Saturday, 3 June 2023

BICARA TENTANG TEKAD

 Tak terasa waktu demi waktu bergulir menggiling harapan dan impian yang kita buat dan akhirnya mengikuti kita. Kiasan tanda tanya yang tergambar dikepala mulai muncul, ketika bertanya-tanya akan yang terjadi dimasa mendatang.

            Tapi, suatu hari tanda tanya itu akan terhapuskan oleh waktu yang lancang memberikan memori baru, baik yang diinginkan maupun yang tidak!
            Terkadang hal demikian membuat kita disorientasi. Tau disorientasi itu apa? Jadi kita tidak menyadari sesuatu yang terjadi pada kita. Tak menyadari kita ada dimana, dengan siapa, kapan, dan bahkan sedang berbuat apa.
            Malam ramai di Kota Bari tak seperti biasanya HaPeku sunyi dengan bunyi-bunyi. Kadang ada SMS dari operator yang sangat intens menghubungiku, bahkan telpon yang salah sambung. Tapi tak apalah dari pada tak ada yang menghubungi.
            Tiba-tiba suara ‘alamat palsu’ yang jadi ringtone HaPe-ku berbunyi bertanda ada yang menelpon.
            “Assalamualaikum, ada apa?” ucapku menyambut telepon dari seseorang yang namanya tak tercantum di kontak HP-ku.
            Suara perempuan diseberang sana menjawab, “Wa’alaykumsalam, alhamdulillah baik. Bagaimana dengan dirimu?” tanyanya.
            Memang dia perempuan yang aneh. Terkadang cuek, terakdang peduli, terkadang memberikan harapan palsu dan terkadang sepertinya tegas tak ingin. Mungkin dulu waktu dia masih kecil pernah salah pake vaksin ya.
            “Alhamdulillah baik.” Jawabku singkat membalas cueknya yang dulu-dulu.
            “Aku sekarang kuliah di FKIP, alhamdulillah ya sesuatu.” Katanya mengikuti gaya Syahrini.
            “Kemarin nanggis-nanggis nggak masuk FK. Kok sekarang malah senang?” sindiru sedikit mengingatkan saat itu.
            “Iyah, kita kan harus bersyukur mungkin ini yang terbaik. Yang jelas, aku masih bisa beraktifitas dan berbakti seperti biasa. Nggak musti masuk FK kan?” ceramahnya balik sebagaimana aku menyeramahinya kemarin.
            Harus kita akui, semua hal yang terjadi di dunia ini tidak kebetulan. Ada rencana baik dari sang pembuat takdir hidup kita agar kita dapat menikmati apa yang kita terima sekarang.
            Wardah memiliki keinginan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran. Memang dia sangat ngotot ingin jadi dokter, tetapi sayangnya dia belum bisa melewati passing grade yang dipatok oleh FK UNS hingga akhirnya. Walaupun dia nggak masuk ke FK, minimal dia bisa masuk ke FK-IP UNS. Huhu.
Jadi ingat dengan pesan Tuhan agar kita selalu bersyukur atas apa yang telah Dia berikan, karena jika kita bersyukur pasti nikmat itu akan bertambah. Tapi jika kita mengingkari nikmat-Nya, maka tunggulah azab yang sangat pedih dari Tuhan.
Sekarang aku ingin Stalkingin facebooknya, ternyata dia tak berubah. Tetap aktif seperti yang dulu. Semuanya dia ikuti dari BEM, UKMI, FLP, KAMMI, taekwondo (kalo tulisannya bener ya) dll mungkin kalo ada grup yang hobby kooprol dia juga bakal ikut memeriahkan.
Tapi, menurutku tak baik jika kita mengikuti semua organisasi yang ada dikampus. Cukup ikuti satu dan tekuni yang satu itu setekun-tekunnya. Kalo ikut UKMI ya tekun banget harus jadi ustadz/ah, kalo ikut riset ya harus bisa jadi orang-orang riset yang suka pegang tikus, kalo mau jadi BEM ya ikutilah BEMnya dengan sangat baik. Pokoknya jangan tanggung-tanggung deh jadi orang.
Tiba-tiba dia kembali bersuara memecah lamunan
“Gus, nyesel juga dari dulu nggak mendalami FKIP ya. Pantes dari dulu kamu punya cita-cita masuk FKIP.” Ucapnya menyenangkan diri sendiri. Walaupun aku tahu sebenarnya dia berduka karena tidak masuk FK. Iya, lama-lama mungkin dia bisa jadi gila dan membuatku sedikit takut.
Aku hanya meng-iya-kan saja, tak terlalu merespon kata-katanya yang udah agak ngelantur.
Secara, anda nggak akan mencintai sesuatu jika anda nggak pernah masuk kesana. Anda akan mencintainya perlahan-lahan, satu demi satu dan semakin dalam semakin hari.
Bukan dengan ringannya atau anda sukai pekerjaan itu anda bisa jadi cinta, tapi dengan cintalah anda bisa menyukai dan membuat sesuatu pekerjaan menajdi ringan. Tak perlu takut kalo kenyataan tak sesuai ekspektasi, tapi tak ada salahnya untuk berusaha dan bermimpi toh?
            Dan bagaimana dengan aku sekarang?
            Oke sekarang aku fix jadi mahasiswa FK. Sedikit mengerikan dan sangat jauh dari keinginan yang aku inginkan. Aku dari dulu memang punya cita-cita jadi guru, Cuma karena beberapa hal dan lain-lain aku banting stir masuk ke FK.
            Sekolah yang katanya berisi orang-orang pintar, serisi orang-orang jenis, ambisius dan harus sering baca. Tapi ini sungguh membuatku bingung, karena sungguh aku tak pernah merasa sekolah di FK.

            Hingga sampai hari ini aku bingung, kenapa aku bisa masuk kelas Anatomi, kelas Fisiologi, kelas Farmakologi dan lain-lain. Yang jelas ntah kenapa kepalaku seperti terkena sindrom neurologi, aku disorientasi dengan stastusku sebagai mahasiswa FK. Tapi aku tetap bersyukur akan hal itu.

Friday, 2 June 2023

BICARA TENTANG BELA DIRI

Cerita kali ini akan membahas mengenai bela diri...





Sejak SD, aku selalu mengikuti kegiatan Bela Diri, misalnya ketika kelas lima SD aku ikut Karate, sampai sabuk hijau. Kemudian SMP ikut Taek Won Do.

Sampai akhirnya SMA aku mendalami Pencak Silat, Setia Hati Terate. 

Setia Hati Terate merupakan salah satu perguruan pencak silat inti yang ada di Indonesia, bahkan menjadi salah satu ajaran yang tertua. 

