Friday, 15 February 2013

pesan untuk seorang sahabat


SALAM SEMANGAT!
            Ini bukanlah sebuah cerita, tapi sebuah pesan dan kesan kepada seluruh pembaca yang ada diseantero jagat raya. Bukanlah bermaksud mengurui, tapi hanya memberikan semua pengalaman yang pernah saya alami.
            Terkadang ketika kita hidup disuatu tempat, kita akan banyak mendengar suara gaduh dari banyak orang. Suara-suara menjatuhkan yang tak mau melihat kita menjadi orang yang lebih baik. Perkataan sinis yang mengucapkan bahwa anda tak akan bisa melakukan sesuatu. Itu semua sudah biasa ada dimuka bumi ini, janganlah pernah mendengar ucapan sinis itu.
            Setiap manusia memiliki jatah untuk sukses yang sama. Bagaimana dengan kegagalan? Gagal memang memiliki jatahnya untuk dinikmati, tapi keberhasilan juga hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
            Tak akan ada makan siang yang gratis, jika kau matipun mereka tak akan menemanimu didalam kubur. Jangan dihiraukan apa yang mereka katakan, jadikan perintah tuhan dan rasul-rasulmu sebagai acuan. Sebagaimana Tuhan membuat manusia, seperti itulah Tuhan menyayangi manusia.
            Apabila kita telah hidup lebih jauh lagi dan mengharapkan rejeki, tenanglah karena rejeki memang telah ditakdirkan oleh Tuhan dalam kadar yang sama. Tinggal bagaimana cara anda mengambilnya, cara yang baik atau buruk.
            Apabila kita telah hidup lebih jauh lagi dan mengharapkan jodoh yang anda inginkan, tenanglah karena jodoh memang telah ditakdirkan oleh Tuhan dalam kadar yang sama. Tinggal bagaimana cara anda mengambilnya, cara yang baik atau buruk.
            Sekarang tergantung diri kita masing-masing. Janganlah menjadi pribadi yang mudah menyerah jika mendengar kata-kata sinis. Jadikan kata-kata sinis sebagai acuan anda untuk tetap berpijak tegap didataran yang lebih tinggi. balas cemoohan dan hinaan mereka dengan keberhasilan kita, janganlah kita balas dengan cemoohan pula. Karena, disaat mereka sibuk membicarakan dan mengurusi kesalahan dan kelalaian kita, maka kita pula harus sibuk memperbaiki diri kita. Beli mulut orang-orang yang dulu menghinamu dengan kesuksesan yang ada pada dirimu.
            Orang yang berkata sinis dan pesimis hanyalah orang-orang yang kehidupannya sebatas itu-itu saja, dia tak mau orang menjadi lebih baik dari pada dirinya. Untuk menjadi orang yang hebat memang butuh pengorbanan: kehilangan nama baik dan rela dibenci banyak kalangan, jatuh bangun bahkan terbanting dengan kuat, ditinggalkan sendiri tanpa ada satu orangpun yang mau bergabung dengan kita, dan yang pasti masih bayak lagi. Orang sukses bukanlah orang yang berjuang dengan cara yang biasa, tapi orang yang berjuang dengan cara yang sangat  tidak biasa, melawan hukum alam walaupun itu hakikatnya. Orang suksees bukanlah orang yang berjuang setengah-setangah, tapi orang yang berjuang dengan penuh keyakinan dan kefahaman yang benar. Orang sukses juga bukanlah orang yang melupakan orangtua, orang lemah, guru, dan orang yang ada dibalik kesuksesannya.
            Sebagai pelajar dan mahasiswa, kita tak berbicara tentang tulisan hitam yang tertuliskan angka-angka diatas kertas putih yang bernama: raport, Ijazah, KHS dan lain-lain. Tapi tentang apa yang telah kita lakukan demi kelangsungan hidup orang-orang yang ada disekitar kita, apa manfaat kita yang hidup disekitar mereka. Karena kita pemuda, sebagai agen perubahan keadaan rakyat untuk menjadi lebih baik.
            Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang tangguh, dan saya juga berharap agar semoga saja para pembaca juga termasuk sebagai orang yang tangguh dan tidak mudah putus asa. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, maka janganlah berkecil hati jika kau mengalami kesulitan dan kegagalan dalan satu hal tertentu. Karena kau pasti bisa di hal lain yang lebih baik untukmu.
            Jadilah diri anda sepenuhnya, jadilah diri anda dengan sepenuhnya, jadilah diri anda tanpa memakai barang mewah milik orangtuamu, tapi barang jelek dan buruk yang kau usaha sendiri dengan jerih payah keringat yang bercucuran. Karena makna perjuangan itu akan setelah engkau merasakan nikmatnya apa yang kau miliki adalah seutuhnya hasil jerih payah perjuangan dirimu.
            Biar kita terluka, biar kita terhina, tapi hidup kita penuh warna. Saatnya kita menghadap kesemesta, memekarkan sayap garuda untuk mengapai apa yang kita inginkan. Untuk menebar senyum pada semua orang yang ada dimuka bumi ini. Tak akan ada orang bisa tanpa mencoba.
            Jadilah orang cerdas yang selalu memikirkan sesuatu dengan pemikiran yang menjangkau masa depan. Bukanlah hanya menjangkau masa sekarang yang sedang dinikmati. Jadilah dirimu sendiri! Karena kemarin hanya sejarah, hari ini anugerah dan hari yang akan datang adalah misteri.
            Jika kita merasa akhlak kita masih kurang, marilah kita perbaiki. Sebaik-baiknya orang pasti punya masa lalu, sedangkan seburuk-buruknya kita masih punya masa depan untuk menjadi lebih baik. Jikalau usahamu untuk memadamkan api besar dengan setetes air tak berhasil, maka Tuhan tak akan melihat apakah api itu padam ataukahh tidak. Tapi Tuhan akan memandang usahamu yang berat itu. Seperti itulah, janganlah kamu menyerah dan berkecil hati jika usahamu masih kurang, karena usaha itulah yang akan kita pertangung jawabkan kelak.
            Karena kita memang manusia yang tak sempurna, dan memang tak akan pernah sempurna. Karena ketidak sempurnaan itulah yang membuat manusia sempurna. Tetap sukuri apa yang kita punya, setiap waktu kita menikmati anugerah hidup yang diberikan Tuhan dan itulah yang pantas kita miliki.
PESAN KEPADA SEORANG CALON APOTEKER DARI SEORANG CALON DOKTER (SAHABAT DEKAT YANG JAUH DISANA)
            Ingatkah kamu sahabatku saat kita keliling kota Palembang, menikmati malam dengan makan bersama berdua. Bersenda gurau, bercanda, mengomentari apa topik yang hangat untuk dibicarakan. Pergi jam tujuh malam dan pulang jam duabelas malam. Bahkan pergi jam empat sore dan pulang jam tiga pagi.
            Kita seriang bercerita tentang kehidupan kita satu sama lain, kau membanggakan almarhum ayahmu yang baik itu, dan aku membanggakan ayahku yang super hero ini. kita sering menceritakan wanita-wanita yang sering kita taksir atau pengen digebet. Sering pula bercerita tentang film kartun seperti Naruto, Hunter X Huter dan lain-lain.
            Kita sering berpuasa bersama, shalat bersama, ikut pengajian bersama, ke Universitas Sriwijaya bersama, dan masih banyak lagi hal yang kita kerjakan bersama. Aku mengajakmu untuk ikut Pramuka, kamu mengajakku untuk ikut Lembaga Dakwah kampus. Kita berdua saling melengkapi dan bertukar cerita, indah nian untuk dikenang kawan, kau kawan yang mengajarkan hal yang baik, mengajarkan yang hak, dan tak menjerumuskan ke api neraka, belum aku dapatkan teman yang sepertimu.
            Setelah semester dua, kau masuk ke Dewan Perwakilan Mahasiswa dan aku masuk ke Badan Eksekutif Mahasiswa. Kita saling berbagi tugas, menghormati hak yang satu dengan yang lainnya. Aku bangga akan hal itu, kita adalah orang yang tak mudah patahkan oleh siapapun. Kita tak takut dan tak pernah takut dengan apapun, kita selalu membela hak-hak mahasiswa/i dan hak-hak orang-orang yang ada disekitar kita.
            Aku mengajakmu masuk ke Ikatan Remaja Masjid Agung yang sederhana, tapi kau mengajakku ke Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang sangat luar biasa aku mendapatkan ilmu disana. Kita akan menjadi orang alim bersama, kemasjid bersama, mendapatkan banyak pengetahuan baru bersama, kita berekpedisi keliling Sumatera dan Indonesia bersama dan kita mengunjungi tempat bersejarah bersama.
            Kau sering mengucapkan kalimat ini, “Agus, aku belum banyak tahu tempat-tempat di Palembang ini. aku belum banyak tahu ilmu pengetahuan. Kau mengajarkan aku biar tau Gus.”
            Aku selalu mengucapkan kalimat ini, “Arif, aku belum banyak tahu tentang agama, kebijaksanaan dan kebaikan. Kau memberitahuku bagaimana cara menjadi seperti itu.”
            Banyak sudah jalan yang kita lalui, banyak sudah ilmu yang kita gali bersama, banyak sudah organisasi yang kita ikuti dan kita tapakkan kaki kita disana, tiga negara telah menjadi saksi persahabatan kita. Tiga puluh tiga propinsi yang telah melihat kita selalu berdua.
            Tapi sejak pengumuman SNMPTN itu, aku dan kamu langsung berubah. Diakhiri dengan perjalanan kita ke Lampung yang melelahkan itu, diakhiri dengan makan mie tek-tek di pelataran Sungai Musi yang lebar dan panjang itu.
            Terasa dunia hancur, terasa air mataku ingin tumpah, tak tertahankan lagi. Persahabatan kita yang berusia muda, harus terpisahkan oleh jarak yang jauh sekali. Kau diujung selatan Pulau Sumatera sedangkan aku di ujung utara. Apakah memang kita harus saling melengkapi kawan? Utara dan selatan, akan menjadi lagenda persahabatan yang tak akan pernah hancur ditelan zaman.
            Saat kita menjadi sukses. Dirimu menjadi seorang apoteker dan ku menjadi seorang dokter, kita berdua akan membawa perubahan besar menuju dunia yang lebih baik. Mengantikan lagenda Hipokrates, Higea, Avicena, Aviceroz dan lagenda kesehatan lainnya. Dan kita akan dipelajari dalam sejarah reformasi ilmu kesehatan nantinya. Karena itulah guna Mozaik kehidupan yang akan disusun menjadi mozaik kemenangan dalam cerita album klasik. Aamiin, ya rabb.

