Sabtu, 22 November 2014

IRISAN LINGKARAN PERSAHABATAN

Perjalanan terkadang akan menyisakan jejak perjalanan yang beragam. Tergantung bentuk sepatu maupun luas alas penampang sepatumu. Begitulah hidupmu, kau akan meninggalkan jejak ataupun sesuatu yang entah itu akan dikenang sesuai dengan apa yang telah kau lakukan selama ini. Tak perduli siapapun kamu, karena manusia tak dilihat dari cara dia hidup, melainkan dari cara dirinya meninggalkan dunia ini.
            Terkadang aku merasakan kita memiliki satu kesamaan, masih hidup disiklus yang sama dan terkadang apakah yang aku pikirkan itu benar?
            “Hey, harusnya kamu sudah ada disini setengah jam yang lalu!” ucap perempuan itu kepada laki-laki yang sedang menelpon nan jauh disana.
            Dulu kau sering bercerita uring-uringan kepadaku, tentang sesuatu yang memang menimbulkan sebuah perasaan tak terduga. Tapi siapa yang tau dan bagaimana jika kau yang membuatku jatuh cinta.
            Laki-laki yang sedang dalam perjalanan di Demang Daun Lebar itu langsung menyela, “Iya, sabar sebentar ya. Macet dijalan.” Sambil mematikan HP-nya yang sendari tadi ditelpon oleh seorang perempuan galak yang menunggu di tumpukan buku itu.
            Memang terkadang sedikit menyebalkan ketika dirimu harus tahu bahwa perempuan terkadang lebih dewasa dari pada laki-laki, bahkan lebih on time dari pada laki yang selalu oon time.
            Di Perpustakaan Propinsi yang megah itu dia sendirian mencari buku diantara rak buku yang berjajar rapi dari pintu masuk ke pintu keluar. Bahkan disini kita ditemani oleh lagu-lagu yang menambah harmoni akan kecintaan kita kepada suasana yang tenang dan merdu.
            Tertatih laki-laki itu berlari setelah memarkirkan motornya diantara deret motor yang tersusun seperti di show room.
            Aku langsung masuk ke perpustakaan melepaskan sepatuku, karena lantai disini dilapisi oleh karpet merah yang tebal. Bahkan sangat nyaman kalo kamu tidur disini. Seandainya pemerintah bisa memberikan “Kartu Indonesia Sabar” kepada seluruh wanita yang ada didunia ini, mungkin aku tak perlu lagi berlari terburu-buru seperti ini.
            “Haloo Qunut!” ucapku mengejutkannya dari belakang.
            Qunut yang memang sepertinya tidak terkejut itupun langsung pura-pura terkejut seperti mengejekku. “Hahaha, mana bisa kamu mengejutkan perempuan!”.
            “Kenapa?” tanyaku penasaran.
            “Perempuan memiliki banyak mata tau, bahkan dia bisa mengetahui apa yang tidak terlihat. Bahkan hanya bisa merasakan sesuatu yang Cuma bisa dirasa!” ucap Qunut berteori.
            Sejenak kami berdua diam setelah saling membuang senyum. Aku sangat penasaran sekali dengan perempuan yang ada didepanku ini. Hanya saja, dia tak pernah membuka dirinya untuk aku ketahui lebih dalam.
Padahal dia adalah perempuan idola banyak kaum Adam disini. Ntah kenapa dia lebih berat dekat denganku padahal banyak laki-laki yang lalu lalang diluar sana menanti. Bahkan memperjuangan dengan banyak cara, tapi tak pernah dihiraukannya.
“Eh… tumben ngajak ketempat yang kayak gini.” Ucap Qunut sambil mencari-cari buku yang ada didekat rak.
Aku kurang mengerti kenapa perempuan selalu bisa menghabiskan waktunya dengan membaca, menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang menurutku membosankan. Bahkan mereka sangat marah ketika diganggu membaca.
“Lho, emangnya kenapa?” ucapku yang sedang mengikutinya dari samping.
Qunut mengambil salah satu buku dari raknya, kemudian dia seolah-olah memberikan pesan tersirat untuk mengikutinya duduk dikursi sambil membuka bukunya. “Kamu biasanya kan malas membaca?” ucapnya tenang.
Aku hanya tertegun melihatnya berbicara, dia tetap focus membuka lembaran kertas yang ada ditangannya. “Aku tau ini bukan tempatmu.” Ucapnya singkat.
aku menyela pembicaraannya, “Kamu kenal sama Susi?” ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan yang semakin ngawur ini.
“Kenal, kenapa? Itu kan teman dekatku sewaktu kecil Gus.” Ucap Qunut bersemangat.
Aku tertawa kecil sambil berkata licik didalam hati, “Akhirnya pengalihan perhatianku berhasil juga.”
Aku melanjutkan pembicaraan, “Susi kan temen bimbel aku kemarin. Orangnya asik kok diajak bicara. Apalagi diajak bercanda, pokoknya TOP banget deh.” Ucapku menceritakan temannya yang ternyata temanku juga.
Akhirnya hari ini kami habiskan dengan bercerita tentang teman-teman yang ternyata adalah irisan dari teman kami berdua. Jika ternyata temanmu adalah irisan dari temanku juga, bukankah berarti kita berada diantara lingkaran pertemanan yang sama bukan?
Tak terasa setengah jam telah berlalu, aku masih menggunakan seragam kampus begitupun dia menggunakan baju putih dengan rok panjang dan jilbab panjang berwarna krem. Sejanak kami terdiam sebentar, saling melihat sambil tersipu malu setelah tertawa lama bersama.
“Kenapa kita tidak bertemu dari dulu ya?” ucapku kepada Qunut yang sudah mulai menutup bukunya.
Qunut mulai merapikan meja tempat dia membaca, “Hmmmm, kenapa ya?” dia diam sejenak kemudian memecah keheningan, “Eh… tunggu dulu, maksudnya apa ya?” ucapnya seperti orang yang salah tingkah.
“Hmmm…. Kalo temanmu adalah temanku juga, bukankah itu artinya ternyata kita selama ini ada dalam satu lingkaran pertemanan yang sama bukan?” ucapku dengan kalimat yang susah dicerna oleh otak cerdas Qunut.
Qunut hanya tersenyum, “Hmmmm….”. dia langsung berdiri dan merapikan kursinya.
“Ya, kalo memang pertanyaanku tak bisa dijawab.” Aku ikut berdiri dan memasukkan kursi kelorong yang ada dibawah meja. “Kamu sudah makan siang?” tanyaku kepada si gadis.
“Hmmmm… belum sih.” Jawabnya kembali cuek sambil berjalan menuju lemari tempat dia mengambil buku tadi, dengan perlahan dia masukkan kembali bukunya.
“Bagaimana kalo kita keluar.” Ajakku kepadanya hanya untuk sekedar makan keluar.
Qunut langsung kaget dengan ekspresi yang kaku, “Lho?”, kemudian dia tersenyum sejenak sebelum akhirnya dia menuju pintu keluar.
“Iya, aku tau kalo kamu memang bukan tipe anak yang suka makan diluar, jalan-jalan nggak jelas dan bahkan hanya untung menghirup udara segar sebentar di Kambang Iwak?” ucapku kepadanya. “Ayok!” ajakku.
Qunut mengambil tasnya yang ada diloker, “Emangnya kamu pikir sekarang aku mau kemana?” dia melihat kearahku, “Ayok, jangan banyak bicara lagi.”
Melihat dia yang menjadi seperti itu sungguh membuatku bingung, “Lho? Tumben?”
Perempuan itu tak banyak bicara lagi, “Terimakasih.”
“Terimakasih untuk apa?” aku minta kejelasan ucapan Qunut barusan.
“Aku tau ini bukan tempat yang kau sukai, tapi kau mau kesini hanya untuk memasukkan kado tidak karuan ini kedalam tasku. Sedangkan aku terkadang terlalu egois untuk mengerti.” Dia terdiam sejenak, “Terimakasih untuk semuanya, bahkan kau melakukan banyak hal yang tidak kau suka. Dan itu memang terkadang terlihat bodoh bagiku.” Dia berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.
Meninggalkan aku yang hanya berdiri karena efek dari perasaan yang tidak karuan dibuatnya. Entah ini pertanya dia menyukaiku ataukah dia merendahkanku. Tapi kata-kata terakhirnya mengajakku untuk melayang, “Hai! Dasar bodoh, ayok kita cepat pergi! Sebelum aku berubah pikiran.”
Yah, pertemuan memang pertemuan. Antara anak bodoh yang hobinya buat onar dengan perempuan kutu buku yang memang selama ini hanya dirumah. Tapi, pertemuan memang pertemuan siapa yang mengira kita bisa bertemu?

