Tuesday, 25 December 2012

AKU AKAN KE SRAGEN


“Horeee, akhirnya aku masuk final.” Teriakku didalam kelas petak yang sepi. Langsung teman-temanku banyak yang terbangun dari tidurnya, maklum jika nggak ada guru kebanyakan dari kami tidur di dalam kelas.
            Herpi yang terbangun dari tidurnya langsung bertanya kepadaku, “Wahai Agus yang sedang senang, ada apa gerangan. Final apakah yang Agus ikuti?” dengan nada lebainya
            “Nggak ah Pi, kemaren aku ngirim karya ke UNS. Karyaku masuk final Pi.” Teriakku, sambil menuju kantor untuk membuat dispensasi. Dikarenakan aku akan pergi ke Solo besok.
            Banyak orang yang bertanya-tanya. Mereka bingung kenapa aku sangat senang dan girang, karena biasanya jika aku pergi-pergi ke level nasional biasa-biasa aja, nggak senang dan segirang ini. Hingga salah satu temanku bertanya kepadaku yang sedang membawa surat dispensasi.
            “Gus, kenapa kau senang sekali ikut final lomba itu? Kan Cuma ke Solo.” Ujar Wahyu sambil melihat surat dispensasi yang ada ditanganku.
            Aku langsung memasukkan surat dispensasi kedalam tasku. Aku langsung diam sejenak menenangkan diri. Menarik nafas sambil melihat ke arah luar jendela. “Aku bukan senang dengan pergi ke Solonya Yu. Aku senang, nanti aku bisa ke Rumah Sakit Kariyadi untuk melihatnya, dan bertemu dengannya lagi. Kemaren nggak sempet ketemu Yu, dia keburu pergi.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut aku langsung pergi ke asrama untuk membereskan pakaian lalu memasukkannya kedalam tas eiger milikku.
            Seperti biasa aku menunggu di ruang keberangkatan Bandara Depatiamir Kota Pangkalpinang. Akhirnya pesawat Sriwijaya Air yang akan aku tumpangi datang juga, semua penumpang langsung masuk kepesawat. Aku baru tahu kalau nggak ada pesawat yang langsung ke Solo. Aku harus transit dahulu ke Soekarno Hatta, barulah langsung meluncur ke Bandara Adi Soemarmo Solo.
            Aku langsung dijemput oleh kakak-kakak yang berasal dari UNS. Suasana klasik Kota Solo yang sangat menghormati buadaya aslinya. Aku langsung digiring kesebuah wisma yang letaknya tak jauh dari UNS. Didalam wisma itu aku bersama dengan beberapa peserta lainnya, ada yang dari Jakarta, Manado, Palembang, Medan dan Bogor. Aku langsung berbaring sejenak dikamarku, aku membayangkan sebentar lagi aku bisa bertemu dengan Intan. “Bagaimana ya kabarnya sekarang? Aku jadi penasaran.” Lamunanku langsung dikacaukan oleh seorang yang kurus ceking, seingatku namanya Petrik, ya dia Petrik seorang pria yang kayak homo berasal dari manado. Ya, mungkin anda bisa membayangkannya seperti Mongol Standup Comedy.
            “Kok kita senyum-senyum sendiri dari tadi?” anak kurus ceking itu langsung mengalihkan permasalahan, setelah dia tusuk pantatku dengan sebatang pena tadi.
            Sambil memegang pantat yang kesakitan aku langsung menjawab perkataannya, “Kita senyum? Kalo aku senyum karena ada deh. Mau tau aja kamu.” Seruku.
            Dia langsung tersenyum kepadaku, “Kita dari mana bang? Saya dari Manado.” Sambil mengajakku berjabat tangan.
            Aku langsung menggaruk kepalaku sambil tersenyum, “Kita? Bukannya kita baru kenal. Kok nanya kita dari mana.” Aku langsung bingung kenapa dia bilang “kita”.
            “Kita itu artinya, kamu bang. Jadi kamu dari mana?” jelasnya kepadaku sambil tertawa terbahak-bahak.
            “Aku dari Bangka, kamu dari Manado? Jauh kali ya.” Aku terkagum melihat orang jauh ini. terlihat dari matanya cerminan orang pintar.