Wednesday, 13 February 2013

BARU TERSADAR AKAN 10 FEBUARI 2013

Ingatkan akan suatu bintang yang ada dilangit yang cerah. mungkin kita dapat melihatnya dan memberinya nama Avena? bagaimana dengan bintang kedua yang bersinar agak terang yang ikut menyinari AVENA? kita beri dia nama AVITATI. bagaimana bisa sebuah bintang yang terang seperti AVITATI bisa membantu AVENA dan melindunginya dengan sinar cahyanya yang terang.
Oh bukan begitu!  bukankah mereka memiliki kebutuhan yang sama dan tak pernah bertemu akibat orbit yang berbeda. mimpi AVENA adalah mimpi AVITATI juga, mimpi AVITATI kurang lebih mimpi AVENA juga.
aku bukanlah laki-laki yang menginginkan cinta dari siapapun lagi, bahkan jika itu seorang wanita yang dulu pernah aku damba-dambakan. aku yakin dengan semua yang ada padaku, kekuranganku, kelebihanku bahkan semua kecacatan yang ada padaku.
Sekarang bukan saatnya untuk mengejar AVENA, sekarang adalah saatnya mengejar cita2 yang tergantung erat dibibir matahari.
kelebihanmu sangatlah banyak AVENA, sekarang kau telah mekar menjadi SUPERNOVA "Yang apabila bintang telah pecah seperti bunga mawar/kilauan minyak". kini kau adalah SUPERNOVA, bukan lagi AVENA. dan aku tetaplah AVITATI, tak lebih dan tak lebih.
jangan takut akan kesendirian, sungguh walaupun dikonstelasi gelap walau sunyi, sungguh kau memang tak pernah benar2 sendiri, sehingga akhirnya kau akan mengorbit jauh mengikuti bintang2 yang keluar dari galaxsi bima sakti. indah, indah, dan indah bukan???
Apabila kau sakit hati karena cinta maka "Naiklah ke gedung yang tnggi atau naik ke pohon kelapa yang paling tinggi, lihatlah dibawah, masih banyak yang menanti cintamu." 
aku senang karena kau telah menemukan galaxi spiral baru yang mungkin bisa mengayomimu, galaksi setia yang akan mengikat dirimu dalam ikatan suci yang saling janji untuk berbakti pada ILLAHI.
aku senang, aku ingin, aku tak mau ketinggalan saat bahagiamu, AVENA yang telah menjadi SUPERNOVA terindah di Alam semesta ini.
AVITATI adalah aku yang akan selalu melihat ke angkasa, meraih semesta dan melindungi banyak orang yang aku sayangi. termasuk adikku. 
Kenapa mimpimu dan mimpiku sama, kenapa mimpimu dan mimpiku dahulu tanggal 11 Juli 2011 dapat terkabulkan pada tanggal 10 Februari 2013. Yakinlah, apapun mimpimu itu, pasti terkabul, tapi hanya tinggal menunggu waktu. 
Mimpiku di Monas bersamamu, mimpiku di Istiqlal bersamamu, dan mimpiku di Istana bersamamu.
Ya Allah berikanlah dia kebahagian dihari pernikahannya nanti, aku siap sedia membantu apapun itu, karena hal yang baik seperti itu haruslah aku ikut membantu.
Ya Allah sempatkanlah aku melihat saat bahagianya nanti, untuk memenuhi hak saudaraku ini atas aku. haknya untuk dihadiri dalam walimatul ursy.
Semoga kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang berbeda apapun itu....
Allahuakbar

Friday, 1 February 2013

kuliah hukum cita-citaku


“Duarrrr” bunyi pintu yang dibuka dengan kasarnya. Dibawah kerumunan hujan yang menyelimuti atap rumah dengan airnya.
Tiba-tiba Antonio dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatu lagi, “Assalamualaikum, Ayah aku masuk UGM lho. Ini surat penerimaannya.” Sambil menyerahkan secarik kertas kepada ayahnya.
            Ayahnya langsung memukul kepalanya, “Ayah nggak peduli kamu mau masuk mana aja, yang penting kalo masuk rumah itu harus buka sepatu.” Begitulah bunyi repetan keras dari ayahnya.
            Sambil mengusuk-ngusuk kepalanya yang sakit karena dipukul ayahnya tadi, Antonio makin menjadi-jadi, “Ayah, aku kan masuk UGM, bangga kan??”, sambil mengoda ayahnya.
            Ayahnya langsung bingung dan menaruh perhatiannya kepada Antonio, “UGM?? Jurusan apa ya Ton?” ayahnya bertanya sambil memegang dagunya sambil berfikir.
            “Iya ayah, aku dapat PMDK di UGM dengan jurusan HUKUM!” serunya sambil berteriak kegirangan. “Aku dari dulu punya cita-cita jadi pengacara dan hakim ayah. Keren kan?” sambil menggoda ayahnya.
            “Pengacara? Kamu masuk Hukum? Yang bener?” ayahnya kembali meyakinkanya. Melototi mata Antonio yang sedang senang karena diterima di Fakultas Hukum.
            Antonio langsung membusungkan dadanya. Dengan yakinya dia berkata, “Iya donk ayah. Kenapa memangnya yah?” dia kembali bertanya kepada ayahnya.
            “Kalau kamu ambil, jangan coba-coba kembali kerumah ini lagi.” Ayahnya Antonio langsung meremas kertas itu dan melemparnya ke arah kotak sampah.
            Antonio langsung mengambil kertasnya lagi, “Tapi kan aku pengen masuk hukum ayah. Bagaimana ni?” dia mencoba membujuk ayahnya lagi.
            “Pokoknya cari jurusan lain! Kalo masih ngotot masuk hukum. Jangan lagi pernah menginjakkan kaki dirumah ini. titik.” Ucap ayahnya dengan nada kesal.
            Antonio yang frustasi langsung keluar rumah untuk menenangkan diri. Dibawah atap warnet yang teduh, dibalik biliki-bilik komputer yang berjajar rapi diantara sekat-sekat triplek yang bercatkan dengan warna biru. Antonio mencari informasi kuliah lainnya, ada STSN, Akmil, STIS, STAN dan lain-lain. Lama-lama dia menjadi bingung sendiri ingin masuk kemana nantinya.
            “Aduh, ujian sudah selesai. Pengumuman udah selesai. Bagaimana ni? Masa aku jadi pengangguran terselubung lagi.” Fikirnya dalam hati.
            Tak terasa azan isya sudah berkumandang, tak terasa pula sudah dua jam Antonio duduk dibilik warnet tersebut.
            “Buuuurrrr...” begitulah suara air hujan yang jatuh dari atas langit. Membasahi atap warnet dan membuat dingin suasana.
            Tiba-tiba HP Antonio berdering, “Asslamualaikum mama, ada apa ya?” langsung mengucapkan salam kepada mamanya yang menelpon.
            Suara mamanya yang agak besar itu langsung mengatakan, “Nak, pulang ya sekarang. Udah malam, kamu jangan frustasi gara-gara dilarang masuk hukum oleh ayahmu.” Tanpa banyak bicara lagi, mamanya langsung mematikan telpon.
            Antonio langsung saja menerobos hujan, walaupun badannya terasa agak meriang. Dengan kecepatan tinggi, nggak memakai jaket, dan hanya memakai kaos oblong. Mungkin kalian bisa membayangkan bagaimana dinginnya.
            Setelah sampai dirumah, dia langsung mandi dan memakai selimut. Mamanya yang agak sedikit prihatin langsung berkata, “Nak, kamu kenapa? Kedinginan ya? Ntar ya mama ambilkan tolak angin dulu.” Sambil berjalan ke kotak P3K keluarga yang menempel didinding ruang keluarga yang luasnya delapan kali depalan itu.
            Sambil mendekati tubuh anaknya yang berbaring dikasur ruang tengah itu, “Kamu juga pulang malam-malam, gak pake jaket, terus gak pake jas hujan lagi. Untung ayahmu lagi ada rapat masjid. Kalo nggak bisa dimarahi kamu nak.”
            Antonio langsung beranjak dari kasur dan mendekati pangkuan mamanya, “Ma, iya. Aku gak bakalan pulang malem, nggak pake jas hujan dan akan selalu pake jaket. Aku janji.” Sambil tersenyum sedikit kepada mamanya yang sedang memangkunya.
            Mamanya langsung membuka bungkus tolak angin sambil mendekatkannya kemulut Antonio, “Ini ya, makan ni tolak angin. Sampai habis, jangan ada yang disisakan.” Sambil memasukkan tolak angin kemulut anaknya, mamanya langsung sambilan memberikan ceramah kepada Antonio, “Kamu ini, lain kali nurut sama kata-kata orang tua. Kalo kamu bantah kan jadinya kayak gini!” seru mamanya.
            “Iya ma.” Tiba-tiba Antonio langsung muntah tolak angin. Sehingga mulutnya mengeluarkan cairan tolak angin yang berwarna hitam ke coklatan.
            “Assalamualaikum.” terdengar suara seorang laki-laki yang mengucapkan salam sambil membuka pintu belakang rumah. Ternyata itu adalah ayah Antonio yang baru pulang dari rapat harian penggurus masjid yang ada dikomplek rumahnya. Ayah Antonio adalah seorang arsitek ternama di Propinsi tempat dia tinggal, jadi ayahnya akan menjadi perancang bangunan masjid yang akan direnovasi nanti.
            Ayahnya langsung masuk kerumah dan melihat mulut Antonio mengeluarkan cairan hitam muntahannya tadi. Tanpa banyak bertanya lagi ayahnya langsung marah, “Kamu ini, belum masuk Fakultas Hukum, udah berani minum-minuman keras.” Ayahnya langsung memukul kepala Antonio. “Jangan gara-gara nggak ayah izinkan masuk hukum kamu mabuk-mabukan kayak gini.” Tamparan kedua langsung melayang ke wajah Antonio.
            “Ayah.. ayah jangan dupukul Antonio.”, mama Antonio langsung melarang untuk memukul Antonio lagi. “Dia bukan minum-minuman keras, tapi dia tadi baru aja makan tolak angin, ayah.” Ucap mama Antonio sambil mengaruk-garuk bagian atas kepalanya.
            Ayah Antonio langsung berhenti memukul, “Ohhh... berarti ayah salah ya ma? Hehe.” Sambil tertawa kecil. Beberapa saat kemudian, bukannya merasa bersalah ayah Antonio malah tertawa bersama-sama dengan mama Antonio.

