Sunday, 20 January 2013
Tuesday, 25 December 2012
AKU AKAN KE SRAGEN
“Horeee, akhirnya aku
masuk final.” Teriakku didalam kelas petak yang sepi. Langsung teman-temanku
banyak yang terbangun dari tidurnya, maklum jika nggak ada guru kebanyakan dari
kami tidur di dalam kelas.
Herpi yang terbangun dari tidurnya langsung bertanya
kepadaku, “Wahai Agus yang sedang senang, ada apa gerangan. Final apakah yang Agus
ikuti?” dengan nada lebainya
“Nggak ah Pi, kemaren aku ngirim karya ke UNS. Karyaku
masuk final Pi.” Teriakku, sambil menuju kantor untuk membuat dispensasi.
Dikarenakan aku akan pergi ke Solo besok.
Banyak orang yang bertanya-tanya. Mereka bingung kenapa
aku sangat senang dan girang, karena biasanya jika aku pergi-pergi ke level
nasional biasa-biasa aja, nggak senang dan segirang ini. Hingga salah satu
temanku bertanya kepadaku yang sedang membawa surat dispensasi.
“Gus, kenapa kau senang sekali ikut final lomba itu? Kan
Cuma ke Solo.” Ujar Wahyu sambil melihat surat dispensasi yang ada ditanganku.
Aku langsung memasukkan surat dispensasi kedalam tasku.
Aku langsung diam sejenak menenangkan diri. Menarik nafas sambil melihat ke
arah luar jendela. “Aku bukan senang dengan pergi ke Solonya Yu. Aku senang,
nanti aku bisa ke Rumah Sakit Kariyadi untuk melihatnya, dan bertemu dengannya
lagi. Kemaren nggak sempet ketemu Yu, dia keburu pergi.” Setelah mengucapkan
kalimat tersebut aku langsung pergi ke asrama untuk membereskan pakaian lalu
memasukkannya kedalam tas eiger milikku.
Seperti biasa aku menunggu di ruang keberangkatan Bandara
Depatiamir Kota Pangkalpinang. Akhirnya pesawat Sriwijaya Air yang akan aku
tumpangi datang juga, semua penumpang langsung masuk kepesawat. Aku baru tahu
kalau nggak ada pesawat yang langsung ke Solo. Aku harus transit dahulu ke
Soekarno Hatta, barulah langsung meluncur ke Bandara Adi Soemarmo Solo.
Aku langsung dijemput oleh kakak-kakak yang berasal dari
UNS. Suasana klasik Kota Solo yang sangat menghormati buadaya aslinya. Aku
langsung digiring kesebuah wisma yang letaknya tak jauh dari UNS. Didalam wisma
itu aku bersama dengan beberapa peserta lainnya, ada yang dari Jakarta, Manado,
Palembang, Medan dan Bogor. Aku langsung berbaring sejenak dikamarku, aku
membayangkan sebentar lagi aku bisa bertemu dengan Intan. “Bagaimana ya
kabarnya sekarang? Aku jadi penasaran.” Lamunanku langsung dikacaukan oleh seorang
yang kurus ceking, seingatku namanya Petrik, ya dia Petrik seorang pria yang
kayak homo berasal dari manado. Ya, mungkin anda bisa membayangkannya seperti
Mongol Standup Comedy.
“Kok kita senyum-senyum sendiri dari tadi?” anak kurus
ceking itu langsung mengalihkan permasalahan, setelah dia tusuk pantatku dengan
sebatang pena tadi.
Sambil memegang pantat yang kesakitan aku langsung
menjawab perkataannya, “Kita senyum? Kalo aku senyum karena ada deh. Mau tau
aja kamu.” Seruku.
Dia langsung tersenyum kepadaku, “Kita dari mana bang?
Saya dari Manado.” Sambil mengajakku berjabat tangan.
Aku langsung menggaruk kepalaku sambil tersenyum, “Kita?
Bukannya kita baru kenal. Kok nanya kita dari mana.” Aku langsung bingung
kenapa dia bilang “kita”.
“Kita itu artinya, kamu bang. Jadi kamu dari mana?”
jelasnya kepadaku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Aku dari Bangka, kamu dari Manado? Jauh kali ya.” Aku
terkagum melihat orang jauh ini. terlihat dari matanya cerminan orang pintar.
Setelah mengakhiri percakapan konyol kami, makan malam
pun dimulai. Kami langsung keruang pertemuan untuk memulai menyantap makan
malam yang telah disediakan. Aku dan Petrik langsung mengambil makanan yang
dihidangkan secara prasmanan. Suasana ruangan yang mewah, dihadiri para tamu
undangan. Termasuk Rektor UNS saat itu, setelah habis menyantap makan malam.
Kami kembali ke meja prasmanan dan mengambil makanan lagi untuk yang kedua
kalinya. Ya, memang kami berdua memiliki jiwa yang sama.
Kami melalui lorong terang yang disana terbentang karpet
merah, kami langsung pergi ke kamar tanpa mendengarkan pengarahan dari Rektor
UNS yang sedang memberikan pengarahan.
Sambil berjalan dan membuka pintu kamar wisma, Petrik
langsung bicara kepadaku, “Kamu kok langsung masuk ke kamar Gus?”
Aku langsung tersenyum dan menjawab pertanyaannya dengan
kalimat yang simpel. “Sampean kenapa masuk?” serentak kami berdua langsung
tertawa sambil berguling-guling di kamar.
Ruang redup yang luas, dihadiri oleh ratusan penonton,
tiga dewan juri dan penanya. Akhirnya hari ini kami berkumpul di aula untuk
mempresentasikan hasil penelitian kami. Aku mendapatkan nomor urut dua, ya
sesuai dengan nomor kesayanganku. Akhirnya waktuku maju telah tiba, aku
mempresentasikan tentang nasib anak penambang timah yang ada di Bangka. Waktu
yang diberikan kepadaku hanyalah sedikit, cuma limabelas menit karena masih
banyak peserta yang ngantri.
Setelah selesai membacakan sebanyak lima puluh tiga slide
selama duabelas menit. Aku langsung dihujani pertanyaan oleh para penguji yag
notaben adalah Profesor dan ahli atau pakar.
Pertanyaan pertama yang sangat membuatku terdiam sejenak
adalah, “Kenapa anda memilih dan tertarik untuk judul ini?” sang penguji
langsung bertanya.
Aku terdiam, menarik nafas dan berkata, “Karena, dulu
waktu sekolah saya adalah anak nakal, dan banyak berteman dengan orang-orang
yang seperti ini.” begitulah dengan singkatnya aku menjawab.
Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi kepadaku.
Giliranku selesai dan sekarang adalah giliran Petrik yang maju kehadapan
penonton. Ternyata judul yang dia ajukan lebih aneh dari pada judul yang aku
ajukan, “Belajar Fisika Lebih Menyenangkan” begitulah judul yang dia ajukan ke
UNS. Beberapa menit berlalu, dia langsung dihujani pertanyaan oleh penguji.
Salah satu Profesor yang ada disana langsung mengambil
kaca matanya dan akan mulai membunuh Petrik, “Ya dek, saya lupa bawa buku. Jadi
pertanyaan saya mudah, anda bisa membuat persamaan benda jatuh dengan ditahan
oleh papan yang bengkok kearah kiri dan kanan dengan sudut enam puluh derajat?
dan hukum apa yang digunakan?” setelah bertanya bapak itu tiba-tiba tertawa.
Mungkin karena bingung atau kenapa, Petrik langsung
terdiam memasang wajah pucat dan mulai menjawab. “Maaf pak, saya kurang
mengerti fisika.” Sambil tersenyum kecil dan memegang belakang lehernya.
Bapak itu sepertinya mau marah, “Judul kamu kan Fisika
mudah, kenapa kamu sendiri kurang mengerti fisika? Bagaimana kamu ini.” cercanya.
Setelah tampil kami berdua langsung pergi jalan-jalan
keluar, aku langsung mencari tahu dimana letak Rumah Sakit Kariyadi. Aku
langsung bertanya dengan orang sekitar. Ternyata tak jauh juga dari sini.
Sambil berjalan keliling Petrik berkata, “Gus, kamu mau
kemana sih?” sepertinya Petrik mulai kelelahan karena mengikutiku.
“Aku nyari Rumah Sakit Kariyadi, katanya disekitar sini.”
Ujarku sambil meneruskan perjalanan kami.
Dia sepertinya bingung dan bertanya lagi kepadaku, “Nyari
siapa disana Gus? Kerjaanmu aneh-aneh sekali Gus.”
“Mencari seseorang.” Aku langsung tersenyum dan melihat
kearahnya. “Kau tak akan mengerti, karena kau belum tahu masalahnya.” Aku
langsung merangkulnya dijalanan yang ramai sekali dengan pedagang yang
menjajakan dagangannya.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam
dengan jalan kaki, kami langsung mencari mobil bus menuju ke arah Rumah Sakit
tersebut. Aku langsung masuk dan mencari kursi yang enak buat kami istirahat.
Beberapa saat diperjalanan kami langsung mencari bejak, tanpa bertanya dan nego
harga lagi kami langsung naik dan menuju Rumah Sakit Kariadi.
Aku langsung menuju ke resepsionis dan bertanya, belum
mendapatkan jawaban dari resepsionis aku belum puas. Aku tetap mencari dimana
dirinya bertanya kepada perawat lalu keliling Rumah Sakit. Tapi hasil yang aku
dapatkan nihil. Didalam hiruk pikuk sarana medis ini aku hampir saja putus asa.
Aku langsung duduk dikursi tunggu sambil menunduk karena putus asa.