Persaudaraan Setia Hati Terate sendiri dipelopori oleh Eyang Suro yang mempelajari ilmu bela diri kearifan lokal yang ada di seluruh Indonesia. Adapun campuran aliran bela diri yang masuk ke dalam Jurus-jurus serta gerakan silat, seperti Minangkabau, Cimande, Cilegon, Bali, dan lain sebagainya. 

Kenapa sih aku bisa ikut pencak silat?

Keikutsertaan aku dalam kegiatan pencak silat dimulai ketika salah satu guru SMA-ku yang merupakan pendiri dan pelatihan PSHT di Kabupatenku mengajakku untuk ikut.

Caranya mengajak ikut dengan cara membujuk ayahku untuk mendukung dan mendorong aku terus latihan. Jadi, kalau aku nggak latihan... Orangtua akan nanya, "Lho, kok ga ikut latihan hari ini?". Karena nggak enak, akhirnya aku ikut latihan rutin hingga akhirnya jadi rajin.

Awal-awal kita belajar pencak silat PSHT ini, kita akan mempelajari jurus-jurus yang mematikan. Jurus berbahaya yang menyerang daerah vital manusia, seperti leher, ulu hati, dan sebagainya. 

Memang sangat menarik sih, karena gerakan PSHT ini gerakan bebas, mirip-miriplah dengan bela diri asli Thailand dan tarung drajat. 

Selain mempelajari ilmu pencak silat, kita juga belajar mengenai filosofi filosofi dasar yang harus dihayati oleh orang yang bergabung menjadi siswa di PSHT.

Misalnya: 

Sugih tanpa bandha, 
Digdaya tanpa aji, 
Nglurug tanpa bala, dan 
Menang tanpa ngasorake”

Hal ini menjadi koridor dalam pola relasi dan penyelesaian konflik antarpribadi atau kelompok, dimana kita boleh (tidak harus) menang asal tidak dengan menjadikan pihak lain merasa direndahkan. Kemenangan yang didapatkan dengan cara merendahkan lawan hakikatnya tidak akan berarti....


Saat kita sudah masuk ke dalam sabuk hijau, dimana kita menjadi siswa yang memepelajari jurus PSHT lebih lanjut. Filosofi PSHT ini semakin kuat ditanamkan, dimana kita harus mengalih, menangkis baru melawan. PSHT mengajarkan kita untuk menyingkir ketika mengalami gangguan dari lawan, kemudian apabila masih diganggu sebaiknya kita hanya menangkis. Hal ini menunjukkan bahwa PSHT sangat-sangat menjunjung perdamaian.

Semakin lama, jurus-jurus yang dipelajari juga adalah jurus yang sifatnya untuk menghindar dan menghalau pukulan dari lawan. Dulu, saat SD SMP aku adalah orang yang sangat suka berantem. Setiap minggu pasti aja ada tingkah buat berkelahi sama kawan. 

Tapi, setelah SMA aku lebih dapat menahan diri. Hal ini dikarenakan banyak folosofi hidup yang aku dapatkan dan pelajari di PSHT. 

Banyak sih aturan-aturan yang saya dapatkan di PSHT, misalnya kita tidak boleh melakukan atraksi pukul balok / batu bata sampai patah. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut merupakan bentuk dari kesombongan.

Sampai akhirnya kita disahkan / diwisuda dari siswa menjadi warga / pendekar PSHT lebih dituntut untuk memiliki kebijaksanaan. Hal ini dikarenakan manusia dengan bela diri tanpa kebijaksanaan, maka akan tidak lebih baik daripada hewan. 

Wednesday, 31 May 2023

BICARA TENTANG PERTEMUAN PERTAMA

 Menyusuri pusat kota sepanjang sisi trotoar, dibawah rindang pohon angsana. Malam itu aku berjalan sendiri mencari ketenangan, bias lampu yang sedikit mengusikku tak dapat lagi terusir. Walaupun mereka mengusikku, bukankah orang banyak membutuhkannya juga sebagai pelita dikala gelap.