Tuesday, 25 December 2012

AKU AKAN KE SRAGEN


“Horeee, akhirnya aku masuk final.” Teriakku didalam kelas petak yang sepi. Langsung teman-temanku banyak yang terbangun dari tidurnya, maklum jika nggak ada guru kebanyakan dari kami tidur di dalam kelas.
            Herpi yang terbangun dari tidurnya langsung bertanya kepadaku, “Wahai Agus yang sedang senang, ada apa gerangan. Final apakah yang Agus ikuti?” dengan nada lebainya
            “Nggak ah Pi, kemaren aku ngirim karya ke UNS. Karyaku masuk final Pi.” Teriakku, sambil menuju kantor untuk membuat dispensasi. Dikarenakan aku akan pergi ke Solo besok.
            Banyak orang yang bertanya-tanya. Mereka bingung kenapa aku sangat senang dan girang, karena biasanya jika aku pergi-pergi ke level nasional biasa-biasa aja, nggak senang dan segirang ini. Hingga salah satu temanku bertanya kepadaku yang sedang membawa surat dispensasi.
            “Gus, kenapa kau senang sekali ikut final lomba itu? Kan Cuma ke Solo.” Ujar Wahyu sambil melihat surat dispensasi yang ada ditanganku.
            Aku langsung memasukkan surat dispensasi kedalam tasku. Aku langsung diam sejenak menenangkan diri. Menarik nafas sambil melihat ke arah luar jendela. “Aku bukan senang dengan pergi ke Solonya Yu. Aku senang, nanti aku bisa ke Rumah Sakit Kariyadi untuk melihatnya, dan bertemu dengannya lagi. Kemaren nggak sempet ketemu Yu, dia keburu pergi.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut aku langsung pergi ke asrama untuk membereskan pakaian lalu memasukkannya kedalam tas eiger milikku.
            Seperti biasa aku menunggu di ruang keberangkatan Bandara Depatiamir Kota Pangkalpinang. Akhirnya pesawat Sriwijaya Air yang akan aku tumpangi datang juga, semua penumpang langsung masuk kepesawat. Aku baru tahu kalau nggak ada pesawat yang langsung ke Solo. Aku harus transit dahulu ke Soekarno Hatta, barulah langsung meluncur ke Bandara Adi Soemarmo Solo.
            Aku langsung dijemput oleh kakak-kakak yang berasal dari UNS. Suasana klasik Kota Solo yang sangat menghormati buadaya aslinya. Aku langsung digiring kesebuah wisma yang letaknya tak jauh dari UNS. Didalam wisma itu aku bersama dengan beberapa peserta lainnya, ada yang dari Jakarta, Manado, Palembang, Medan dan Bogor. Aku langsung berbaring sejenak dikamarku, aku membayangkan sebentar lagi aku bisa bertemu dengan Intan. “Bagaimana ya kabarnya sekarang? Aku jadi penasaran.” Lamunanku langsung dikacaukan oleh seorang yang kurus ceking, seingatku namanya Petrik, ya dia Petrik seorang pria yang kayak homo berasal dari manado. Ya, mungkin anda bisa membayangkannya seperti Mongol Standup Comedy.
            “Kok kita senyum-senyum sendiri dari tadi?” anak kurus ceking itu langsung mengalihkan permasalahan, setelah dia tusuk pantatku dengan sebatang pena tadi.
            Sambil memegang pantat yang kesakitan aku langsung menjawab perkataannya, “Kita senyum? Kalo aku senyum karena ada deh. Mau tau aja kamu.” Seruku.
            Dia langsung tersenyum kepadaku, “Kita dari mana bang? Saya dari Manado.” Sambil mengajakku berjabat tangan.
            Aku langsung menggaruk kepalaku sambil tersenyum, “Kita? Bukannya kita baru kenal. Kok nanya kita dari mana.” Aku langsung bingung kenapa dia bilang “kita”.
            “Kita itu artinya, kamu bang. Jadi kamu dari mana?” jelasnya kepadaku sambil tertawa terbahak-bahak.
            “Aku dari Bangka, kamu dari Manado? Jauh kali ya.” Aku terkagum melihat orang jauh ini. terlihat dari matanya cerminan orang pintar.
            Setelah mengakhiri percakapan konyol kami, makan malam pun dimulai. Kami langsung keruang pertemuan untuk memulai menyantap makan malam yang telah disediakan. Aku dan Petrik langsung mengambil makanan yang dihidangkan secara prasmanan. Suasana ruangan yang mewah, dihadiri para tamu undangan. Termasuk Rektor UNS saat itu, setelah habis menyantap makan malam. Kami kembali ke meja prasmanan dan mengambil makanan lagi untuk yang kedua kalinya. Ya, memang kami berdua memiliki jiwa yang sama.
            Kami melalui lorong terang yang disana terbentang karpet merah, kami langsung pergi ke kamar tanpa mendengarkan pengarahan dari Rektor UNS yang sedang memberikan pengarahan.
            Sambil berjalan dan membuka pintu kamar wisma, Petrik langsung bicara kepadaku, “Kamu kok langsung masuk ke kamar Gus?”
            Aku langsung tersenyum dan menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang simpel. “Sampean kenapa masuk?” serentak kami berdua langsung tertawa sambil berguling-guling di kamar.
            Ruang redup yang luas, dihadiri oleh ratusan penonton, tiga dewan juri dan penanya. Akhirnya hari ini kami berkumpul di aula untuk mempresentasikan hasil penelitian kami. Aku mendapatkan nomor urut dua, ya sesuai dengan nomor kesayanganku. Akhirnya waktuku maju telah tiba, aku mempresentasikan tentang nasib anak penambang timah yang ada di Bangka. Waktu yang diberikan kepadaku hanyalah sedikit, cuma limabelas menit karena masih banyak peserta yang ngantri.
            Setelah selesai membacakan sebanyak lima puluh tiga slide selama duabelas menit. Aku langsung dihujani pertanyaan oleh para penguji yag notaben adalah Profesor dan ahli atau pakar.
            Pertanyaan pertama yang sangat membuatku terdiam sejenak adalah, “Kenapa anda memilih dan tertarik untuk judul ini?” sang penguji langsung bertanya.
            Aku terdiam, menarik nafas dan berkata, “Karena, dulu waktu sekolah saya adalah anak nakal, dan banyak berteman dengan orang-orang yang seperti ini.” begitulah dengan singkatnya aku menjawab.
            Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Giliranku selesai dan sekarang adalah giliran Petrik yang maju kehadapan penonton. Ternyata judul yang dia ajukan lebih aneh dari pada judul yang aku ajukan, “Belajar Fisika Lebih Menyenangkan” begitulah judul yang dia ajukan ke UNS. Beberapa menit berlalu, dia langsung dihujani pertanyaan oleh penguji.
            Salah satu Profesor yang ada disana langsung mengambil kaca matanya dan akan mulai membunuh Petrik, “Ya dek, saya lupa bawa buku. Jadi pertanyaan saya mudah, anda bisa membuat persamaan benda jatuh dengan ditahan oleh papan yang bengkok kearah kiri dan kanan dengan sudut enam puluh derajat? dan hukum apa yang digunakan?” setelah bertanya bapak itu tiba-tiba tertawa.
            Mungkin karena bingung atau kenapa, Petrik langsung terdiam memasang wajah pucat dan mulai menjawab. “Maaf pak, saya kurang mengerti fisika.” Sambil tersenyum kecil dan memegang belakang lehernya.
            Bapak itu sepertinya mau marah, “Judul kamu kan Fisika mudah, kenapa kamu sendiri kurang mengerti fisika? Bagaimana kamu ini.” cercanya.
            Setelah tampil kami berdua langsung pergi jalan-jalan keluar, aku langsung mencari tahu dimana letak Rumah Sakit Kariyadi. Aku langsung bertanya dengan orang sekitar. Ternyata tak jauh juga dari sini.
            Sambil berjalan keliling Petrik berkata, “Gus, kamu mau kemana sih?” sepertinya Petrik mulai kelelahan karena mengikutiku.
            “Aku nyari Rumah Sakit Kariyadi, katanya disekitar sini.” Ujarku sambil meneruskan perjalanan kami.
            Dia sepertinya bingung dan bertanya lagi kepadaku, “Nyari siapa disana Gus? Kerjaanmu aneh-aneh sekali Gus.”
            “Mencari seseorang.” Aku langsung tersenyum dan melihat kearahnya. “Kau tak akan mengerti, karena kau belum tahu masalahnya.” Aku langsung merangkulnya dijalanan yang ramai sekali dengan pedagang yang menjajakan dagangannya.
            Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam dengan jalan kaki, kami langsung mencari mobil bus menuju ke arah Rumah Sakit tersebut. Aku langsung masuk dan mencari kursi yang enak buat kami istirahat. Beberapa saat diperjalanan kami langsung mencari bejak, tanpa bertanya dan nego harga lagi kami langsung naik dan menuju Rumah Sakit Kariadi.
            Aku langsung menuju ke resepsionis dan bertanya, belum mendapatkan jawaban dari resepsionis aku belum puas. Aku tetap mencari dimana dirinya bertanya kepada perawat lalu keliling Rumah Sakit. Tapi hasil yang aku dapatkan nihil. Didalam hiruk pikuk sarana medis ini aku hampir saja putus asa. Aku langsung duduk dikursi tunggu sambil menunduk karena putus asa.
            Petrik langsung memegang pundakku dan berkata dengan bijaknya, “Aku mengerti sekarang, bagimu dia seorang yang berharga ya.” Sambil melihat kearah wajahku, “Tegakkan kepalamu, aku akan bantu mencari. Coba hubungi dirinya, bisa kan?”
            Aku langsung tersadar dengan ucapannya, aku langsung menegakkan kepalaku dan mengambil handphoneku. Aku langsung menelpon nomor HP-nya, “Kenapa nggak diangkat.” Desah susahku dalam hati, diantara keramaian aktivitas rumah sakit.
            Sudah sepuluh kali aku menelpon, tapi nggak diangkat juga olehnya. Aku bingung, aku langsung menelpon Ibunya, meminta keterangan dimana sekaang dia berada. Ternyata sekarang dia tidak dirumah sakit lagi, dia sekarang ada di Solo.
            “Dispensasiku tinggal dua hari lagi, ya wajarlah kan hanya untuk ikut kegiatan ini saja. Nggak untuk jalan-jalan.” Ungkapku kepada Petrik.
            Petrik langsung memotivasiku, “Aku juga Gus, tapi yang jelas kita harus menemukannya dulu.”  Petrik langsung mulai menarik tanganku agar bergegas kembali ke Solo. Kami langsung naik bus lagi untuk kembali ke Solo.
            Perjalanan Solo Semarang yang sangat melelahkan hari ini, ditengah bisingnya suasana kota klasik itu kami bergegas berlari menuju ke alamat yang diberikan oleh ibu Intan. Akhirnya kami memintabantuan kepada teman kami salah satu peserta yang berasal dari Solo.
            Aku langsung menunjukkan sebuah alamat kepadanya, “Tolong antarkan aku kealamat ini, tolong banget ya. Kamu tahu kan?” sepertinya aku agak memaksanya untuk membantuku, karena perasaanku sudah agak panik.
            Akhirnya laki-laki itu iba kepadaku, “Baiklah, ayo kita cari. Nanti ya, kita cari angkot dulu.” Ucap Dimas yang sudah siap membantuku. Dimas langsung mengajakku naik angkot yang ada diterminal. Kami langsung mencari dimana alamatnya, Jalan Asoka.
            Hilir mudik, sekarang matahari sudah mulai bersembunyi. Tik... tik..., kami langsung berlari mencari tempat teduh di Alun-alun Kota Solo karena air yang keroyokan udah turun dari langit.
            Aku langsung mengambil HP-ku untuk mengirimkan pesan singkat kepada Intan, sambil menoleh kearah Dimas aku berkata, “Kira-kira masih jauh Dim?” tanyaku kepada Dimas yang sedang membersihkan bajunya dari percikan air hujan.
            Dia langsung melihat dan menunjuk kearah utara dengan jari jempolnya, “Saya rasa disana lalu belok kanan.” Dengan bahasa yang medoknya.
            Petrik pun mulai berkata ngawur, “Ayo sekarang kita kesana, sebentar lagi akan gelap ni.” Sambil berlari kearah utara. Kami melihat Petrik yang berlari hanya bisa terdiam sejenak karena bingung, lalu berlari mengikuti Petrik yang sedang melawan hujan.
            Kami terus berlari kearah Utara. “Belok kanan, ayo ikuti aku.” Ajak Dimas yang ada didepan sambil memimpin kami berlari. “Asoka 7B. Ini tempatnya.” Dimas langsung menunjuk sebuah rumah yang ada disana.
            “Assalamualaikum, assalamualaikum.” Aku langsung memencet bel  rumahnya. Aku menunggu, dan “Tap!” bunyi knock pintu rumahnya, seperti sudah dibuka oleh seseorang berjilbab lebar, gemuk dan tingginya hampir sebahuku.
            “Intan? Benar?” aku memastikannya, karena delapan bulan sudah kami tak bertemu, ternyata membuatnya telah jauh berbeda. Dia sakit selama delapan bulan, sempat koma selama dua bulan. Dia diam sejenak, memasang wajah bingung sambil berkata, “Iya, kamu siapa ya? Mau cari siapa?” dia balik bertanya dengan nada datar dan dingin.
            “Aku Agus, tau nggak? Temenmu dulu dari SMP. Kita dulu deket lho Tan, sering main sama-sama dan jalan sama-sama.” Aku coba meyakinkan, aku bingung kenapa dia tiba-tiba bisa lupa denganku. “Apakah dia hanya main-main.” Tanyaku dalam hati.
            “Aku nggak kenal siapa kamu. Sungguh! Aku nggak kenal.” Sepertinya dia sudah mulai ketakutan, karena nada bertanyaku tadi seperti memaksa. Aku langsung menjadi agak panik dan kesal, aku langsung memgang bahunya sambil mengoncang tubuhnya, “Hey, aku Agus, temen dekatmu. Kita dulu kesekolah sama-sama, pulang sama-sama. Kita dulu main sama-sama. Kamu dulu nganterin aku ke asrama, jalan bersama ... bla.... bla... bla...” rentetan kata-kataku yang panjang dengan nada kasar sambil mengoncang badannya.
Tapi dia hanya diam, tak membalas kalimat rentetan yang panjang dariku, “Dan aku menyayangimu, aku berjuang sampai sekarang untuk bertemu denganmu, untuk melihat wajahmu, kenapa? Apa sekarang kau sudah lupa denganku? Kenapa?” banyak kalimat tanya yang keluar dari mulutku untuknya. Tiba-tiba air mataku menetes satu persatu.
Tiba-tiba Intan langsung memasang wajah marah dan berteriak, “Mbah, tolong ada orang aneh menganggu Intan. Mbah tolong!” setelah dia berteriak, datanglah sosok wanita tua akan keluar rumah. Setelah melihat wanita tua itu kami langsung berlari mejauh karena takut dikira orang jahat. Aku berlari sambil meneteskan air mataku, melewati alun-alun kota.
Setelah dua hari berlalu aku langsung pulang keasrama. Aku mengambil sebuah album usang yang berisikan foto-foto ketika aku dan dia ketika masih berseragam putih biru. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya sekarang. “Apakah dia pura-pura ataukah memang begitu?”
Aku punya ide untuk bertanya kepada ibunya dirumah, aku langsung menelpon kendati apa yang sedang terjadi pada buah hatinya itu. Setelah berbincang selama setengah jam, aku baru tahu kalo waktu MOS SMA dia terjatuh dan kepalanya terbentur. Memang awalnya tidak berdampak apa-apa. Hingga akhirnya dua bulan kemudian dia terkena sebuah penyakit yang menyebabkan pembuluh darah diotaknya pecah, hingga membuat dia koma selama dua bulan di RS Kariyadi.
Setelah beberapa bulan dari koma dia mengalami Transiet Global Amnesia, yaitu kehilangan ingatan sementara. Dia seharusnya sudah kelas dua sama sepertiku, tapi sekarang dia mengulang dari kelas satu SMA kembali, dikarenakan dia sudah lebih dari delapan bulan tidak masuk sekolah karena sakit. Akhirnya dia dipindahkan di sebuah sekolah negeri yang ada di Surakarta.
Setelah mengetahui hal tersebut aku langsung searching di mas google tentang cara pengobatan amnesia sementara tadi, ternaya salah satu cara membuat dia bisa kembali mengingat adalah membuat pola ingatannya kembali. Aku mengambil album kenangan kami yang sepertinya sudah tampak usang, aku berniat untuk mengirimkannya kepada Intan, agar dia bisa mengingatku kembali.
Aku hanya bisa berharap, Semoga album klasik yang tersisa diantara kami berdua dapat mengingatkan dia akan kenangan klasik yang dulu telah kami lalui. Aku hanya bisa berharap sambil meneteskan air mata sambil memasukkan surat dan album kedalam amplop buram.
Mozaik-mozaik hati itu akan membuat sebuah kekuatan yang hampir serupa dengan keajaiban yang tiada tara, bahka akal sehat dan logikamu tak akan mampu menjangkaunya.
****

