalah dengan pacarnya. Bahkan tak jarang yang menyalahkan teman dekatnya hanya gara-gara berkelahi dengan pacarnya. Tapi tidak dengan Sandi yang dapat menempatkan dirinya.
Seperti biasa aku jalan-jalan bersama Wicak, sahabat karibku hingga kami disebut homo oleh orang-orang.
“Cak, jangan lupa ya nanti malem kite nonton TiVi.” Ucapku kepada Wicak.
“Kenapa?” tanyanya dengan nada adek-adek yang main iklan bikuit.
“Nggak tau juga Cak, Wardah maksa aku nonton TiVi itu malem ini.” Jawabku kepada Wicak sambil memakan biskuit yang terlantar dimeja.
Malam Hening, bernoktahkan Bulan Purnama bulat indah berseri.
Aku duduk manis didepan kotak berwarna yang mengeluarkan sedikit suara itu. Aku membuka chanel yang tadi disuruh oleh Wardah. Oke tepat aku membuka chanelnya.
Tak ada sesuatu yang menarik disana, aku hanya melihat seorang kribo yang biasa duduk di sofa untuk membawakan sebuah talk show mingguan dichanel itu.
Tiba-tiba, aku melihat seorang yang melangkah masuk ke ruangan talkshow dan duduk disofa bersama kedua temannya. Ha? Bukannya itu Wardah? Tanyaku dalam hati terkaget-kaget bukan main.
“Jadi apa yang membuat Wardah melakukanini?” tanya sang pembawa acara.
“Iya, jadi keprihatinan kami membuat kami untuk membangun sebuah gerakan kemasyarakatan yang bisa membantu mereka meningkatkan kualitas ekonominya dengan cara memberikan keterampilan. Bukan dengan cara memberikan barang-barang yang akan membuatnya menjadi manja dan selalu berharap kepada kita.” Ucap Wardah.
“Kemudian, jika kita lepas. Mereka sudah bisa mandiri sendiri.” Tambahnya.
Ternyata dia membuat sebuah komunitas yang bertujuan untuk membangun ekonomi ibu-ibu yang terkena kusta dengan cara mengajarkan mereka membuat jilbab dan nuget.
Itu sungguh luar biasa, seorang srikandi jaman kini yang sangat sulit ditemukan disela-sela jerami. Bagaimana bisa Wardah kecil yang dulunya pernah terpuruk menjadi bangkit sebangkit-bangkitnya seperti sekarang?
Hidup ini kita yang kendalikan, kita yang memiliki dan memainkan peranan. Mau seperti apa nanti? Kita harus berjuang untuk mendapatkan dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Jangan terjebak dengan keadaan.
“Kan sudah kau bilang banyak cara untuk berbakti.” Begitu kata Wardah ketika aku telpon dan menanyakan motivasinya untuk melakukan hal gila seperti itu.
Yang jelas sekarang aku tak mau kalah denganmu, aku ingin berjuang sepertimu. Dapat berjalan sejajar maupun didepanmu, tak ingin aku mengikutimu karena aku bukan penguntit.
Hingga akhirnya aku ingin menjadi manusia yang benar-benar berbakti. Kau inspirasiku. J