            Setelah mengakhiri percakapan konyol kami, makan malam pun dimulai. Kami langsung keruang pertemuan untuk memulai menyantap makan malam yang telah disediakan. Aku dan Petrik langsung mengambil makanan yang dihidangkan secara prasmanan. Suasana ruangan yang mewah, dihadiri para tamu undangan. Termasuk Rektor UNS saat itu, setelah habis menyantap makan malam. Kami kembali ke meja prasmanan dan mengambil makanan lagi untuk yang kedua kalinya. Ya, memang kami berdua memiliki jiwa yang sama.
            Kami melalui lorong terang yang disana terbentang karpet merah, kami langsung pergi ke kamar tanpa mendengarkan pengarahan dari Rektor UNS yang sedang memberikan pengarahan.
            Sambil berjalan dan membuka pintu kamar wisma, Petrik langsung bicara kepadaku, “Kamu kok langsung masuk ke kamar Gus?”
            Aku langsung tersenyum dan menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang simpel. “Sampean kenapa masuk?” serentak kami berdua langsung tertawa sambil berguling-guling di kamar.
            Ruang redup yang luas, dihadiri oleh ratusan penonton, tiga dewan juri dan penanya. Akhirnya hari ini kami berkumpul di aula untuk mempresentasikan hasil penelitian kami. Aku mendapatkan nomor urut dua, ya sesuai dengan nomor kesayanganku. Akhirnya waktuku maju telah tiba, aku mempresentasikan tentang nasib anak penambang timah yang ada di Bangka. Waktu yang diberikan kepadaku hanyalah sedikit, cuma limabelas menit karena masih banyak peserta yang ngantri.
            Setelah selesai membacakan sebanyak lima puluh tiga slide selama duabelas menit. Aku langsung dihujani pertanyaan oleh para penguji yag notaben adalah Profesor dan ahli atau pakar.
            Pertanyaan pertama yang sangat membuatku terdiam sejenak adalah, “Kenapa anda memilih dan tertarik untuk judul ini?” sang penguji langsung bertanya.
            Aku terdiam, menarik nafas dan berkata, “Karena, dulu waktu sekolah saya adalah anak nakal, dan banyak berteman dengan orang-orang yang seperti ini.” begitulah dengan singkatnya aku menjawab.
            Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Giliranku selesai dan sekarang adalah giliran Petrik yang maju kehadapan penonton. Ternyata judul yang dia ajukan lebih aneh dari pada judul yang aku ajukan, “Belajar Fisika Lebih Menyenangkan” begitulah judul yang dia ajukan ke UNS. Beberapa menit berlalu, dia langsung dihujani pertanyaan oleh penguji.
            Salah satu Profesor yang ada disana langsung mengambil kaca matanya dan akan mulai membunuh Petrik, “Ya dek, saya lupa bawa buku. Jadi pertanyaan saya mudah, anda bisa membuat persamaan benda jatuh dengan ditahan oleh papan yang bengkok kearah kiri dan kanan dengan sudut enam puluh derajat? dan hukum apa yang digunakan?” setelah bertanya bapak itu tiba-tiba tertawa.
            Mungkin karena bingung atau kenapa, Petrik langsung terdiam memasang wajah pucat dan mulai menjawab. “Maaf pak, saya kurang mengerti fisika.” Sambil tersenyum kecil dan memegang belakang lehernya.
            Bapak itu sepertinya mau marah, “Judul kamu kan Fisika mudah, kenapa kamu sendiri kurang mengerti fisika? Bagaimana kamu ini.” cercanya.
            Setelah tampil kami berdua langsung pergi jalan-jalan keluar, aku langsung mencari tahu dimana letak Rumah Sakit Kariyadi. Aku langsung bertanya dengan orang sekitar. Ternyata tak jauh juga dari sini.
            Sambil berjalan keliling Petrik berkata, “Gus, kamu mau kemana sih?” sepertinya Petrik mulai kelelahan karena mengikutiku.
            “Aku nyari Rumah Sakit Kariyadi, katanya disekitar sini.” Ujarku sambil meneruskan perjalanan kami.
            Dia sepertinya bingung dan bertanya lagi kepadaku, “Nyari siapa disana Gus? Kerjaanmu aneh-aneh sekali Gus.”
            “Mencari seseorang.” Aku langsung tersenyum dan melihat kearahnya. “Kau tak akan mengerti, karena kau belum tahu masalahnya.” Aku langsung merangkulnya dijalanan yang ramai sekali dengan pedagang yang menjajakan dagangannya.
            Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam dengan jalan kaki, kami langsung mencari mobil bus menuju ke arah Rumah Sakit tersebut. Aku langsung masuk dan mencari kursi yang enak buat kami istirahat. Beberapa saat diperjalanan kami langsung mencari bejak, tanpa bertanya dan nego harga lagi kami langsung naik dan menuju Rumah Sakit Kariadi.
            Aku langsung menuju ke resepsionis dan bertanya, belum mendapatkan jawaban dari resepsionis aku belum puas. Aku tetap mencari dimana dirinya bertanya kepada perawat lalu keliling Rumah Sakit. Tapi hasil yang aku dapatkan nihil. Didalam hiruk pikuk sarana medis ini aku hampir saja putus asa. Aku langsung duduk dikursi tunggu sambil menunduk karena putus asa.
            Petrik langsung memegang pundakku dan berkata dengan bijaknya, “Aku mengerti sekarang, bagimu dia seorang yang berharga ya.” Sambil melihat kearah wajahku, “Tegakkan kepalamu, aku akan bantu mencari. Coba hubungi dirinya, bisa kan?”
            Aku langsung tersadar dengan ucapannya, aku langsung menegakkan kepalaku dan mengambil handphoneku. Aku langsung menelpon nomor HP-nya, “Kenapa nggak diangkat.” Desah susahku dalam hati, diantara keramaian aktivitas rumah sakit.
            Sudah sepuluh kali aku menelpon, tapi nggak diangkat juga olehnya. Aku bingung, aku langsung menelpon Ibunya, meminta keterangan dimana sekaang dia berada. Ternyata sekarang dia tidak dirumah sakit lagi, dia sekarang ada di Solo.
            “Dispensasiku tinggal dua hari lagi, ya wajarlah kan hanya untuk ikut kegiatan ini saja. Nggak untuk jalan-jalan.” Ungkapku kepada Petrik.
            Petrik langsung memotivasiku, “Aku juga Gus, tapi yang jelas kita harus menemukannya dulu.”  Petrik langsung mulai menarik tanganku agar bergegas kembali ke Solo. Kami langsung naik bus lagi untuk kembali ke Solo.
            Perjalanan Solo Semarang yang sangat melelahkan hari ini, ditengah bisingnya suasana kota klasik itu kami bergegas berlari menuju ke alamat yang diberikan oleh ibu Intan. Akhirnya kami memintabantuan kepada teman kami salah satu peserta yang berasal dari Solo.
            Aku langsung menunjukkan sebuah alamat kepadanya, “Tolong antarkan aku kealamat ini, tolong banget ya. Kamu tahu kan?” sepertinya aku agak memaksanya untuk membantuku, karena perasaanku sudah agak panik.
            Akhirnya laki-laki itu iba kepadaku, “Baiklah, ayo kita cari. Nanti ya, kita cari angkot dulu.” Ucap Dimas yang sudah siap membantuku. Dimas langsung mengajakku naik angkot yang ada diterminal. Kami langsung mencari dimana alamatnya, Jalan Asoka.
            Hilir mudik, sekarang matahari sudah mulai bersembunyi. Tik... tik..., kami langsung berlari mencari tempat teduh di Alun-alun Kota Solo karena air yang keroyokan udah turun dari langit.
            Aku langsung mengambil HP-ku untuk mengirimkan pesan singkat kepada Intan, sambil menoleh kearah Dimas aku berkata, “Kira-kira masih jauh Dim?” tanyaku kepada Dimas yang sedang membersihkan bajunya dari percikan air hujan.
            Dia langsung melihat dan menunjuk kearah utara dengan jari jempolnya, “Saya rasa disana lalu belok kanan.” Dengan bahasa yang medoknya.
            Petrik pun mulai berkata ngawur, “Ayo sekarang kita kesana, sebentar lagi akan gelap ni.” Sambil berlari kearah utara. Kami melihat Petrik yang berlari hanya bisa terdiam sejenak karena bingung, lalu berlari mengikuti Petrik yang sedang melawan hujan.
            Kami terus berlari kearah Utara. “Belok kanan, ayo ikuti aku.” Ajak Dimas yang ada didepan sambil memimpin kami berlari. “Asoka 7B. Ini tempatnya.” Dimas langsung menunjuk sebuah rumah yang ada disana.
            “Assalamualaikum, assalamualaikum.” Aku langsung memencet bel  rumahnya. Aku menunggu, dan “Tap!” bunyi knock pintu rumahnya, seperti sudah dibuka oleh seseorang berjilbab lebar, gemuk dan tingginya hampir sebahuku.