Friday, 30 November 2012

KISAH KLASIK MOZAIK CINTA


Saat aku harus pergi kesini dan kau pergi ke kairo...
banyak hal yang ingin kukatakan, aku ingin lebih lama bertemu denganmu.
jam 13.40, aku berlari terus dan berlari menuju ke perpustakaan propinsi, aku dan kami terburu-buru karena jam 15.00 kau akan pergi ke bandara untuk ke kairo, dan aku pun akan pergi kepelabuhan jam 15.00 untuk berangkat. setellah bertemu diperpustakaan kita pergi ke kambang iwak, taukah saat itu kita berbicara berdua, berbincang mengenai hidup kita. aku dan kamu hanya baru kenal bebeapa bulan, tapi kita sudah dekat sekali.
Mungkin perpisahan yang sementara inilah yang akan menjadi peluntur dosa kita yang saling mencintai. mungkin memang Allah yang berkehendak kita terpisah jauh, tanpa bisa berkomunikasi. Aku akan memantaskan diriku untukmu, karena dirimu adalah wanita yang sangat beriman dan berilmu, dan akupun harus seperti itu.
Jam menunjukkan 14.12 WIB, kita masih asik berbicara, ngobrol masalah hidup dan masa depan. kita masih sempatnya bercanda untuk yang terakhir kalinya, aku masih ingat beberapa bulan yang lalu. tak taukah aku merindukanmu? tapi kau belum halal bagiku, tak mungkin aku menyebutkan kata "Kangen" untuk org yang bukan mahramku, aku hanya bisa melampiaskannya kepada Tuhanku dalam tahajudku. "Allah pertemukanlah kami lagi" doaku dalam shalat sambil meneteskan air mata. pada 14.30 kita masih bercanda, makan-makan dan selalu tertawa.
"Aku mau kebandara." ucap dirimu, "Aku juga mau kepelabuhan" aku ikut menjawab. kita sama-sama akan berangkat ke tempat jihad kita masing-masing. aku ingin waktu menjadi berjalan lambat, aku ingin kita lebih lama berdua. Aku tak sanggup untuk pergi sekarang.
Aku sekarang menanti sendiri setiap bulan febuari, karena kesempatanku hanya febuari untuk bertemu denganmu. Lama sekali ya bulan febuari. hanya Al-quran kecil yang kau tinggalkan kepadaku. "Jadi hafiz ya, jadilah dirimu sendiri, tetap menjadi orang yang berani. karena belum pernah kulihat org seberanimu. tetaplah jadi mutiara didalam lumpur" pesannya kepadaku.  "Kau pun jadilah hafizah, jangan lupa makan ya." Aku berucap seperti itu sambil memberikan satu al-quran juga. Hari itu memang Indah, tapi mungkin aku tak mau kesurga sendirian, dan kaupun begitu. Ku harap kita bisa kesurga bedua.
Sekarang kita hanya bisa saling berkirim surat, dari photo yang kau kirimkn sekarang kepadamu, dari surat yang sekarang kukirimkan padamu...
15.00 WIB aku berangkat kepelabuhan dan kau langsung menuju bandara untuk kekairo. Kita berpisah, dari awalnya kita tertawa, hingga sekarang kita menanggis karena perpisahan ini. pertemuan terakhir kita, walau indah untuk dilupakan, tapi terlalu pahit untuk dikenang...
Kebersamaan kita bukanlah tentang raga, tapi tentang mozaik-mozaik kecil yang tersusun rapi didalam hati. :)
semoga kisah ini bukan hanya mjd kisah usang klasik album kita dan akan merubah paradigma klasik kisah cinta yang ada. 
Menjadi kisah Klasik pelengkap Romeo juliet, Qais-laila, Taj mahal, Loro jograng dll. kisah aku dan kamu.
aku merindui wajahmu yang bulat dan badanmu yang kayak beruang. hahahaha
Cinta kita berhijabkan Samudera Hindia. Antara Kairo Afrika dan Sumatera