            Dua jembatan penyebrangan yang aku lalui, selalu saja pemandangan yang sama, seperti lukisan simetris yang dipajang di sisi jalan. Sehingga kiri kanan yang kita lihat hanyalah orang-orang yang meminta-minta. Hei, bukankah agama kita memang menganjurkan untuk bersedekah! Bukankah agama kita menganjurkan untuk saling memberi. Tetapi, kebaikan agama dan penganutnya itu sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari makan, ups bukan! Maksudnya orang-orang yang mencari uang. Sah-sah saja memberi untuk membuatnya bertahan hidup, tetapi tidak untuk sampai membuat kontrakan dan bahkan sampe membeli mobil dan handphone yang memang itu dapat menandakan bahwa mereka adalah orang yang tak patut kita kasihani.
Di Kota ini, anak-anak dikamuflase untuk meminta-minta. Ntah siapa yang menuruhnya, tetapi memang sepertinya sangatlah kejam menyuruh anak dibawah umur untuk bekerja yang mungkin dapat merusak mental mereka, sehingga nantinya mungkin mereka akan meneruskan ‘usaha’ keluarganya tersebut.
Waktu kami, iya aku dan Wardah tingkat satu masih dekat kami sering berdiskui masalah peminta-minta atau bahasa gaholnya gepeng (gembel dan pengemis), wah sungguh bahasa yang kasar ya untuk menyebutkan sebuah ‘profesi’ untuk manusia. Ntah siapa yang pertama kali menjadi pengemis di kota ini, mungkin dialah yang membuat arus ‘urbanisasi yang negatif’ meningkat.
“Bukankah tidak baik berpanas-panasan membawa anak-anak. Apalagi anak itu masih bayi atau balita. Bukankah begitu Gus?” tanya Wardah yang sering melihat anak-anak yang digendong oleh seorang ibu yang meminta-minta dijalanan.
“Ya, kurasa juga tidak boleh. Seperti mendzolimi anak sendiri ya? Atau itu memang bukan anak mereka. Mana ada ibu yang tega mendzolimi anaknya sendiri.” Ucapku dengan tegasnya.
Memang banyak orang yang heran, kenapa anak yang dibawa oleh pengemis itu selalu diam. Bukankah anak-anak usia seperti itu sedang rewel-rewelnya dan sangat sensitif dengan sauasana yang tidak normal seperti panas, hujan, asap, debu dan lain-lain. Bahkan, ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa anak-anak yang dibawa oleh pengemis itu telah dikasih obat penenang sejenis narkotik maupun obat pelemas, tetapi benar tidaknya itu Wallahu a’lam bisawab. Hanya Allah yang tahu, tetapi apapun alasannya itu tetap perbuatan yang tidak terpuji.
Aku duduk sendiri dibawah rembulan yang tidak dapat menemaniku, mencoba menenagkan diri sendiri meresapi apa yang telah terjadi. Berusaha melupakan semuanya sehingga yang tinggal hanyalah kenangan positif yang baik untuk dikenang. Semakin mencoba melupakan masalah dengannya, semakin aku menjadi terpikirkan olehnya.
Sesekali aku melihat handphoneku, mungkin saja ada dia yang sedang mengirimkan pesan singkat atau sekedar untuk misscall. Tetapi, aku percaya bajwa dia tidak bisa marah lebih dari tiga hari. Tunggu saja saatnya dia mengirimkan pesan singkat untuk beberapa hari kedepan, tapi bagaimana kalo tidak ada dan dia benar-benar masih marah kepadaku? Bahkan bagaimana kalo dia malah ingin melupakan dan menjauhiku. Yang aku takutkan dia malah pergi dan berpaling dengan orang lain. Memang sangat mengerikan jika kita dianggap oleh seorang wanita telah mempehapekan dia, dia akan menjadi galak segalak-galaknya. Jadi jangan suka jadi PHP, huhu. Coba kalo kita yang di PHP-in, gimana? Pasti kezel kezel juga kan.
Kini seorang pengemis kecil mendatangiku, meminta belas kasihan yang katanya untuk makan. Aku bingung, apakah memang dia tidak makan atau apakah dia memang menyetorkan uangnya ke bosss yang kayak tukang kumpul uang gitulah. Setelah memberikan uang berapa ribu, aku mengikutinya dari belakang. Selayaknya detektif Canon, aku berjalan mengikutinya agar tidak diketahui dan bahkan dia tidak menyadari keberadaanku.
Hingga akhirnya aku sampai disebuah tempat pembuangan akhir di kota itu. Aku menarik tangan anak itu sambil membalikkan badannya kearahku.
“Hey nak! Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku sedikit ngeri ditengah gelap tumpukkan sampah yang ada di kota ini.
Dia hanya diam tidak menjawab. Tetapi beberapa saat kemudian ada seorang ibu-ibu yang datang dan malah bertanya kepadaku, “Ada apa mas?”
“Nggak ada bu, ini adek ini sekolah dimana ya bu?” tanyaku dengan ringan dan penuh senyuman.
Trus si anak menjawab dengan menyebutkan nama salah satu sekolah dasar yang ada di Kota ini. Kemudian dia kembali diam tanpa senyuman.
Kemudian sang ibu menepuk kepala anak itu, sang anak langsung menoleh sambil tertawa. Kemudian sang ibu menimpali jawaban sang anak, “Jangan bohong! Mas ini dari Jawa, nanti di santet mau?” ucap sang ibu.
Buset deh, ane dibilang orang Jawa, trus kenapa identik banget dengan santet. Apa muka ane kayak tukang santet? Kayak boneka fodo gitu? Keterlaluan sih ibu mah. Kemudian aku yang masih heran siapa ibu yang datang tadi langsung bertanya identitas sang ibu.
“Saya tetangga dia mas, kami tinggal di gubuk sana. Anak ini nggak sekolah memang kasihan disuruh kerja sama orangtuanya. Ayah ibunya foya foya aja, anaknya disuruh ngemis. Dia nggak sekolah mas, tadi dia bohong.” Jelas sang ibu panjang lebar dengan semangat berapi-api.
Aku merasa tersentak dan terpukul mendengar penjelasan dari sang ibu. Mana mungkin, anak di negara besar yang katanya kaya Sumber Daya Alam ini malah harus kehilangan satu anak anggota generasi penerus yang seharusnya nanti dia akan bisa menjadi salah satu orang yang mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang hebat. Tetapi kenapa, bangku sekolah yang terbuat dari kayu itupun tak mampu dia cicipi? Sangat disayangkan, seharusnya dia bermain dengan anak-anak sebaya dia, belajar membaca dan berhutang (berhitung maksudnya), lari kesana lari kesini, diomeli guru, tidur dikelas dan masih banyak aktifitas anak sekolahan lain yang bisa dia nikmati untuk menunjang perkembangan karakternya.
Masih bisakah orangtuanya kita sebut dengan gelar orangtua? Ngenes broh, disaat kita adik kita atau siapapun kita masih bisa makan dan minum enak dan bahkan nggak habis karena kebanyakan, mereka terlunta-lunta anak tak bersalah ini terlunta-lunta tak tahu mau makan apa. Disaat adik kita malas pergi sekolah dan TPA, anak ini bekerja walaupun dihatinya ingin sekali belajar seperti anak-anak seusianya.
“Adik ingin sekolah?” tanyaku kepada sang adik yang baru ini aku ketahui namanya Dina.
“.......” dia hanya diam sambil mengganggukan kepalanya seperti ingin, tetapi masih takut-takut.
Beberapa bulan kemudian, aku mengajak teman-temanku untuk rutin datang kesini. Mengumpulkan semua anak-anak yang berminat belajar masalah kesehatan, baca, tulis, hitung, dan semua pelajarans serta tertawa bersama agar mereka melupakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang dalam kesulitan.

Laporan kami di Dinas Sosial ternyata ditanggapi dengan baik hingga akhirnya Dina dan kawan-kawannya dimasukkan kedalam panti rehabilitasi anak dan akhirnya dapat sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Sekolah bukan hanya mengajarkan baca tulis, tetapi bagaimana cara menggali potensi diri. Karena aku percaya bahwa, “Kemalangan terbesar dalam hidup bukanlah mati muda, tetapi tidak dapat menggali potensi diri dan memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik”..

Tuesday, 30 May 2023

Cerita Tentang Hari Lanjut Usia

 Malem ini gelap banget, kami lagi persiapan buat kegiatan Geriatri Ceria yang memang rutin kita buat tiap tahun. Selain kegiatan tahunan, kita juga rutin ke panti jompo buat ketemu oma dan opa kita setiap tiga bulan sekali. Jadi nama kegiatannya Ceria Geriatri, cukup aneh bukan? Oh iya, kenapa harus ceria? Kenapa harus buat geriatri ceria? Jawabannya ada dibawah ini.

Cerita kali ini bercerita tengan kisah kami yang selalu merayakan hari geriatri yang jatuh pada tanggal 29 Mei. Udah pada tau nggak semua?

            Geriatri yang biasa disebut dengan lansia (kalo bahasa gaulnya) adalah sebutan untuk orang-orang yang telah menginjak usia emas. Nah, bukankah kita semua akan mengalami hal yang sama? Kita semua akan menginjak usia emas lho? Kecuali yang udah keburu meninggal.

            Jadi, perjalanan kami di panti jompo memang menyenangkan. Kita mengaji bersama mereka, kita berdo’a agar beliau-beliau sehat sentausa disana, bermain dengan orang tua, kita memeriksa kondisi kesehatan mereka, lalu kita makan bareng. Bukankah itu sangat menyenangkan?