Petrik langsung memegang pundakku dan berkata dengan
bijaknya, “Aku mengerti sekarang, bagimu dia seorang yang berharga ya.” Sambil
melihat kearah wajahku, “Tegakkan kepalamu, aku akan bantu mencari. Coba
hubungi dirinya, bisa kan?”
Aku langsung tersadar dengan ucapannya, aku langsung
menegakkan kepalaku dan mengambil handphoneku. Aku langsung menelpon nomor
HP-nya, “Kenapa nggak diangkat.” Desah susahku dalam hati, diantara keramaian
aktivitas rumah sakit.
Sudah sepuluh kali aku menelpon, tapi nggak diangkat juga
olehnya. Aku bingung, aku langsung menelpon Ibunya, meminta keterangan dimana
sekaang dia berada. Ternyata sekarang dia tidak dirumah sakit lagi, dia
sekarang ada di Solo.
“Dispensasiku tinggal dua hari lagi, ya wajarlah kan
hanya untuk ikut kegiatan ini saja. Nggak untuk jalan-jalan.” Ungkapku kepada
Petrik.
Petrik langsung memotivasiku, “Aku juga Gus, tapi yang
jelas kita harus menemukannya dulu.” Petrik langsung mulai menarik tanganku agar
bergegas kembali ke Solo. Kami langsung naik bus lagi untuk kembali ke Solo.
Perjalanan Solo Semarang yang sangat melelahkan hari ini,
ditengah bisingnya suasana kota klasik itu kami bergegas berlari menuju ke
alamat yang diberikan oleh ibu Intan. Akhirnya kami memintabantuan kepada teman
kami salah satu peserta yang berasal dari Solo.
Aku langsung menunjukkan sebuah alamat kepadanya, “Tolong
antarkan aku kealamat ini, tolong banget ya. Kamu tahu kan?” sepertinya aku
agak memaksanya untuk membantuku, karena perasaanku sudah agak panik.
Akhirnya laki-laki itu iba kepadaku, “Baiklah, ayo kita
cari. Nanti ya, kita cari angkot dulu.” Ucap Dimas yang sudah siap membantuku.
Dimas langsung mengajakku naik angkot yang ada diterminal. Kami langsung
mencari dimana alamatnya, Jalan Asoka.
Hilir mudik, sekarang matahari sudah mulai bersembunyi.
Tik... tik..., kami langsung berlari mencari tempat teduh di Alun-alun Kota
Solo karena air yang keroyokan udah turun dari langit.
Aku langsung mengambil HP-ku untuk mengirimkan pesan
singkat kepada Intan, sambil menoleh kearah Dimas aku berkata, “Kira-kira masih
jauh Dim?” tanyaku kepada Dimas yang sedang membersihkan bajunya dari percikan
air hujan.
Dia langsung melihat dan menunjuk kearah utara dengan
jari jempolnya, “Saya rasa disana lalu belok kanan.” Dengan bahasa yang
medoknya.
Petrik pun mulai berkata ngawur, “Ayo sekarang kita
kesana, sebentar lagi akan gelap ni.” Sambil berlari kearah utara. Kami melihat
Petrik yang berlari hanya bisa terdiam sejenak karena bingung, lalu berlari
mengikuti Petrik yang sedang melawan hujan.
Kami terus berlari kearah Utara. “Belok kanan, ayo ikuti
aku.” Ajak Dimas yang ada didepan sambil memimpin kami berlari. “Asoka 7B. Ini
tempatnya.” Dimas langsung menunjuk sebuah rumah yang ada disana.
“Assalamualaikum, assalamualaikum.” Aku langsung memencet
bel rumahnya. Aku menunggu, dan “Tap!”
bunyi knock pintu rumahnya, seperti sudah dibuka oleh seseorang berjilbab
lebar, gemuk dan tingginya hampir sebahuku.
“Intan? Benar?” aku memastikannya, karena delapan bulan
sudah kami tak bertemu, ternyata membuatnya telah jauh berbeda. Dia sakit
selama delapan bulan, sempat koma selama dua bulan. Dia diam sejenak, memasang
wajah bingung sambil berkata, “Iya, kamu siapa ya? Mau cari siapa?” dia balik
bertanya dengan nada datar dan dingin.
“Aku Agus, tau nggak? Temenmu dulu dari SMP. Kita dulu
deket lho Tan, sering main sama-sama dan jalan sama-sama.” Aku coba meyakinkan,
aku bingung kenapa dia tiba-tiba bisa lupa denganku. “Apakah dia hanya
main-main.” Tanyaku dalam hati.
“Aku nggak kenal siapa kamu. Sungguh! Aku nggak kenal.”
Sepertinya dia sudah mulai ketakutan, karena nada bertanyaku tadi seperti
memaksa. Aku langsung menjadi agak panik dan kesal, aku langsung memgang
bahunya sambil mengoncang tubuhnya, “Hey, aku Agus, temen dekatmu. Kita dulu
kesekolah sama-sama, pulang sama-sama. Kita dulu main sama-sama. Kamu dulu
nganterin aku ke asrama, jalan bersama ... bla.... bla... bla...” rentetan
kata-kataku yang panjang dengan nada kasar sambil mengoncang badannya.
Tapi
dia hanya diam, tak membalas kalimat rentetan yang panjang dariku, “Dan aku
menyayangimu, aku berjuang sampai sekarang untuk bertemu denganmu, untuk
melihat wajahmu, kenapa? Apa sekarang kau sudah lupa denganku? Kenapa?” banyak
kalimat tanya yang keluar dari mulutku untuknya. Tiba-tiba air mataku menetes
satu persatu.
Tiba-tiba
Intan langsung memasang wajah marah dan berteriak, “Mbah, tolong ada orang aneh
menganggu Intan. Mbah tolong!” setelah dia berteriak, datanglah sosok wanita
tua akan keluar rumah. Setelah melihat wanita tua itu kami langsung berlari
mejauh karena takut dikira orang jahat. Aku berlari sambil meneteskan air
mataku, melewati alun-alun kota.
Setelah
dua hari berlalu aku langsung pulang keasrama. Aku mengambil sebuah album usang
yang berisikan foto-foto ketika aku dan dia ketika masih berseragam putih biru.
Aku masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya sekarang. “Apakah dia
pura-pura ataukah memang begitu?”
Aku
punya ide untuk bertanya kepada ibunya dirumah, aku langsung menelpon kendati
apa yang sedang terjadi pada buah hatinya itu. Setelah berbincang selama
setengah jam, aku baru tahu kalo waktu MOS SMA dia terjatuh dan kepalanya
terbentur. Memang awalnya tidak berdampak apa-apa. Hingga akhirnya dua bulan
kemudian dia terkena sebuah penyakit yang menyebabkan pembuluh darah diotaknya
pecah, hingga membuat dia koma selama dua bulan di RS Kariyadi.
Setelah
beberapa bulan dari koma dia mengalami Transiet Global Amnesia, yaitu kehilangan
ingatan sementara. Dia seharusnya sudah kelas dua sama sepertiku, tapi sekarang
dia mengulang dari kelas satu SMA kembali, dikarenakan dia sudah lebih dari
delapan bulan tidak masuk sekolah karena sakit. Akhirnya dia dipindahkan di
sebuah sekolah negeri yang ada di Surakarta.
Setelah
mengetahui hal tersebut aku langsung searching di mas google tentang cara
pengobatan amnesia sementara tadi, ternaya salah satu cara membuat dia bisa
kembali mengingat adalah membuat pola ingatannya kembali. Aku mengambil album
kenangan kami yang sepertinya sudah tampak usang, aku berniat untuk
mengirimkannya kepada Intan, agar dia bisa mengingatku kembali.
Aku
hanya bisa berharap, Semoga album klasik yang tersisa diantara kami berdua
dapat mengingatkan dia akan kenangan klasik yang dulu telah kami lalui. Aku
hanya bisa berharap sambil meneteskan air mata sambil memasukkan surat dan
album kedalam amplop buram.
Mozaik-mozaik
hati itu akan membuat sebuah kekuatan yang hampir serupa dengan keajaiban yang
tiada tara, bahka akal sehat dan logikamu tak akan mampu menjangkaunya.
****
Friday, 30 November 2012
KISAH KLASIK MOZAIK CINTA
banyak hal yang ingin kukatakan, aku ingin lebih lama bertemu denganmu.
jam 13.40, aku berlari terus dan berlari menuju ke perpustakaan propinsi, aku dan kami terburu-buru karena jam 15.00 kau akan pergi ke bandara untuk ke kairo, dan aku pun akan pergi kepelabuhan jam 15.00 untuk berangkat. setellah bertemu diperpustakaan kita pergi ke kambang iwak, taukah saat itu kita berbicara berdua, berbincang mengenai hidup kita. aku dan kamu hanya baru kenal bebeapa bulan, tapi kita sudah dekat sekali.
Mungkin perpisahan yang sementara inilah yang akan menjadi peluntur dosa kita yang saling mencintai. mungkin memang Allah yang berkehendak kita terpisah jauh, tanpa bisa berkomunikasi. Aku akan memantaskan diriku untukmu, karena dirimu adalah wanita yang sangat beriman dan berilmu, dan akupun harus seperti itu.
Jam menunjukkan 14.12 WIB, kita masih asik berbicara, ngobrol masalah hidup dan masa depan. kita masih sempatnya bercanda untuk yang terakhir kalinya, aku masih ingat beberapa bulan yang lalu. tak taukah aku merindukanmu? tapi kau belum halal bagiku, tak mungkin aku menyebutkan kata "Kangen" untuk org yang bukan mahramku, aku hanya bisa melampiaskannya kepada Tuhanku dalam tahajudku. "Allah pertemukanlah kami lagi" doaku dalam shalat sambil meneteskan air mata. pada 14.30 kita masih bercanda, makan-makan dan selalu tertawa.