Wednesday, 21 November 2012

Bertajuk Mimpi


Sekolah begitu sepi hari ini, yah ini hari minggu. Aku datang kesekolah dengan terburu-buru. Membawa banyak buku dengan judul FIM (Fisika Itu Menyenangkan), kumpulan soal-soal olimpiade, dan banyak buku lainnya.
“Aduhhhh... badanku rasanya capek sekali, kepalaku pusing tau ngak? Kenapa tiap hari harus begini? Bimbingan terus bimbingan terus.” Keluhku, aku merasa tak kuat lagi jika tiap hari harus begini. “Iya, gus. Olimpiade udah didepan mata tau ngak? Kalo menang kan kamu juga yang bangga, bisa gagah-gagahan didepan Intan.” Ucap Maulidya. “Iya juga ya Gink.” Aku sudah mulai semangat sekali. Entah kenapa, setelah mendengar namanya disebut oleh Maulidya, semua derita yang aku alami hilang semua (alah lebay lo). Aku berusaha untuk kembali fokus, karena yang ada difikiranku bagaimana membuat Intan bangga terhadapku. “Gink, kira-kira aku bisa menang ngak? Gimana kalo ternyata nanti aku kalah? Aku takut.” Dengan nada banci aku mengatakan itu kepada Maulidya. “Ya, menang kalah itu urusan biasa Gus, jangan takutlah. Yang penting kita semangat dan sportif.” Maulidya memberiku ceramah sekaligus motivasi.
            Besok akan dimulai perlombaan, tapi aku sudah santai dan tidak lagi mau belajar. Pada hari itu, aku hanya berbaring didekat ruang tamu. Menemani ayahku yang sedang mengetik tugas Tesisnya. Aku bertanya pada ayahku, “Ayah, kenapa ayah tidak pernah bosan berteman dengan rumus fisika?” Ayahku adalah seorang insinyur jembatan senior. Beliau sangat tekun dalam mempelajari banyak hal, bahkan setiap aku memiliki game baru dia berusaha untuk menamatkan game tersebut. “Kenapa ya? Karena hobi ayah mungkin.” Ayahku menjawabnya dengan pandangan keatas seperti agak mikir. “Kalo hobi kenapa ayah?” Agak bingung mendengar jawaban ayah. “Kalau Hobi, kamu pasti akan menekuni dan menyenanginya. Sama seperti ayah, menekuni dan menyenangi pekerjaan ayah.” Setelah mendengar pencerahan dari ayah aku menjadi semangat kembali. “Ayah, besok kan aku mau lomba. Bagaimana caranya agar aku bisa sukses dalam lomba itu yah?” aku merangkak mendekati ayah. “Cari aja motivasimu, apa alasanmu untuk menang? Kau harus punya. Itu akan menjadi pemicu perjuanganmu nak.” Sambil memukul bahuku dan tersenyum. “mengerti?” Ayahku meyakinkanku. “Mengerti ayah. Doakan aku ya, aku mau tidur.” Sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
            Kukuruyuk, bunyi ayam jantan yang sedang memecah keheningan subuh. Aku memulai shalat subuh dan sedikit membaca. “Aku harus menang.” Gumamku dalam hati. Akhirnya hari pesakitan tiba, kami berkumpul di SMP 2 Sungailiat untuk mengikuti Olimpiade Sains Kabupaten. Aku sangat terkejut dan gugup saat kulihat pemandangan disana penuh dengan siswa berpakaian baju putih biru yang sedang membaca buku fisika. “Gawat ni, kalau sainganku rajin-rajin seperti ini, aku bisa kalah.” Sambil bergumam dalam hati aku melihat kekiri kananku. “Gink, aku gugup. Aku gak belajar semalam.” Sambil tertawa Maulidya menjawab “Kau kira aku belajar? Aku asik main game semalam.” Tiba-tiba datang seorang wanita melambaikan tangannya “Agus, Gink. Ternyata kalian disini. Aku cari kesana kesini muter muter, ternyata kalian disini. Mana Bu Novi?” Tanya Mega sambil menarik nafas panjang. “Ibu Novi lagi brifing di ruang pembimbing.” Serempak aku dan maulidya menjawab. “Ibu Eli dimana Gus?” Tanya Mega lagi. “Yah mau gimana lagi Ibu Eli sibuk, Ibu Siti sibuk, Cuma Ibu Novi yang bisa bimbing kita disini. Gak asik ni, kalo ada Bu Eli kan aku bisa belajar fisika dan bertanya-tanya.” Jawabku sedikit bete. “Ya udah sabar, semoga ada sisi baiknya.” Cletuk Mega dengan gaya sok dewasanya.
            Kriiing.... kriiing... bunyi bel tanda masuk ruangan pun berbunyi. “Agus masuk ke ruang F disitu peserta Fisika, Maulidya di ruang A disitu Biologi kalo Mega keruang G untuk matematika. Cari teman kalian, isi jawaban dengan benar ya. Yang jelas jangan ceroboh, harus teliti, jangan keluar cepat dan jangan buat gaduh terutama Agus.” Bu Novi memberi pengarahan sambil menunjukku. Maulidya dan Mega langsung melihat dan memukul pundakku, sambil berkata “Dengerin tuh.” Setelah mendapatkan pengarahan kami menuju ruangan kelas masing-masing untuk mengikuti lomba. “Seperti biasa, tiga jam untuk lima soal. Kalo sudah selesai silahkan dikumpulkan, tidak ada saling mencontek.” Semua mulai terdiam dan mengisi biodata peserta. “Silahkan Dimulai!” tegas panitia olimpiade. Waduh, aku sepertinya kebingungan mengerjakan lima soal ini. Selama diruangan aku melihat banyak kecurangan. “Bagaimana ini, mereka semua banyak yang saling kerjasama.” Mentalku agak kendor akibat melihat dua orang dari SMP unggulan itu kerja sama menyelesaikan soal. Akhirnya baru satu jam waktu berjalan, aku langsung berdiri dan mengumpulkan lembar jawabanku. Disinilah pilihan antara “Menang” dan “Kalah Terhormat”. Dari pada aku menang dengan cara yang tidak benar lebih baik aku kalah terhormat, pikirku dalam hati.
            Akhirnya aku keluar ruangan dan bertemu Ibu Novi. “Agus, kok udah keluar baru satu jam kan?” sambil mengeluarkan air mata tanda putus asa. “Iya bu, Agus ngak tau lagi. Mau gimana lagi bu?” Dengan wajah tanpa dosa aku berkata seperti itu. “Ya udah, namanya juga udah terlanjur. Mau gimana lagi ya!” Dengan wajah agak kecewa Ibu Novi tersenyum sinis. Akhirnya tiga jam berlalu, semua peserta olimpiade keluar dari ruangan. “Gus, gimana tadi?” Tanya Mega kepadaku. “Hmm, ya gitulah Meg. Kamu Gimana? Mana Gink?” Aku agak tertawa menjawab pertanyaannya. “Aku, kayak gitulah. Bingung soal matematikanya susah. Gink itu, lagi muntah-muntah abis ngerjain soal biologi tadi.” Jawab Mega dengan agak tertawa. “Lho, kok Gink muntah-muntah?” Sambil menahan tawa aku menunjuk kearah Maulidya. “Iya nih, mabok didalam ruangan tadi, soal ujiannya buat puyeng ni.” Jawab Gink menahan muntah. Setalah bercanda bersama kami pulang kerumah masing-masing membawa uang saku yang diberikan oleh Dinas Pendidikan.
            Keesokan paginya aku sangat senang, hari ini hari libur. Setelah dua tahun di SMP tak terasa sekarang sudah libur untuk kenaikan kelas tiga SMP. Aku sudah beranjak lebih dewasa, di hari libur yang indah ini aku punya rencana jalan-jalan dengan Intan. “Intan, jadi jalan-jalan ke pantai hari ini?” SMS ku ke Intan. “Oke, tapi aku bantu ibu dulu ya. Jam sembilan kita berangkat.” Balas Intan dengan SMS.
            Hari ini hujannya lebat, aku selalu berdoa didalam hati. “Ya Allah, redakanlah hujan ini. Hambamu pengen jalan-jalan dengan Intan.” Walaupun doaku agak tidak bener, tapi selalu ku ulangi. Aku sangat berharap hujan hari ini reda. Harap-harap cemas aku mondar mandir di teras rumah dengan penuh harapan. Tak terasa, sudah jam sembilan tapi hujan belum reda juga, “Ada apa ini? Apakah doaku tidak terkabulkan?” Aku jengkel sekali dan berbicara sendiri dalam hatiku. Tiba-tiba, hujan reda dan aku mulai bersiap-siap untuk meluncur kerumah Intan dengan SupraX milik kakakku. “Assalamualaikum.” Dengan gembira dan semangat aku mengetuk pintu rumah Intan. “Iya Agus tunggu. Ayo kita pergi sekarang.” Dengan wajah ceria dia naik ke motorku.
Pertama-tama perjalanan kami ke perpustakaan daerah. Kami membuat kegaduhan disana karena suara kami terlalu besar, akhirnya kami keluar dari sana karena sepertinya petugas perpustakaan sudah mau ngusir kami. Dijalan ke pantai kami bersanda gurau dan bercerita tentang pengalaman kami selama dikampung halaman dulu. Hingga sampai diperempatan lampu merah, “Oh, iya kamu gak pakai helm Tan.” Aku lupa membawa helm satu lagi untuk Intan, diperempatan jalan itu sedang ada polisi lalu lintas yang udah siap menangkap. “Sekarang, kamu turun aja. Jalan kaki sampai ke sana, ntar kita ketemu lagi disana. Oke.” Sambil mengacungkan jempol. “Oke!” jawab Intan percaya diri. Setelah beberapa menit kami pun bertemu lagi ditempat yang kami janjikan tadi.
Waktu tak terasa berlalu, jam telah menunjukkan angka sebelas kurang. Kami telah sampai dipantai. Setelah memarkirkan motorku, kami berlari ketepi pantai, membuat istana pasir. Sepertinya awan sudah mulai mendung, cumolonimbus sudah mulai hilang dari pantai. “Kayaknya mau hujan Tan.” Aku mengingatkan. “Tunggu dulu, ada yang belum selesai ni.” Intan menegaskan. “Apa ya?” dengan wajah bingung aku bertanya padanya. “Tara, ini yang udah selesai.” Ternyata Intan menuliskan nama “Intan” dan “Agus”. Tak lama kemudian ombakpun datang seakan-akan menghapus nama yang telah kami buat ditepi pantai.