            Kita berbagi keceriaan kepada mereka. Apakah anda tau dengan tigabelas sindrom orangtua? Ada yang namanya inkontinensia, jadi inkontinensia adalah penyakit dimana orangtua nggak bisa mengontrol pipisnya. Ada juga yang disebut dengan Demensia, dimana orang tua mengalami penurunan fungsi otak. Tapi diantara semua penyakit yang mengenai orangtua, hal yang paling memilukan adalah “Dikucilkan” oleh anak-anaknya dari keluarganya.

            Tunggu dulu sebentar, dikucilkan?

            Coba ente-ente semua survey nenek-kakek di panti jompo. Kira-kira ada nggak yang minta ke anaknya buat dititipin ke panti jompo?

            Contohnya gini, neneknya bilang “Nak, masukin ibu ke panti jompo dong. Siapa tau ibu bisa party-party sama kawan-kawan seumuran ibu.” Bayangkan aje, kira-kira ada nggak yang kayak gitu? Kalo ada yang kayak gitu, sebaiknya nama panti jompo kita ganti jadi party jompo.

            Rata-rata, orangtua yang di”letakkan” di panti jompo adalah orang tua yang kesepian. Karena mereka ditelantarkan begitu saja oleh keluarganya. Banyak alasan anak menaruh orangtua yang telah mengurusi mereka dari dalam kandungan sampe besar dan kerja-eh tiba-tiba masukin ibunya kepanti jompo.

            Terlalu banyak alasan, dan tidak ada alasan yang legal menurut saya untuk meletakkan orangtua kita di panti jompo. Kecuali apabila memang keluarganya sudah tiada semua. Tapi, saya rasa kurang logis deh.

            Jadi, saya ada bertemu dengan oma yang ditinggal oleh anaknya karena anaknya nggak tahan lagi ngurusin oma. Oma kena penyakit stroke, tau stroke? Bukan yang buat belanjaan ya. Tapi penyakit kelumpuhan yang menderita seseorang karena pecahnya pembuluh darah otak. Jadi, oma nggak bisa BAB dan BAK sendiri sehingga Oma membutuhkan bantuan anak-anaknya untuk bukain celana oma, lalu liatin oma BAB dan BAK, dan cebokin (maaf) oma habis buang air. Memang sih, terlalu extreem. ..

            Tapi bukankah dulunya orangtua kita juga melakukan hal yang sama dengan kita? Orangtua kita membuka celana kita, menggendong kita ke WC, membersihkan kotoran kita dan bahkan menceboki kita waktu kita masih bayi. Betul nggak?

            Jadi ada sedikit kisah di Jepang yang memiliki kebiasaan membuang orang-orang yang diangga tak berguna lagi seperti orangtua. Jadi ada cucu, ayah dan kakek. Sang cucu sangat dekat dengan sang kakek sampai-sampai mengalahi dekatnya dengan ayahnya.

            Tapi suatu hari sang ayah memasukkan sang kakek kedalam keranjang untuk dibuang di hutan. Sang anak sontak bertanya, “Ayah, kakek mau dibawa kemana?”

            Sang ayah menjawab dengan santainya, “Mau kita buang ke hutan.”

            Anaknya menanggis sambil berkata, “Baiklah ayah, nanti kalo pulang bawa balik kerangnya kesini ya. Jangan dibuang sama kakek.”

            Sang ayah yang bingung balik bertanya, “Buat apa kamu?”

            “Buat buang ayah kalo udah tua nanti.” Jawab sang anak polos dan lugunya.

            Jadi, inti dari cerita diatas bukankah kita nanti akan punya keturunan juga? Bukankah kita ingin diperlakukan dengan baik oleh keturunan kita nanti? Siapa sih yang senang diperlakukan tidak menyenangkan? Nggak ada yang mau juga.

            Maka dari itu, marilah kita perlakukan orang lain dengan cara sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Tapi kenapa banyak orang yang tidak memperlakukan orangtua nya dengan baik setelah dewasa? Bahkan setelah punya anak dan istri?

            Kita juga pernah ketemu dengan Opa yang mantan Brimob. Hartanya banyak buangetttt. Beliau berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang sukses dan bekerja dalam posisi yang sangat bonafit seperti jadi dosen, insinyur dan bahkan ada yang jadi kepala dinas.

            Trus, kalo uang Opa banyak kira-kira uangnya sekarang kemana?

            Dalam penelusuran kami ke Opa. Anak-anak Opa berebut harta Opa, hingga akhirnya Opa yang jadi strees dan mengalami hipertensi. Hartanya Opa habis diambil oleh semua anak-anaknya, tetapi apa balasan dari anaknya? Opa dimasukin ke panti jompo, katanya biar nggak banyak bicara lho! Katanya gara-gara Opa banyak tanya. Whattt? Hanya gara-gara banyak tanya? Bukannya kita harus maklum namanya juga orangtua, pasti fungsi otaknya sudah mulai menurun. Jadi wajar-wajar banget kalo Opa banyak tanya sama anak-anaknya.

            Nyadar nggak kita waktu masih balita juga banyak tanya?

            Jadi ada cerita tentang ayah, anak dan burung gagak. Jadi disuatu tempat ada anak yang berusia duapuluh lima tahun duduk bersama ayahnya yang berusia enampuluh tahun. Disaat mereka duduk didepan rumah, ayahnya melihat burung yang hinggap dipohon mangga depan rumah.

            Sang ayah bertanya, “Nak, apakah itu?”

            “Itu gagak ayah.” Jawab anaknya dengan nada datar.

            Tak lama kemudian sang ayah bertanya kembali, “Itu apa nak?”

            Kemudian dengan nada yang mulai jengkel sang anak menjawab, “Itu gagak ayah, coba lihat ayah! Itu gagak.” Jawab anaknya.

            Hingga akhirnya ayahnya mengulang pertanyaan itu lagi, lagi dan lagi. Hingga akhirnya ayahnya mengulang pertanyaan itu untuk yang kelima kalinya, “Nak, itu apa?”

            Anaknya langsung membentak ayahnya, “Ayah! Bisakah ayah diam sejenak. Itu gagak, sudah lima kali saya jawab itu gagak ayah.”

            Sontak, tersakitilah hati sang ayah. Sang ayah menanggis sambil masuk kerumah.

            Sang anak yang bingung langsung jadi salah tingkah. Tambah heran lagi ketika melihat ayahnya keluar membawa album usang yang berisi foto-fotonya saat balita. Kemudian sang ayah sambil menanggis bilang, “Dulu usiamu lima tahun, kau bertanya kepadaku ‘ayah itu apa?’, aku hanya bisa menjawab ‘itu gagak anakku’.” Ucap sang ayah dengan diperhatikan oleh sang anak.