"Aku mau kebandara." ucap dirimu, "Aku juga mau kepelabuhan" aku ikut menjawab. kita sama-sama akan berangkat ke tempat jihad kita masing-masing. aku ingin waktu menjadi berjalan lambat, aku ingin kita lebih lama berdua. Aku tak sanggup untuk pergi sekarang.
Aku sekarang menanti sendiri setiap bulan febuari, karena kesempatanku hanya febuari untuk bertemu denganmu. Lama sekali ya bulan febuari. hanya Al-quran kecil yang kau tinggalkan kepadaku. "Jadi hafiz ya, jadilah dirimu sendiri, tetap menjadi orang yang berani. karena belum pernah kulihat org seberanimu. tetaplah jadi mutiara didalam lumpur" pesannya kepadaku. "Kau pun jadilah hafizah, jangan lupa makan ya." Aku berucap seperti itu sambil memberikan satu al-quran juga. Hari itu memang Indah, tapi mungkin aku tak mau kesurga sendirian, dan kaupun begitu. Ku harap kita bisa kesurga bedua.
Sekarang kita hanya bisa saling berkirim surat, dari photo yang kau kirimkn sekarang kepadamu, dari surat yang sekarang kukirimkan padamu...
15.00 WIB aku berangkat kepelabuhan dan kau langsung menuju bandara untuk kekairo. Kita berpisah, dari awalnya kita tertawa, hingga sekarang kita menanggis karena perpisahan ini. pertemuan terakhir kita, walau indah untuk dilupakan, tapi terlalu pahit untuk dikenang...
Kebersamaan kita bukanlah tentang raga, tapi tentang mozaik-mozaik kecil yang tersusun rapi didalam hati. :)
semoga kisah ini bukan hanya mjd kisah usang klasik album kita dan akan merubah paradigma klasik kisah cinta yang ada.
Menjadi kisah Klasik pelengkap Romeo juliet, Qais-laila, Taj mahal, Loro jograng dll. kisah aku dan kamu.
aku merindui wajahmu yang bulat dan badanmu yang kayak beruang. hahahaha
Cinta kita berhijabkan Samudera Hindia. Antara Kairo Afrika dan Sumatera
Wednesday, 21 November 2012
Bertajuk Mimpi
Sekolah begitu sepi
hari ini, yah ini hari minggu. Aku datang kesekolah dengan terburu-buru.
Membawa banyak buku dengan judul FIM (Fisika Itu Menyenangkan), kumpulan
soal-soal olimpiade, dan banyak buku lainnya.
“Aduhhhh...
badanku rasanya capek sekali, kepalaku pusing tau ngak? Kenapa tiap hari harus
begini? Bimbingan terus bimbingan terus.” Keluhku, aku merasa tak kuat lagi
jika tiap hari harus begini. “Iya, gus. Olimpiade udah didepan mata tau ngak?
Kalo menang kan kamu juga yang bangga, bisa gagah-gagahan didepan Intan.” Ucap
Maulidya. “Iya juga ya Gink.” Aku sudah mulai semangat sekali. Entah kenapa,
setelah mendengar namanya disebut oleh Maulidya, semua derita yang aku alami
hilang semua (alah lebay lo). Aku berusaha untuk kembali fokus, karena yang ada
difikiranku bagaimana membuat Intan bangga terhadapku. “Gink, kira-kira aku
bisa menang ngak? Gimana kalo ternyata nanti aku kalah? Aku takut.” Dengan nada
banci aku mengatakan itu kepada Maulidya. “Ya, menang kalah itu urusan biasa
Gus, jangan takutlah. Yang penting kita semangat dan sportif.” Maulidya
memberiku ceramah sekaligus motivasi.
Besok akan dimulai perlombaan, tapi aku sudah santai dan
tidak lagi mau belajar. Pada hari itu, aku hanya berbaring didekat ruang tamu.
Menemani ayahku yang sedang mengetik tugas Tesisnya. Aku bertanya pada ayahku,
“Ayah, kenapa ayah tidak pernah bosan berteman dengan rumus fisika?” Ayahku
adalah seorang insinyur jembatan senior. Beliau sangat tekun dalam mempelajari
banyak hal, bahkan setiap aku memiliki game baru dia berusaha untuk menamatkan
game tersebut. “Kenapa ya? Karena hobi ayah mungkin.” Ayahku menjawabnya dengan
pandangan keatas seperti agak mikir. “Kalo hobi kenapa ayah?” Agak bingung
mendengar jawaban ayah. “Kalau Hobi, kamu pasti akan menekuni dan
menyenanginya. Sama seperti ayah, menekuni dan menyenangi pekerjaan ayah.”
Setelah mendengar pencerahan dari ayah aku menjadi semangat kembali. “Ayah,
besok kan aku mau lomba. Bagaimana caranya agar aku bisa sukses dalam lomba itu
yah?” aku merangkak mendekati ayah. “Cari aja motivasimu, apa alasanmu untuk
menang? Kau harus punya. Itu akan menjadi pemicu perjuanganmu nak.” Sambil
memukul bahuku dan tersenyum. “mengerti?” Ayahku meyakinkanku. “Mengerti ayah.
Doakan aku ya, aku mau tidur.” Sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
Kukuruyuk, bunyi ayam jantan yang sedang memecah
keheningan subuh. Aku memulai shalat subuh dan sedikit membaca. “Aku harus
menang.” Gumamku dalam hati. Akhirnya hari pesakitan tiba, kami berkumpul di
SMP 2 Sungailiat untuk mengikuti Olimpiade Sains Kabupaten. Aku sangat terkejut
dan gugup saat kulihat pemandangan disana penuh dengan siswa berpakaian baju
putih biru yang sedang membaca buku fisika. “Gawat ni, kalau sainganku
rajin-rajin seperti ini, aku bisa kalah.” Sambil bergumam dalam hati aku
melihat kekiri kananku. “Gink, aku gugup. Aku gak belajar semalam.” Sambil
tertawa Maulidya menjawab “Kau kira aku belajar? Aku asik main game semalam.” Tiba-tiba
datang seorang wanita melambaikan tangannya “Agus, Gink. Ternyata kalian
disini. Aku cari kesana kesini muter muter, ternyata kalian disini. Mana Bu
Novi?” Tanya Mega sambil menarik nafas panjang. “Ibu Novi lagi brifing di ruang
pembimbing.” Serempak aku dan maulidya menjawab. “Ibu Eli dimana Gus?” Tanya
Mega lagi. “Yah mau gimana lagi Ibu Eli sibuk, Ibu Siti sibuk, Cuma Ibu Novi
yang bisa bimbing kita disini. Gak asik ni, kalo ada Bu Eli kan aku bisa
belajar fisika dan bertanya-tanya.” Jawabku sedikit bete. “Ya udah sabar,
semoga ada sisi baiknya.” Cletuk Mega dengan gaya sok dewasanya.
Kriiing.... kriiing... bunyi bel tanda masuk ruangan pun
berbunyi. “Agus masuk ke ruang F disitu peserta Fisika, Maulidya di ruang A
disitu Biologi kalo Mega keruang G untuk matematika. Cari teman kalian, isi
jawaban dengan benar ya. Yang jelas jangan ceroboh, harus teliti, jangan keluar
cepat dan jangan buat gaduh terutama Agus.” Bu Novi memberi pengarahan sambil
menunjukku. Maulidya dan Mega langsung melihat dan memukul pundakku, sambil
berkata “Dengerin tuh.” Setelah mendapatkan pengarahan kami menuju ruangan
kelas masing-masing untuk mengikuti lomba. “Seperti biasa, tiga jam untuk lima
soal. Kalo sudah selesai silahkan dikumpulkan, tidak ada saling mencontek.”
Semua mulai terdiam dan mengisi biodata peserta. “Silahkan Dimulai!” tegas
panitia olimpiade. Waduh, aku sepertinya kebingungan mengerjakan lima soal ini.
Selama diruangan aku melihat banyak kecurangan. “Bagaimana ini, mereka semua
banyak yang saling kerjasama.” Mentalku agak kendor akibat melihat dua orang
dari SMP unggulan itu kerja sama menyelesaikan soal. Akhirnya baru satu jam
waktu berjalan, aku langsung berdiri dan mengumpulkan lembar jawabanku.
Disinilah pilihan antara “Menang” dan “Kalah Terhormat”. Dari pada aku menang
dengan cara yang tidak benar lebih baik aku kalah terhormat, pikirku dalam
hati.
Akhirnya aku keluar ruangan dan bertemu Ibu Novi. “Agus,
kok udah keluar baru satu jam kan?” sambil mengeluarkan air mata tanda putus
asa. “Iya bu, Agus ngak tau lagi. Mau gimana lagi bu?” Dengan wajah tanpa dosa
aku berkata seperti itu. “Ya udah, namanya juga udah terlanjur. Mau gimana lagi
ya!” Dengan wajah agak kecewa Ibu Novi tersenyum sinis. Akhirnya tiga jam
berlalu, semua peserta olimpiade keluar dari ruangan. “Gus, gimana tadi?” Tanya
Mega kepadaku. “Hmm, ya gitulah Meg. Kamu Gimana? Mana Gink?” Aku agak tertawa
menjawab pertanyaannya. “Aku, kayak gitulah. Bingung soal matematikanya susah.