            Tik... tik.. tik... gerimis tajam kembali menggangu kebersamaan kami di pantai. Kamipun bergegas berlari menuju pondok makan untuk berteduh. “Mau makan apa ni Tan? Dingin sekali hujan ini.” Aku memulai membuka percakapan. “Aku mau bakso ah. Kamu?” sambil tersenyum dan memegang sendok dan garpu. “Dasar kamu ondel-ondel, pantes aja wajahmu bulat kayak bakso. kayaknya udah gak sabar lagi ya? Sampe-sampe langsung pegang sendok dan garpu. Kalo gitu aku mau makan pipimu deh.” Sambil tertawa dan mencubit pipinya. “Dasar kamu, kalo aku bakso. kamu sotonya ya?” sambil memukul sendok dan garpu di bahuku kami tertawa bersama.
            “Intan, aku pengen kamu tau.” Aku agak serius.
            “Iya, pengen aku tau apa ya?” Intan agak tertawa, sepertinya dia menganggapku main-main.
            “Tau ngak? Semenjak aku kenal kamu...” aku belum selesai bicara, Intan langsung memotong pembicaraan.
            “Kenapa? Semenjak kau kenal aku, kau jadi suka bakso gitu. Ayo,,, ngaku.” Sambil tersenyum dia menunjuk hidungku.
            “Dengerin dulu Tan, aku belum selesai.” Aku agak serius dan hampir mau ngambek dengan Intan. “Aku suka kamu Tan, semenjak kenal kamu sepertinya aku mulai menemui hidup baruku, aku berubah, aku menjadi baik dan menemukan hal baru Tan.”
            “Terus gimana Gus?” Dengan wajah bloon dan melongo dia bertanya lagi kepadaku.
            “Kalo kamu gimana?” aku balik bertanya kepada Intan.
            “Aku sebenarnya senang si melihat kamu, kamu selalu mengusir orang-orang yang jahil padaku, kamu mengajarkan aku banyak hal, tapi....” Intan belum selesai berbicara, aku langsung memotong pembicaraannya. “Maukah kamu jadi pacarku Tan?” dengan gugup aku bertanya.
            “Tidak. Aku tidak mau pacaran, dengan siapapun.” Jawabnya tegas, sambil tetap tersenyum kepadaku.
            “Kenapa? Kenapa tidak mau Tan? Kamu ngak suka denganku?” Aku kurang puas dan bertanya kepadanya.
            “Pacaran itu dilarang agama Gus. Untuk apa kita pacaran coba? Nambah dosa tau. Aku dapat menerima cinta dan sayangmu. Tapi aku ngak bisa pacaran dengan siapapun sebelum aku menikah.” Dia mencoba menjelaskan agar aku mengerti.
            “Tapi Tan, aku ingin kita selalu bersama. Aku punya gambaran kita jadi pacar sampe nikah nanti.” Aku mencoba membujuk, walaupun hatiku sudah mulai terasa remuk karena kecewa.
            “Hmmm, ya udah. Kamu boleh anggap aku apa aja. Tapi aku ngak mau pacaran. Tapi kita harus tetap menjadi sahabat. Oke?” Dia mengacungkan jempolnya untukku.
            “Hmmmmm...” Aku hanya diam seribu bahasa. “Kenapa gitu Gus? Ngambek? Jangan ngambek dong.” Pinta Intan.
            “Aku kecewa Tan, aku kira kamu segalanya.” Dengan perasaan kecewa dan membuang muka darinya. “Oh, gini aja Gus. Kalo kita jodoh pasti kita ketemu lagi kan? Kalo ngak, kamu pasti dapetin perempuan yang sama bahkan lebih baiknya dari pada aku. Intinya kalo kita jodoh bertemu lagi kok.”
            “Iya, semoga kita jodoh ya.” Aku mulai senyum kembali kepada Intan. “Ya Aamiin, semoga ya.” Dia pun tersenyum kepadaku. “Ayo baksonya udah jadi, makan yok.” Intan mulai mengajakku makan. Setelah perbincangan tadi, kami makan bakso bersama. “Tau ngak Tan? Pipimu bulet sekali seperti bakso ini.” Sambil tertawa aku mulai bercanda dengannya. “Ih, kamu. Ngejek aku terus ya.” Ucap Intan sambil tertawa dan menutup mulutnya. Setelah makan, aku mengantar Intan pulang walaupun dalam kondisi gerimis yang tajam. “Gus, ini jaketku. Pakailah dulu, nanti kamu sakit gimana?” sambil menyodorkan jaket kearahku. “Ngak ah Tan, ntar jaketmu hilang lagi.”  Aku menolak karena udah dua jaket miliknya yang pernah aku hilangkan. “Ngak apa-apa, aku ikhlas kok.” Menyodorkan lagi. “Oh iya aku pulang dulu ya.” Aku langsung ngabur tanpa mengambil jaketnya.
            Setelah sampai dirumah, mamaku menyambut dengan wajah yang sangat gembira. “Nak, kamu tau ngak?” Mamaku dengan wajah ceria dan jingkrak-jingkrak, untung aja ngak nari tor-tor. “Tau apa ma?” aku balik bertanya dengan wajah jutek. “Ini ada surat dari dinas nak.” Sambil menyodorkan surat dari Dinas Pendidikan. “Kamu juara satu waktu olimpiade kemaren.” Dengan wajah ceria mamaku. “Haha, masak sih ma?” Aku langsung masuk kekamar sambil tertawa. Sedikitpun aku tak menyangka, karena tanpa persiapan yang matang, dan aku pun mengerjakannya dengan waktu yang sebentar. Ternyata terkadang suatu yang lebih hebat dari pada kecerdasan adalah Percaya diri dan selalu mempasrahkan diri kepada Tuhan. Kenapa begitu? Karena suatu hal yang membuat orang menjadi kuat adalah keberuntungan dan ketegaran hati.
            Besoknya aku datang ke Dinas Pendidikan untuk memastikan dan mengambil uang pembinaan. “Assalamualaikum, maaf bu. Mau nanya pengumuman olimpiade dimana?” Tanyaku dengan sopan. “Iya dek, silahkan keruangan disebelah kanan.” Jawab seorang bapak-bapak dengan kumis yang garang sambil menunjuk sebelah kanan. “Permisi pak, mau tanya pengumuman olimpiade sains.” Tanyaku sambil tersenyum menunduk. “Oh iya, bidang apa dek?” Tanya bapak itu sambil mengeluarkan banyak kertas. “Fisika pak.” Sambil mendekat dan ikut melihat isi kertas tersebut. Ternyata informasi selama ini benar, aku juara satu. Setelah itu aku menelpon Intan, “Intan, aku juara satu olimpiade fisika. Horee... aku menang” Sambil berteriakk gembira. “Alhamdulillah, selamat ya Gus. Aku sangat senang, ternyata usaha kita ngak sia-sia.” Terdengar suara Intan yang agak batuk-batuk. “Kamu batuk Tan? Kenapa? Kamu sakit ya.” Aku mulai sedikit parnoan. “Ngak juga, Cuma batuk biasa aja.” Sambil tertawa kecil. Tiba-tiba telponnya mati, aku sedikit bingung kenapa telponnya mati. Setelah aku memeriksa pulsaku, ternyata pulsa handphoneku habis. “Hmmm, pantas saja telponnya mati, pulsaku tingal seratus rupiah lagi.” Setelah dari Dinas Pendidikan, aku mengirimkan pesan singkat ke Intan. “Tan, ke BBG yo.”. Tak lama kemudian ada pesan balasan dari Intan, “Ayo, tapi jam sebelas ya.”
            “Ok.” Jawabku singkat. Tak terasa sekarang sudah jam sebelas, aku langsung menghampiri Honda-ku. Bersiap-siap kerumah Intan dengan kecepatan tinggi. “Assalamualaikum.” Sambil mengetok pintu aku berteriak didepan rumahnya. “Waalaikumsalam, Ayo Gus kita berangkat.” Dia langsung naik ke sepeda motorku. BBG adalah Bangka Botanikal Garden, yaitu sebuah taman wisata yang hampir menyerupai mekarsari. Di BBG kami memarkirkan motor dan berjalan-jalan keliling BBG. “Intan, kamu tau itu?” Aku mulai membuka pembicaraan. “Balon? Atau yang lain?” Jawabnya sambil menunjuk ke arah balon. “Iya balon, kamu tau kan balon?” Tanyaku. “Taulah, kenapa?” jawabnya sambil tersenyum melihatku. “Ya, kepalamu bulat kayak balon Tan.” Sambil tertawa, saat melihat dia mulai cemberut aku pun menambah perkataanku. “Ngak ah, aku bercanda Tan. Kau tau? Balon itu ngak bisa terbang. Tapi dia bisa melayang, sesuai dengan tekanan yang ada.” Aku menjelaskan kepada Intan. Intan sepertinya bingung, dia balik bertanya kepadaku. “Maksudnya? Aku belum ngerti Gus.” Sambil melihat balon yang ku pegang. “Coba lepaskan semua beban dan tekanan hidupmu Tan, hidupmu akan terasa indah. Kau akan bisa berprestasi setinggi mungkin.” Jelasku sambil memegang tali balon yang sudah mengembang besar. “Sama seperti balon ini, jika dia besar dia akan melayang. Sedangkan jika dia kecil tak akan bisa melayang. seperti itulah tekanan.” Tambahku.
            Setelah melihat balon, kami melihat sapi. “Aku punya kisah buruk lho dengan sapi.” Tiba-tiba Intan mulai berbicara dan termurung. “Emangnya ada pengalaman apa Tan? Kayaknya sedih banget ya.” Aku mencoba menghibur dia. “Iya, dulu kami punya sapi. Aku pernah ditendang anak sapi gara-gara narik ekornya. Terus, aku pernah juga dikejar-kejar sapi.” Ujarnya dengan wajah yang sedih. “Hahahaha, itu namanya lucu Tan, kenapa sedih?” Sambil tertawa aku mulai memperhatikan wajahnya lagi. “Iya, kamu ngingetin aku dengan sapi yang kemaren dijual bapak.” Sepertinya dia sedikit meneteskan air mata. “Maksudmu?” Dengan wajah bloon aku bertanya lagi. “Kamu mirip sapi bapakku Gus.” Tambahnya. Gubraaak, rasanya bumi gonjang ganjing dajal keluar dari perut bumi, baru kali ini aku disamakan dengan sapi.
            “Hmm. Intan, tau ngak besok aku mau ke Pangkalpinang, buat ke olimpiade sains Propinsi?” Aku memulai pembicaraan serius. “Oh ya? Wow, aku juga pengen sekali ikut. Tapi kemaren aku gak lolos.” Dengan gaya anak alay dia sedikit memukul bahuku. “Tapi, aku senang dan bangga kalo kamu ikut. Kamu harus menang ya, semangat.” Ucap Intan sambil mengacungkan tangannya kepadaku. “Eh, ngak terasa ya, kita udah dua tahun kenal. Semenjak aku sering dihukum sampai aku ngak pernah dihukum. Kamu adalah titik balik hidupku Tan.” Sambil tersenyum dan melihat wajahnya. “Alhamdulillah, kamu juga baik. Sering mengusir anak-anak jahil yang sering ngejek dan menggangguku.” Dia agak menunguk malu ketika mengucapkan itu kepadaku. “Tan, aku ingin kita ketemu selamanya.” Sambil tersenyum aku memegang tangannya. “Iya, tapi bukanlah aku tak mau, aku hanya tak mau pacaran Gus. Dilarang agama sama orang tua, dan aku sendiri gak mau pacaran sebelum aku nikah Gus.” Dia membalas senyumku. “Bukankah, banyak cara agar kita bisa tetap bersama, selain pacaran kan bisa Gus?” Sambil memegang tanganku. “Kita bisa bersahabat, hingga akhirnya nanti kita besar dan dijodohkan oleh tuhan.”.