Seperti pertemuan pertama saat lomba debat bahasa Arab waktu itu, akan menyisakan sebuah cerita yang memang sangat berarti. Hingga akhirnya disadari atau tidak kamu sadari Qunut, aku mendo’akanmu disetiap Shubuhku.

Sabtu, 07 Juni 2014

PASSPORT

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.

Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Minggu, 01 Juni 2014

Fatamorgana Tersadar 10 Febuari 2013

Aktivitas sehari-hari ane membuat ane sedikit penat dan lelah untuk terlalu banyak berfikir.
Jelas! sudah berapa sel otak yang mati karena terlalu keras berfikir.
Fatamorgana akan kenyataan yang telah terbentang dari hilir ke hulu (padahal seharusnya dari hulu ke hilir).
Tak akan menjadi suatu penglihatan kabur yang dapat dibawa kealam nyata, tetap di Alam Mimpi!

Tak seorangpun yang bisa menerka-nerka, karena kita bukan tukang terka.
Menera-nera, berapa kemilikan yang telah dimiliki oleh diri dimasa kini.
membuatku hanya bisa menunggu Pagi Pemecah Sunyi di Bulan Juni, masih tetap sendiri.
Ya, tentunya sampai kita bertemu dilapangan yang ada disamping Auditorium UIN Jakarta.

Pertemuan pertama Juli 2008, waktu yang cukup lama untuk seorang memendam perasaannya terlalu dalam.
Tak ada api yang terlalu panas, tak ada air yang terlalu dalam, tak ada angin yang terlalu kencang mengimbuhi alam yang seharusnya sunyi... sunyi... semilir bayu membanjiri hati yang gersang bak gurung pasir Sahara. Dessert (kalo nggak salah ya!)
Banyak manusia yang hanya bertahan dengan kondisi seadanya tanpa berusaha akan sesuatu yang baik, menurut ilmiahnya, menurut pemikirannya, menurut hatinya, menurut nuraninya!

Bila, lah esok datang kembali merangkai bintang-bintang bersama-sama.
Ora mudeng dengan yang namanya hati! Cekidot

---- Fatamorgana ----
2008, Laki-laki didepan yang melihat kearah belakang dimana ada seorang perempuan yang berfoto bersama teman-teman satu daerahnya di Taman Mini Indonesia Indah. Melontarkan senyuman yang melayang dan indah dipandang.
Aku menghampirinya sambil mengajak kenalan, "Halo, senang berkenalan denganmu."
Dia cuma tersenyum sambil berlalu, meninggalkan seorang yang dari tadi memandang senyumnya dengan dua matanya. Dua Matanya!
Mencari-cari siapakah dirinya, bermodalkan nama yang aku lihat di Name-Tag yang dia kenakan. "Dan akhirnya aku dapat juga." ucapku didalam hati dengan rasa gembira.
Jari-jariku menari diatas keyboard laptopku, mengajaknya berkenalan lewat udara. Engkau membalas pesanku, entah apa sama yang kau rasakan dengan apa yang aku rasakan.
Setelah lama aku tahu bahwasanya kamu sudah memiliki laki-laki idaman, setiap hari aku selalu menanyakan siapa gerangan. Tak pernah kau memberitahuku siapa gerangan, dia yang menajadi laki-laki idamanmu itu.
Membuatku gundah gulana tak karuan, sehingga akupun hanya bisa diam.. diam... dalam kesunyian yang paling dalam.
"Yang jelas aku ingin jalan-jalan keliling Jakarta bersamanya, Sholat di istiqlal bersamanya, dan yang jelas aku mau dia mencicipi masakanku. hehehe." ucapmu ditelpen kepadaku. :')
Satu,,,
Dua.,,,
Tiga,,,
Sudah tiga tahun berlalu dan aku tetaplah aku, tetap berdiri dengan kebutaan hati.
Tak pernahpun kamu menjawab pertanyaanku.