Gink itu, lagi muntah-muntah abis ngerjain soal biologi tadi.” Jawab Mega
dengan agak tertawa. “Lho, kok Gink muntah-muntah?” Sambil menahan tawa aku
menunjuk kearah Maulidya. “Iya nih, mabok didalam ruangan tadi, soal ujiannya
buat puyeng ni.” Jawab Gink menahan muntah. Setalah bercanda bersama kami
pulang kerumah masing-masing membawa uang saku yang diberikan oleh Dinas
Pendidikan.
Keesokan paginya aku sangat senang, hari ini hari libur.
Setelah dua tahun di SMP tak terasa sekarang sudah libur untuk kenaikan kelas
tiga SMP. Aku sudah beranjak lebih dewasa, di hari libur yang indah ini aku
punya rencana jalan-jalan dengan Intan. “Intan, jadi jalan-jalan ke pantai hari
ini?” SMS ku ke Intan. “Oke, tapi aku bantu ibu dulu ya. Jam sembilan kita
berangkat.” Balas Intan dengan SMS.
Hari ini hujannya lebat, aku selalu berdoa didalam hati.
“Ya Allah, redakanlah hujan ini. Hambamu pengen jalan-jalan dengan Intan.”
Walaupun doaku agak tidak bener, tapi selalu ku ulangi. Aku sangat berharap
hujan hari ini reda. Harap-harap cemas aku mondar mandir di teras rumah dengan
penuh harapan. Tak terasa, sudah jam sembilan tapi hujan belum reda juga, “Ada
apa ini? Apakah doaku tidak terkabulkan?” Aku jengkel sekali dan berbicara
sendiri dalam hatiku. Tiba-tiba, hujan reda dan aku mulai bersiap-siap untuk
meluncur kerumah Intan dengan SupraX milik kakakku. “Assalamualaikum.” Dengan
gembira dan semangat aku mengetuk pintu rumah Intan. “Iya Agus tunggu. Ayo kita
pergi sekarang.” Dengan wajah ceria dia naik ke motorku.
Pertama-tama
perjalanan kami ke perpustakaan daerah. Kami membuat kegaduhan disana karena
suara kami terlalu besar, akhirnya kami keluar dari sana karena sepertinya
petugas perpustakaan sudah mau ngusir kami. Dijalan ke pantai kami bersanda
gurau dan bercerita tentang pengalaman kami selama dikampung halaman dulu. Hingga
sampai diperempatan lampu merah, “Oh, iya kamu gak pakai helm Tan.” Aku lupa
membawa helm satu lagi untuk Intan, diperempatan jalan itu sedang ada polisi
lalu lintas yang udah siap menangkap. “Sekarang, kamu turun aja. Jalan kaki
sampai ke sana, ntar kita ketemu lagi disana. Oke.” Sambil mengacungkan jempol.
“Oke!” jawab Intan percaya diri. Setelah beberapa menit kami pun bertemu lagi
ditempat yang kami janjikan tadi.
Waktu
tak terasa berlalu, jam telah menunjukkan angka sebelas kurang. Kami telah
sampai dipantai. Setelah memarkirkan motorku, kami berlari ketepi pantai, membuat
istana pasir. Sepertinya awan sudah mulai mendung, cumolonimbus sudah mulai
hilang dari pantai. “Kayaknya mau hujan Tan.” Aku mengingatkan. “Tunggu dulu,
ada yang belum selesai ni.” Intan menegaskan. “Apa ya?” dengan wajah bingung
aku bertanya padanya. “Tara, ini yang udah selesai.” Ternyata Intan menuliskan nama
“Intan” dan “Agus”. Tak lama kemudian ombakpun datang seakan-akan menghapus
nama yang telah kami buat ditepi pantai.
Tik... tik.. tik... gerimis tajam kembali menggangu
kebersamaan kami di pantai. Kamipun bergegas berlari menuju pondok makan untuk
berteduh. “Mau makan apa ni Tan? Dingin sekali hujan ini.” Aku memulai membuka
percakapan. “Aku mau bakso ah. Kamu?” sambil tersenyum dan memegang sendok dan
garpu. “Dasar kamu ondel-ondel, pantes aja wajahmu bulat kayak bakso. kayaknya
udah gak sabar lagi ya? Sampe-sampe langsung pegang sendok dan garpu. Kalo gitu
aku mau makan pipimu deh.” Sambil tertawa dan mencubit pipinya. “Dasar kamu,
kalo aku bakso. kamu sotonya ya?” sambil memukul sendok dan garpu di bahuku
kami tertawa bersama.
“Intan, aku pengen kamu tau.” Aku agak serius.
“Iya, pengen aku tau apa ya?” Intan agak tertawa,
sepertinya dia menganggapku main-main.
“Tau ngak? Semenjak aku kenal kamu...” aku belum selesai
bicara, Intan langsung memotong pembicaraan.
“Kenapa? Semenjak kau kenal aku, kau jadi suka bakso
gitu. Ayo,,, ngaku.” Sambil tersenyum dia menunjuk hidungku.
“Dengerin dulu Tan, aku belum selesai.” Aku agak serius
dan hampir mau ngambek dengan Intan. “Aku suka kamu Tan, semenjak kenal kamu
sepertinya aku mulai menemui hidup baruku, aku berubah, aku menjadi baik dan
menemukan hal baru Tan.”
“Terus gimana Gus?” Dengan wajah bloon dan melongo dia
bertanya lagi kepadaku.
“Kalo kamu gimana?” aku balik bertanya kepada Intan.
“Aku sebenarnya senang si melihat kamu, kamu selalu
mengusir orang-orang yang jahil padaku, kamu mengajarkan aku banyak hal,
tapi....” Intan belum selesai berbicara, aku langsung memotong pembicaraannya.
“Maukah kamu jadi pacarku Tan?” dengan gugup aku bertanya.
“Tidak. Aku tidak mau pacaran, dengan siapapun.” Jawabnya
tegas, sambil tetap tersenyum kepadaku.
“Kenapa? Kenapa tidak mau Tan? Kamu ngak suka denganku?”
Aku kurang puas dan bertanya kepadanya.
“Pacaran itu dilarang agama Gus. Untuk apa kita pacaran
coba? Nambah dosa tau. Aku dapat menerima cinta dan sayangmu. Tapi aku ngak
bisa pacaran dengan siapapun sebelum aku menikah.” Dia mencoba menjelaskan agar
aku mengerti.
“Tapi Tan, aku ingin kita selalu bersama. Aku punya
gambaran kita jadi pacar sampe nikah nanti.” Aku mencoba membujuk, walaupun
hatiku sudah mulai terasa remuk karena kecewa.
“Hmmm, ya udah. Kamu boleh anggap aku apa aja. Tapi aku
ngak mau pacaran. Tapi kita harus tetap menjadi sahabat. Oke?” Dia mengacungkan
jempolnya untukku.
“Hmmmmm...” Aku hanya diam seribu bahasa. “Kenapa gitu
Gus? Ngambek? Jangan ngambek dong.” Pinta Intan.
“Aku kecewa Tan, aku kira kamu segalanya.” Dengan perasaan
kecewa dan membuang muka darinya. “Oh, gini aja Gus. Kalo kita jodoh pasti kita
ketemu lagi kan? Kalo ngak, kamu pasti dapetin perempuan yang sama bahkan lebih
baiknya dari pada aku. Intinya kalo kita jodoh bertemu lagi kok.”
“Iya, semoga kita jodoh ya.” Aku mulai senyum kembali
kepada Intan. “Ya Aamiin, semoga ya.” Dia pun tersenyum kepadaku. “Ayo baksonya
udah jadi, makan yok.” Intan mulai mengajakku makan. Setelah perbincangan tadi,
kami makan bakso bersama. “Tau ngak Tan? Pipimu bulet sekali seperti bakso
ini.” Sambil tertawa aku mulai bercanda dengannya. “Ih, kamu. Ngejek aku terus
ya.” Ucap Intan sambil tertawa dan menutup mulutnya. Setelah makan, aku
mengantar Intan pulang walaupun dalam kondisi gerimis yang tajam. “Gus, ini
jaketku. Pakailah dulu, nanti kamu sakit gimana?” sambil menyodorkan jaket
kearahku. “Ngak ah Tan, ntar jaketmu hilang lagi.” Aku menolak karena udah dua jaket miliknya
yang pernah aku hilangkan. “Ngak apa-apa, aku ikhlas kok.” Menyodorkan lagi.
“Oh iya aku pulang dulu ya.” Aku langsung ngabur tanpa mengambil jaketnya.
Setelah sampai dirumah, mamaku menyambut dengan wajah
yang sangat gembira. “Nak, kamu tau ngak?” Mamaku dengan wajah ceria dan
jingkrak-jingkrak, untung aja ngak nari tor-tor. “Tau apa ma?” aku balik
bertanya dengan wajah jutek. “Ini ada surat dari dinas nak.” Sambil menyodorkan
surat dari Dinas Pendidikan. “Kamu juara satu waktu olimpiade kemaren.” Dengan
wajah ceria mamaku. “Haha, masak sih ma?” Aku langsung masuk kekamar sambil
tertawa. Sedikitpun aku tak menyangka, karena tanpa persiapan yang matang, dan
aku pun mengerjakannya dengan waktu yang sebentar. Ternyata terkadang suatu
yang lebih hebat dari pada kecerdasan adalah Percaya diri dan selalu
mempasrahkan diri kepada Tuhan. Kenapa begitu? Karena suatu hal yang membuat
orang menjadi kuat adalah keberuntungan dan ketegaran hati.