            “Semoga sesuai apa yang kita inginkan Tan.” Aku tersenyum dan melihat kearah danau yang luas. “Semoga, dan diberikan yang terbaik. Eh, udah sore ni, kamu kan mau siap-siap ke Pangkalpinang besok. Pulang yok.” Ajaknya.
            Siang itu menunjukkan jam dua, kami bergegas pulang kerumah agar sampai kerumah tidak kesorean. Setelah sampai dirumah Intan, “Doakan aku ya, besok aku akan mulai berjuang.” Sambil berjabat tangan dengan Intan. “Pasti, aku akan mendoakan selalu. Kau harus membuat semuanya bangga.” Serunya kepadaku. “Aku pergi dulu ya Tan.” Aku mulai memutar hondaku. Tiba-tiba “Tunggu dulu, pakailah jam ini agar kau selalu ingat kepadaku, dan gunakan sapu tangan ini agar setiap kau lelah bisa semangat dengan mengingatku.” Sambil menyodorkan jam tangan dan sapu tangan. Aku tidak bicara banyak, sambil mengacungkan jempol aku langsung menarik gas motorku untuk langsung pulang.
            “Darimana saja kamu nak? Kok baru pulang, beresi dulu bajumu. Kan besok mau berangkat. Masukkan bajumu ke koper.” Teriak mamaku. “Iya ma, nanti. Lagi capek ni.” Sambil berbaring dikamar yang tidak terlalu luas. Akhirnya aku beranjak dari ranjang dan mulai memasukkan barang-barangku ke koper. Setelah memasukkan barang-barangku ke koper, aku melanjutkan tidurku kembali.
            Malam yang indah, bertabur bintang. Kriiing... suara handphoneku berbunyi. Kulihat nama Intan yang memanggilku. “Assalamualaikum, ada apa Tan?” aku mulai membuka percakapan. “Waalaikumsalam, Agus, coba lihat Supermon. Indah sekali kan?” Sambil teriak-teriak di handphone. “Wah, besar sekali bulannya, indah.” Aku kaget melihat supermon. “Ya, kenapa bulannya bisa begitu? Indah sekali ya. Adakah benda langit yang lebih indah dari itu.” Tanya dirinya kepadaku. “Alfacentury dan Avena, bintang yang paling terang. Eh, aku mau tidur dulu ya. Besok mau pergi ni ke Pangkalpinang.” Ucapku kepadanya. “Iya deh, selahkan. Sukses ya besok.” Seru Intan. “Pasti, aku janji.” Setelah aku mengucapkan itu, Intan langsung mematikan telepon.
            Pagi yang cerah, aku langsung pergi ke Dinas Pendidikan. Aku pergi dangan penuh harapan, aku ingin harapan ku tercapai. Setelah menunggu semua orang berkumpul, kami langsung berangkat ke Pangkalpinang untuk menuju hotel Seratta tempat kami akan mengikuti lomba. Aku menemukan banyak teman baru, ini adalah awal dari perjuanganku untuk menuju tingkat nasional. Dari Kabupaten kami mengirimkan tiga orang laki-laki, yaitu aku, Putra dan Rozi. Awalnya kami bertiga muter-muter hotel, kami bingung dimanakah letak kamar kami. Kamar nomor empat puluh dua, angka yang cukup bagus. Setelah sampai dikamar, kami baring-baring seperti orang kampungan di kamar hotel itu. “Eh, ada telepon. Kita nelpon orang yok.” Ucapku kepada Putra dan Rozi. Akhirnya kami menelpon resepsionis, teman-teman dikamar lain bahkan menelpon cleaning service.
            Hari yang membingungkanpun berubah menjadi malam, kami mulai bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan. “Eh, tau ngak Gus itu siapa?” ujar Putra kepadaku. “Yang mana? Orang yang makannya disuap itu bukan?” Aku balik minta penjelasan. “Itu Ali, yang menjadi langganan juara olimpiade matematika.” Jawab Putra dengan mental yang agak down. “Sudahlah, jangan terlalu seperti itu.” Kita positif thinking aja. Aku yakin kok kamu mampu.” Aku mencoba memberinya semangat. Terkadang sebelum kita bertanding kita sudah mulai bicara dia hebat, atau dia begini. Seharusnya dengan melihat saingan kita lebih hebat, kita haruslah lebih giat belajar, jangan menjatuhkan mental sendiri dengan cara seperti itu.
            Tak terasa, olimpiade sains propinsi sudah dimulai. Kami masuk lagi keruangan yang berisikan 24 siswa/siswi terbaik (baca:beruntung). Aku agak gugup, tapi aku ingat orangtuaku. Aku kembali memiliki semangat untuk menang. Akhirnya, lembaran soal mulai dibagikan, penjelasanpun mulai dibacakan. “Mulai!” Seru perintah panitia olimpiade. Kami langsung mulai mengerjakan soal Fisika level tinggi itu. “Akh, bisa stres aku lama-lama.” Ujarku dalam hati. Tak sadar kertas ujianku tercoret, “Terpaksa ni aku minjem tipe-X.” Gumamku dalam hati. Aku langsung memanggil wanita yang ada dibelakangku, “Maaf, bolehkah saya minjem tipe-X.” Serentak wanita yang ada dibelakangku mengangkat kepalanya, subhanallah cantik sekali gadis kota satu ini. Aku langsung salah tingkah, sambil meliat wajahnya aku mengucapkan terimakasih. Tak terasa waktu sudah habis, saat-saat yang ditunggu sudah tiba. Yah, siapa yang tidak menunggu saat-saat seperti ini, yaitu makan siang. Makan siang kali ini adalah kelas VIP dan memakai table manner. “Ini dek sendok dan garpunya.” Kata salah seorang pelayan hotel kepadaku. “Oh, maaf pak. Saya ngak bisa memakai garpu, simpan aja pak.” Ucapku polos, tersentak semua peserta yang ada disana tertawa.
            Saat kami makan siang, piagam penghargaan dan uang pembinaan dibagikan. Saat namaku dipanggil “Agustiawan dari kabupaten Bangka.”. Aku agak dongkol, karena aku belum selesai makan siang. Akhirnya aku langsung maju dengan tangan yang masih kotor dengan bau udang, cumi dan bau makanan yang kusantap. Saat sudah didepan aku ambil piagam, uang pembinaan dan sebagai anak yang baik hati aku bersalaman dengan bapak panitia dengan tangan kotorku. Terlihat disana sontak wajah panitia langsung berubah mengkerut seperti tape basi.
            Setelah keluar semua, aku menemui wanita tadi. “Hay, boleh ngak kita menjadi teman?” Harap-harap cemas aku bertanya kepadanya. “Boleh aja, aku Maria, kalo kamu?” dia bertanya balik. Hore, dia telah memberikan lampu hijau. “Namaku Agustiawan, aku anak baik.” Sambil tertawa aku bersalaman dengannya.
            “Kamu lucu sekali ya, dari semalam aku melihat aksimu. Gokil sekali.” Sambil tertawa dan memukul dadaku. “Oh, iya boleh minta nomor HP Maria ngak?” sambil mengeluarkan HP Nokia 7610 milikku. “Ini nomor HP-ku, 08116788XXX. Miscol aku dong.” Pinta Maria. “Ini ya, aku coba.” Setelah beberapa sengit perbincangan kami, akhirnya kami menjadi dekat. Aku baru tahu kalo dia berasal dari SMP Unggulan yang paling bagus di Propinsi kami, maklum anak kota. Tak terasa kebersamaan kami di olimpiade sains, perpisahan telah dimulai. Akhirnya aku dan Maria berpisah, kami sama-sama meneteskan airmata kami, sebagai kenang-kenangan kami bertukaran Pin Nama. Sampai saat ini Pin Namanya masih aku simpan sebagai kenangan tak terlupakan.
            Beberapa hari setelah mengikuti kegiatan olimpiade, aku semakin dekat saja dengan Maria. Bahkan sekarang hubunganku dengan Intan semakin renggang. Sekarang aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Intan, aku mulai merasa nyaman dengan Maria. Bahkan sekarang aku sudah menjadi pacarnya. Suatu hari disekolah Intan datang menemuiku “Agus, kenapa sekarang jarang kekelasku?” Tanya Intan dengan mata berkaca-kaca. “Intan, aku sibuk sekarang. Ngak ada waktu lagi untuk bertemu dengan kamu.” Aku menjawab dengan jutek. “Sudahlah, percuma!” Sambil berteriak dia langsung pergi meninggalkanku. “Ya, ampun. Kenapa aku berubah dengan Intan.” Doaku dalam hati dengan rasa menyesal.
            Beberapa hari ini aku tidak pernah lagi bertemu dengan Intan, dan akupun sudah mulai diam sendiri. Sepertinya tak ada gunanya memiliki status pacaran dan lain sebagainya jika hati masih tetap merasa sepi. “Intan, kau dimana? Aku merindukanmu Tan.” Aku mulai merasa kesepian dengan tidak adanya dia.
            Saat pulang sekolah aku berlari menyusul dan mengikuti Intan, “Intan, tunggu aku. Tolong.” Aku berteriak mendekatinya. Spontan dia lari dan saat aku menarik tangannya dia langsung berontak. “Lepaskan, sudah pergi sana!” Dia mulai marah sepertinya. “Aku tak pernah mengenal kamu, dasar brandalan.” Dengan nada kecewa dia langsung berlari untuk menghindariku.
            Sejak saat itu aku menyesal, aku berjanji tak akan menyakitinya lagi. Aku langsung mengirim SMS ke Handphonenya. “Alfacenturi dan Avena adalah dua bintang yang terang. Tapi, kau adalah avena yang anggun dan apakah aku hanya akan menjadi alfacentury yang mengembara sendiri?” Saat membaca SMS-ku dia langsung mematikan handphonenya dan menganti kartunya.
            Inilah kesalahanku yang tidak menjaga perasaan wanita yang putih bagai salju dan lembut seperti kapas. Sepertinya aku hanya bisa menunggu dia memaafkanku. Tiada kata Lain “INTAN MAAFKAN AKU”.