2011, Tahun sakral dimana aku mulai mengenal dirimu lebih dalam.
Tahun Sakral dimana aku mengalami hari-hari terlelah dalam depresi dan ironi.
Menikmati hari-hari pulang pergi dengan bis kota palembang yang sungap, Tau Sungap hah?
Kepala pusing, badan pegal-pegal ditambah mobil kebut-kebutan nggak jelas, banyak asap rokok pula. hahahaha. (Maklum, luapan kekesalan). ckckck.
Tapi, kau selalu ada memberikan semangat, kau selalu ada mendengarkan keluhanku tentang kondisi kotaku, kau selalu ada dan yang jelas suaramu yang lembut dan kesundaan itu membuat aku tenang.
Tiba-tiba aku dapat tawaran mengejutkan untuk menjadi Panitia Jamboree Nasional 2011. Wahh wahhh. perasaan yang sangat nyaman. Tau nggak kenapa?
Ternyata dirinya juga menajdi pembina pendamping di kegiatan tersebut... nyamiiieee...

Jeng... Jeng... Jengg...
Aku mencoba mencarimu dikerumunan orang-orang yang berhamburan ditepi danau Teluk Gelam, "Dini kamu dimana?" telponku sambil melihat dikiri dan kenanan.
"Kak aku lagi nonton Pentas Seni didepan panggung utama. Kak coba lihat, orang papuanya pake koteka semua." ucapmu ditelpon sambil tertawa.
Akhirnya kita bisa bertemu lagi untuk yang kedua kalinya setelah 3 tahun tak bertemu, melihat dirimu yang sedang berdiri tegak ditengah-tengah orang yang sedang asik menonton, Orang papua mengenakan koteka pula. aduh mama sayangeeee!

Di tengah tenda kesehatan yang tak jauh dari lokasi pentas, kita duduk berdua menghabiskan malam. Kalo nggak salah sampe jam dua ya? (agak lupa)
11 Juli 2011, Malam indah berkerlip bintang-bintang mengisi gelapnya malam.
"Kamu nggak pernah mau jawab pertanyaan aku ya, tiap aku tanya siapa laki-laki idaman kamu ya kamu selalu menghindar." ucapku yang duduk didekatnya.
Dia hanya tersenyum... diam, kayak kuntilanak yang nyangkut dipohon.
"Tak bisakah kau menjawab?" ucapku lagi membalas.
Kamu mulai mengeluarkan suara lembutmu itu, "Yah, kalo orang yang saya sukai ada disini kenapa memangnya?" hehehe.
"Lho?" aku kaget kayak disambar petir, "Mana orangnya? bolehlah dikenalin kan sama kakak?" ucapku dengan nada kecewanya.
"Hahahaha...." kamu tertawa, aku kaget, kamu tertawa lagi, aku kaget lagi. 
"Anak ini kayaknya kesurupan deh." ucapku dalam hati. hehehe.
Dia menyelesaikan tawanya, "Buat apa dikenalin lagi? kakak udah kenal kok sama orangnya." ucapnya sambil membenarkan kacamatanya.
"Haaa?" aku bengong.
"Yah, kakak orangnya. hehehe." ucapnya.
Aku terdiam sejenak melamun, "Aku?" ucapku.
"Iya. kakak orangnya..." dia tersenyum sambil sedikit tertawa.
Intinya, "kamu ingin kita bertemu lagi di Jakarta, keliling monas, sholat di Istiqlal dengan aku jadi imamnya dan kamu ma'mumnya, dan kamu juga ingin aku mencicipi masakanmu."
Sebenarnya aku merasa itu adalah hal yang mustahil, dan mustahil kita bisa bertemu lagi untuk mewujudkan mimpimu itu. Iya, mimpi sederhana yang hanya ingin aku menghabiskan waktu didekatmu seharian penuh, tapi ternyata bagimu itu sangat berharga.

Sejak malam itu sepertinya aku sudah memiliki satu bidadari yang sangat indah. Aku seharusnya beruntung memilikimu, dan bukan untuk disia-siakan.
Janji bertemu lagi pukul 5 pagi ba'da shubuh didepan gerbang. "Aku tak punya waktu banyak, jam setengah enam aku mau kembali ke Karawang." ucapmu kepadaku.
"Iya, aku janji kita akan bertemu digerbang jam 5 pagi." janjiku dengan percaya dirinya.

Entah setan apa yang membuatku tidur sampai lelapnya, hingga aku bangun telat dan kesiangan. Mungkin juga efek kecapekan ya? jangan selalu menyalahkan setan ya. hahahaha.

HP-ku yang berdering, terlihat Panggilan tak terjawabnya sekitar 20an, pesan masuknya 3.
aku baca satu persatu pesannya,
Pesan pertama, "Kak dimana? aku udah digerbang."
Pesan kedua, "Kak dimana? aku udah mau  berangkat ni."
Pesan ketiga, "Kak, sampai jumpa dilain hari. :)"

Hari demi hari berlalu, hubungan yang awalnya dekat akhirnya pecah juga akibat kesibukanku yang tak dapat terkontrol lagi. Banyak suara hitam yang membisik tatkala hari itu terjadi.

"Oke, kakak jangan hubungi aku lagi!" serunya sambil menanggis ditelepon.
setelah hari itu Desember 2011, kita tak pernah lagi berhubungan. Entah apa yang ada dipikiranku yang membiarkan wanita yang telah aku tunggu dari 2008 sampai 2011 pergi begitu saja.

7 Febuari 2013, Aku mengikuti pelatihan di depok. sebelumnya, aku ingin menghubungi orang yang telah 2 tahun tidal pernah berhubungan denganku lagi.
Akhirnya aku mendapatkan tempat menginap dekat dengannya, Walaupun dia menjemputku terlalu malam.
Satu hari berlalu, dia mengajakku keluar subuh buta untuk membeli bahan makanan, katanya kai mau masak.
Pada hari itu kami masak bersama, kami melupakan kejadian 2 tahun yang lalu, dimana kami menjadi saling membenci. Dia memberikanku masaknya, dia meminta aku mencicipi masakannya. Walaupun sedikit tidak enak, aku tetap memberikan penilaian enak padanya, (Maaf ye kalo dikau baca. he3x)

10 Febuari 2013, kita keluar rumah pukul 09.00.
"Kita mau kemana?" tanyaku dengan mengucek-ngucek mata.
"Nggak tau." jawabnya sambil tersenyum, "Ikuti arah angin aja yok kak. hehehehe."