            Ayah melanjutkan ceritanya sambil menanggis, “Kau bertanya hal yang sama sebanyak duapuluh kali. Aku tetap menjawab dengan lemah lembut, tapi kenapa saat aku bertanya hanya lima kali kau sudah marah-marah anakku?” tanya sang ayah.

            Memang sangat miris ketika melihat nasib orangtua di hari orangtua. Ditempat dan didunia yang dulunya mereka membesarkan anak-anak mereka, yang ternyata anaknya-lah yang membuang mereka. Sungguh menyedihkan. Apalagi sanitasi dan kondisi makanan yang kurang baik di panti jompo. Orangtua rentan terkena pneumonia, bahkan terkena penyakit menular lainnya dan juga resiko gizi kurang.

            Jadi kita musti ngapain?

            Marilah kita sadarkan orang-orang disekitar kita tentang arti orangtua dalam hidup kita, marilah kita sadarkan bahwa merawat orangtua yang dulunya juga merawat kita adalah amal baik yang sangat besar walaupun tak dapat sebanding dengan budi baik orangtua kita.

            Perjuangan ibu yang melahirkan kita dengan bertaruh nyawanya, melawan maut dengan harapan yang satu! Anakku lahir dengan selamat.

            Ayahku yang panas-panasan mencari nafkah, untuk memberikan kehidupan yang layak untuk kita. Marilah kita sayangi orangtua kita kini, nanti dan kelak hingga akhirnya mereka berkata “Kami menunggumu di Surga-Nya anak-anakku.” Aamiin YRA


            Panti jompo memang sedikit mengenaskan, tidak seperti party jomblo.

Monday, 29 May 2023

Mengenal Epilepsi


 Epilepsi, tentunya kita tidak asing dengan kata epilepsi. Hal ini disebabkan oleh karena epilepsi sudah menjadi salah satu masalah kesehatan yang menonjol di masyarakat karena permasalahan tidak hanya dari segi medik tetapi juga sosial dan ekonomi yang menimpa penyintas maupun keluarganya. Pasien epilepsi sering mendapatkan stigma dari masyarakat. Mereka cenderung untuk menjauhi penyintas epilepsi. Bagi orang awam, epilepsi dianggap sebagai penyakit menular (melalui buih yang keluar dari mulut), penyakit keturunan, menakutkan dan memalukan, meskipun anggapan tersebut tidak benar.

Kejang satu kali tidak dapat langsung dikatakan sebagai epilepsi (sekitar 10% penduduk dunia pernah mengalami satu kali kejang selama hidupnya). Epilepsi didefinisikan sebagai dua atau lebih kejang yang tidak terprovokasi. Epilepsi adalah salah satu kondisi tertua didunia, tercatat sejak 4000 tahun sebelum masehi. Ketakutan, ketidakpahaman, diskriminasi, dan stigma sosial mengelilingi epilepsi sejak berabad-abad lalu. Stigma ini terus berlanjut diberbagai negara sampai saat ini dan berdampak pada kualitas hidup penyandang dan keluarga.

Kejang merupakan salah satu kondisi yang berupa perubahan perilaku akibat episode aktivitas listrik yang abnormal di otak. Kejang merupakan gerakan tubuh yang terjadi secara mendadak dan tidak terkontrol. Kondisi ini merupakan gerakan tidak disadari atau involunter dari saraf otak. Selama kejang seseorang mengalami goncangan cepat tak terkendali dan berirama, dengan diikuti oleh kontraksi dan relaksasi otot yang terjadi berulang kali.

Epilepsi dapat terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun wanita tanpa memandang umur dan ras. Jumlah penyintas epilepsi meliputi 1-2% populasi dunia dan secara umum diperoleh gambaran bahwa insidens epilepsi menunjukkan pola bimodal, dimana puncak insiden epilepsi berada pada golongan anak dan lanjut usia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab epilepsi adalah trauma kepala, tumor otak, radang otak, riwayat kehamilan jelek dan kejang demam. Sekitar 0,5-12% kejang demam berulang merupakan faktor predisposisi terjadinya epilepsi di kemudian hari.

Epilepsi merupakan gangguan kronis yang ditandai dengan bangkitan kejang berulang akibat gangguan fungsi otak. Epilepsi sesungguhnya bukanlah suatu penyakit, tetapi sekumpulan gejala yang disebabkan oleh gangguan susunan saraf pusat (otak) yang dicirikan oleh terjadinya serangan kejang yang terjadi tiba-tiba dan berkala, bahkan dalam beberapa kasus ada orang yang mengalami epilepsi dengan bentuk “bengong” atau melamun dalam beberapa detik dan kemudian akan kembali sadar, yang disebut sebagai absans atau petit mall.

Epilepsi dapat menyebabkan kondisi yang sangat fatal, salah satunya adalah status epilepticus (SE) yang merupakan kondisi yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme yang bertanggung jawab dalam menghentikan kejang atau dari inisiasi mekanisme yang menyebabkan kejang berkepanjangan. Kondisi ini dapat memberikan dampak jangka panjang (terutama jika durasinya >30 menit) seperti kematian, cedera, dan perubahan jaringan otak yang tergantung pada jenis dan durasi kejang.

Seseorang dapat dikatakan epilepsi apabila telah melakukan pemeriksaan ke ahli neurologi (dokter spesialis syaraf). Penegakkan diagnosis epilepsi dapat ditentukan melalui pemeriksaan EEG atau elektro-ensefalo-grafi. Pemeriksaan EEG sendiri ditanggung oleh BPJS apabila diindikasikan oleh dokter ahli neurologi. Setelah didiagnosis epilepsi, dokter akan memberikan obat yang harus dikonsumsi secara rutin oleh pasien.

Obat-obatan antiepilepsi pada dasarnya tidak diberikan untuk tujuan menyembuhkan epilepsinya sendiri. Obat-obatan ini diberikan untuk mengontrol dan mencegah kejang terjadi. Epilepsi dapat berkurang atau menghilang dengan sendirinya setelah beberapa tahun menjalani pengobatan.

Pengobatan untuk epilepsi sendiri juga bermacam-macam, biasanya akan diawali dengan pemberian obat-obatan antiepilepsi terlebih dahulu, dan dilihat kembali respon pengobatannya. Bila tidak berespon baik terhadap obat-obatan, maka dapat dipertimbangkan metode terapi lainnya misalnya dengan stimulasi nervus vagus ataupun operasi otak. Pada beberapa orang, diet tertentu juga dapat membantu mengurangi frekuensi kejang pada penyintas epilepsi.