Besoknya aku datang ke Dinas Pendidikan untuk memastikan
dan mengambil uang pembinaan. “Assalamualaikum, maaf bu. Mau nanya pengumuman
olimpiade dimana?” Tanyaku dengan sopan. “Iya dek, silahkan keruangan disebelah
kanan.” Jawab seorang bapak-bapak dengan kumis yang garang sambil menunjuk
sebelah kanan. “Permisi pak, mau tanya pengumuman olimpiade sains.” Tanyaku
sambil tersenyum menunduk. “Oh iya, bidang apa dek?” Tanya bapak itu sambil
mengeluarkan banyak kertas. “Fisika pak.” Sambil mendekat dan ikut melihat isi
kertas tersebut. Ternyata informasi selama ini benar, aku juara satu. Setelah
itu aku menelpon Intan, “Intan, aku juara satu olimpiade fisika. Horee... aku
menang” Sambil berteriakk gembira. “Alhamdulillah, selamat ya Gus. Aku sangat
senang, ternyata usaha kita ngak sia-sia.” Terdengar suara Intan yang agak
batuk-batuk. “Kamu batuk Tan? Kenapa? Kamu sakit ya.” Aku mulai sedikit
parnoan. “Ngak juga, Cuma batuk biasa aja.” Sambil tertawa kecil. Tiba-tiba
telponnya mati, aku sedikit bingung kenapa telponnya mati. Setelah aku
memeriksa pulsaku, ternyata pulsa handphoneku habis. “Hmmm, pantas saja telponnya
mati, pulsaku tingal seratus rupiah lagi.” Setelah dari Dinas Pendidikan, aku
mengirimkan pesan singkat ke Intan. “Tan, ke BBG yo.”. Tak lama kemudian ada
pesan balasan dari Intan, “Ayo, tapi jam sebelas ya.”
“Ok.” Jawabku singkat. Tak terasa sekarang sudah jam
sebelas, aku langsung menghampiri Honda-ku. Bersiap-siap kerumah Intan dengan
kecepatan tinggi. “Assalamualaikum.” Sambil mengetok pintu aku berteriak
didepan rumahnya. “Waalaikumsalam, Ayo Gus kita berangkat.” Dia langsung naik
ke sepeda motorku. BBG adalah Bangka Botanikal Garden, yaitu sebuah taman
wisata yang hampir menyerupai mekarsari. Di BBG kami memarkirkan motor dan
berjalan-jalan keliling BBG. “Intan, kamu tau itu?” Aku mulai membuka
pembicaraan. “Balon? Atau yang lain?” Jawabnya sambil menunjuk ke arah balon.
“Iya balon, kamu tau kan balon?” Tanyaku. “Taulah, kenapa?” jawabnya sambil
tersenyum melihatku. “Ya, kepalamu bulat kayak balon Tan.” Sambil tertawa, saat
melihat dia mulai cemberut aku pun menambah perkataanku. “Ngak ah, aku bercanda
Tan. Kau tau? Balon itu ngak bisa terbang. Tapi dia bisa melayang, sesuai
dengan tekanan yang ada.” Aku menjelaskan kepada Intan. Intan sepertinya
bingung, dia balik bertanya kepadaku. “Maksudnya? Aku belum ngerti Gus.” Sambil
melihat balon yang ku pegang. “Coba lepaskan semua beban dan tekanan hidupmu
Tan, hidupmu akan terasa indah. Kau akan bisa berprestasi setinggi mungkin.”
Jelasku sambil memegang tali balon yang sudah mengembang besar. “Sama seperti
balon ini, jika dia besar dia akan melayang. Sedangkan jika dia kecil tak akan
bisa melayang. seperti itulah tekanan.” Tambahku.
Setelah melihat balon, kami melihat sapi. “Aku punya
kisah buruk lho dengan sapi.” Tiba-tiba Intan mulai berbicara dan termurung.
“Emangnya ada pengalaman apa Tan? Kayaknya sedih banget ya.” Aku mencoba
menghibur dia. “Iya, dulu kami punya sapi. Aku pernah ditendang anak sapi
gara-gara narik ekornya. Terus, aku pernah juga dikejar-kejar sapi.” Ujarnya
dengan wajah yang sedih. “Hahahaha, itu namanya lucu Tan, kenapa sedih?” Sambil
tertawa aku mulai memperhatikan wajahnya lagi. “Iya, kamu ngingetin aku dengan
sapi yang kemaren dijual bapak.” Sepertinya dia sedikit meneteskan air mata.
“Maksudmu?” Dengan wajah bloon aku bertanya lagi. “Kamu mirip sapi bapakku
Gus.” Tambahnya. Gubraaak, rasanya bumi gonjang ganjing dajal keluar dari perut
bumi, baru kali ini aku disamakan dengan sapi.
“Hmm. Intan, tau ngak besok aku mau ke Pangkalpinang,
buat ke olimpiade sains Propinsi?” Aku memulai pembicaraan serius. “Oh ya? Wow,
aku juga pengen sekali ikut. Tapi kemaren aku gak lolos.” Dengan gaya anak alay
dia sedikit memukul bahuku. “Tapi, aku senang dan bangga kalo kamu ikut. Kamu harus
menang ya, semangat.” Ucap Intan sambil mengacungkan tangannya kepadaku. “Eh,
ngak terasa ya, kita udah dua tahun kenal. Semenjak aku sering dihukum sampai
aku ngak pernah dihukum. Kamu adalah titik balik hidupku Tan.” Sambil tersenyum
dan melihat wajahnya. “Alhamdulillah, kamu juga baik. Sering mengusir anak-anak
jahil yang sering ngejek dan menggangguku.” Dia agak menunguk malu ketika
mengucapkan itu kepadaku. “Tan, aku ingin kita ketemu selamanya.” Sambil tersenyum
aku memegang tangannya. “Iya, tapi bukanlah aku tak mau, aku hanya tak mau
pacaran Gus. Dilarang agama sama orang tua, dan aku sendiri gak mau pacaran
sebelum aku nikah Gus.” Dia membalas senyumku. “Bukankah, banyak cara agar kita
bisa tetap bersama, selain pacaran kan bisa Gus?” Sambil memegang tanganku. “Kita
bisa bersahabat, hingga akhirnya nanti kita besar dan dijodohkan oleh tuhan.”.
“Semoga sesuai apa yang kita inginkan Tan.” Aku tersenyum
dan melihat kearah danau yang luas. “Semoga, dan diberikan yang terbaik. Eh,
udah sore ni, kamu kan mau siap-siap ke Pangkalpinang besok. Pulang yok.” Ajaknya.
Siang itu menunjukkan jam dua, kami bergegas pulang
kerumah agar sampai kerumah tidak kesorean. Setelah sampai dirumah Intan, “Doakan
aku ya, besok aku akan mulai berjuang.” Sambil berjabat tangan dengan Intan. “Pasti,
aku akan mendoakan selalu. Kau harus membuat semuanya bangga.” Serunya kepadaku.
“Aku pergi dulu ya Tan.” Aku mulai memutar hondaku. Tiba-tiba “Tunggu dulu,
pakailah jam ini agar kau selalu ingat kepadaku, dan gunakan sapu tangan ini agar
setiap kau lelah bisa semangat dengan mengingatku.” Sambil menyodorkan jam
tangan dan sapu tangan. Aku tidak bicara banyak, sambil mengacungkan jempol aku
langsung menarik gas motorku untuk langsung pulang.
“Darimana saja kamu nak? Kok baru pulang, beresi dulu
bajumu. Kan besok mau berangkat. Masukkan bajumu ke koper.” Teriak mamaku. “Iya
ma, nanti. Lagi capek ni.” Sambil berbaring dikamar yang tidak terlalu luas. Akhirnya
aku beranjak dari ranjang dan mulai memasukkan barang-barangku ke koper. Setelah
memasukkan barang-barangku ke koper, aku melanjutkan tidurku kembali.
Malam yang indah, bertabur bintang. Kriiing... suara
handphoneku berbunyi. Kulihat nama Intan yang memanggilku. “Assalamualaikum,
ada apa Tan?” aku mulai membuka percakapan. “Waalaikumsalam, Agus, coba lihat Supermon.
Indah sekali kan?” Sambil teriak-teriak di handphone. “Wah, besar sekali
bulannya, indah.” Aku kaget melihat supermon. “Ya, kenapa bulannya bisa begitu?
Indah sekali ya. Adakah benda langit yang lebih indah dari itu.” Tanya dirinya
kepadaku. “Alfacentury dan Avena, bintang yang paling terang. Eh, aku mau tidur
dulu ya. Besok mau pergi ni ke Pangkalpinang.” Ucapku kepadanya. “Iya deh,
selahkan. Sukses ya besok.” Seru Intan. “Pasti, aku janji.” Setelah aku
mengucapkan itu, Intan langsung mematikan telepon.
Pagi yang cerah, aku langsung pergi ke Dinas Pendidikan. Aku
pergi dangan penuh harapan, aku ingin harapan ku tercapai. Setelah menunggu
semua orang berkumpul, kami langsung berangkat ke Pangkalpinang untuk menuju
hotel Seratta tempat kami akan mengikuti lomba. Aku menemukan banyak teman
baru, ini adalah awal dari perjuanganku untuk menuju tingkat nasional. Dari Kabupaten
kami mengirimkan tiga orang laki-laki, yaitu aku, Putra dan Rozi. Awalnya kami bertiga
muter-muter hotel, kami bingung dimanakah letak kamar kami. Kamar nomor empat
puluh dua, angka yang cukup bagus. Setelah sampai dikamar, kami baring-baring
seperti orang kampungan di kamar hotel itu. “Eh, ada telepon. Kita nelpon orang
yok.” Ucapku kepada Putra dan Rozi. Akhirnya kami menelpon resepsionis, teman-teman
dikamar lain bahkan menelpon cleaning service.