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Monas pada hari itu, menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan. Naik ke puncak tertinggi monas sambil berteriak dan berfoto bersama. hehehehe.

Suara Adzan terdengar, Karena kami datangnya terlambat. Jadi kami hanya shalat berdua, dengan aku imamnya dan dia makmumnya. wah wah wah. asek asek asek.

Tak lama setelah sholat dzuhur, dia bercerita bahwasanya dia telah dijodohkan dan akan menikah dengan seorang laki-laki pilihan orangtuanya.
walaupun awalnya bagaikan guntur disiang bolong, akhirnya aku bisa menerima keadaan dan memberikan selamat berbahagia kepadanya. :)

Post Febuari 2013.
Aku membuka blog pribadinya, iseng-iseng.
ternyata ada sebuah tulisan tertanggal 11 Febuari 2013,
Inti dari Tulisan itu adalah:
"Selama tahun 2011 sampe 2013 dia sangat dilanda kecewa hingga tak mau berkenalan dengan lelakii lain, hingga akhirnya ada seorang lelaki yang dijodohkan bersamanya, yah yang jadi suaminya sekarang."
"Pada tahun 2008, ingin bertemu dengan laki-laki idamannya di Jakarta, keliling monas, sholat di Istiqlal dengan aku jadi imamnya dan kamu ma'mumnya, dan dia ingin aku mencicipi masakannya."
"Tahun 2010 dia ingin melihat Tabliq Akbar Ust Arifin Ilham di istiqlal, hingga akhirnya dia berkata Aku ingin setidaknya sholat berjamaah berdua dengan calon suamiku disini nanti"
"Pada tahun 2011, dia berkata ingin bertemu dengan aku di Jakarta, keliling monas, sholat di Istiqlal dengan aku jadi imamnya dan dia jadi ma'mumnya, dan dia ingin aku mencicipi masakannya."
dan ternyata semua keinginan yang sudah kami rencanakan di Tahun 2008 terkabulkan ditahun 2013, 5 Tahun.
Bagaimanapun kita harus percaya bahwa setiap do'a maupun kalimat yang kita pinta ucapkan pasti akan diijabah oleh yang maha kuasa, walaupun kita tak tahu kapan waktunya. :)

Jumat, 30 Mei 2014

PIPI MERONA DIBALIK LAMPION

terlalu sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan, jadi udah lama nggak nulis.

mohon kritik dan saran dari cerita ini ya. :D hahaha

baru chapter I-nya kok. hahaha



semua yg ada dicerita ini hanyalah diksi belaka, jadi jika ada kesamaan tempat, latar, manusianya juga mungkin hanya kebetulan aje. eh salah, nggak ada yg namanya kebetulan didunia ini, semuanya udah diatur oleh Allah.

hohohoho



PIPI MERONA DIBALIK LAMPION

            Asrama teduh dirindangi pepohonan yang menghiasi jalan menjadikannya sebagai penghijau alami.

            Sebuah ruh terasa terbang akan kenangan dibalik serenade-serenade kelumpuhan yang masih teringat didalam memori yang tak seberapa Megabite-nya.

            Kehidupan asrama yang keras memang tidak bisa membuat kami yang sudah terbiasa tiga tahun diasrama untuk menjadi lembek kayak kerupuk disiram air. Tiap hari kami mengendarai sepeda dari asrama menuju ke sekolah yang jaraknya sejauh 3 kilometer. Yah, jarak yang cukup jauh ditempuh dan membutuhkan cucuran keringat yang extra.

            Tapi, bagi sebagian manusia yang memiliki akal bulus. Jalanan panjang ini dapat menjadi tempat yang menumbuhkan benih-benih cinta maupun virus-virus merah jambu yang seharusnya tidak kami rasakan saat SMA.

            Aku berjalan sambil tertawa dengan sahabat karibku. Menuju tempat yang menjadi “gudang” tumpukkan sepeda ontel tua.

            Aku melihat ke arah selatan dari pandanganku, kepada seorang sahabat yang telah aku kenal dekat dan memang dari SMP dulu bersahabat erat denganku.

“Kenapa Latifah?” aku bertanya kepada Latifah yang sepertinya sedang sibuk melihat kondisi sepedanya yang lumpuh.

Latifah menjawab sambil mencoba memompa ban sepedanya, “Nggak tau kak, kenapa juga bisa gini. Padahal setengah jam lagi masuk sekolah.” Jawab Latifah dengan lembutnya. Maklum saja, memang logat jawa dan bahasa ibunya membuatnya seperti itu.

“Oh, yaudah. Ikut kakak aja yok.” Dengan besar hati aku membantunya dengan cara memboncengnya naik sepeda.

Awan-awan yang mengikuti kami saat bercerita diatas sepeda sepanjang perjalanan yang ramai akan lalu lalang masyarakat yang tersenyum ramahnya kepada kami. Tawa canda yang ada latifahtara kami menjadi obat yang efektif sebagai penghilang lelah.

Hari demi hari berlalu, sudah beberapa hari ini aku selalu pergi berboncengan dengan si Latifah.

Tak terasa sudah masuk minggu kedua, aku selalu melihat keluar sebelum pergi menuju gudang sepeda. Aku sudah melihat Latifah keluar dari Gedung Auditorium menuju gudang sepeda. Keluar bak pahlawan kesiangan menuju TKP, seperti biasa senyuman itu selalu aku lihat disetiap aku masuk kedalam gudang sepeda untuk mengambil sepeda.

 “Kak An!” panggil seorang wanita yang dari tadi ternyata berteriak dibalik lapangan hijau sambil membawa setumpuk buku, dengan mata yang memiliki garis hitam.

Aku menghampirinya dengan membawa sepedaku, “Ada apa Latifah?” tanyaku dengan singkatnya dengan penuh senyuman.