Pasien harus menjalani terapi sesuai dengan rekomendasi dari dokter. Silahkan tanyakan kemungkinan dilakukannya diet tertentu untuk membantu mengurangi frekuensi kejang (meskipun seorang pasien epilepsi dapat menjalani diet ini, tetapi tetap harus meminum obat antiepilepsi secara rutin sesuai rekomendasi dokter anda).

Penyintas yang mengalami epilepsi ringan tetap harus mengkonsumsi obat antiepilepsi secara rutin, meskipun tidak memiliki gejala yang berarti. Namun perlu kita ketahui bahwa kejang berkepanjangan bisa meningkatkan risiko terjaidnya kerusakan otak permanen dan risiko kematian mendadak pada penyintas epilepsi. Kejang yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan pada penyintas epilepsi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan dan cedera tubuh.

Tidak sedikit penyintas epilepsi yang merasa terganggu dengan penyakitnya tersebut, karena gejala kejang bisa kambuh sewaktu-waktu dan tanpa penyebab. Namun, beberapa pengidap menyadari bahwa kejang terjadi dalam suatu pola, atau lebih mungkin terjadi dalam situasi tertentu. Kadang-kadang hal itu hanya kebetulan, tapi di lain waktu tidak. Nah, mengetahui faktor yang bisa memicu kejang bisa membantu mengantisipasi gejala tersebut. Kamu juga bisa mencari cara untuk mencegah atau mengurangi epilepsi kambuh di kemudian hari.

Pada beberapa pengidap epilepsi, kejang cenderung disebabkan oleh situasi tertentu. Namun, faktor pemicu pada tiap pengidap juga berbeda-beda. Mengamati faktor-faktor yang terjadi sebelum kejang bisa membantu kamu untuk mengetahui apa yang menjadi faktor pemicu epilepsi kamu kambuh.

Berikut ini faktor umum yang bisa menyebabkan epilepsi kambuh, yaitu: waktu-waktu tertentu saat pagi atau malam hari; kurang tidur, seperti kelelahan atau tidak bisa tidur dengan baik; ketika sedang sakit atau mengalami demam; lampu yang sangat terang atau lampu berkedip; penggunaan alkohol, obat-obatan, atau narkoba; melewatkan jadwal makan, sehingga kadar gula darah rendah; makanan tertentu atau kafein berlebih juga bisa memperparah kejang; stres; terkait dengan menstruasi (pada wanita) atau perubahan hormon lainnya; dan, melewatkan jadwal makan obat.

Sebagian besar aktivitas rumah dapat berisiko bagi penyintas epilepsi. Sejumlah penyintas dapat meninggal akibat tenggelam di bak mandi, sehingga bak mandi harus dangkal, pintu kamar mandi harus tetap tidak terkunci, dan seseorang di rumah harus diberi tahu jika penyintas akan mandi. Beberapa penyintas juga berisiko saat memasak mengalami luka bakar, sehingga harus benar-benar diawasi.

 Memasak dengan wajan minyak panas atau air panas harus dihindari. Penjaga untuk api terbuka, radiator, dan alat masak disarankan. Seseorang dengan epilepsi berat mungkin memiliki kekhawatiran tentang apakah orang tersebut harus tinggal sendiri, apakah akomodasi yang sesuai (tangga.), dan apakah anak-anak yang memerlukan bantuan pada posisi rentan jika kejang terjadi.

Sebagian besar pekerjaan dapat dilakukan oleh penyintas epilepsi aktif. Epilepsi termasuk dalam Disability Discrimination Act (2005) di Inggris yang mengatur diskriminasi terhadap orang dengan epilepsi saat melamar pekerjaan apa pun. Penyintas epilepsi pada umumnya harus menjauhi pekerjaan atau aktifitas yang berhubungan dengan mengemudikan kendaraan baik untuk pribadi maupun umum, bekerja di ketinggian atau dengan mesin.

Kebanyakan anak yang mengalami epilepsi dapat bersekolah di sekolah biasa dan hanya sebagian kecil yang memiliki kesulitan belajar tambahan. Hanya pasien epilepsi berat yang memerlukan pendidikan khusus. Banyak diantara penyintas epilepsi kurang berprestasi di sekolah. Sebagian besar penyebab kondisi tersebut bersifat biologis dan sebagiannya lagi bersifat sosial.

Hal ini disebabkan oleh karena epilepsi itu sendiri mungkin menjadi penyebab utama akibat rasa kantuk atau gangguan kognitif, atau dalam kasus tidak adanya kejang, tetapi secara terus-menerus mengganggu kesadaran penyintas. Guru kelas harus diberitahu agar waspada terhadap kemungkinan kekambuhan dan pem-bully-an serta mengambil tindakan untuk mengatasinya. Pendidik juga dapat membuat semacam kurikulum mengenai penanganan kejang pada anak-anak di kelas yang belajar bersama penyintas epilepsi.


Sunday, 28 May 2023

SENYUM INDAH ITU

 Tak terasa waktu sudah berlalu, tahun sudah digantikan oleh tahun tahun setelahnya. Tak sedikit cerita suka, duka dan masalah-masalah yang datang menerpa, membutuhkan solusi yang harus diambil dengan cepat. Kebahagiaan yang tak ingin terlewati membuat kita ingin mengingat hal itu bahkan mengulanginya sekali lagi.