Hari yang membingungkanpun berubah menjadi malam, kami
mulai bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan. “Eh, tau ngak Gus itu siapa?”
ujar Putra kepadaku. “Yang mana? Orang yang makannya disuap itu bukan?” Aku
balik minta penjelasan. “Itu Ali, yang menjadi langganan juara olimpiade
matematika.” Jawab Putra dengan mental yang agak down. “Sudahlah, jangan
terlalu seperti itu.” Kita positif thinking aja. Aku yakin kok kamu mampu.” Aku
mencoba memberinya semangat. Terkadang sebelum kita bertanding kita sudah mulai
bicara dia hebat, atau dia begini. Seharusnya dengan melihat saingan kita lebih
hebat, kita haruslah lebih giat belajar, jangan menjatuhkan mental sendiri
dengan cara seperti itu.
Tak terasa, olimpiade sains propinsi sudah dimulai. Kami masuk
lagi keruangan yang berisikan 24 siswa/siswi terbaik (baca:beruntung). Aku agak
gugup, tapi aku ingat orangtuaku. Aku kembali memiliki semangat untuk menang. Akhirnya,
lembaran soal mulai dibagikan, penjelasanpun mulai dibacakan. “Mulai!” Seru
perintah panitia olimpiade. Kami langsung mulai mengerjakan soal Fisika level
tinggi itu. “Akh, bisa stres aku lama-lama.” Ujarku dalam hati. Tak sadar
kertas ujianku tercoret, “Terpaksa ni aku minjem tipe-X.” Gumamku dalam hati.
Aku langsung memanggil wanita yang ada dibelakangku, “Maaf, bolehkah saya
minjem tipe-X.” Serentak wanita yang ada dibelakangku mengangkat kepalanya, subhanallah
cantik sekali gadis kota satu ini. Aku langsung salah tingkah, sambil meliat
wajahnya aku mengucapkan terimakasih. Tak terasa waktu sudah habis, saat-saat
yang ditunggu sudah tiba. Yah, siapa yang tidak menunggu saat-saat seperti ini,
yaitu makan siang. Makan siang kali ini adalah kelas VIP dan memakai table
manner. “Ini dek sendok dan garpunya.” Kata salah seorang pelayan hotel
kepadaku. “Oh, maaf pak. Saya ngak bisa memakai garpu, simpan aja pak.” Ucapku polos,
tersentak semua peserta yang ada disana tertawa.
Saat kami makan siang, piagam penghargaan dan uang
pembinaan dibagikan. Saat namaku dipanggil “Agustiawan dari kabupaten Bangka.”.
Aku agak dongkol, karena aku belum selesai makan siang. Akhirnya aku langsung
maju dengan tangan yang masih kotor dengan bau udang, cumi dan bau makanan yang
kusantap. Saat sudah didepan aku ambil piagam, uang pembinaan dan sebagai anak
yang baik hati aku bersalaman dengan bapak panitia dengan tangan kotorku. Terlihat
disana sontak wajah panitia langsung berubah mengkerut seperti tape basi.
Setelah keluar semua, aku menemui wanita tadi. “Hay,
boleh ngak kita menjadi teman?” Harap-harap cemas aku bertanya kepadanya. “Boleh
aja, aku Maria, kalo kamu?” dia bertanya balik. Hore, dia telah memberikan
lampu hijau. “Namaku Agustiawan, aku anak baik.” Sambil tertawa aku bersalaman
dengannya.
“Kamu lucu sekali ya, dari semalam aku melihat aksimu. Gokil
sekali.” Sambil tertawa dan memukul dadaku. “Oh, iya boleh minta nomor HP Maria
ngak?” sambil mengeluarkan HP Nokia 7610 milikku. “Ini nomor HP-ku,
08116788XXX. Miscol aku dong.” Pinta Maria. “Ini ya, aku coba.” Setelah beberapa
sengit perbincangan kami, akhirnya kami menjadi dekat. Aku baru tahu kalo dia
berasal dari SMP Unggulan yang paling bagus di Propinsi kami, maklum anak kota.
Tak terasa kebersamaan kami di olimpiade sains, perpisahan telah dimulai. Akhirnya
aku dan Maria berpisah, kami sama-sama meneteskan airmata kami, sebagai
kenang-kenangan kami bertukaran Pin Nama. Sampai saat ini Pin Namanya masih aku
simpan sebagai kenangan tak terlupakan.
Beberapa hari setelah mengikuti kegiatan olimpiade, aku
semakin dekat saja dengan Maria. Bahkan sekarang hubunganku dengan Intan
semakin renggang. Sekarang aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Intan, aku
mulai merasa nyaman dengan Maria. Bahkan sekarang aku sudah menjadi pacarnya. Suatu
hari disekolah Intan datang menemuiku “Agus, kenapa sekarang jarang kekelasku?”
Tanya Intan dengan mata berkaca-kaca. “Intan, aku sibuk sekarang. Ngak ada
waktu lagi untuk bertemu dengan kamu.” Aku menjawab dengan jutek. “Sudahlah,
percuma!” Sambil berteriak dia langsung pergi meninggalkanku. “Ya, ampun. Kenapa
aku berubah dengan Intan.” Doaku dalam hati dengan rasa menyesal.
Beberapa hari ini aku tidak pernah lagi bertemu dengan
Intan, dan akupun sudah mulai diam sendiri. Sepertinya tak ada gunanya memiliki
status pacaran dan lain sebagainya jika hati masih tetap merasa sepi. “Intan,
kau dimana? Aku merindukanmu Tan.” Aku mulai merasa kesepian dengan tidak
adanya dia.
Saat pulang sekolah aku berlari menyusul dan mengikuti
Intan, “Intan, tunggu aku. Tolong.” Aku berteriak mendekatinya. Spontan dia
lari dan saat aku menarik tangannya dia langsung berontak. “Lepaskan, sudah
pergi sana!” Dia mulai marah sepertinya. “Aku tak pernah mengenal kamu, dasar
brandalan.” Dengan nada kecewa dia langsung berlari untuk menghindariku.
Sejak saat itu aku menyesal, aku berjanji tak akan
menyakitinya lagi. Aku langsung mengirim SMS ke Handphonenya. “Alfacenturi dan
Avena adalah dua bintang yang terang. Tapi, kau adalah avena yang anggun dan
apakah aku hanya akan menjadi alfacentury yang mengembara sendiri?” Saat
membaca SMS-ku dia langsung mematikan handphonenya dan menganti kartunya.
Inilah kesalahanku yang tidak menjaga perasaan wanita
yang putih bagai salju dan lembut seperti kapas. Sepertinya aku hanya bisa
menunggu dia memaafkanku. Tiada kata Lain “INTAN MAAFKAN AKU”.
KAU INTAN DIHATIKU (CHAPT II)
Hari
itu sangat terasa sekali teriknya sinar matahari, aku berjalan berdua dengan
Intan. “Intan, rumahmu dimana? Masih jauh ngak? Hari ini panas sekali Tan.” Aku
sedikit mengeluh dengan Intan. “Kamu laki-laki atau banci? Aku setiap hari
jalan kaki, gak pernah ngeluh kayak ini.” Dengan nada dongkol dia menjawab
pertanyaanku. Pantas saja betisnya besar, mungkin karena kebanyakan jalan. Setelah
insiden memenangkan lomba iptek di SMP. Aku merasa semakin dekat saja dengan
Intan, sering ngobrol berdua, main berdua bahkan keruang guru berdua. Intan
adalah gadis tomboy, yang agak tinggi, alim, bersahaja dan hafal pancasila.
Awalnya aku hanya biasa-biasa saja dengan dirinya atau mungkin belum punya
perasaan apapun, maklum masih SMP belum puber dan belum mengenal cinta, tapi
semua orang berpandangan beda. Mereka mengira kami berdua telah lama pacaran.
Semakin lama akupun larut dalam perasaan. Hingga akhirnya aku memiliki perasaan
sayang dengannya bahkan perasaan itu
masih ada sampai sekarang, mungkin karena dia adalah cinta pertamaku.
Awalnya aku hanya mengikuti ektrakulikuler
Pramuka. Aku memang tidak memiliki minat mengikuti kegiatan lainnya, karena
memang aku lebih cocok dengan Pramuka. Tapi suatu hari ada temanku yang bilang
“Eh, kamu tau ngak gus? Intan ikut klub olimpiade sains lho.” Sepertinya
temenku yang satu ini ingin menjerumuskan aku kedalam jurang konsep dan
rumus-rumus fisika, karena yang aku tau klub olimpiade itu kerjanya belajar
setiap hari dan selalu menghafal rumus. “Bisa-bisa pecah kepalaku, konslet
otakku.” Jawabku dengan nada bercanda, “Gimana ngak stres? Kerjanya belajar
terus menerus dan menghafal rumus.” Ucapku sambil tertawa dengan dirinya.
Akhirnya aku iseng-iseng ikut klub
olimpiade dengan tujuan agar dapat selalu melihat Intan. Mungkin memang niat
yang ada adalah niat yang tidak baik, tapi mau bagaimana lagi jika anak muda
cinta monyet untuk yang pertama kalinya. Sebelum masuk kelas, aku sudah belajar
dahulu semalam agar aku bisa menjawab setiap pertanyaan yang ada. Pada malam
harinya aku bertanya kepada Ayahku “Ayah, ajarin aku listrik dong. Plis ya
yah.” Akhirnya ayahku yang saat itu sedang mengerjakan tugas kantornya
mengeluarkan sebuah rumus:
F
Masih ingatkah kalian? Rumus apakah
ini? Setelah saya bertanya tentang rumus ini. Selanjutnya aku bertanya lagi
kepada ayahku “Ayah, aku suka sama seorang cewek ni, kenapa bisa gitu yah?”