            “Intan? Benar?” aku memastikannya, karena delapan bulan sudah kami tak bertemu, ternyata membuatnya telah jauh berbeda. Dia sakit selama delapan bulan, sempat koma selama dua bulan. Dia diam sejenak, memasang wajah bingung sambil berkata, “Iya, kamu siapa ya? Mau cari siapa?” dia balik bertanya dengan nada datar dan dingin.
            “Aku Agus, tau nggak? Temenmu dulu dari SMP. Kita dulu deket lho Tan, sering main sama-sama dan jalan sama-sama.” Aku coba meyakinkan, aku bingung kenapa dia tiba-tiba bisa lupa denganku. “Apakah dia hanya main-main.” Tanyaku dalam hati.
            “Aku nggak kenal siapa kamu. Sungguh! Aku nggak kenal.” Sepertinya dia sudah mulai ketakutan, karena nada bertanyaku tadi seperti memaksa. Aku langsung menjadi agak panik dan kesal, aku langsung memgang bahunya sambil mengoncang tubuhnya, “Hey, aku Agus, temen dekatmu. Kita dulu kesekolah sama-sama, pulang sama-sama. Kita dulu main sama-sama. Kamu dulu nganterin aku ke asrama, jalan bersama ... bla.... bla... bla...” rentetan kata-kataku yang panjang dengan nada kasar sambil mengoncang badannya.
Tapi dia hanya diam, tak membalas kalimat rentetan yang panjang dariku, “Dan aku menyayangimu, aku berjuang sampai sekarang untuk bertemu denganmu, untuk melihat wajahmu, kenapa? Apa sekarang kau sudah lupa denganku? Kenapa?” banyak kalimat tanya yang keluar dari mulutku untuknya. Tiba-tiba air mataku menetes satu persatu.
Tiba-tiba Intan langsung memasang wajah marah dan berteriak, “Mbah, tolong ada orang aneh menganggu Intan. Mbah tolong!” setelah dia berteriak, datanglah sosok wanita tua akan keluar rumah. Setelah melihat wanita tua itu kami langsung berlari mejauh karena takut dikira orang jahat. Aku berlari sambil meneteskan air mataku, melewati alun-alun kota.
Setelah dua hari berlalu aku langsung pulang keasrama. Aku mengambil sebuah album usang yang berisikan foto-foto ketika aku dan dia ketika masih berseragam putih biru. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya sekarang. “Apakah dia pura-pura ataukah memang begitu?”
Aku punya ide untuk bertanya kepada ibunya dirumah, aku langsung menelpon kendati apa yang sedang terjadi pada buah hatinya itu. Setelah berbincang selama setengah jam, aku baru tahu kalo waktu MOS SMA dia terjatuh dan kepalanya terbentur. Memang awalnya tidak berdampak apa-apa. Hingga akhirnya dua bulan kemudian dia terkena sebuah penyakit yang menyebabkan pembuluh darah diotaknya pecah, hingga membuat dia koma selama dua bulan di RS Kariyadi.
Setelah beberapa bulan dari koma dia mengalami Transiet Global Amnesia, yaitu kehilangan ingatan sementara. Dia seharusnya sudah kelas dua sama sepertiku, tapi sekarang dia mengulang dari kelas satu SMA kembali, dikarenakan dia sudah lebih dari delapan bulan tidak masuk sekolah karena sakit. Akhirnya dia dipindahkan di sebuah sekolah negeri yang ada di Surakarta.
Setelah mengetahui hal tersebut aku langsung searching di mas google tentang cara pengobatan amnesia sementara tadi, ternaya salah satu cara membuat dia bisa kembali mengingat adalah membuat pola ingatannya kembali. Aku mengambil album kenangan kami yang sepertinya sudah tampak usang, aku berniat untuk mengirimkannya kepada Intan, agar dia bisa mengingatku kembali.
Aku hanya bisa berharap, Semoga album klasik yang tersisa diantara kami berdua dapat mengingatkan dia akan kenangan klasik yang dulu telah kami lalui. Aku hanya bisa berharap sambil meneteskan air mata sambil memasukkan surat dan album kedalam amplop buram.
Mozaik-mozaik hati itu akan membuat sebuah kekuatan yang hampir serupa dengan keajaiban yang tiada tara, bahka akal sehat dan logikamu tak akan mampu menjangkaunya.
****