            Iseng-iseng membuka halaman media sosial milikku, tetiba aku melihat foto seseorang yang menggunakan toga, tidak ber-make up, dengan senyum khasnya, membuatku tersenyum lebar. Toga hitam dengan selendang “Dengan Pujian” yang dikenakan di pundaknya itu membuatku terpana. Bagaimana mungkin perempuan kecil disudut dinding dulu bisa menjadi seorang yang sangat hebat sekarang.
            Aku melihat keatas, langit yang tinggi dan biru. Bagaimana caranya aku bisa menjulang mimpiku sepertinya. Langit-langit yang tinggi, memberikan tempat untuk mimpi kita yang harus dijangkau, mimpi yang tinggi dan mungkin berisiko untuk jatuh dengan kondisi terbanting pula. Tidak hanya satu mimpi, bahkan puluhan mimpi yang tersentak dalam satu waktu. Tapi, tetaplah bermimpi setinggi-tingginya, walau kita tahu bahwa langit tak ada pegangan.
            Media canggih yang dapat mengirimkan beribu-ribu gambar dalam waktu beberapa menit, dapat menghubungkan dua orang untuk saling bercakapan dalam waktu yang sangat cepat, mengirimkan pesan secara sekejap dan memberikan informasi yang diperlukan bahkan yang tidak diperlukan memang membantu kita untuk sedikit menjadi ‘kepo’ dengan kehidupan orang lain, tanpa terkecuali.
            Seperti yang aku lihat, seorang wanita berpakaian toga dengan senyum riangnya membuatku terpana. Memberikan secercah rasa tenang kepada dunia, bahwa ada seorang sarjana yang masih muda siap membangun Indonesia.
            Hari itu, aula UNS dipenuhi oleh kerumunan orang yang sedang menyaksikan sebuah suka cita, anaknya wisuda menjadi seorang sarjana yang akan menjadi seorang yang dapat membuat perubahan yang besar.
            Tiba-tiba handphone milik Wardah berdering, memecah suka cita kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul disana. Dia langsung mematikan handpohonenya dan memasukkannya kedalam tas gandengnya.
            “Ah... dimatikan olehnya.” Begitu ucapku yang sedang menelponnya dari sebrang pulau itu. Ntah apa yang dipikirkan oleh perempuan yang ada di sebrang sana, dengan entengnya dia mematikan telpon dariku.
            Mungkin dia ada kesibukan lain, sisi lain dari perempuan berusia duapuluh tahun yang terlihat cengeng tetapi sebenarnya tegar. Tak ada perempuan setegar dia yang mempu melawan laki-laki nyeleneh seperti diriku.
            Perempuan terkadang serba salah. Disaat dia berani menghadapi kenyataan dibilang sok tegar, disaat cengeng dibilang baperan. Tapi semua itu nggak penting, jadilah diri sendiri dan tak perlu mendengarkan orang-orang. Terkadang mereka hanya iri karena tidak bisa menjadi seperti dirimu.
            Perempuan Cumloude itu berdiri dengan seorang laki-laki yang ada di sampingnya. Ntah kenapa mereka berfoto berdua, dengan senyum Wardah yang indah itu. Aku yang melihat foto itu dari jauh, dari jejaring sosial yang aku milikipun langsung bertanya-tanya tentang siapa dia. Memang tak pernah ku lihat Wardah berfoto dengan siapapun, bahkan denganku.
            Berpositif thinking ria ajalah, jangan terlalu dibawa perasaan sampai harus mewek dan bunuh diri segala. Cukup tersenyum, dan bila ternyata dia bahagia dengan dirinya apa yang bisa aku perbuat kecuali menerima kenyataan bahwa aku harus menunggu datang sebuah keajaiban.
            Eh... tunggu dulu, kenapa orangtuanya juga ikut berfoto dengan Wardah dan laki-laki itu. Apakah mereka telah direstui? Apakah mereka sudah memiliki ikatan untuk menjalani hubungan yang lebih serius nanti. Iya, aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku kaget dan tersentak, serasa darahku tak lagi mengalir ditubuhku. Serasa aku tak mampu berkata apa-apa, aku hanya melongo dan terdiam melihat semua yang terpampang di LCD laptopku.
            Aku langsung mematikan laptopku, menerima kenyataan bahwasanya aku harus bersedih hari ini. Mendatangi teman-temanku untuk sedikit bercerita sesuatu yang sangat intim, sesuatu yang mampu membuatku bersedih. Aku berusaha agar dapat menerima semuanya dengan indah dan tenang. Tapi, untungnya aku mendapatkan teman yang mengerti akan arti sebuah kesedihan, karena kesedihan terkadang menjadi sesuatu yang tabu untuk banyak orang.
            Hari selalu berkata seharian ini, “Perempuan mah banyak, nggak usah terlalu dibawa perasaan. Kan kalo jodoh nggak bakal kemana-mana juga.” Begitu ucapnya mencoba menenangkan aku.
            Sedangkan teman-temanku yang bisa beryanyi dan melawak mengeluarkan semua kebolehannya untuk menghiburku. Wawww, sepertinya kegalauanku membuat mereka semua menjadi susah. Tapi, itulah yang namanya teman dan mereka siap disibukkan oleh kesedihan mendalam yang sedang dialami oleh temannya.
            Tak terasa waktu sudah jam 2 malam, kami pun diusir dari cafe tempat kami nangkring untuk menghibur diriku. Bagaimana nggak diusir? Menikmati ramainya cafe dari jam delapan sampai dua malam, tetapi minumnya hanya teh dingin seharga tiga ribuan.

            Hmmm... hari ini sepertinya memang cocok dihabiskan untuk menghilangkan kesedihan dan menanggis sekencang-kencangnya. Iya, karena itulah prilaku orang yang patah hati. Tapi, dibalik itu semua aku harus tetap bahagia melihat senyum indah itu terpampang pada dirinya yang mendapatkan Cumlaude. 

Saturday, 27 May 2023

BICARA MASALAH TUJUAN

 Bertemu dengan beberapa temanku menjadi ingat ketika kami masih dipanggil dengan sebutan tiga serangkai. Beberapa tahun yang lalu, ketika kami meninjau sebuah perkampungan yang mengalami gagal panen sehingga mereka kehilangan mata pencarian, hingga akhirnya kami memiliki ide untuk mengajarkan penduduk cara membuat nata de cassava. Tidak hanya omong kosong, dan ternyata hal itu membuahkan hasil berupa penghasilan baru pasca gagal panen.