Dengan polosnya aku bertanya, “Kita kembali kerumus itu, F itu kita anggap
sebagai rasa suka terhadap cewek tadi, q1 kita anggap kamu, q2 kita anggap dia
dan r kita anggap jarak diantara kalian. Seandainya r memliki nilai besar
berarti F memiliki nilai kecil, sedangkan kalo r memiliki nilai kecil F akan memiliki
nilai besar. Begitulah rasa suka, semakin kalian jauh rasanya akan kecil,
semakin kalian dekat rasanya akan dekat.” Jelas ayahku. “Apakah boleh yah,
kalau kita pacaran? Soalnya kawan-kawan banyak yang pacaran.” Aku bertanya lagi
karena belum puas dengan jawaban ayahku. “Hmmm, sebaiknya kamu pikir masa
depanmu dulu, baru pacaran.” Jelas ayahku mengarahkan kearah yang baik. Setelah
itu aku mengerti dan kembali fokus, tapi ngak bisa. Bagaimana lagi, aku baru
sekali merasakan cinta, jadi wajar kalo lebay seperti ini.
Tapi sisi baik disini adalah aku menjadi
lebih semangat dalam belajar, apalagi kalo salah tingkah. Setelah aku mengenal
Intan, kehidupanku berbalik arah menjadi 180 derajat. Dari tidak pernah lagi
terlambat, tidak pernah lagi membuat masalah dan sekarang aku sering ikut ajang
prestasi.
Hari itu, tak seperti biasanya. Kalau biasanya aku pergi ke SMP, tapi pada hari
ini aku pergi ke SMA. Sambil melihat kakak-kakak yang lebih tua memakai seragam
putih abu-abu aku melamun, “Jadi pengen cepat-cepat masuk SMA.” Ucapku dalam
hati sambil tersenyum. Kompetisi pun dimulai, aku agak gugup mengikuti
kompetisi Cerdas Cermat tingkat kabupaten di salah satu SMA ternama di bangka.
Aku, Maulidya dan Mega bertiga dibuat menjadi satu tim. Aku sangat semangat
sekali, karena tidak mau kalah dengan Intan. Aku dan Intan tidak sekelompok,
karena Intan satu kelompok dengan temanku yang lainnya.
Tim yang maju duluan adalah tim
Intan melawan dua tim lainnya. Aku tak menyangka, tim Intan kalah telak dengan
tim lain. “Intan kalah, bagaimana dengan aku? Kalau aku kalah juga, bisa malu
aku.” Ucapku dalam hati. Giliran kami tiba, kami melawan tim yang berasal dari
sekolah andalan dan terpandang. “Gink, gila lawan kita cina semua, bakal kalah
ni kita.” Ucapku kepada maulidya. “Banci ya? Kok takut ngelawan cina.” Maulidya
membalas ucapanku dengan ejekan. Akhirnya soal demi soal bisa kami jawab,
hingga terjadi persaingan antara SMP kami dan SMP 2 Sungailiat, SMP yang
dikenal sebagai SMP terbaik di provinsi tempat aku tinggal. Hingga sampailah
pada pertanyaan terakhir, skor kami saat itu adalah 1200 sama. “Sistem
peredaran darah pada serangga merupakan sistem peredaran darah?” Sang MC
selesai membaca soal. “Terbuka.” Jawabku dengan gegabah sambil membanting meja.
“Salah, sistem peredarannya memakai trakea, jadi SMP 1 Sungailiat dikurangi
point 50.” Tegas juri.
“Instruksi bu, bukankah trakea
adalah alat pernafasan serangga, sedangkan sistem peredaran darah serangga
memakai sistem terbuka. Itulah yang membuat serangga mudah mengeluarkan darah
jika dipencet, seperti belalang.” Aku mulai mengeluarkan protes karena kurang
puas dengan pernyataan juri.
“Bagaimana ahli?” Sang MC mulai
menanyakan kebenarannya pada ahli yang berasal dari SMA.
“Ya bu, benar kata anak itu.
Serangga memakai sistem darah terbuka, sedangkan trakea adalah alat pernafasan
serangga.” Pembelaan dari ahli kepadaku.
“Ya, jadi pemenangnya adalah SMP 1
Sungailiat dengan point 1300.” Dengan diumumkan hasilnya oleh MC, Akhirnya kami
sebagai pemenang.
Semua guru pada saat itu senang dan
gembira karena sudah tujuh tahun SMP kami tidak pernah lagi muncul dan menang
dalam lomba-lomba tingkat kabupaten dan propinsi. Akhirnya kami mendapatkan
hadiah berupa uang. Kami sepakat untuk bersedekah dengan uang yang kami
dapatkan tadi.
“hosh... hosh... hosh..” Berlari
lagi dari rumah kesekolah, berusaha agar tidak terlambat. Keramaian jalan, banyak
yang melihat aku berlari dengan tampang bahagia. Hari ini upacara bendera lagi.
Tak seperti biasanya aku datang cepat, dan aku mengikuti upacara dengan tertib.
Setelah upacara bendera kepala sekolah maju kedepan mimbar dan memanggil
namaku. “Kepada anak kami Agus, Maulidya, dan Mega. Silahkan maju kedepan.”
Ucap kepala sekolah. Kami pun maju kedepan, setelah itu kami diberi penghargaan
yang berupa uang oleh kepala sekolah. Aku bingung itu uang apa, padahal kami
sudah mengambil uang hadiah lomba dari dinas. “Ini simbol rasa bangga sekolah
kepada mereka, karena mereka menyumbangkan uang dari Dinas Pendidikan untuk
keperluan panti asuhan.” Ucap kepala sekolah dengan rasa bangga, “Tolong
berikan tepuk tangan yang meriah untuk pahlawan kita.” Betapa bangganya diriku,
anak yang biasanya menjadi preman dan jarang ikut upacara akhirnya sekarang
tinggal kenangan. Yang ada hanyalah aku yang berprestasi.
“Agustiawan, bisa ketemu ibu nanti?
Ajak Intan dan anggota klub olimpiade lainnya ya.” Ibu Ely memanggilku. “Iya
bu, nanti saya kabari.” Jawabku dengan lirih.
Ibu Ely adalah pembina olimpiade
sains, sangat baik dan lembut. “Ada apa lagi ini, mungkinkah akan banyak tugas
yang menumpuk.” Gumamku dalam hati. “Agus, kenapa melamun?” Tiba-tiba terdengar
suara Intan dari belakang. “Ngak ada apa-apa kok Tan, oh iya Tan. Kita disuruh
Ibu Ely kumpul di kantor.” Aku mulai membuka pembicaraan. “Emangnya ada apa
Gus?” Tanya Intan dengan wajah bloonnya.
“Yah, kalo aku tahu mana mungkin aku melamun Tan.” Jawabku sambil tersenyum. “Oh
iya, selamat ya atas prestasinya kemaren.” Ucap Intan padaku. “Biasa aja kok
Tan, jadi sekarang kita mau kemana?” Tanyaku. “Ya udah, mending sekarang kita
pergi saja ke kantor.” Kata Intan sembari menarik tanganku.
Saat di kantor, kami diberi
pengumuman bahwa minggu depan akan diadakan seleksi olimpiade sains, lalu kami
diberi modul dan kisi-kisi soal. “Mempersiapkan diri ya? Hmm, aku tak akan
kalah denganmu Tan.” Dengan percaya diri dan tersenyum kepada Intan. “Ah, masak
gak kalah? Liat aja nanti deh.” Balasnya dengan senyum. Sambil mempersiapkan
diri menjelang olimpiade, kami selalu belajar bareng. Dengan adanya belajar
bareng ini, aku memiliki banyak waktu untuk bersama dengan Intan.
“Assalamualaikum, Intan.” Sambil
mengetuk pintu rumahnya. Keluarlah seorang anak laki-laki yang berusia
kira-kira 6 tahun. “Intanya ada dek?” Tanyaku kepada laki-laki kecil itu. “Ngak
ada, Intannya udah mati.” Jawabnya dengan ketus. “Lho, kok mati dek?” Tanyaku
dengan wajah bloon. Keluarlah sesosok wanita dari kamarnya, memakai jilbab
merah muda, baju panjang dan membawa tas. “Oh Agus, maaf ya Gus, Aku mau pergi
sekolah bahasa arab.” Dia bicara dengan nada kecewa. “Ya udah deh, kita
sama-sama yok jalan ke sekolah bahasa arabmu.” Sambil tersenyum aku mengajak
dan menarik tangannya. Dijalan kami saling bercanda, kami bercerita dan
membahas pelajaran disekolah tadi. “Intan rajin sekali ya? Pulang sekolah jam
tiga langsung berangkat belajar bahasa arab.” Aku memulai percakapan. “Ngak
juga Gus, ini kan keharusan kita mempelajari Al-quran dan Bahasa Arab.”
Jawabnya sambil tersenyum manis. Setelah itu aku tersadar bahwa sedekat apakah
aku dengan tuhanku, sedekat apakah aku dengan kitab agamaku dan sejauh mana
amal kebaikanku selama ini. Setelah berbicara bersama Intan, aku mulai rajin
mengerjakan Ibadah, rajin mengaji dan terkadang melakukan ibadah sunnah.