“Kak An, masih boleh nebeng nggak kak?” tanya dia sambil cengar cengir tak karuan. “Aku juga nggak tau kak, padahal kemarin udah dibenerin Pak Ujang. Sekarang kok malah bocor lagi ya sepeda aku kak. Aneh aja kak.” Ujar Latifah sambil naik ke sepedaku.

Ban bocor mendekatkan kami, mendekatkan aku dengan seseorang yang memang aku kagumi dari kelas 1 SMP dan akhirnya aku bisa dekat dengannya 6 tahun kemulatifah. Sungguh waktu yang lama untuk aku dapat mendekati seorang yang mungkin dapat disebut “Cinta Pertama”.

Ujian Nasional berlangsung seolah-olah menjadi momok paling menakutkan dihidup pelajar. Apalagi bagi sekolah yang memiliki sistem kelulusan ketat seperti sekolah kami.

Beberapa minggu telah berlalu, kami semua berbaring dikamar sebelum menuju kesekolah untuk melihat pengumuman hasil Ujian nasional. “Ujian Nasional Bahasa Inggris aku paling nggak bisa, entah kenapa.” Ucapku kepada teman sekamarku di asrama.

Ahmad yang sedang makan mie langsung mengubris ucapanku, “An, kamu deket sama cewek yang pinter bahasa Arab dan Inggris. Tapi kamunya sendiri nggak bisa bahasa Inggris. Malu sama cewek tu, dimana ditarok mukamu kalo dapet lebih kecil darinya.”

Kerumunan orang-orang yang seperti semut memenuhi papan pengumuman yang terpajang dikantor asrama. “Yah, paling-paling bahasa inggrisku dapet 70.” Gumamku dalam hati denga nada kesalnya.

Latifah langsung berdiri didepanku, dia menyodorkan sesuatu dan langsung berucap, “Ini ambil ya, terimakasih atas bantuannya selama ini. Selamat ya, perkiraan kamu salah, kamu dapet nilai bahasa inggris terbesar. Kamu dapet 9,8 lho An.”

Ruangan yang dipadati oleh tamu undangan, saat-saat yang menyedihkan pada fase SMA pun datang juga. Malam perpisahan yang dihadiri oleh seluruh orangtua siswa itu membawa keramaian dalam keheningan. Seolah-olah tak ada yang bisa berbicara saat itu.

“... Asramaku yang tercinta, disanalah kami dibina...” tim paduan suara telah turun dari panggung setelah menyanyikan beberapa bait lagu. Barisan yang pecah bagaikan semut yang sarangnya terbakar. Semua orang berjalan keluar Gedung Cassiterite bersama orangtuanya, ada yang langsung pulang, ada yang balik keasrama untuk mengambil baju dan masih banyak lagi. Sebelum kami pulang ke kampung masing-masing, ada tradisi yang sering terjadi di sekolah kami di malam perpisahan, yaitu tukar-tukaran jaket Kuskusa antar sahabat. Aku menukarkan jaketku kepada Latifah dan diapun memberikan jaketnya kepadaku.

Aku melihat Latifah yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya, aku berfikir dia pasti akan langsung pulang dan tidak membaca tulisanku itu.

Orangtua Latifah mengajaknya untuk pulang sekarang, tapi Latifah menjawab ucapan ayahnya, “Ayah, aku belum mau pulang. Ada urusan yang mau aku selesaikan dulu.” Dia langsung meninggalkan orangtuanya, ntah dia menuju kemana. Membuatku bingung.

Aku berjalan melewati lapangan Bung Hairul yang ada dipusat asramaku itu, aku melihat sosok wanita yang sedang berdiri ditengah-tengah Hellypad yang ada didekat Pusdiklat asramaku itu.

“Haha.. sesuai tulisan yang ada dikertas ini! aku menunggumu jam satu malam. Sudah telat lima menit!” ucapnya sambil melihat jam dan membawa sebuah kertas yang tadi aku masukkan kedalam jaketku sebelum aku tukarkan dengannya. “Apakah ini tulsisanmu?”

Aku hanya mengangguk dan mengeryitkan dahi.

“Sudah tiga tahun aku sekelas samamu, tapi baru kali ini aku melihat tulisanmu. Cukup jelek ya. Hehe.” Dia tertawa kecil sambil memasukkan kertas itu kekantong bajuku. “Sudah, mau ngomong apa ni?” dia langsung duduk di hellypad itu.

Kami berdua duduk berdua diantara bintang-bintang yang seolah-olah menjaga kami dari gelapnya langit hitam dimalam hari. Tak ada satupun makhluk yang menggangu keheningan kami berdua dimalam itu.

Setelah lama kami berbincang, Latifah langsung melihat kearah jam tangannya, “An, sekarang sudah jam 4 pagi, bisakah kita pulang sekarang.” Dia bertanya kepadaku.

“Bisa, tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ini sangat penting.” Ucapku serius melihat kearah matanya.

“Serius? Seriusan?” dia setengah tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Aku mau mengakui sesuatu. Boleh nggak Tif?” lanjutku.

Dia langsung menutup mulutnya menahan tawa, “Ih, kayaknya serius amat. Apa sih?”

“Sebenarnya akulah yang membuat sepedamu bocor. Setiap malam aku ke gudang sepeda dan membocorkan ban sepedamu.” Aku langsung tertawa.

Dia berhenti tertawa dan keempat matanya langsung melihat ke arahku, “Buat apa kamu bocorin ban sepeda aku? Nggak ada kerjaan lain kah?” ejeknya.

“Yah, dengan aku bocorin ban sepeda kamu kan jadinya aku bisa boncengan sama kamu. Aku bisa jalan berdua sama kamu, aku bisa cerita-cerita sama kamu dan aku bisa sama-sama kamu hanya karena itu. Selebihnya aku belum pernah dekat-dekat denganmu selain boncengan karena ban sepedamu pecah.” Jawabku sambil memasukkan tanganku kekantong jaketku.

“Yah, seharusnya kamu tidak harus melakukan itu, ini buktinya kamu bisa dekat aku tanpa bocorin ban sepedaku. Hehe.” Dia tertawa sambil mengeluarkan sisa-sisa lampion yang dia simpan didalam tasnya, “Kita kan akan berpisah hari ini, aku ingin kita berdua membakar lampion ini agar dia bisa terbang tinggi setinggi-tingginya.”