Duduk bersama mereka juga mengingatkan aku bahwasanya perjuangan kami sebagai seorang pemuda belum berakhir, belum selesai, dan harus mencari orang-orang yang dapat melakukan apa yang lebih dari yang kami lakukan. Duduk bersama mereka membuatku menjadi sedikit amnesia, amnesia akan kesedihan yang sedang ku lalui tentang srikandi masa kini yang harus direlakan untuk pergi. Maka dari itu, hari ini aku sangat ingin berbicara dengan mereka untuk menghilangkan kegundahan dan kegalauanku.
Tinggalkan cinta jika belum siap menyempatkannya untuk saat ini dan fokuslah pada masa depanmu.
            Kedua laki-laki yang sedang duduk di cafe yang ada di psat kota itu langsung berdiri disaat aku datang menemui mereka, aku bersalaman dengan mereka sambil melemparkan beberapa ejekan yang dahulu pernah kami lontarkan ketika masih sering bersama.
Kami bertiga mengumpulkan semua gadget yang kami miliki ditengah-tengah sebelum memulai pembicaraan. Memang terkadang kami sangat gelisah, sangat sedih ketika melihat beberapa orang yang berkumpul disuatu tempat tetapi mereka tidak berbicara satu sama lain, kenapa? Apakah karena gadget yang kita punya telah mematikan rasa sosial dan nafsu bersosialisasi yang harusnya ada. Tetapi berbeda dengan kami bertiga, setelah mengumpulkan gadget barulah semuanya kami mulai.
Pada hari itu, suasana pancaroba dan el nina la nino yang tidak terduga terjadi dimana-mana. Kadang kita merasakan panas yang luar biasa, kadang kita merasakan dingin yang luar biasa dan bahkan sampai diguyur oleh air hujan. Kerusakan alam yang terjadi hari ini sebenarnya sudah bisa menjadi peringatan untuk kita semua akan pentingnya menjaga alam.
            Aku dan dua orang temanku, seorang lulusan diploma ahli gizi dan seorangnya lagi adalah lulusan diploma kefarmasian. Duduk bertiga sambil memesan beberapa minuman yang sedikit nikmat ketika dimakan di hari hujan ini.            
Salah satu dari temanku bernama Sandi, dia seorang ahli gizi dan sekarang sudah PNS di salah satu Kabupaten yang ada di Sumatera Selatan, satunya lagi Widi seorang asisten apoteker di Kimia Farma. Sedangkan aku mahasiswa kedokteran yang harus menjalani pendidikan yang panjang. Bagaimana tidak? Mereka hanya berkuliah selama tiga tahun, sedangkan aku berkuliah sarjana saja harus memakan waktu 4 tahun kurang, pendidikan klinik selama 2 tahun lebih. Tapi masih agak heran juga kalo melihat persentase orang yang ingin masuk fakultas kedokteran selalu lebih tinggi daripada memasuki jurusan lain di setiap institusi pendidikan kecuali ITB, IPB dan ITS ya (mungkin karena nggak ada kampus FK-nya juga).
            “Enak ya yang udah jadi PNS sekarang, apalagi yang kerja di apotek. Pasti banyak uangnya ya. Hehe.” aku memulai guyonanku ke Sandi dan Widi sambil sedikit tertawa.
            “Tapi kalo ente udah jadi dokter, awak ini apalah.” Ucap Widi memotong ucapanku dan diikuti oleh kata-kata iya yang terlontar dari Sandi.
            Terkadang orang-orang memandang ini superior dan itu superior, memandang ini lebih dan itu lebih. Padahal sebenarnya semua itu tidak benar, semuanya sama, tidak ada yang lebih hebat karena dunia membutuhkan semuanya. Hanya saja kita yang membuat anggapan sendiri bahwa ini dan itu lebih wah, maklum anggapan yang telah lama menjadi persepsi akan menjadi anggapan yang benar.
            Itu bukan persoalan yang harus dipertanyakan, persoalan yang harus dipertanyakan sekarang adalah bagaimana mengkombinasikan beberapa tenaga kesehatan agar dapat tercapai kolaborasi yang sempurna (walaupun tidak ada yang sempurna di dunia ini). Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, memiliki kemampuan dan kemauan yang tidak dapat kita bayangkan apa yang terjadi ketika satu persatu menggabungkan kemampuannya sehingga menciptakan satu harmoni yang dapat membantu banyak orang.    
            Tiba-tiba Sandi mengeluarkan sebatang rokok dan korek api, dia menghidupkannya di depan kami berdua. Aku dan Widi yang saling melihat langsung merebut silinder beracun yang akan dihisap oleh Sandi.
            “Kalo masih mau berteman dengan kami, jangan ngerokok dong.” Ucap Widi sambil merebut rokok yang akan dihisap oleh Sandi dari tangannya.
            “Dulu pas kita masih kuliah sama-sama kok kalian nggak pernah melarang aku merokok?” Sandi bertanya memasang wajah bingung.
            “Dulu ceritanya lain San.” Ucapku sok bijaksana, “Kalo sekarang kamu udah PNS dan kamu digaji oleh negara untuk melakukan semua hal yang sedang menjadi misi negara, salah satunya Indonesia bebas rokok.”
            Walaupun kami menegurnya seperti itu, tetapi dia tidak sedikitpun tersingung. Dia sepertinya menerima tindakan kami tadi, itulah fungsinya teman menasihati untuk membawanya pada suatu hal yang lebih baik.
Teman yang baik adalah teman yang berkata benar, bukan yang membenarkan setiap perkataan.
            “San, dirimu kan ahli gizi.” Aku diam sejenak sebelum melanjutkan, “Kenapa nggak kamu coba aja buat memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang-orang yang membutuhkan? dengan uang yang biasanya kamu pakai buat beli rokok.”
            “Iya San, kamu ngerokok satu bungkus aja udah habis duapuluh ribu. Sebulan kamu udah habisin enam ratus ribu.” Ucap Widi.
            “Udah deh, dari pada ngomongin rokok mending kita ngomongin jodoh. Haha.” Guyon Sandi sambil memukul pundak kami bertiga. “Gimana Gus? Masih sama yang lama nggak?”
            “Nggak lagi.” Jawabku singkat.
            “Kok jawabnya lesu gitu? Padahal kamu orang paling bersemangat yang pernah aku kenal. Tumben-tumbennya kamu lemes kalo ditanyain soal dia.” Tanya Sandi lagi.
            “Yah, ada sedikit masalah sih dengan dia.” Jawabku.
            Widi yang awalnya hanya menjadi penonton jadi ikut-ikutan heboh bertanya-tanya, “Masalah apaan?”
            “Iya, dia mau menikah dengan laki-laki lain.” Jawabku singkat.
            “Kapan?” mereka serentak bertanya.
            “Mungkin beberapa bulan lagi. Hehe.” Jawabku sambil nyengir kuda.
            “Kenapa seperti itu?” tanya Sandi lagi.
            “Hehe, sudah sudah jangan dibahas lagi. Kalo kamu San gimana? Udah mau nikah belum sama pacarmu yang anak hukum itu.” Tanyaku singkat.
            “Sama sih, aku sudah ditinggal nikah sama dia. Hahaha.” Tawa Sandi sangat keras hingga mengalahkan bunyi hujan yang jatuh diatas genteng. “Mendingan sih, daripada Widi masih homo dan belum sembuh homonya.”
            “Aku bukan homo ya. Aku hanya mempersiapkan diriku dengan sebaik mungkin sebelum mengenal perempuan.” Bantah Widi dengan tegasnya.
            Berkumpul bersama teman, bercerita, tertawa dan bahkan menikmati hari-hari bersama rasanya lebih nyaman ketimbang berdua dengan orang yang kita anggap sebagai belahan jiwa kita. Walaupun pada hakikatnya dia belum tentu salah satu bagian dari belahan jiwa kita, tetapi anggapan yang salah itulah yang membuat semuanya menjadi sebuah kenyamanan yang abstrak berbeda dengan berkumpul dengan teman yang menjadikannya sebagai kebersamaan dan kenyamanan yang absolut.

Kesimpulannya, walaupun sudah lama kami terpisah dan berasal dari latar pendidikan yang berbeda tapi tetap saja kami memiliki nasib yang sama. Iya, belum punya pasangan dan bahkan sama ditinggal oleh orang yang telah lama dekat dengan kami.