Aku berjalan kerumah Intan lagi,
dengan rasa bahagianya aku membawa kado ulang tahunnya. “Assalamualaikum.” Aku
mengetuk pintu rumah Intan. Pada hari itu hujan yang sangat deras, aku berdiri
menunggu diluar pintu rumahnya. Aku melihat seorang ibu yang membukakan pintu
dan berkata “Intannya lagi jaga toko nak, di pasar mambo.” Ternyata Intan
sedang melaksanakan rutinitasnya tiap malam, menjaga toko dipasar mambo. Hari
ini ulangtahun Intan, aku sudah berjanji akan memberikan kado ulangtahunnya dan
bertemu dengannya jam tujuh malam. Dia sepertinya telah menunggu sendiri
ditokonya. Hujan yang tadi deras kini menjadi gerimis tajam, suasana dingin
mulai menyelimuti. Intan sedang sibuk menjaga toko dan melayani pelanggan di
tokonya, maklum dia memiliki toko aksesoris motor. Sambil beristirahat
sebentar, Intan melamun sambil melihat jam yang telah menunjukkan jam delapan
kurang. “Agus, kamu dimana? Janjinya jam tujuh, kok belum datang juga.”
Gumamnya dalam hati agak gelisah.
Aku
bingung, sekarang sudah jam delapan kurang. Terpaksa kutembus gerimis tajam
yang menghalangi jalanku menuju tokonya, aku terus menerabas hujan dengan
motorku. Pandanganku gelap, Tiba-tiba, “Glegar...” Suara motorku yang jatuh
tergelincir ke tepi jalan, dan akupun terpental sejauh lima meter masuk ke
bandar. Aku rasa kakiku sakit sekali, kaku susah bergerak. “Aduh.. sakit
sekali.” Aku mencoba berdiri, “Ada apa
ini? Aku tak bisa berdiri. Kakiku berdarah, kakiku bolong, patah. Aduh apa lagi
ini... sakitnya.” Aku mulai meringis kesakitan. “Tolong aku, tolong.” Aku tak
kuat lagi menahan rasa sakit dikaki kananku, aku tak bisa lagi berteriak
dijalanan basah yang diguyur gerimis tajam. Sampai datang orang yang
menolongku. “Intan aku bukanlah teman yang baik, aku tak bisa menepati
janjiku.” Aku hanya bisa bergumam didalam hati sambil terkapar menahan sakit. Jarum
jam sekarang menunjukkan angka sembilan, “Agus, kau dimana? Kok belum datang
juga.” Dengan rasa khawatir dia berbicara didalam hati. Dia menunggu hingga menunjukkan angka sepuluh, dan
akhirnya dia tertidur kelelahan. Disisi lain, aku merasa kesakitan bukan main,
aku dibawa kerumah sakit hingga sampai dirumah sakit, aku mendapatkan pelayanan
dan kakiku dijahit serta di pasang pen penunjang. Malam itu aku sangat sedih,
aku belum bisa menepati janjiku ke Intan. Sambil menjatuhkan air mata, mataku
terpejam. Kuharap tidak terpejam selamanya sebelum kutepati janjiku kepadanya.
Pagi
yang cerah, indah dan harum dengan bau embun. “Aduh, kakiku masih sakit ma.”
Ucapku kepada ibuku. “Sudah, ngak usah sekolah hari ini. Dokter juga bilang
kamu butuh istirahat.” Ujar ibuku sambil menyuapiku makan. Saat disekolah Intan
mencariku, “Ki, Agus dimana? Kok belum muncul juga.” Ucap intan dengan rasa
khawatir. “Ngak tau juga, dia memang ngak sekolah hari ini.” Ucap riski sambil
mengerjakan PR. “Aku takut dia marah sama aku.” Sambil menundukkan kepala Intan
berkata seperti itu. “Kalo ngak salah dia sakit Tan, coba aja ntar kerumahnya.
Semangat ya Tan. Jangan sedih.” Sambil tersenyum dan memegang pundak Intan. Pulang
sekolah Intan kerumahku, “Assalamualaikum.” Ibuku keluar membukakan pintu,
“Waalaikumsalam nak Intan, ada apa ya?” tanya ibuku dengan raut wajah gembira.
“Agusnya ada bu?” dengan nada yang lirih dia. “Agus lagi di Rumah Sakit, ya
biasa anak nakal.” Ibuku tersenyum. “Ya bu, salam sama Agus ya. Semoga cepat
sembuh, saya pergi dulu ya bu.” Sambil tersenyum kepada ibuku. “Iya, ntar ibu
sampaikan. Hati-hati dijalan ya.” Sambil memegang kepala Intan dan memberikan
semangat agar dia tak sedih lagi. Intan membalikan badannya dan pergi dari
rumahku.
Tak
lama kemudian aku sampai dirumah, dengan dibantu orangtuaku aku masuk
kekamarku. “Agus, tadi ada Intan lho kerumah.” Kata ibuku dengan nada jahilnya.
“Ah, yang bener ma? Mama jangan main-main lah. Gak lucu ma, lagi sakit ni.”
Agak dongkol kepada ibuku. Seharian penuh aku istirahat, aku menunggu datangnya
besok pagi. Hari yang dinanti tiba juga, tepat pada jam delapan pagi tes
olimpiade dilaksnakan. Tes dimulai, tapi aku belum datang juga. “Ya, waktunya
seratus menit untuk lima soal, kerjakan!” Guruku sudah memulai kegiatan
seleksi, tapi aku belum datang juga. Akhirnya pada jam sembilan kurang aku
datang dengan kaki yang agak pincang. “Assalamualaikum, maaf bu. Saya terlambat
karena tadi ngak ada angkot. Jadi saya berjalan dari rumah ke sini.” Ucapku
sambil menarik nafas karena kelelahan. “Silahkan masuk, waktunya tinggal empat
puluh menit lagi ya.” Sambil menyerahkan kertas ujian kepadaku.
Aku
agak bingung, tanpa belajar mengerjakan soal fisika yang bisa membuat kepalaku
pecah. Akhirnya, duapuluh menit kemudian aku keluar ruangan sambil memberikan
kertas ujian. “Yakin udah selesai Gus?” Guruku meyakinkanku. “Yakin bu, kalo rejeki
pasti Allah berikan jalan.” Jawabku tegas. “Iya bu, aku mau pulang dulu, kakiku
udah mulai sakit.” Tak lama kemudian Intan mengumpulkan kertasnya, dia
menyusulku. “Agus, tunggu! Kita pulang bareng yok.” Ajak Intan. “Kamu kok
bandel banget? Udah tau kaki sakit, kenapa masih mau kesini?” Intan mulai
prihatin sambil melihat kaki kananku. “Ya, mau gimana lagi Tan? Itulah
perjuangan, ngak ada perjuangan menuju sukses tanpa kesusahan. Aku yakin kok
Allah pasti membalas.” Jawabku sok religius. “Kamu kok ngomong gitu? Siapa yang
ngajarin?” Tanya Intan. “Bukankah kamu yang ngajarin?” jawabku sambil tertawa.
Akhirnya kami tertawa bersama saat perjalanan pulang. Saat sampai dirumahku,
aku memintanya agar dia menunggu diluar sebentar. “Aku masuk kamar ya Tan.” Seraya
pergi ke kamar, “Agus, kenapa langsung pergi kekamar? Kamu marah sama aku?”
Tanya dia dengan wajah murung. Aku tidak menghiraukannya, aku tetap masuk
kamar. Dan akupun keluar membawa sebuah kotak dan memberikannya kepada Intan.
“Ini janjiku kemaren, maaf ya ngak sempet ngasihnya kemaren. Selamat ulang
tahun ya Intan.” Intan tersenyum, sambil menundukkan kepalanya. “Terima kasih
ya Gus, kamu orang pertama yang bilang selamat ulang tahun kepadaku.” Setelah
itu kami berbincang lama dan hari itu menjadi hari indah bagiku, kuharap bagi
Intan pula.
Setelah beberapa hari, pengumuman
olimpiade sains diumumkan. Ternyata namaku adalah nama yang akan dikirimkan ke
olimpiade, bersama Maulidya dan Mega. “Intan, kenapa? Ada apa denganmu?”
Gumamku dalam hati. “Adakah yang salah? Kenapa ini.”.
“Selamat ya Gus, aku seneng.”
Terdengar suara Intan dibelakang sambil memegang pundakku.
“Intan, kamu kenapa? Aku pengen kita
sama-sama masuk.” Aku agak sedih karena dia tidak lulus menjadi peserta
olimpiade. “Ya, kemaren aku belum selesai, saat liat kamu sendiri keluar
kemaren, aku langsung ngumpulin jawaban biar kita bisa pulang bareng.
Hehehe.... gak lulus deh.” Jawab Intan sambil tertawa. Aku bingung, aku sedih,
tapi akupun gembira. Diantara ratusan siswa aku adalah salah satu siswa yang
lulus mewakili SMP ke ajang bergensi itu.
“Oke, aku berjanji tidak akan
membuat kesempatan ini menjadi sia-sia, aku janji akan menang dan membuatmu
bangga denganku.” Ucapku terhadap Intan.
“Hmm. Awas ya, aku pegang
kata-katamu. Aku pengen kamu menang dan menjadi nomor satu di bidang fisika.”
Sambil memegang tanganku.
Kadang-kadang kita sebagai manusia
harus melalui masa-masa sulit untuk menjadi sukses. Karena tidak ada kesuksesan
yang terjadi tanpa usaha yang besar, setiap kesuksesan terjadi dengan usaha
yang besar pula. Bukan maslah kau sukses atau tidak, masalahnya adalah apakah
kau menjadi teman yang baik atau tidak.
****
Subscribe to:
Posts (Atom)