“Berpisah? Emangnya kamu mau kemana?” tanyaku dengan perasaan yang tak enak.

“Rahasia.” Ucapnya sambil membakar lampion itu sampai apinya menyala. Api yang akan membuat lampionnya terbang menyinari pipi merona yang ada dibalik lampion itu, tidak ragu lagi dia mulai bicara, “Hitungan ketiga kita lepaskan lampionnya sama-sama ya.”

Satu....

Dua....

Tiga...

CERITA PILU #HAPPY GERIATRI DAY

Penghargaan saya yang sebesar-besarnya kepada oma-opa kami yang ada diseluruh dunia.
Anda-anda sekalian adalah orang yang mencetak masa kini, yang sebenarnya adalah masa depan dijaman anda.
Selayaklah opa-oma kami yang ada diseluruh dunia, mendapatkan penghargaan yang sebesar-besarnya dari kami "CUCU" Bangsa ini.

#HappyGeriatriDay



Mungkin bagi orang awam, bahasa Geriatri sangatlah asing.
tapi bagi kami kalangan medis, Geriatri adalah satu kata yang digunakan untuk menggambarkan orang yang sudah memasuki usia emas (50 Tahun).

Seperti biasa, setiap bulan saya dan rombongan selalu berkunjung ke Pantii Jompo yang ada di tengah-tengah hutan (Terpencil Red.)

Hari ini, 29 Mei 2014. kunjungan kami sangat spesial disini.
kami merayakan hari geriatri yang selalu dirayakan pada hari itu.
Persembahan untuk oma opa kami yang ada dipanti jompo.

kalo biasanya kami hanya memriksa kesehatan mereka
mengajak mereka senam bareng.
mengajak mereka bercanda ria, penyuluhan sampe mata mereka ngantuk.
Tapi kamii tetap sayang omma dan opa kami yang ada dipanti jompo.

Menebar kasih sayang, kami hari ini bawa kue ulangtahun yang sangat spesial buat oma dan opa kami.
kami nyanyi lagu lawas bareng sampe-sampe ada opa yang ingat waktu pertama Pe De Ka Te same oma yang udah ada disurga. :'(

Sebuah rumah usang yang dihuni oleh sekitarnya 58 orang yang sudah lanjut usia.
pertanyaannya, siapa sih yang tega meninggalkan orangtuanya disini?
mengapa mereka bisa tega?
meninggalkan orang-orang yang telah merawat mereka dari kecil, hingga sekarang mungkin sampee mereka menjadi orang yang sukses.
setelah sukses, mereka meninggalkan orang tua mereka di panti jompo dengan berbagai alasan.
Sibuk!
Males ngurusin orang tua!
Mama Cerewet!
Orangtua tak berguna!

begitulah alasan anak-anak mereka.
Kawan, perjuangan ibu melahirkan kita. menunggu setiap menitnya rahimnya berkontraksi dan menunggu pembukaan jalan lahir di Vagina yang mungkin sangat terasa sakit jika itu kita alami. bahkan mungkin saya sebagai laki-laki tak akan sanggup jika disuruh melahirkan.

Perjuangan Ayah, aku melihat ayahku sebagai laki-laki tegar yang tidak bisa melihat anaknya menanggis, melihat anaknya dalam kesepian, melihat anaknya dalam kesusahan. mungkin orangtua kita adalah orang tua terbaik bagi kita, tak bisa dipungkiri itu semua.

Kita dianugerahi Otak dan Hati!
yah, walaupun itu hanya kiasan.
kita memiliki perasaan kawan, kita juga memiiliki akal yang sehat. kecuali anda sudah gila, baru boleh menitipkan orangtua anda di Panti Jompo.

Ya Allah jadikan kami sebagai orang-orang yang mencintai orang tua kami, orangtua sahabat kami, orangtua yang telah mengajarkan kami banyak ilmu, dan orangtua yang baru kami lihat didepan mata.
Mereka adalah keajaiban nyata yang engkau Ciptakan, bagai mu'jizat yang engkau berikan pada semua nabi-Mu, mereka Mu'jizat yang nyata bagi kami ya Allah.

Jangan biarkan kami dipenuhi rasa malas untuk mengurus mereka.
Jangan biarkan kami dipenuhi rasa muak melihat muka mereka.
Jangan biarkan kami dipenuhi setann-setan yang menghasut kami untuk kesal dengan mereka.
Sesungguhnya engaulah sebaik-baiknya penolongku Ya Allah. :)

aku mencintai kalian orangtuaku yang jauh di Bangka. :)
Imron dan Karlin.
Kalian memang tidak sempurna tapi kalian menyayangi dan membesarkan aku dengan sempurna.
Terimakasih yang sebesar-besarnya!
Arigatou gozaimas, Syukron Katsiron, Thank you Very Much.

I LOVE U FOREVER.

Minggu, 23 Juni 2013

BUAT TEMEN MUDA

  Haiii... teman-teman muda. Udah siapkan kalo kita mulai bicara dari pertama? Temen-temen harus mengerti dulukira-kira buat apa kita hidup dan selanjutnya apa yang akan kita lakukansetelah lima menit kedepan.
            Temen-temen, awalnya memang akubelum mengerti hidup. Banyak kok kesesatan-kesesatan muda yang aku lalui,banyak masalah, stres berat, nggak tau arah dan tak tau jalan pulang akutanpamu butiran debu (hehehehe).
            Banyak sih haru seru, tawa suka,tangis bahagia dan banyak lagi warna warni kehidupan yang kita rasakan saatremaja. Sebagai salah satu remaja galau yang dulunya alay sekarang udah jadianak alay isyaf, aku mau bagi-bagi pengalaman ke temen-temaen.
Salahsatu contohnya, hampir semua dari orang yang usia remaja pasti lagi sekolahdibangku sekolah menengah dan bahkan kuliah. Kewajiban belajar adalah tuntutanutama yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang ngakunya terpelajar. Gak maubelajar juga bisa diakibatkan jika kita pernah melakukan atau memilikikesalahan. Dan kebanyakan anak muda labil pasti akan jadi down, takut berbuat,nekat-nekatan dan masih banyak lagi respon negatif yang akan terjadi. Merasaberdosa jika berbuat salah? Merasa gak mau lagi hidup jika berbuat salah? Ataubahkan ada yang bilang kalo dirinya udah terlanjur jadi tokoh antagonis.Hmmm... Oke, ntar bisa kita bahas men.
            Ada juga yang alay, pake statuscinta-cintaan, ganti status berhubungan dari lajang menjadi berpacaran, ngirimsurat cinta, atau SMS cewek-cewek ngetop setiap malem, bahkan ada anak ABG yangmiscall cewek dan kalo udah diangkat langsung dimatikan. Pernah nggak nitemen-temen ngerasain, melihat atau mengalami kejadian yang kayak gitu?? Ish,ada juga orang yang jadi sibuk ngurusin jerawatnya, tapi mending kita ngurusinjerawat dari pada ngurusin pacaran. Silahkan baca ya ke halaman berikutnya,kita akan melihat Resep-resep mudah untuk anak muda lainnya. Nanti semua itukita bahas dalam resep-resep dibawh ini:


RESEPPERTAMA
BELAJAR, GAK BANGET... MENDINGNYONTEK AJA!
            Wah,ini adalah kesesatan yang harus diluruskan. Kalian tau nggak sih? Apa enaknyanyontek? Apa untungnya nyontek? Apalagi saat mau Ujian Nasional, udah mulai tuserangan fajar. Misi-misi pencarian jawaban yang tak legal pun dilakukan,bahkan didukung oleh guru-guru. Bagaimana Indonesia bisa memiliki generasi mudayang berkualitas baik jika menyontek jadi halalan toyiban bagi mereka. Secaraterus terang, aku menolak Mencontek dan Memberi Contekan.
            Kira-kira ada salahnya nggak kalokita belajar? Ada ruginya nggak kira-kira? Belajar itu adalah ibadah jika kitamemang berniat untuk belajar. Belajar juga membuka cakrawala ilmu kita. Karenasesungguhnya Allah itu meninggikan derajat manusia-manusia yang berilmu.Bayangkan juga kebangaan dirimu jika kamu bisa dapet seratus dengan hasil jerihpayahmu di suatu bidang studi. Pasti rasa bangga dan senang itu bercampur haru,dan kamu juga bakal seneng jika nunjukinnya keorangtua. Nggak seolah-olah kamulagi bohong sama mereka.
            Bayangin aja ya kalo kamu dapetseratus karena hasil nyontek kamu. Kalo kamu bawa kerumah, kamu bilang keorangtua kamu kalo kamu dapet hasil itu dengan menyontek, ibumu pasti malu danmenganggap kamu bodoh. Bayangin juga kalo kamu bilang itu hasil jerih payahmu,berarti kamu udah membohongi orangtuamu, sama kan dengan anak durhaka?
            Menyontek juga memiliki sisi negatifuntuk dirimu dan orang lain. Kalo sisi negatif untuk dirimunya mungkin bisasaja membuat kamu jadi kebiasaan males, mau nggak jadi pemalas? Aku rasa nggakada yang mau ya jadi pemalas, oke kalau kamu selamat saat sekolah tapi saatkerja nanti? Kira-kira kamu bisa nggak selamat dan hidup dengan kebiasaan malesitu.
Trus,sisi negatif untuk oranglain juga mungkin lebih parah, karena menyontek jugabisa menggeser posisi temen-temenmu yang seharusnya lebih dari kamu, ituartinya kamu licik dan gak sportif kan? Dosanya sampe nilai itu masih dipakeoleh dirimu, bahkan bisa juga dosanya kamu bawa sampe mati lho. Waduh... gakbisa bayangin bener dosanya gimana tuh. Salah satu contohnya, kamu ada temenyang pinter banget, seharusnya dia jadi peringkat satu sedangkan kamu selalumenyonteknya dan kamu yang menduduki peringkat satu yang seharusnya menjadihaknya, dan kamu dapet bonus uang dari sekolah. Apa bedanya kamu denganpencuri?
Jadimulai saat ini biasakan dirimu untuk belajar, membaca hal-hal baik dan pantasdibaca. Jangan baca majalah gosip ya.
RESEP KEDUA
AKU UDAH BELAJAR KOK NGGAK BISA?
            Itu adalah masalah klasik yang udahbiasa didunia persilatan. Udah belajar tapi nggak masuk-masuk ya?? Wah, problembanget tuh ya temen-temen. Kamu jangan menyerah dan berkecil hati, intinya kamutetep semangat dan mencoba trus mencoba untuk berhasil.
            Tau nggak nih? Aku juga dulu punyamasalah dalam belajar. Tapi aku mencoba untuk “Belajar bagaimana cara belajar”.Karena semua orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda.
            Kalo aku sendiri memiliki kebiasaandan bisa belajar jika waktu malam hari, keadaannya harus ribut, catatan yangaku baca haruslah catatan yang kumel dan penuh dengan corat-coret. Aneh bukan?Tapi itulah kebiasaan yang aku punya, aku sudah terbiasa dengan semua itu.
            Sedikit ni gambaran buat temen-temengalau yang lagi bingung bagaimana posisi dan waktu belajarnya. Ini nitipe-tipenya:
1.      Tukangkonsentrasi, orang satu ini belajar harus dengan konsentrasi full. Nggak bolehada yang banggu apalagi ngajak ngobrol. Kalo kamu udah tau kamu tipe yang satuini, ya kalo waktu belajar fokus belajar dan usahakan dalam keadaan tenang dansendirian. Karena kalo ada yang nemenin, kalian pasti bakal ngobrol.
2.      Tukangbersih-bersih, waduh kalo kamu udah tau kamu tipe yang suka rapi ataupun sukabersih, ya buatlah catatanmu serapi mungkin dan semenarik mungkin untuk dibaca.
3.      Tukangribut buat rusuh, ini tipe yang agak nggak tau diri ni. Kalo tipe inibelajarnya bisa sambil ngobrol, sambil nonton, main-main dan masih banyak lagikeahliannya. Asalkan nggak nelen panadol gak pake aer aja.
Kallo temen-temen galau bingungbagaimana cara belajar yang baik dan benar menurut aku (cape dehh... emangnya akuprofesor dari mana?). usahakan posisi kursi, buku dan pandangan anda senyamanmungkin. Kalo menurut aku, kalian jangan baca buku sambil berbaring, karenaefenya fatal. Kenapa hayo aku bisa bilang fatal? Ya karena kamu pasti tertidur,pengalamanku sih gitu dapet nol gara-gara belajar berbaring dan berakhir denganfenomena tidur.

Kenapa hayo harus mimpi??


 Haloooo semua,mungkin buku keduaku kali ini berbeda dengan buku yang sebelumnya, kalo yangsebelumnya menceritakan kisah kehidupanku yang berubah dari pribadi yang kurangbaik (baca: brandalan) menjadi siswa baik (baca: berprestasi) serta banyak halyang aku lakukan demi mengapai cita dan cintaku.
Bukukali ini menceritakan tentang “MIMPI”, tau mimpi kan? Kalo malem-malem pastikalian semua tau dan pernah mengalami hal yang satu ini, satu kata yang sangatbermakna. Yang bisa mengubah Zero menjadi Hero, Pecundang menjadi Romeo,Terhina menjadi Qais, Anak Miskin menjadi orang kaya dan masih banyak lagi halyang dapat dikabulkan hanya karena energi positif yang bernamakan “MIMPI”.
Okesekarang kita akan amsuk zona serius, zona yang mungkin berda duapuluh ribukaki diatas permukaan bumi, bahkan ketinggian tiada tara yang bahkan tak adamanusia yang dapat mengapai pola mimpi kita sobat.
 Aku memiliki sebuah kisah tak terlupakan danmenganggap mimpi-mimpi itu pasti akan menjadi kenyataan walaupun kita tak tahukapan adanya. Melihat sesuatu dengan mata yang tersilau dan silindris setangah,melangkah dengan kaki kanan kedalam mimpi-mimpi tak terlupakan, bahkan mengapaikonstelasi dengan satu kaki adalah sesuatu yang wajib kita lakukan.
Akupernah memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang dalam kondisi memakai bajubiru dan baju biru sedangkan janji itu dapat terkabulkan lima tahun kemudiandalam kondisi dan impian yang sama. Aku pernah bermimpi memiliki LSM, memilikisebuah gerakan yang dapat mengakomodir pemuda untuk dapat bergerak danmimpi-mimpi itu dapat terkabulkan dua tahun kemudian. Ingat! Itu hanya contoh,masih banyak mimpi-mimpi yang lain dan bahkan kamu dapat mengapainya, tapi yangsulit dan harus diakomodir adlah bagaimana dirimu dapat melakukan sesuatu tanpamengikis mimpi-mimpi yang ada.
Celaan,ejekkan bahkan hinaan yang pahit pedih dan bahkan kadang membuat setan dalamhati ikut bicara untuk melabrak, melawan dan bahkan membalas serta menutup mulut-mulutapatis perusak mimpi itu pun tak bisa dipungkiri. Disudutkan, dijatuhkan,dilemparkan kedalam jurang keputus asaan oleh lawan-lawanmu, bahkan teman yangmenjadi penghianat juga adalah satu hal yang harus menjadi satu fase dalamsiklus krebs pembuatan energi menjadi suatu pribadi tak terkalahkan. Biarlahkita terhina, biarlah kita tercela tapi memang hidup kita penuh makna. Seperti biasa,marilah kita kepakkan sayap untuk menoleh kesemesta, meraih cita-cita danmenghancurkan tembok-tembok tak berguna.

Tapiyang jelas, terkadang butuh anjing yang mengejar untuk membuatglikogen-glikogen cadangan energi dalam tubuh kita dipecahkan menjadi glukosaoleh hormon glukase kita, kesimpulannya kita membutuhkan sebuah prekursor,katalis atau nama kerennya itu adalah sebuah pemicu untuk melambung danmelompat lebih tinggi. Siapa yang siap dengan kehidupan penuh mimpi? Dengan kehidupanserba menyenangkan? Kalo bukan sekarang kapan lagi!
Mungkincerita hari ini akan dimulai sejak kepulanganku dari sebuah kota dan bertemmudengan seseorang, sejak saat itu aku yakin bahwasanya setiap mimpi, setiap doadan setiap impian selalu diijabah oleh Allah swt tuhan pencipta alam.
Takusah takut, tak usah gentar, tak usah putus asa dengan segala mimpi-mimpi yangbelum juga terkabulkan. Mungkin saja usaha kita belum sepadan dengan mimpikita, atau mungkin juga belum saatnya kamu mendapatkan itu karena Allah tahuapa yang kita butuhkan dan Allah tahu apapun yang terbaik untuk kita.
Tetapsemangat, karena semangat adalah bahan bakar utama dalam meraih mimpi-mimpimuselain karbohidrat. Tetap tersenyum, karena senyuman adalah protein yang akansetia membangun dan membangkitkan dirimu setalah semua usahamu danketerpurukanmu. Tetap berdoa, karena berdoa adalah stimulasi selain vitaminuntuk menghubungkan sel-sel dalam tubuhmu setiap menghubungkan dirimu denganyang kuasa. Tak ada yang sia-sia, percayalah!
Dibalikrahasia pasti ada rahasia, dibalik kehidupanku yang kelam memang terkadang adacahaya terang, dibalik keputus asaan pasti ada impian keemasan yang memangsemua itu tersusun rapi satu paket dalam kemasan. Kemasan itu pasti tersusunindah dan rapi didalam hati, dan jika hati membukanya akan menjadi sebuah “aha...Surprise...”.
Tapiyang jelas kamu harus bisa membedakan antara mimpi dan menghayal, mimpi ituadalah hal yang dapat kita raih dengan suatu usaha dan itu adalah hal yangreal. Sedangkan menghayal adalah impian yang kamu miliki tanpa melakukan sebuahperjuangan, ya kalo mengkhayal terus kapan bisa diraihnya.
Ingatjuga ya, tapi alangkah lebih indahnya jika mimpimu itu adalah mimpi yang baik,kalo menurut aku sih mimpi yang baik itu sejogyanya adalah mimpi yang bukanhanya dapat membuat dirimu tersenyum, tapi adalah mimpi yang dapat membuatbanyak orang tersenyum bahkan bahagia dikarenakan mimpimu itu. Karena yakinlahsatu tetesan keringat dan airmata demi mimpi-mimpi baikmu itu adalah amal yangakan mendapatkan balasan yang setimpal dari sang khalik. Aamiin.
____